Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Analisis Kesesuaian Diagnosis, Intervensi, Dan Luaran Keperawatan Berbasis SDKI/SIKI/SLKI Dalam Simrs Dengan Kondisi Klinis Pasien Rawat Inap RSU Yarsi Pontianak: Scoping Review Rinanda Adi Hardika; Cau Kim Jiu; Haryanto Haryanto; Wida Kuswida Bhakti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.780

Abstract

Latar Belakang: Integrasi standar keperawatan Indonesia (SDKI/SIKI/SLKI) ke dalam Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan langkah penting menuju praktik keperawatan yang terstandar dan berbasis bukti. Namun, pembangkitan otomatis diagnosis, intervensi, dan luaran keperawatan oleh SIMRS tidak selalu mencerminkan kondisi klinis aktual pasien rawat inap, sehingga menciptakan risiko ketidaksesuaian dokumentasi secara klinis. Sejauh mana dokumentasi keperawatan yang dihasilkan SIMRS sesuai dengan kondisi klinis pasien aktual di rumah sakit Indonesia masih belum terpetakan secara komprehensif. Tujuan: Scoping review ini bertujuan memetakan bukti mengenai kesesuaian diagnosis, intervensi, dan luaran keperawatan berbasis SDKI/SIKI/SLKI dalam SIMRS dengan kondisi klinis pasien rawat inap, mengidentifikasi determinan ketidaksesuaian, serta mendeskripsikan strategi perbaikan. Metode: Review ini menggunakan kerangka Arksey dan O'Malley (2005), diperkuat oleh Levac dkk. (2010), serta dilaporkan mengacu pada PRISMA-ScR (Tricco dkk., 2018). Sumber awal literatur berasal dari matriks kerja peneliti yang memuat 100 artikel. Setelah penghapusan duplikasi dan proses seleksi kelayakan, terpilih 20 studi terbitan tahun 2020–2025 untuk disintesis. Hasil: Empat tema utama teridentifikasi: (1) kualitas dan akurasi dokumentasi diagnosis keperawatan berbasis SDKI sangat tidak optimal, dengan tingkat akurasi di bawah 50% di beberapa konteks; (2) kesesuaian antara intervensi keperawatan (SIKI) dengan kondisi klinis masih inkonsisten, khususnya dalam hal keterkaitan dengan diagnosis; (3) luaran keperawatan (SLKI) merupakan komponen yang paling jarang dievaluasi dengan bukti kualitas dokumentasi yang terbatas; dan (4) faktor yang berkontribusi pada ketidaksesuaian meliputi kesenjangan kompetensi perawat, pengkajian klinis yang tidak lengkap, keterbatasan desain template SIMRS, beban kerja, dan kurangnya supervisi. Kesimpulan: Kesesuaian dokumentasi SIMRS berbasis SDKI/SIKI/SLKI dengan kondisi klinis pasien rawat inap merupakan kesenjangan mutu yang signifikan dalam praktik keperawatan Indonesia. Penguatan kompetensi klinis, desain ulang template SIMRS, dan implementasi sistem audit serta supervisi terstruktur merupakan strategi esensial untuk meningkatkan kesesuaian dokumentasi.
Evaluasi Program Kesehatan Jiwa di Puskesmas: Scoping Review Imam Hakam; Cau Kim Jiu; Haryanto Haryanto; Wida Kuswida Bhakti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.790

Abstract

Evaluasi program kesehatan jiwa di Puskesmas merupakan sarana reflektif untuk peningkatan capaian program di Tahun berikutnya, sehingga membentuk siklus plan, do, check/study, action dan peningkatan mutu layanan kesehatan jiwa. Scoping Review ini bertujuan memetakan bukti tentang evaluasi program kesehatan jiwa di puskesmas. Metode: Review ini menggunakan kerangka Arksey dan O'Malley, diperkuat oleh Levac dkk., serta dilaporkan mengacu pada prinsip PRISMA-ScR. Sumber awal literatur berasal dari matriks kerja peneliti yang memuat 575 artikel. Setelah penghapusan duplikasi dan proses seleksi kelayakan, terpilih 13 studi terbitan Tahun 2020–2026. Studi yang diikutkan terdiri atas 7 studi kualitatif deskriptif, 3 studi kualitatif: case study 2 mixed method, 1 cross-sectional. Terdapat empat tema utama, yaitu: (1) Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM); (2) Keterbatasan Sarana, Prasarana, dan Pembiayaan; (3) Implementasi Program dan Pelaksanaan Layanan Belum Optimal; (4) Pentingnya Koordinasi dan Kolaborasi Lintas Sektor; (5) Adanya Stigma dan Hambatan Sosial; dan (6) Perlunya Penguatan Sistem Surveilans dan Digitalisasi. Program kesehatan jiwa perlu ditingkatkan di variabel Input, yaitu sumber daya kesehatan, karena pada variabel proses dalam hal konteks pemanfaatan sumber daya kesehatan dengan tantangan indikator kinerja dapat dicapai sehingga tercapai target kinerja yang akan dievaluasi kembali dalam proses Output.