Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Analisis Kesesuaian Diagnosis, Intervensi, Dan Luaran Keperawatan Berbasis SDKI/SIKI/SLKI Dalam Simrs Dengan Kondisi Klinis Pasien Rawat Inap RSU Yarsi Pontianak: Scoping Review Rinanda Adi Hardika; Cau Kim Jiu; Haryanto Haryanto; Wida Kuswida Bhakti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.780

Abstract

Latar Belakang: Integrasi standar keperawatan Indonesia (SDKI/SIKI/SLKI) ke dalam Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan langkah penting menuju praktik keperawatan yang terstandar dan berbasis bukti. Namun, pembangkitan otomatis diagnosis, intervensi, dan luaran keperawatan oleh SIMRS tidak selalu mencerminkan kondisi klinis aktual pasien rawat inap, sehingga menciptakan risiko ketidaksesuaian dokumentasi secara klinis. Sejauh mana dokumentasi keperawatan yang dihasilkan SIMRS sesuai dengan kondisi klinis pasien aktual di rumah sakit Indonesia masih belum terpetakan secara komprehensif. Tujuan: Scoping review ini bertujuan memetakan bukti mengenai kesesuaian diagnosis, intervensi, dan luaran keperawatan berbasis SDKI/SIKI/SLKI dalam SIMRS dengan kondisi klinis pasien rawat inap, mengidentifikasi determinan ketidaksesuaian, serta mendeskripsikan strategi perbaikan. Metode: Review ini menggunakan kerangka Arksey dan O'Malley (2005), diperkuat oleh Levac dkk. (2010), serta dilaporkan mengacu pada PRISMA-ScR (Tricco dkk., 2018). Sumber awal literatur berasal dari matriks kerja peneliti yang memuat 100 artikel. Setelah penghapusan duplikasi dan proses seleksi kelayakan, terpilih 20 studi terbitan tahun 2020–2025 untuk disintesis. Hasil: Empat tema utama teridentifikasi: (1) kualitas dan akurasi dokumentasi diagnosis keperawatan berbasis SDKI sangat tidak optimal, dengan tingkat akurasi di bawah 50% di beberapa konteks; (2) kesesuaian antara intervensi keperawatan (SIKI) dengan kondisi klinis masih inkonsisten, khususnya dalam hal keterkaitan dengan diagnosis; (3) luaran keperawatan (SLKI) merupakan komponen yang paling jarang dievaluasi dengan bukti kualitas dokumentasi yang terbatas; dan (4) faktor yang berkontribusi pada ketidaksesuaian meliputi kesenjangan kompetensi perawat, pengkajian klinis yang tidak lengkap, keterbatasan desain template SIMRS, beban kerja, dan kurangnya supervisi. Kesimpulan: Kesesuaian dokumentasi SIMRS berbasis SDKI/SIKI/SLKI dengan kondisi klinis pasien rawat inap merupakan kesenjangan mutu yang signifikan dalam praktik keperawatan Indonesia. Penguatan kompetensi klinis, desain ulang template SIMRS, dan implementasi sistem audit serta supervisi terstruktur merupakan strategi esensial untuk meningkatkan kesesuaian dokumentasi.
Evaluasi Program Kesehatan Jiwa di Puskesmas: Scoping Review Imam Hakam; Cau Kim Jiu; Haryanto Haryanto; Wida Kuswida Bhakti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.790

Abstract

Evaluasi program kesehatan jiwa di Puskesmas merupakan sarana reflektif untuk peningkatan capaian program di Tahun berikutnya, sehingga membentuk siklus plan, do, check/study, action dan peningkatan mutu layanan kesehatan jiwa. Scoping Review ini bertujuan memetakan bukti tentang evaluasi program kesehatan jiwa di puskesmas. Metode: Review ini menggunakan kerangka Arksey dan O'Malley, diperkuat oleh Levac dkk., serta dilaporkan mengacu pada prinsip PRISMA-ScR. Sumber awal literatur berasal dari matriks kerja peneliti yang memuat 575 artikel. Setelah penghapusan duplikasi dan proses seleksi kelayakan, terpilih 13 studi terbitan Tahun 2020–2026. Studi yang diikutkan terdiri atas 7 studi kualitatif deskriptif, 3 studi kualitatif: case study 2 mixed method, 1 cross-sectional. Terdapat empat tema utama, yaitu: (1) Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM); (2) Keterbatasan Sarana, Prasarana, dan Pembiayaan; (3) Implementasi Program dan Pelaksanaan Layanan Belum Optimal; (4) Pentingnya Koordinasi dan Kolaborasi Lintas Sektor; (5) Adanya Stigma dan Hambatan Sosial; dan (6) Perlunya Penguatan Sistem Surveilans dan Digitalisasi. Program kesehatan jiwa perlu ditingkatkan di variabel Input, yaitu sumber daya kesehatan, karena pada variabel proses dalam hal konteks pemanfaatan sumber daya kesehatan dengan tantangan indikator kinerja dapat dicapai sehingga tercapai target kinerja yang akan dievaluasi kembali dalam proses Output.
Pemberdayaan Orang Tua Anak Dengan Autism Spectrum Disorder Melalui Pelatihan Strategi Intervensi Berbasis Rumah (Siber-Rumah): Pengabdian Cau Kim Jiu; Sri Ariyanti; Tri Wahyuni; Usman; Uji Kawuryan; Indriani Febriyanti
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6853

