Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Tingkat pengetahuan dan sikap mahasiswa kesehatan tentang swamedikasi di Institut Kesehatan Hermina pada kampus Jatinegara Fatah, Muhammad; Adiana, Sylvi; Arianti, Varda
Journal of Law, Administration, and Social Science Vol 5 No 3 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/jolas.v5i3.1757

Abstract

Latar Belakang: Swamedikasi berpotensi menyebabkan reaksi obat yang merugikan, kegagalan pengobatan, interaksi antar obat, perkembangan resistensi antimikroba, dan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) didapatkan hasil persentase masyarakat yang melakukan pengobatan sendiri di DKI Jakarta pada tahun 2022 sebesar 85,46%. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling didapatkan sampel penelitian sebanyak 249 responden, pengambilan data dilakukan dengan menggunakan angket (kuesioner). Hasil: pengolahan data tingkat pengetahuan mahasiswa tentang swamedikasi diperoleh hasil sebanyak 197 responden 79,1% dengan kategori baik. Hasil pengolahan data sikap mahasiswa mengenai swamedikasi sebanyak 101 responden 40,56% dengan kategori cukup. Disarankan: Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan target responden diluar kampus jatinegara atau dengan metode yang berbeda.
Perbandingan standarisasi ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis L.) dengan pelarut yang berbeda Pratama, Arya Yudha; Arianti, Varda; Adrianto, Dimas; Krismayadi, Krismayadi
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 6s (2024): Mewujudkan Indonesia Sehat: Transformasi Sistem Kesehatan di Era Baru
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i6s.1176

Abstract

Teh hijau (Camellia sinensis L. Kuntze) adalah salah satu tanaman yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Teh hijau dikenal sebagai minuman herbal berkhasiat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai parameter spesifik dan non spesifik serta kandungan metabolit sekunder pada ekstrak etanol dan aquadest teh hijau. Ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan aquadest. Jenis penelitian eksperimental. Hasil ekstrak didapatkan  rendemen etanol 31% dan aquadest 28%. Pada hasil penetapan parameter spesifik dan non spesifik menunjukkan bahwa ekstrak teh hijau  pada pengujian organoleptik didapatkan hasil berbentuk kental, warna coklat, bau khas, rasa pahit sepat. kadar sari larut etanol pada ekstrak etanol 42%, ekstrak aquadest 45,4% dan kadar sari larut aquadest esktrak etanol 49% dan aquadest 50,1%. Hasil kandungan senyawa metabolit sekunder pada teh hijau mengandung flavonoid, tannin, saponin dan alkoloid. Hasil standarisasi parameter non spesifik pada ekstrak teh hijau, kadar air ekstrak etanol 2,0% ekstrak aquadest 2,2%, Kadar abu ekstrak etanol 6,4% ekstrak aquadest 8,6%, susut pengeringan ekstrak etanol 0,14% ekstrak aquadest 0,19%, sisa pelarut ekstrak etanol 0,9574, bobot jenis ekstrak etanol 0,97, ekstrak aquadest 0,96. Hasil dari standarisasi ekstrak teh hijau  dalam penelitian ini memenuhi persyaratan.  
Formulasi dan evaluasi ekstrak daun wuru ketek dalam pasta gigi sebagai anti bakteri Cedric, Alif; Adrianto, Dimas; Arianti, Varda; Fakriah, Amalina
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 5 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i5.1700

