Alan Lutfi Gesang Saputra
Manajemen Pendidikan Islam, STIT Muhammadiyah Tempurejo Ngawi

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pendekatan Third Teacher dalam Desain Ruang Kelas Indoor untuk Mengoptimalkan Perkembangan Motorik Anak Usia Dini Aditya Niko Entriza; Dwi Ningsulasih; Agus Sriyanto; Sumarno Sumarno; Mohd Fauzi Abu-Hussin; Alan Lutfi Gesang Saputra
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v10i3.8413

Abstract

Penelitian ini menganalisis optimalisasi desain ruang kelas indoor terhadap perkembangan motorik anak usia dini. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik dengan validasi melalui triangulasi sumber dan teknik. Penelitian dilaksanakan di kelas B RA Al Firdaus, Kabupaten Ngawi, dengan subjek 25 anak usia 5–6 tahun. Hasil menunjukkan bahwa ruang kelas yang fleksibel, memiliki zonasi jelas, akses material mudah, serta stimulus sensorik yang beragam mampu meningkatkan partisipasi aktif dan variasi gerakan motorik anak. Selain itu, ditemukan perbedaan kecenderungan motorik berdasarkan gender yang dipengaruhi oleh interaksi antara faktor individu dan lingkungan. Temuan ini menegaskan bahwa desain ruang kelas merupakan faktor pedagogis penting dalam mendukung perkembangan motorik anak usia dini serta menjadi dasar penguatan standar fasilitas pendidikan yang lebih adaptif dan inklusif.
INOVASI MODEL PEMBELAJARAN PAI INTEGRATIF ANTARA KELAS DAN LINGKUNGAN ALAM DI SDIT ALAM NURUL ISLAM 2 NGAWI Budi Sunariyanto; Kuni Fatonah; Muh. Zakki Amrulloh; Alan Lutfi Gesang Saputra; Jefri Mardiansyah A
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 10 No. 2 (2026): Juni
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/cbfwpw64

Abstract

This study aims to describe Islamic Religious Education (IRE) learning conditions, analyze the use of the natural environment as a learning resource, and design and test an integrative IRE learning model at SDIT Alam Nurul Islam 2 Ngawi. The study employed mixed methods within a modified Borg and Gall Research and Development design. Data were collected through observation, in-depth interviews, documentation, and questionnaires, then analyzed qualitatively and quantitatively. The findings show that initial learning was dominated by lectures and memorization and had not optimized the natural environment. The INSPIRASI model comprises three phases: classroom concept exploration, nature-based exploration and spiritual reflection, and action with value internalization. Its application increased cognitive scores from 65.2 to 82.7, religious attitude scores from 70.1 to 85.4, and character behavior scores from 68.8 to 83.9. A paired-sample t-test for the cognitive domain yielded t = 8.45 and p < .001. The model effectively strengthened students' understanding, religious attitudes, environmental awareness, and Islamic character.
PENDAMPINGAN PEMBELAJARAN SHOLAT DHUHA BERBASIS EDUKATIF-PARTISIPATIF DALAM PENGUATAN KARAKTER RELIGIUS SISWA  SMA MUHAMMADIYAH 2 Budi Sunariyanto; Abdul Haris; Muh. Zakki Amrulloh; Alan Lutfi Gesang Saputra; Kuni Fatonah
DEVELOPMENT: Journal of Community Engagement Vol. 5 No. 2 (2026): Juni
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/fjsvqs86

Abstract

This community service article explains an educational and participatory mentoring program for Dhuha prayer learning at SMA Muhammadiyah 2 Ngawi. The program responded to the partner school need for worship learning that does not stop at routine practice, but also develops conceptual understanding, guided performance, reflective awareness, and sustainable habituation. The mentoring used socialization, material delivery, interactive discussion, guided practice, observation, and participant reflection. The program focused on the meaning, legal basis, time, number of rakaat, procedure, manners, and educational value of Dhuha prayer. The results show that the program strengthened student understanding, improved practice accuracy, and encouraged religious discipline within the school and boarding environment. The activity also produced a practical guide that teachers and students can use for follow-up religious mentoring. The article argues that Dhuha prayer mentoring becomes more effective when schools combine religious culture, teacher assistance, reflective dialogue, and simple evaluation instruments. This community service model can support Islamic education programs that aim to transform routine worship into meaningful character education.  
RELEVANSI PEMIKIRAN PEMBARUAN MUHAMMADIYAH TERHADAP TANTANGAN TRANSFORMASI SOSIAL DAN TEKNOLOGI DI PENDIDIKAN TINGGI Budi Sunariyanto; Ishomudin; Alan Lutfi Gesang Saputra; Zaitur Rahem
JOURNAL J-MPI : JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN, PENELITIAN DAN KAJIAN KEISLAMAN Vol. 5 No. 1 (2026): JOURNAL J-MPI: JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN, PENELITIAN DAN KAJIAN KEISLAMAN
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) STIT Muhammadiyah Tempurejo, Ngawi, Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63353/61qsq047

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi pemikiran pembaruan (tajdid) Muhammadiyah dalam merespons tantangan transformasi sosial dan teknologi pada pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan analisis konten terhadap sumber-sumber primer dan sekunder terkait reformisme Islam, modernisasi pendidikan, dan transformasi digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa paradigma Islam berkemajuan dan etos modernisasi K.H. Ahmad Dahlan—yang menekankan integrasi iman, ilmu, dan amal—tetap relevan sebagai fondasi epistemologis dan operasional bagi perguruan tinggi Muhammadiyah. Prinsip tajdid memberikan kerangka adaptif untuk menjawab tantangan perubahan struktur sosial, digitalisasi pembelajaran, serta tuntutan literasi digital yang beretika. Studi ini menyimpulkan bahwa visi pembaruan Muhammadiyah berpotensi strategis dalam membentuk model pendidikan tinggi yang responsif, bernalar ilmiah, dan berakar pada nilai-nilai Islam humanistik, sekaligus membuka agenda riset lanjutan tentang integrasi etika AI, kurikulum kontekstual, dan tata kelola kampus digital berbasis nilai. Kata Kunci: Tajdid Muhammadiyah, Transformasi Sosial, Transformasi Teknologi, Pendidikan Tinggi Islam, Islam Berkemajuan
PENGELOLAAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI SARANA PUBLIKASI PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM Alan Lutfi Gesang Saputra; Idha Dewi Wahyu Sofiani
AL IBTIDAIYAH: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 6 No. 2 (2025): Juli
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/svabtm38

Abstract

Penelitian ini membahas pemanfaatan media sosial sebagai sarana publikasi Lembaga pendidikan Islam di era digital. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media dakwah, branding, dan pembinaan karakter. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi pada lembaga pendidikan Islam yang aktif menggunakan Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instagram berperan sebagai media visual untuk memperkuat citra lembaga, Facebook digunakan sebagai ruang komunitas dan publikasi formal, sedangkan WhatsApp berfungsi sebagai sarana komunikasi cepat dan personal. Konten yang dipublikasikan mencakup kegiatan akademik, keagamaan, prestasi santri, serta motivasi Islami. Respons pengikut menunjukkan interaksi yang cukup tinggi melalui likes, komentar, dan share, yang menandakan adanya kedekatan emosional antara lembaga dan masyarakat. Namun, tantangan yang muncul adalah konsistensi publikasi, kualitas konten, serta pengelolaan komentar negatif.