Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Pemanfaatan Aktivator Sari Buah Lontar (Borassus flabellifer L) untuk Produksi Pupuk Organik Padat Nurjannah; Ifa, La; Arief, Thahirah; Fadilla, Annisa; Ashar, Nurul Azifah Fauziah
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 9 No. 1 (2024): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/jcpe.v9i1.653

Abstract

Siwalan atau dikenal juga dengan nama Lontar (Borassus flabellifer Linn) merupakan salah satu jenis palem yang serbaguna. Untuk meningkatkan kepraktisan pemanfaatan nira, peneliti harus fokus pada pengembangan teknologi pengolahan nira. Hal ini akan memungkinkan transformasi bahan tambahan ini menjadi produk pupuk yang bernilai ekonomis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan nilai kandungan unsur hara makro (N, P, K, C dan pH) pada pupuk organik padat dengan menggunakan aktivator sari lontar dan Effective Microorganisme 4 (EM4). Penelitian ini dimulai dengan pembuatan pupuk organik melalui proses fermentasi limbah organik pada berbagai variasi volume sari lontar dan EM4. Hasil fermentasi kemudian dikeringkan dan dihaluskan. Selanjutnya dilakukan uji kandungan unsur hara makro (N, P, K, C dan pH). Hasil uji kandungan kandungan N, P dan K terhadap pupuk organik padat yang menggunakan aktivator sari lontar dan EM4 dilihat dari nilai yang mendekati persyaratan teknis minimal pupuk organik (Peraturan Mentan, No.70/Permentan/SR.140/10/2011) adalah EM4 dengan jumlah 100 ml sebesar 3,89%. Sedangkan kandungan C dan pH dalam pupuk organik padat yang menggunakan aktivator sari lontar dan EM4 telah memenuhi persyaratan teknis minimal pupuk organik.
Pengaruh Perbandingan Bahan Baku Terhadap Konsentrasi Biogas dari Eceng Gondok dengan Menggunakan Starter Kotoran Sapi Darnengsih, Darnengsih; Nurjannah, Nurjannah; Ifa, La
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 1 No. 1 (2016): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33536/jcpe.v1i1.782

Abstract

Biogas adalah produk energy yang berasal dari bahan yang terbarukan utamanya dari bahan biomassa. Saat ini telah banyak penelitian yang mengembangkan produk energy dari bahan yang terbarukan, hal ini bertujuan untuk mengurangi pemakaian energy fossil yang tak terbarukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbandingan eceng gondok, kotoran sapi dan air terhadap konsentrasi biogas yang dihasilkan.umumnya biogas dihasilkan dari fermentasi kotoran sapi namun bahan baku biogas dapat juga berasal dari biomassa lignoselulosa yang tersusun atas tiga komponen utama yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Selulosa dalam bahan lignoselulosa merupakan sumber karbon organik, sehingga bahan tersebut dapat menjadi bahan baku potensial untuk pembuatan biogas. Data hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.Rasio optimum campuran bahan baku Eceng Gondok terhadap kotoran sapi adalah 5:1.
Pemanfaatan Asap Cair Kulit Biji Mete Sebagai Pestisida La Tima, Suhanda; Yopi, Yopi; Ifa, La
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 1 No. 2 (2016): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33536/jcpe.v1i2.810

Abstract

Asap cair merupakan salah satu bahan baku yang dapat digunakan sebagai pestisida organik. Berdasarkan hasil penelitian Komponen senyawa yang terdapat pada asap cair dari kulit biji mete pada suhu pirolisis 400-5000C terdiri dari Phenol dan turunanya, Benzenediol dan turunannya, Pyroline, Alpha –D-Lyxofuranoside, Heptine dan Pyran yang dapat di manfaatkan sebagai pestisida alternative pengendali serangga dan organisme pengganggu lainnya pada tanaman.Pada penelitian ini Biomassa yang digunakan untuk menghasilkan asap cair adalah kulit biji mete yang akan di manfaatkan sebagai pestisida. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Kimia Dasar Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia. Prinsip pembuatan asap cair merupakan hasil pembakaran yang tidak sempurna yang melibatkan reaksi dekomposisi karena pengaruh panas, polimerisasi dan kondensasi. Adapun tahap-tahap pembuatan meliputi proses pirolisis.
Pengaruh Suhu dan Bobot Katalis Hidrogenasi Minyak Inti Sawit sebagai Bahan Pelunak Kompon Karet Ifa, La; Badawing, Masfira; S, Jumrawati; Mustafiah, Mustafiah
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 6 No. 1 (2021): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33536/jcpe.v6i1.825

