Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Partisipasi Masyarakat Dalam Program Ketahanan Pangan Di Desa Luhuto Kecamatan Biau Kabupaten Gorontalo Utara Harmain, Ilham Agung; Latare, Sainudin; Harold, Rudy
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7810

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pemahaman, partisipasi, dan manfaat program ketahanan pangan bagi masyarakat Desa Luhuto, yang menjadi fokus penting pembangunan desa karena berkaitan dengan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri, berkelanjutan, dan berkualitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap warga, khususnya petani dan generasi muda yang aktif dalam program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat bervariasi; sebagian warga memahami ketahanan pangan sebagai upaya meningkatkan kemandirian dan produktivitas pertanian, sedangkan sebagian lain masih mengaitkannya dengan bantuan konsumtif berupa sembako. Partisipasi masyarakat terlihat melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan pertanian, pemanfaatan bantuan bibit dan alat pertanian, serta pengelolaan pangan di tingkat rumah tangga. Generasi muda berperan penting dalam menjaga keberlanjutan program, termasuk dalam mengelola bantuan dan mendorong partisipasi kolektif di komunitas. Program ketahanan pangan memberikan manfaat signifikan, antara lain peningkatan produktivitas pertanian, efisiensi penggunaan sarana produksi, pengetahuan teknik bercocok tanam, serta pengelolaan hasil panen yang lebih optimal. Selain itu, program ini juga mendorong kemandirian keluarga dan menumbuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga ketersediaan pangan. Analisis menggunakan teori modal sosial menunjukkan bahwa kepercayaan, norma, dan jaringan sosial antarwarga berperan penting dalam memperkuat partisipasi masyarakat dan keberhasilan program, di mana interaksi yang harmonis antara warga dan pemerintah desa menjadi faktor kunci. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan pemahaman dan partisipasi aktif masyarakat, perluasan sosialisasi dan pendampingan oleh pemerintah desa, serta kajian lanjutan terkait dampak jangka panjang program dan efektivitas modal sosial di desa lain. Temuan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan desa melalui kolaborasi yang berkelanjutan antara masyarakat dan pemerintah desa..
Perspektif Masyarakat Desa Paris tentang Penegakan Disiplin Siswa di SMKN 1 Mootilango Sasmita Djafar; Ridwan Ibrahim; Rudy Harold
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9070

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perspektif masyarakat Desa Paris terhadap penegakan disiplin siswa di SMK Negeri 1 Mootilango serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan siswa. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memperoleh gambaran mendalam mengenai penerapan disiplin di lingkungan sekolah dan dampaknya terhadap perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan melibatkan guru, guru Bimbingan Konseling (BK), komite sekolah, orang tua siswa, siswa, dan masyarakat Desa Paris sebagai informan penelitian. Data yang diperoleh dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sehingga menghasilkan informasi yang sistematis dan sesuai dengan kondisi di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penegakan disiplin di SMK Negeri 1 Mootilango dilaksanakan secara konsisten melalui penerapan tata tertib sekolah, pembinaan karakter, pengawasan rutin, pemberian sanksi edukatif, serta pendekatan persuasif oleh guru dan guru BK kepada siswa yang melakukan pelanggaran. Bentuk disiplin yang diterapkan meliputi ketepatan waktu, kehadiran, kerapian berpakaian, tanggung jawab terhadap tugas, kepatuhan terhadap aturan sekolah, serta etika perilaku siswa di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Masyarakat Desa Paris pada umumnya memberikan pandangan positif terhadap penerapan disiplin tersebut karena dianggap mampu membentuk siswa menjadi lebih tertib, sopan, bertanggung jawab, mandiri, serta memiliki kepedulian sosial yang baik. Keberhasilan penegakan disiplin dipengaruhi oleh kerja sama antara pihak sekolah, orang tua, komite sekolah, dan masyarakat sekitar dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap siswa. Namun demikian, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kedisiplinan siswa, seperti lingkungan pergaulan, rendahnya kesadaran diri siswa, pengaruh media sosial, serta kurang optimalnya pengawasan dan komunikasi dalam keluarga.
ANALISIS TOLERANSI BERAGAMA DI KALANGAN MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO DITINJAU DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA Rudy Harold; Sri Maryani Putri Kai; Rosita Pulubolo; Ramadhan Kaesan
Journal of Golden Generation Religious Vol. 2 No. 1 (2026): Februari : Journal of Golden Generation Religious
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggr.v2i1.128

