Rendahnya empati siswa berdampak pada kualitas interaksi sosial di sekolah, seperti sikap acuh, konflik antarsiswa, dan kurangnya kepedulian terhadap teman yang mengalami kesulitan. Kondisi ini juga ditemukan pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Tambang berdasarkan hasil pra-riset yang menunjukkan 8 dari 40 siswa (20%) berada pada kategori empati rendah. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat, perbedaan, dan pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama terhadap peningkatan empati siswa kelas X. Penelitian menggunakan metode eksperimen kuantitatif dengan desain one-group pretest-posttest, melibatkan 8 siswa dengan skor empati rendah sebagai subjek penelitian yang dipilih melalui purposive sampling dari populasi 40 siswa. Data dikumpulkan menggunakan skala empati Likert 50 item yang mencakup empat aspek, yaitu perspective taking, fantasy, empathic concern, dan personal distress, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan uji N-Gain ternormalisasi melalui SPSS versi 31. Hasil penelitian menunjukkan tingkat empati siswa meningkat dari kategori rendah (100%) menjadi kategori sedang (100%) setelah diberikan layanan. Uji Wilcoxon memperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,012 (p<0,05), yang menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara skor pre-test dan post-test, sedangkan uji N-Gain menghasilkan skor rata-rata 0,467 pada kategori sedang. Peningkatan tertinggi terjadi pada aspek empathic concern (33,41%), diikuti perspective taking (33,17%), fantasy (32,81%), dan personal distress (30,73%). Dengan demikian, layanan bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama terbukti berpengaruh secara signifikan dalam meningkatkan empati siswa SMA.