Abstract

Bahan pelunak karet merupakan salah satu bahan kimia yang ditambahkan saat pembuatan kompon untuk melunakan karet sehingga memudahkan pencampuran dan mempersingkat waktu pengkomponan. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh suhu reaksi dan bobot katalis terhadap kualitas bahan pelunak.Tahap pembuatan reaksi hidrogenasi minyak inti sawit meliputi proses hidrogenasi dan pembuatan kompon karet. Proses hidrogenasi meliputi Menimbang katalis sebanyak yang diinginkan. Masukkan minyak inti sawit sebanyak 150 ml, methanol (CH3OH) 2 M 200 ml dan hidrogen peroksida (H2O2) 0,6 M sebanyak 100 ml serta katalis CuSO4 ke dalam reaktor kemudian diaduk menggunakan magnetic stirrer. Setelah itu memanaskan reaktor hingga mencapai suhu yang diinginkan. Mengontrol suhu dengan termometer agar tetap konstan sesuai suhu yang diinginkan selama durasi waktu hidrogenasi 5 jam kemudian minyak inti sawit yang telah terhidrogenasi dipindahkan ke dalam corong pemisah dan dimurnikan secara dekantasi. Untuk pembuatan kompon karet melalui mesin giling terbuka kemudian ampuran karet dengan bahan kimia digiling sehingga terbentuk kompon karet padat yang homogen. Hasil Analisa menunjukkan bahwa suhu reaksi terbaik pada reaksi hidrogenasi adalah suhu 70oC, penggunaan bobot katalis terbaik pada reaksi hidrogenasi adalah 1,5 gram, aplikasi bahan pelunak terhadap kompon karet yang dibuat memiliki nilai uji kuat tarik 0,0290 N/mm2
Pembuatan Pupuk Organik Padat Dengan Cara Aerob Nurjannah; Afdatullah, Lukmanul; Abdullah, Dwi Nurhudaeni; Jaya, Fitra; Ifa, La
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 4 No. 2 (2019): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33536/jcpe.v4i2.849

Abstract

Sabut kelapa merupakan salah satu limbah organik yang dapat diolah menjadi pupuk organic karena mengandung sumber hara makro yang dibutuhkan tanaman. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh komposisi terbaik dari campuran limbah organik (sabut kelapa, kulit kopi dan kotoran ayam) terhadap pupuk padat yang sesuai SNI. Penelitian ini dilakukan dalam empat tahap. Tahap pertama dilakukan preparasi limbah organic (sabut kelapa, kulit kopi dan kotoran ayam) yaitu dengan memperkecil ukurannya. Tahap kedua dilakukan pengujian unsur C, N, P dan K dari campuran limbah organik dengan variasi bakteri EM-4 (100, 200 dan 300 mL). Tahap ketiga dilakukan pengujian dengan variasi campuran limbah organik dengan penambahan bakteri EM-4 terbaik. Tahap keempat dilakukan pengukuran pH dan temperatur tiap hari selama sebulan pada tahap kedua dan ketiga. Dari hasil penelitian didapatkan penambahan bakteri EM-4 terbaik yaitu 100 mL. Kandungan unsur karbon masing-masing sampel A, B, C, D dan E yaitu 17,559%, 13,611%, 13,182%, 12,970% dan 15,821%. Kandungan unsur nitrogen masing-masing yaitu 5,112%, 2,601%, 2,198%, 3,459% dan 4,409%. Kandungan unsur posfor masing-masing yaitu 4,279%, 2,227%, 2,648%, 3,068% dan 3,205%. Kandungan unsur kalium masing-masing yaitu 6,798%, 3,231%, 3,410%, 3,490% dan 5,257%. Dapat disimpulkan kandungan C, N, P dan K yang telah memenuhi SNI pupuk padat yaitu terdapat pada sampel A dengan campuran limbah organik sabut kelapa, kulit kopi, kotoran ayam dan bakteri EM-4.
Pemurnian Minyak Jelantah Dengan Proses Adsorbsi Alamsyah, Muhammad; Kalla, Ruslan; Ifa, La
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 2 No. 2 (2017): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33536/jcpe.v2i2.890