Abstract

Keberagaman agama merupakan realitas sosial yang melekat dalam kehidupan mahasiswa di perguruan tinggi, termasuk di Universitas Negeri Gorontalo. Kondisi tersebut menuntut adanya sikap toleransi beragama agar interaksi sosial dan kehidupan akademik dapat berlangsung secara harmonis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat toleransi beragama mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo ditinjau dari perspektif sosiologi agama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data dikumpulkan melalui kuesioner online menggunakan skala Likert yang disebarkan kepada 30 mahasiswa dari berbagai fakultas dan latar belakang agama. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif berupa persentase dan skor rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki pemahaman yang baik mengenai toleransi beragama, serta mampu menerapkan sikap saling menghormati, tidak diskriminatif, dan bekerja sama lintas agama dalam kehidupan kampus. Secara keseluruhan, tingkat toleransi beragama mahasiswa berada pada kategori baik, yang didukung oleh lingkungan kampus yang inklusif dan interaksi sosial yang intensif.
Peningkatan Kapasitas Mahasiswa Sosiologi UNG dalam Pengembangan Wisata Berkelanjutan di Kota Manado Sahrain Bumulo; Vanya Dyah Pitaloka M.A.C.; Sainudin Latare; Ridwan Ibrahim; Rudy Harold
JURPIKAT Vol 7 No 1 (2026): 7.1 2026
Publisher : Politeknik Piksi Ganesha Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37339/jurpikat.v7i1.2903

Abstract

Sustainable tourism requires the integration of environmental, social, and economic dimensions, making the need for human resources who are sensitive to sustainability issues increasingly urgent. As future development analysts and practitioners, students need to be equipped with conceptual understanding and empirical experience so that they are able to comprehensively read the socio-ecological dynamics of a destination. This community service program aims to increase the capacity of Sociology students at Gorontalo State University through expert lectures and field trips. The expert lectures reinforce the theory of sustainable tourism, Community Based Tourism (CBT), and destination carrying capacity. Field visits to Lake Linow were used as an empirical learning strategy to observe ecological conditions, interactions between tourism actors, and sustainability challenges in sensitive natural tourism areas. The results of the activity showed a significant increase in students' understanding, sustainability awareness, and analytical skills in identifying socio-environmental issues. Educational products in the form of infographics reflect their ability to process field findings. This community service contributes to the preparation of human resources capable of supporting sustainable tourism based on knowledge and direct experience.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN LINGKUNGAN PARAWISATA TAMAN LAUT OLELE (DESA OLELE, KABILA BONE) Rahmawaty Tomayahu; Funco Tanipu; Rudy Harold
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 8, No 2 (2025)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v8i2.26166

Abstract

This study aims to analyze community participation in the preservation of the tourism environment in Olele Marine Park, Bone Bolango Regency, through the lens of Emile Durkheim's concept of organic solidarity. The research employed a qualitative method with a descriptive approach. Data were collected through interviews, observations, and documentation, and then analyzed to understand the forms of participation as well as their implications for social cohesion within the community. The findings reveal that community participation in preserving the Olele tourism environment is manifested in various forms, such as maintaining beach cleanliness, complying with fishing zone regulations, conserving coral reefs, attending village meetings and socialization activities, and developing local handicrafts to support the tourism sector. The conclusion of this study emphasizes that organic solidarity serves as the foundation of social cohesion in Olele society. The differences in roles between the community, village government, and tourism stakeholders further strengthen social integration, as each party performs different yet interdependent functions to achieve the shared goal of sustaining ecotourism in Olele Marine Park.
UMKM Kuliner Desa Mootinelo, Kecamatan Bone Raya, Kabupaten Bone Boalngo Dalam Perspektif Pemberdayaan Masyarakat Nurfazria Uwato; Ridwan Ibrahim; Rudy Harold
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.6599

