Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengendalian Inflasi Kalimantan Tengah dampak Peperangan Rusia - Ukraina Aditya Indrawan; Taufiqurokhman
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 4 No. 2 (2024): December
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v4i2.1700

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengendalian Inflasi di Kalimantan Tengah sebagai upaya mengatasi dampak Peperangan Rusia - Ukraina. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan Teknik pengumpulan data menggunakan penelusuran berbagai sumber studi Pustaka, yaitu Google search,Google Scholar, Wikipedia, Surat Kabar dan Media Sosial. Lingkup pencarian dengan mengkombinasi istilah dan kata kunci Inflasi Global, Krisis Pangan Dunia, Invasi Rusia-Ukraina, Peperangan, Pasar Murah. Hasil penelitian yaitu jika dinilai dari berbagai Sudut pandang, Invasi Rusia ke Ukraina juga menyebabkan kenaikan harga bahan bakar dunia, sehingga biaya produksi pupuk semakin tinggi. Indonesia sendiri menjadi negara yang turut terdampak oleh adanya konflik sosial ini. Salah satu Langkah penanganan inflasi yang saat ini dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah adalah dengan menyelenggarakan Pasar Murah bersubsidi. Penyelenggaraan Pasar Murah Bersubsidi ini bertujuan untuk menekan laju inflasi dengan harapan dapat menyeimbangkan harga pasar sehingga dapat meringankan beban masyarakat Kalimantan Tengah.
Peran Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Pascabencana Gempa Bumi : Studi Pada LKSA Budi Luhur Kabupaten Cianjur Iskandar Iskandar; Taufiqurokhman Taufiqurokhman; Evi Satispi
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 4 No. 1 (2024): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v4i1.1740

Abstract

Prinsip dasar penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana yaitu, mendahulukan kepentingan kelompok rentan seperti lansia, perempuan, anak dan penyandang cacat. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) mempunyai peranan praktis dalam mitigasi khususnya pascabencana yang mana lingkup komunitasnya mengarah langsung kepada anak - anak terlantar. Tantangan dalam menanggapi pascabencana dapat di kelola dengan mengembangkan, penguatan etitas dan peningkatan kapasitas sdm, potensial yang ada. Diantaranya LKSA yang mempunyai peran praktis yang dinamis dalam berbagai situasi dan kondisi, Dimana dalam kondisi tidak terjadi bencana LKSA menjalankan fungsinya sebagai rumah bagi anak - anak rentan/terlantar, dan dalam situasi pascabencana LKSA dismping sebagai rumah anak-anak rentan/terlantar pada umumnya, juga bagi anak-anak terlantar korban bencana. Penelitian ini melibatkan metode pendekatan kualitatif Field Research pada LKSA Budi Luhur Kabupaten Cianjur. Bertujuan untuk menggambarkan peran Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) selaku stakeholder dari pemerintah dalam menanggapi anak-anak telantar korban bencana gampa bumi Cianjur 2022. Diharapkan penelitian ini menjadi salahsatu upaya menghadapi Tantangan dan Peluang bagi Ketahanan Nasional.
Cross-Cultural Leadership in Indonesia's Industry 4.0 Transformation: Challenges, Opportunities, and an Integrative Capability Framework Silla Anantasya Choirul Nisa; Taufiqurokhman Taufiqurokhman
SWATANTRA Vol. 23 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/swatantra.23.1.37-50

Abstract

This article examines the challenges and opportunities of cross-cultural leadership in Indonesia in the context of Industry 4.0. Indonesia is a particularly important setting for this discussion because its organizational life is shaped simultaneously by ethnic, linguistic, religious, regional, and institutional diversity, while its economic and public sectors are increasingly exposed to digital transformation, automation, artificial intelligence, data-driven decision making, and platform-based coordination. Building on an expanded integrative literature review, this manuscript synthesizes scholarship on cross-cultural leadership, cultural intelligence, digital leadership, transformational leadership, and Industry 4.0, while using an Indonesian-language article on cross-cultural leadership in the Industrial Revolution 4.0 era as the foundational source material. The analysis identifies five major challenge clusters: cultural complexity and communication ambiguity, leader self-adaptation and resistance to change, digital capability gaps, tensions between hierarchical leadership traditions and agile innovation, and ethical-trust issues in technologically mediated organizations. The article also identifies six opportunity clusters: diversity-enabled innovation, global and local market responsiveness, inclusive talent development, improved organizational learning, conflict transformation, and long-term sustainability. The central contribution of this article is an integrative framework of culturally intelligent digital leadership, consisting of four mutually reinforcing capabilities: cultural sensemaking, inclusive alignment, adaptive digital orchestration, and ethical learning. The framework suggests that effective leadership in Indonesia's Industry 4.0 context requires more than technical competence or general leadership charisma. It requires the capacity to translate cultural diversity into collaborative intelligence, to govern digital transformation inclusively, and to sustain trust across culturally heterogeneous and technologically mediated work systems.
Leadership in The Digital Era: Building Public Trust and Participation Taufiqurokhman; Izzatusholekha; Mawar; Abdul Rahman; Nida Handayani
SWATANTRA Vol. 24 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/swatantra.24.1.75-88

Abstract

This study aims to understand how leadership in the digital era builds trust and encourages public participation, with a focus on communication strategies and the use of digital technology. The research method used is qualitative with a descriptive design, to describe the leadership phenomenon in depth based on the perceptions and experiences of participants. The study was conducted in Bandung City as a location that is digitally and socially active. The population in this study were government officials and digitally active citizens, with a sample of 15 people consisting of public officials, social media practitioners, and community leaders, selected purposively. The results of the study indicate that effective digital leadership is characterized by information transparency, interactive engagement with the community, and the ability to manage reputation online. Public trust is formed from consistent communication and rapid response to issues. Participation increases when leaders open up a two-way dialogue space. Research recommendations encourage strengthening digital literacy for leaders, implementing participatory communication platforms, and developing digital ethics policies that protect the public's right to information and privacy.