Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Formulasi dan evaluasi ekstrak daun wuru ketek dalam pasta gigi sebagai anti bakteri Cedric, Alif; Adrianto, Dimas; Arianti, Varda; Fakriah, Amalina
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 5 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i5.1700

Abstract

The wuru ketek plant (shrub/small tree) contains antibacterial substances, making it a potential alternative for toothpaste formulation. Toothpaste functions as a cleaning cosmetic, mouth freshener, and caries prevention. Caries itself is caused by demineralization of the tooth surface due to bacterial growth, one of which is Staphylococcus aureus. This study focuses on the effectiveness of wuru ketek leaf extract in toothpaste formulation. The results of the antibacterial test showed varying inhibition zones: formula 1 was 10.25 mm, formula 2 was 17.25 mm, and formula 3 was 14.20 mm. In addition, physical evaluation of toothpaste (including organoleptic, homogeneity, spreadability, pH, foam height, and viscosity) was carried out through accelerated stability tests at extreme temperatures, room, and controlled for 45 days. All physical parameters of the preparation have met the requirements. Tanaman wuru ketek (perdu/pohon kecil) mengandung zat antibakteri, menjadikannya alternatif potensial untuk formulasi pasta gigi. Pasta gigi berfungsi sebagai kosmetik pembersih, penyegar mulut, dan pencegah karies gigi. Karies gigi sendiri disebabkan oleh demineralisasi permukaan gigi akibat pertumbuhan bakteri, salah satunya Staphylococcus aureus. Penelitian ini berfokus pada efektivitas ekstrak daun wuru ketek dalam formulasi pasta gigi. Hasil uji antibakteri menunjukkan zona hambat yang bervariasi: formula 1 sebesar 10,25 mm, formula 2 sebesar 17,25 mm, dan formula 3 sebesar 14,20 mm. Selain itu, evaluasi fisik pasta gigi meliputi (organoleptis, homogenitas, daya sebar, pH, tinggi busa, dan viskositas) dilakukan melalui uji stabilitas dipercepat pada suhu ekstrem, ruang, dan terkontrol selama 45 hari. Semua parameter fisik sediaan tersebut telah memenuhi persyaratan.
Inovasi pemanfaatan limbah kulit Jeruk Peras (Citrus nobillis L) dalam pembuatan formulasi sediaan sampo padat Nugroho, Haryo Bayu; Adrianto, Dimas; Fakhriah, Amalina; Arianti, Varda
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 6 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i6.1776

Abstract

Kulit jeruk merupakan salah satu limbah organik yang berpotensi dimanfaatkan karena kandungan minyak atsirinya yang kaya senyawa aktif seperti limonene, linalool, sitronelal, dan geraniol, serta senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, terpenoid, tanin, dan saponin yang memiliki aktivitas antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan sampo padat dari minyak atsiri kulit jeruk peras serta mengevaluasi efektivitas antibakterinya. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan tiga formulasi yang mengandung 0%, 10% dan 20% minyak atsiri kulit jeruk peras. Evaluasi dilakukan melalui uji sifat fisik, uji kimia, dan uji aktivitas antibakteri. Hasil menunjukkan bahwa sediaan homogen, terjadi perubahan warna dan pH akibat perlakuan suhu panas, serta tinggi busa memenuhi standar yaitu antara 1,3–22 cm. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan zona hambat sebesar 13,5 - 22,18 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus, yang tergolong dalam kategori kuat – sangat kuat. Hasil ini menunjukkan bahwa minyak atsiri kulit jeruk peras berpotensi digunakan sebagai bahan antibakteri dalam sediaan sampo padat.
Perbandingan aktivitas antibakteri Daun Salam (Syzygium polyanthum) terhadap Staphylococcus aureus menggunakan dua pelarut Prianti, Rahmania; Arianti, Varda; Fakhriah, Amalina; Maulina, Devi
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 6 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i6.1786

Abstract

Staphylococcus aureus merupakan salah satu penyebab infeksi paling umum. Infeksi akibat S. aureus menjadi tantangan kesehatan serius, terutama karena meningkatnya resistensi terhadap antibiotik. Oleh karena itu, eksplorasi bahan alam sebagai agen antibakteri alternatif sangat diperlukan. Salah satu tanaman yang berpotensi adalah daun salam (Syzygium polyanthum), yang diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas antibakteri ekstrak daun salam dengan dua pelarut (etanol 96% dan aquadest) terhadap S.aureus. Uji dilakukan menggunakan metode difusi cakram dengan variasi konsentrasi ekstrak (80%, 60%, 40%, 20%), serta klindamisin 0,1% sebagai kontrol positif dan DMSO 10% sebagai kontrol negatif. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% menghasilkan zona hambat rentang rata-rata sebesar 5,830,87 mm s.d. 10,661,12 mm, sedangkan ekstrak aquadest menghasilkan zona hambat 5,150,07 mm s.d. 10,610,97 mm. Meskipun tidak menunjukkan hubungan linier terhadap konsentrasi, kedua ekstrak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S. aureus. Dengan demikian, daun salam berpotensi dikembangkan sebagai sumber agen antibakteri alami untuk mengatasi resistensi antibiotik.
Skrining fitokimia dan standarisasi ekstrak etanol pada Daun Kelor (Moringa Oleifera L.) dengan parameter spesifik dan non spesifik asal Bogor Anaswa, Zahra; Arianti, Varda; Adrianto, Dimas; Maulina, Devi
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 6 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i6.1972

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan skrining fitokimia dan standarisasi ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera L.) (Moringa oleifera L.) dengan parameter spesifik dan non spesifik asal Bogor, Jawa Barat. Dengan mengetahui kandungan metabolit sekunder dan parameter standar yang dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera L.) memiliki kandungan metabolit sekunder yang lengkap, seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid dan glikosida. Parameter standar yang diperoleh adalah rendemen 18,1%, kadar sari larut etanol 24,4%, kadar air 5,2%, kadar abu 6,05%, susut pengeringan 5,2%, bobot jenis 0,94 g/ml, cemaran logam tidak terdeteksi dan cemaran mikroba hasilnya negatif. Perbedaan kuantitatif dengan studi di wilayah lain seperti India dan Afrika dapat dipengaruhi oleh iklim, tanah, dan varietas lokal. Kondisi agroklimat tropis basah di Bogor, Indonesia, dapat memengaruhi kadar senyawa aktif dalam Daun Kelor (Moringa oleifera L.) . Penelitian ini berkontribusi pada data fitokimia Daun Kelor (Moringa oleifera L.) asal Bogor, Indonesia, yang belum banyak dieksplorasi dalam studi terdahulu.