Abstract

Penelitian ini mengkaji UMKM kuliner di Desa Mootinelo, Kecamatan Bone Raya, Kabupaten Bone Bolango, dalam perspektif pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dipahami sebagai upaya menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan melalui penguatan kapasitas, kelembagaan, dan partisipasi untuk mencapai kemandirian ekonomi. UMKM kuliner dipilih sebagai fokus kajian karena perannya yang strategis dalam pengembangan ekonomi lokal desa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, yang dilaksanakan selama tiga bulan di Desa Mootinelo. Informan penelitian terdiri atas pelaku UMKM kuliner dan pemerintah desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah desa telah melakukan upaya pemberdayaan melalui pemberian modal usaha dan penyediaan fasilitas booth bagi 17 pelaku UMKM. Pada tahap awal, program ini memberikan dampak positif berupa peningkatan pendapatan pelaku usaha. Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian besar UMKM tidak mampu bertahan akibat menurunnya jumlah pembeli, tingginya persaingan, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, lemahnya manajemen usaha, serta minimnya pendampingan dan monitoring berkelanjutan. Analisis berdasarkan teori pemberdayaan masyarakat Suharto menunjukkan bahwa prinsip pemungkinan telah terpenuhi melalui penciptaan peluang usaha, namun prinsip penguatan, perlindungan, pendukung, dan pemeliharaan belum terlaksana secara optimal. Program UMKM kuliner lebih menitikberatkan pada bantuan awal dibandingkan penguatan kapasitas dan keberlanjutan usaha jangka panjang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberdayaan UMKM kuliner di Desa Mootinelo belum sepenuhnya mencerminkan prinsip pemberdayaan masyarakat, sehingga diperlukan perbaikan program melalui pendampingan berkelanjutan, peningkatan kapasitas pelaku usaha, perlindungan dari risiko pasar, serta pemanfaatan teknologi pemasaran agar UMKM desa mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.
Peran Orang Tua untuk Membetuk Moralitas Anak Usia 6-12 Tahun dalam Berinteraksi Rahmad Supu; Rahmatiah Rahmatiah; Rudy Harold
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8997

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tehnik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi.Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran orang tua dalam membentuk kemampuan interaksi sosial anak usia 6-12 tahun di Desa Permata. Penelitian ini mencakup peran orang tua sebagai pembimbing, teladan, dan pengawas, pola asuh yang diterapkan, proses interaksi antara orang tua dan anak, serta faktor pendukung dan penghambat dalam perkembangan interaksi sosial anak. Hasil penelitian menunjukan bahwa orang tua memiliki peranan yang besar dalam membentuk kemampuan interaksi sosial anak melalui pemberian arahan, contoh perilaku, pengawasan, serta penerapan pola asuh dalam kehidupan sehari-hari. faktor lingkugan, penggunaan gedget, dan kurangnya pengawasan orang tua menjadi hambatan dalam perkembangan interaksi sosial anak. Selain itu, emerintah desa turut mendukung perkembangan sosial anak melalui kegiatan pengajian yang disertai pembelajaran etika dan perilaku sosial.Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa peran orang tua sangat penting dalam membentuk kemampuan interaksi sosial anak usia 6-12 tahun di Desa Permata.
Adaptasi Petani pada Kerusakan Lahan Pertanian di Desa Ilangata Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara Jein Hulinggato; Rahmatiah Rahmatiah; Rudy Harold
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10066

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk adaptasi sosial petani dalam menghadapi kerusakan lahan pertanian di Desa Ilangata, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, sedangkan data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan petani, pemerintah desa, penyuluh pertanian, serta tokoh masyarakat sebagai informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan lahan pertanian yang terjadi sejak tahun 2021 akibat pendangkalan sungai telah menyebabkan sekitar 85 hektar dari total 120 hektar lahan sawah berubah menjadi rawa permanen sehingga tidak dapat lagi dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Kondisi tersebut berdampak pada sekitar 140 petani yang kehilangan sumber mata pencaharian utama. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya berupa penurunan pendapatan dan hilangnya hasil panen, tetapi juga memengaruhi kondisi sosial dan psikologis masyarakat, seperti perubahan peran dalam keluarga, meningkatnya ketidakpastian ekonomi, serta munculnya kecemasan terhadap masa depan. Untuk mempertahankan keberlangsungan hidup, petani melakukan berbagai strategi adaptasi dengan beralih ke pekerjaan alternatif seperti buruh harian, nelayan, pekerja bangunan, dan pelaku usaha kecil, serta melibatkan anggota keluarga dalam mencari tambahan pendapatan. Analisis menggunakan teori struktural fungsional Talcott Parsons melalui skema AGIL menunjukkan bahwa masyarakat petani masih mampu menjalankan fungsi adaptasi (Adaptation), pencapaian tujuan (Goal Attainment), integrasi (Integration), dan pemeliharaan pola (Latency), meskipun fungsi-fungsi tersebut belum berjalan secara optimal akibat gangguan struktural yang ditimbulkan oleh kerusakan lahan pertanian. Penelitian ini menunjukkan bahwa adaptasi sosial merupakan strategi penting bagi masyarakat petani untuk mempertahankan keberlangsungan hidup dan menjaga keseimbangan sosial di tengah perubahan lingkungan yang terjadi. 
Persepsi Masyarakat tentang Perempuan Bertato (Studi Kasus Di Desa Ibolian, Kecamatan Dumoga Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara) Fikran Ahmad; Ridwan Ibrahim; Rudy Harold
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10187