Abstract

Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) membutuhkan stimulasi yang berkesinambungan di lingkungan keluarga untuk mendukung perkembangan komunikasi, perilaku adaptif, dan kemandirian. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas orang tua melalui Pelatihan Strategi Intervensi Berbasis Rumah (SIBER-RUMAH) dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Program dilaksanakan melalui beberapa tahapan, meliputi identifikasi kebutuhan orang tua, pelatihan teknik intervensi sederhana, praktik dan simulasi, pendampingan implementasi di rumah, serta monitoring dan evaluasi kegiatan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan orang tua, observasi penerapan strategi intervensi di rumah, serta umpan balik kualitatif selama program berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan orang tua dalam memberikan stimulasi komunikasi, membangun perilaku adaptif, dan menerapkan penguatan positif secara konsisten kepada anak. Orang tua juga menunjukkan keterlibatan yang lebih aktif dalam proses pendampingan anak setelah mengikuti program SIBER-RUMAH. Program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan keluarga yang aplikatif, berkelanjutan, dan mudah diterapkan dalam mendukung optimalisasi perkembangan anak dengan ASD.
Pengaruh Diaphragmatic Breathing Exercise Terhadap Fungsi Pernapasan (RR DAN APE) Pada Lansia di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma Provinsi Kalimantan Barat Tri Wahyuni; Cau Kim Jiu; Sri Ariyanti; Parliani Parliani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59183

Abstract

Latar Belakang: Penurunan fungsi paru merupakan konsekuensi alami proses penuaan pada lansia yang sering ditandai dengan perubahan frekuensi napas (Respiratory Rate/RR) dan penurunan Arus Puncak Ekspirasi (APE). Diaphragmatic Breathing Exercise (DBE) merupakan intervensi non-farmakologis yang berpotensi memperbaiki mekanika ventilasi paru. Tujuan: Mengetahui pengaruh Diaphragmatic Breathing Exercise terhadap fungsi pernapasan (RR dan APE) pada lansia di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mulia Dharma Provinsi Kalimantan Barat. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain Quasi-Experiment dengan rancangan Pretest-Posttest with Control Group. Sampel berjumlah 46 lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dibagi menjadi kelompok intervensi (n=23) dan kelompok kontrol (n=23). Kelompok intervensi diberikan DBE selama 4 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu. Instrumen pengukuran menggunakan peak flow meter untuk APE dan observasi visual untuk RR. Analisis data menggunakan uji Paired T-Test dan Independent T-Test.Hasil: Setelah 4 minggu intervensi, kelompok intervensi menunjukkan penurunan rerata RR yang signifikan (p < 0,001) dan peningkatan rerata APE yang signifikan (p < 0,001). Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna. Uji antar kelompok menunjukkan perbedaan signifikan pada nilai akhir RR (p = 0,002) dan APE (p < 0,001) antara kedua kelompok. Kesimpulan: Diaphragmatic Breathing Exercise berpengaruh signifikan dalam menurunkan frekuensi pernapasan (RR) dan meningkatkan Arus Puncak Ekspirasi (APE) pada lansia. Intervensi ini direkomendasikan sebagai program rehabilitasi rutin di panti sosial.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keberhasilan ASI Eksklusif pada Anak Down Syndrome: Studi Cross-Sectional Siti Masdah; Lidia Hastuti; Cau Kim Jiu; Sri Ariyanti; Usman Usman; Muhammad Alfarizi; Ravi Aulia Febriyanti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59846