Abstract

The wuru ketek plant (shrub/small tree) contains antibacterial substances, making it a potential alternative for toothpaste formulation. Toothpaste functions as a cleaning cosmetic, mouth freshener, and caries prevention. Caries itself is caused by demineralization of the tooth surface due to bacterial growth, one of which is Staphylococcus aureus. This study focuses on the effectiveness of wuru ketek leaf extract in toothpaste formulation. The results of the antibacterial test showed varying inhibition zones: formula 1 was 10.25 mm, formula 2 was 17.25 mm, and formula 3 was 14.20 mm. In addition, physical evaluation of toothpaste (including organoleptic, homogeneity, spreadability, pH, foam height, and viscosity) was carried out through accelerated stability tests at extreme temperatures, room, and controlled for 45 days. All physical parameters of the preparation have met the requirements. Tanaman wuru ketek (perdu/pohon kecil) mengandung zat antibakteri, menjadikannya alternatif potensial untuk formulasi pasta gigi. Pasta gigi berfungsi sebagai kosmetik pembersih, penyegar mulut, dan pencegah karies gigi. Karies gigi sendiri disebabkan oleh demineralisasi permukaan gigi akibat pertumbuhan bakteri, salah satunya Staphylococcus aureus. Penelitian ini berfokus pada efektivitas ekstrak daun wuru ketek dalam formulasi pasta gigi. Hasil uji antibakteri menunjukkan zona hambat yang bervariasi: formula 1 sebesar 10,25 mm, formula 2 sebesar 17,25 mm, dan formula 3 sebesar 14,20 mm. Selain itu, evaluasi fisik pasta gigi meliputi (organoleptis, homogenitas, daya sebar, pH, tinggi busa, dan viskositas) dilakukan melalui uji stabilitas dipercepat pada suhu ekstrem, ruang, dan terkontrol selama 45 hari. Semua parameter fisik sediaan tersebut telah memenuhi persyaratan.
Inovasi pemanfaatan limbah kulit Jeruk Peras (Citrus nobillis L) dalam pembuatan formulasi sediaan sampo padat Nugroho, Haryo Bayu; Adrianto, Dimas; Fakhriah, Amalina; Arianti, Varda
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 6 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i6.1776

Abstract

Kulit jeruk merupakan salah satu limbah organik yang berpotensi dimanfaatkan karena kandungan minyak atsirinya yang kaya senyawa aktif seperti limonene, linalool, sitronelal, dan geraniol, serta senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, terpenoid, tanin, dan saponin yang memiliki aktivitas antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan sampo padat dari minyak atsiri kulit jeruk peras serta mengevaluasi efektivitas antibakterinya. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan tiga formulasi yang mengandung 0%, 10% dan 20% minyak atsiri kulit jeruk peras. Evaluasi dilakukan melalui uji sifat fisik, uji kimia, dan uji aktivitas antibakteri. Hasil menunjukkan bahwa sediaan homogen, terjadi perubahan warna dan pH akibat perlakuan suhu panas, serta tinggi busa memenuhi standar yaitu antara 1,3–22 cm. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan zona hambat sebesar 13,5 - 22,18 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus, yang tergolong dalam kategori kuat – sangat kuat. Hasil ini menunjukkan bahwa minyak atsiri kulit jeruk peras berpotensi digunakan sebagai bahan antibakteri dalam sediaan sampo padat.
Perbandingan aktivitas antibakteri Daun Salam (Syzygium polyanthum) terhadap Staphylococcus aureus menggunakan dua pelarut Prianti, Rahmania; Arianti, Varda; Fakhriah, Amalina; Maulina, Devi
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 6 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i6.1786

Abstract

Staphylococcus aureus merupakan salah satu penyebab infeksi paling umum. Infeksi akibat S. aureus menjadi tantangan kesehatan serius, terutama karena meningkatnya resistensi terhadap antibiotik. Oleh karena itu, eksplorasi bahan alam sebagai agen antibakteri alternatif sangat diperlukan. Salah satu tanaman yang berpotensi adalah daun salam (Syzygium polyanthum), yang diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas antibakteri ekstrak daun salam dengan dua pelarut (etanol 96% dan aquadest) terhadap S.aureus. Uji dilakukan menggunakan metode difusi cakram dengan variasi konsentrasi ekstrak (80%, 60%, 40%, 20%), serta klindamisin 0,1% sebagai kontrol positif dan DMSO 10% sebagai kontrol negatif. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% menghasilkan zona hambat rentang rata-rata sebesar 5,830,87 mm s.d. 10,661,12 mm, sedangkan ekstrak aquadest menghasilkan zona hambat 5,150,07 mm s.d. 10,610,97 mm. Meskipun tidak menunjukkan hubungan linier terhadap konsentrasi, kedua ekstrak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S. aureus. Dengan demikian, daun salam berpotensi dikembangkan sebagai sumber agen antibakteri alami untuk mengatasi resistensi antibiotik.