Abstract

Persepsi masyarakat terhadap perempuan bertato merupakan fenomena sosial yang dipengaruhi oleh nilai agama, adat, budaya, serta konstruksi sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap perempuan bertato, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi terbentuknya persepsi tersebut, serta mendeskripsikan upaya perempuan bertato dalam memperoleh penerimaan sosial di Desa Ibolian, Kecamatan Dumoga Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, aparat desa, serta perempuan bertato sebagai informan penelitian. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih memiliki persepsi negatif terhadap perempuan bertato karena dianggap tidak sesuai dengan norma agama, adat, dan budaya yang berlaku. Tato pada perempuan sering dikaitkan dengan perilaku menyimpang, kenakalan, dan citra yang kurang baik dalam kehidupan sosial. Persepsi tersebut dipengaruhi oleh faktor agama, adat dan budaya, lingkungan sosial, tingkat pendidikan, serta perkembangan zaman. Meskipun demikian, sebagian masyarakat terutama generasi muda mulai memandang tato sebagai bentuk seni dan ekspresi diri. Penelitian ini juga menemukan bahwa perempuan bertato berupaya memperoleh penerimaan sosial dengan menunjukkan perilaku yang baik, menjaga etika, menghormati norma yang berlaku, serta aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Dengan demikian, penerimaan sosial terhadap perempuan bertato tidak hanya ditentukan oleh penampilan fisik, tetapi juga oleh perilaku, kepribadian, dan kemampuan individu dalam membangun hubungan sosial yang positif dengan masyarakat.
Modal Sosial Masyarakat dalam Pengembngan Wisata Lombongo (Studi di Desa Lombongo Kecamatan Suwawa Tengah Kabupaten Bone Bolango) Citra Tune; Rudy Harold; Sahrain Bumulo
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10263

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi modal sosial masyarakat dalam pengembangan Wisata Lombongo di Desa Lombongo, Kecamatan Suwawa Tengah, Kabupaten Bone Bolango, terutama di tengah penurunan jumlah pengunjung dan melemahnya partisipasi masyarakat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan melibatkan pemerintah desa, Dinas Pariwisata, pengelola wisata, Kelompok Sadar Wisata, pelaku usaha, karang taruna, serta masyarakat sekitar. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial masyarakat dalam pengembangan Wisata Lombongo belum berfungsi secara optimal. Kepercayaan antara masyarakat, pemerintah, dan pengelola wisata mengalami penurunan karena minimnya perbaikan fasilitas, lemahnya pengelolaan, serta belum adanya tindakan yang mampu membangun kembali keyakinan masyarakat. Norma sosial, terutama gotong royong dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kebersihan serta fasilitas wisata, juga semakin melemah seiring menurunnya jumlah pengunjung dan manfaat ekonomi yang diterima masyarakat. Jaringan sosial antara pemerintah daerah, pemerintah desa, pengelola, Kelompok Sadar Wisata, dan masyarakat sebenarnya telah terbentuk, tetapi belum didukung koordinasi dan komunikasi yang efektif. Lemahnya ketiga unsur modal sosial tersebut berdampak pada rendahnya partisipasi masyarakat, kurang terawatnya kawasan wisata, dan belum optimalnya pengembangan Wisata Lombongo. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kepercayaan, revitalisasi kelembagaan, pembagian peran yang jelas, dan kolaborasi berkelanjutan agar pengembangan wisata dapat berjalan lebih efektif.