Abstract

Pemakaian minyak jelantah yang berkelanjutan dapat merusak kesehatan manusia. Upaya untuk mengolah minyak jelantah dalam rangka penghematan namun tidak membahayakan kesehatan sangat diperlukan. Salah satunya adalah dengan melakukan regenerasi menggunakan bahan alam yang ramah lingkungan sebagai adsorben. Yang bertujuan mengetahui pengaruh zeolit dan biji kelor sebagai adsorben dalam pemurnian minyak jelantah terhadap kualitas minyak jelantah serta Mengetahui kualitas minyak jelantah yang dihasilkan dari zeolit dan biji kelor dengan metode adsorben. Penelitian ini menggunakan alat kolom kromatografi yang telah di desain untuk proses adsorpsi dan menggunakan bahan baku zeolit dan biji kelor dengan variable tetap 150 ml minyak jelantah dan variable berubah zeolit 5 gr, 10 gr, 15 gr, 20 gr serta biji kelor 5 gr, 10gr, 15 gr, 20 gr. Hasil yang diperoleh dalam penentuan kandungan asam lemak bebas minyak goreng bekas setelah pemurnian sebesar 0,284% dan peroksida 6,4259 kandungan air 0,065%,. Ini menunjukkan bahwa minyak yang telah dimurnikan dengan adsorben zeolit serta adsoben biji kelor hasil yang diperoleh dalam penentuan kandungan peroksida 8,8368 dan bilangan asam 0,584 serta kandungan air 0,094%, mempunyai kemumian cukup baik
Pengaruh jenis perekat terhadap kualitas biobriket hasil pirolisis limbah biomassa lignoselusa D07 Restin, Restin; Ifa, La; Yani, Syamsuddin
Jurnal Teknik Industri Terintegrasi (JUTIN) Vol. 8 No. 1 (2025): January
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jutin.v8i1.41569

Abstract

Currently the world is facing energy crisis. This is due to the increasingly depleting energy sources from non-renewable fossil raw materials such as petroleum, natural gas and coal which are not balanced by increasing population growth. The solution to the energy crisis from fossil raw materials is using alternative energy sources, one of them is biomass. Lignocellulose D07 is a product biomass from the seaweed processing industries, that comes from plant lignocellulose. Biomass quality can be improved by using the pyrolysis method. Pyrolysis is a thermal degradation method without the oxygen. Pyrolysis produces two main products, that is char (charcoal) and liquid smoke. Pyrolysis temperature can affect the quality of the resulting product. Charcoal from the pyrolysis process can be used for making biobriquettes. Biobriquettes one of renewable energy that can be produced from various raw materials, are cleaner and environmentally friendly. When we make biobriquettes, we need add adhesive to unite the charcoal granules so that they can be shaped as needed. The type of adhesive can affect the quality of the product produced. Based this background, this research has two objectives, namely to determine the effect of pyrolysis temperature on the quality of charcoal and to determine the effect of adhesive type on the quality of briquettes. There are three pyrolysis temperatures used, namely 300,350,400⁰C, while the adhesive used includes starch, sago and cornstarch. The analysis carried out includes water content, ash content, volatile matter, heating value and sulfur. Based on the research results, it was found that a pyrolysis temperature of 400 ⁰C was the best variable with a water content of 2.8%, ash content of 5.2%, volatile content of 30.47 and a heating value of 6832 cal/gram. Meanwhile, the briquette adhesive that showed the best quality was obtained from sago with the highest calorific value of 6874 cal/gram, water content of 4.9%, ash content of 5.06% and volatile matter of 40.66%.
Analisis dampak lingkungan budidaya ikan terhadap kondisi lingkungan di Kelurahan Panaikang Kecamatan Panakukang Kota Makassar Febrianti, Haswina; Ifa, La; Yani, Setyawati
Jurnal Teknik Industri Terintegrasi (JUTIN) Vol. 8 No. 1 (2025): January
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jutin.v8i1.41656