Abstract

Latar Belakang: Anak dengan Down Syndrome (DS) memiliki berbagai kondisi klinis yang dapat menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Kondisi seperti hipotonia, kelainan jantung bawaan (Congenital Heart Disease/CHD), dan penyakit penyerta berpotensi mengganggu kemampuan menyusu dan mempertahankan laktasi. Tujuan: Menganalisis determinan keberhasilan ASI eksklusif pada anak Down Syndrome. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 70 ibu yang memiliki anak Down Syndrome. Sampel dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta regresi logistik biner dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil: Proporsi keberhasilan ASI eksklusif sebesar 47,1%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa penyakit penyerta, CHD, hipotonia, mudah lelah saat menyusu, kesulitan mengisap, dan kebutuhan bantuan posisi berhubungan signifikan dengan keberhasilan ASI eksklusif (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa CHD (AOR=0,24; 95%CI=0,07–0,83), hipotonia (AOR=0,25; 95%CI=0,07–0,88), dan penyakit penyerta (AOR=0,29; 95%CI=0,09–0,93) merupakan faktor dominan yang menurunkan peluang keberhasilan ASI eksklusif. Kesimpulan: Keberhasilan ASI eksklusif pada anak Down Syndrome dipengaruhi terutama oleh kondisi klinis anak. CHD merupakan faktor paling dominan yang menurunkan keberhasilan ASI eksklusif. Diperlukan dukungan laktasi dan pendampingan multidisiplin untuk meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif pada anak Down Syndrome.
Pengaruh Aktivitas Fisik Terhadap Kesehatan Mental Lansia di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas (PSRLURPD) Mulia Dharma Provinsi Kalimantan Barat Sri Ariyanti; Cau Kim Jiu; Tri Wahyuni
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.61351

Abstract

Latar belakang: Seiring bertambahnya usia, lansia sering mengalami penurunan baik fisik maupun mental, seperti melemahnya kekuatan otot, keseimbangan, serta risiko gangguan suasana hati bahkan isolasi sosial sehingga dapat menimbulkan depresi. Kondisi tersebut dapat merusak kualitas hidup dan meningkatkan ketergantungan lansia pada orang lain. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan intensitas aktivitas fisik yang efektif dalam menganalisis pengaruh aktivitas fisik terhadap kesehatan mental lansia di panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mulia Dharma Provinsi Kalimantan Barat. Metode: penelitian ini merupakan penelitian Quasi Experimental study dengan pretest post test design with control group dengan jumlah lansia 20 orang orang lansia kelompok intervensi dan 20 lansia dengan kelompok kontrol di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas (PSRLURPD) Mulia Dharma. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi mengalami penurunan rerata skor gangguan kesehatan mental yang signifikan dari 14,50 menjadi 8,20 setelah diberikan aktivitas fisik terstruktur (p-value=0,000), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna dari 13,90 menjadi 13,10 (p-value=0,070). Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik efektif dalam meningkatkan kesehatan mental lansia di lingkungan panti sosial. Simpulan: aktivitas fisik dapat dijadikan sebagai intervensi nonfarmakologis yang efektif, murah, aman, dan mudah diterapkan dalam upaya meningkatkan kesehatan mental lansia. Oleh karena itu, pengelola panti sosial diharapkan dapat mengembangkan program aktivitas fisik yang terstruktur dan berkelanjutan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan holistik bagi lansia.
Gamification in Mobile Health Apps: A Quasi-Experimental Study on Adolescent Obesity Prevention Cau Kim Jiu; Ming Kiri; Sokha Dara
Journal of World Future Medicine, Health and Nursing Vol. 3 No. 4 (2025)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/health.v3i4.2370

Abstract

Adolescent obesity has become a global public health crisis, demanding effective and engaging intervention strategies. While mobile health (mHealth) apps offer a scalable platform for promoting healthy lifestyles, maintaining long-term engagement among adolescents remains a significant challenge. This study aimed to evaluate the effectiveness of a gamified Health application on promoting positive changes in physical activity, dietary habits, and anthropometric measures among adolescents at risk for obesity, compared to a non-gamified version of the same application. A 12-week, quasi-experimental study was conducted with 150 adolescents (aged 13-16) with a BMI above the 85th percentile. Participants were assigned to either an intervention group (n=75) using a gamified mHealth app featuring points, badges, and leaderboards, or a control group (n=75) using a non-gamified version with identical health content. The intervention group demonstrated significantly greater increases in moderate-to-vigorous physical activity (p < .01) and higher consumption of fruits and vegetables (p < .05) compared to the control group. Furthermore, the gamified app users showed a modest but statistically significant reduction in their BMI z-score (p < .05), a change not observed in the control group. App engagement metrics were also 70% higher in the intervention group. The integration of gamification elements into mHealth applications is a highly effective strategy for preventing obesity in adolescents.