Abstract

This study aims to analyze the environmental impacts of fish farming activities on the surrounding environment, particularly on the Tallo River and nearby residential areas. The environmental impact assessment focused on water and air quality across various aquaculture sites. Water quality was analyzed through in-situ and ex-situ sampling at four distinct points: Station 1 (upstream of the Tallo River), Station 2 (discharge outlet from aquaculture ponds into the Tallo River), Station 3 (downstream of the Tallo River), and Station 4 (wells within the Panaikang residential area). Three parameters were evaluated: physical (temperature, odor, and color), chemical (pH, DO, BOD, and COD), and biological (total coliform). While the physical and biological parameters met established standards, the chemical parameters fell below permissible thresholds. Specifically, DO, BOD, and COD values at Stations 2 and 3 revealed concerning levels: DO at 3.8 mg/L and 2.6 mg/L; BOD at 3.61 mg/L and 11.7 mg/L; and COD at 36.9 mg/L and 74.1 mg/L, respectively, indicating water pollution attributable to fish farming activities. Air quality assessments, including noise level measurements, were conducted at two points: Station 1 (within the aquaculture area) and Station 2 (Panaikang residential area). Noise levels were measured exclusively in the aquaculture zone. Results demonstrated compliance with regulatory standards for air quality and noise levels, indicating no significant risk of air pollution. A community survey further corroborated these findings, with 77% of respondents affirming that aquaculture activities did not disrupt their daily lives or environmental quality.
Efektifitas Kulit Buah Kakao (Theobroma Cacao L) Sebagai Biosorben Terhadap Logam Pb dan Cd dan Anti Bakteri Terhadap Staphylococcus Aureus Prasetyo, Dicky; Ifa, La; Yani, Setyawati
Jurnal Teknik Industri Terintegrasi (JUTIN) Vol. 8 No. 3 (2025): July
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jutin.v8i3.48742

Abstract

This study aims to determine the effect of the concentration of cocoa peel biosorbent (Theobroma Cacao L) on the decrease of Pb & Cd Metals in AAS wastewater and to determine the effect of cocoa peel extract concentration in inhibiting the growth of Staphylococcus Aureus (S.Aureus) bacteria. Cocoa peel biosorbents were activated with HNO3 0.6 N. Biosorbents with masses of 5 grams, 10 grams and 15 grams were able to absorb Pb and Cd metals in the waste, which absorbed 1.7703 mg/L, 2.1428 mg/L and 2.4868 mg/L respectively from the initial concentration of waste which was 3.0069 mg/L. So that the absorption effectiveness was obtained at 58.87%, respectively.  71.26% and 82.70% where the largest absorption was with the addition of 15 grams of biosorbent and metal Cd in the waste, which were absorbed by 2.0100 mg/L, 2.3538 mg/L and 2.6499 mg/L respectively from the initial concentration of waste, which was 3.0024 mg/L. So that the absorption effectiveness was obtained which was 66.94%, 78.35% and 88.25%, respectively, where the largest absorption was with the addition of biosorbents of 15 grams.
PEMBUATAN PUPUK KOMPOS DARI LIMBAH PRODUKSI BIOHIDROGEN YANG BERBAHAN BAKU AMPAS KELAPA Ifa, La; Syarif, Takdir; Hasan, Safrudin; Sangkala, Sangkala
ILTEK : Jurnal Teknologi Vol. 15 No. 02 (2020): ILTEK : Jurnal Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47398/iltek.v15i02.25

Abstract

Ampas kelapa hasil samping (limbah) pembuatan biohidrogen masih memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Hal ini menyebabkan ampas kelapa berpotensi untuk dimanfaatkan dan diolah menjadi kompos. Penelitian ini dilakukan dengan membuat variasi rasio antara limbah biohidrogen dan kotoran sapi dengan perbandingan 100:0; 80:20; 60:40; 40:60; 20:80 kemudian ditempatkan pada alat pengomposan. Dari penilitian ini diperoleh kandungan BOD, COD, TSS pada limbah biohidrogen (ampas kelapa) masih sangat tinggi, belum dapat dibuang langsung ke lingkungan karena dibutuhkan proses lebih lanjut dengan menjadikannya sebagai kompos. Dipelajari variabel yang berpengaruh pada proses pengomposan, yaitu waktu pengomposan dan rasio limbah biohidrogen dan kotoran sapi. Uji akhir yang dianalisis adalah kandungan unsur hara untuk menentukan kualitas kompos. Analisis pH selama proses pengomposan menujukkan hasil rata-rata optimal yaitu pH berkisaran antara 6-8 sesuai SNI 19-7030-2004 pH yang diizinkan antara 6,8-7,49 dan analisis suhu selama proses pengomposan masih berada pada fase mesofilik dengan suhu berkisaran 27-30 oC. C/N rasio kompos yang memenuhi syarat SNI 19-7030-2004 adalah ratio 80 : 20; 60:40; 40:60; dan 20 : 80 dengan nilai C/N rasionya 9,816%, 11,902%,10,938%,dan 13,516%.