Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Asthma in pregnant woman and its management : a review Farni Yuliana Pratiwi; Hadiatussalamah; Intan Adevia Rosnarita; Yuda Anzas Mara; Novia Ariani Dewi
Indonesian Journal of Pharmacology and Therapy Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing Universitas Gadjah Mada and Indonesian Pharmacologist Association or Ikatan Farmakologi Indonesia (IKAFARI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijpther.3239

Abstract

Asthma is the most common comorbidity in pregnant women and gives 30% of exacerbation experience. The other 30% will see improvement of their symptoms, and the rest will not see the changes. Exacerbations have become a major clinical concern in pregnant women. Medical concerns for the mother and the childbirth included low birth weight, preeclampsia, and preterm delivery. The major goal is to keep asthma under control to ensure mother's health and well-being, as well as fetal growth. Controlling asthma and preventing exacerbations are the main goals of asthma treatment during pregnancy. Treatment for asthma should ideally begin before conception. This is to avoid day-time and night-time symptoms, as well as to keep lung function. Furthermore, fetal oxygenation is a crucial factor during the pregnancy. With a few exceptions, asthma drugs are basically the same in pregnancy as they are in non-pregnant people. Inhaled corticosteroids (ICS) are often used as a controlling treatment. Budesonide is the recommended ICS. Short-acting β-agonist (SABA) preferable as reliever in acute asthma and to relieve exacerbation. As an add-on therapy for medium to high dose ICS, long-acting β-gonists (LABA) is often used. Virus infections and ICS nonadherence are the two most common causes of asthma exacerbations during pregnancy.
Efektivitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Bronkopneumonia Pediatri Di Instalasi Rawat Inap Rsud dr. Loekmono Hadi Kudus Amalia, Shofia; Etikasari, Ria; Rosnarita, Intan Adevia
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 4 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i4.109143

Abstract

Bronkopneumonia menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian pada anak balita, terutama di negara-negara dengan status perkembangan rendah hingga menengah, sehingga memerlukan terapi antibiotik yang tepat agar perbaikan kondisi klinis pasien dapat tercapai secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil penggunaan antibiotik pada pasien bronkopneumonia pediatri serta mengevaluasi efektivitas penggunaannya berdasarkan penurunan suhu tubuh, nilai respiratory rate (RR), jumlah leukosit, dan perbaikan gejala klinis (batuk, sesak, dan pilek). Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan kohort retrospektif menggunakan data rekam medis pasien periode Juni–Desember 2024. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon, Mann-Whitney, dan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan adalah ampicillin-sulbactam (61,4%), diikuti oleh ceftriaxone (35%). Penggunaan antibiotik efektif dalam menurunkan suhu tubuh, nilai RR, jumlah leukosit, serta memperbaiki gejala klinis pasien. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara ceftriaxone dan ampicillin-sulbactam dalam menurunkan suhu tubuh (p = 0,411), nilai RR (p = 0,974), jumlah leukosit (p = 0,496), serta pada durasi perbaikan gejala batuk (p = 0,649), sesak (p = 0,767), dan pilek p = 0,188. Dapat disimpulkan bahwa profil penggunaan antibiotik pada pasien bronkopneumonia pediatri di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus didominasi oleh ampicillin-sulbactam, dan penggunaannya efektif dalam memperbaiki kondisi klinis pasien, serta tidak terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan antara ceftriaxone dan ampicillin-sulbactam.
PEMANFAATAN URBAN FARMING TOGA DAN PENGELOLAAN MENJADI PRODUK UNGGULAN DESA Muhammad Nurul Fadel; Intan Adevia Rosnarita; Bintari Tri Sukoharjanti; Riana Putri Rahmawati; Muhamad Khudzaifi; Emma Jayanti Besan; Hasriyani Hasriyani; Galih Kurniawan
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 6, No 1 (2024): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v6i1.2420

Abstract

Urban farming merupakan dapat menjadi salah satu solusi atas permasalahan semakin langkanya lahan pertanian di kota-kota besar. Penggunaan obat tradisional untuk pengobatan di masyarakat terus meningkat dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Salah satu inisiatif penggunaan obat tradisional adalah TOGA (tanaman obat keluarga) dengan memanfaatkan lahan yang ada sebagai urban farming. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat dan kegunaan TOGA dalam kehidupan sehari-hari serta pemanfaatan urban farming. Metode pengabdian masyarakat dilakukan melalui edukasi dan diskusi tentang cara meningkatkan pengalaman dan pengetahuan masyarakat dalam penerapan urban farming TOGA, baik dalam penanaman maupun pemanfaatannya serta diskusi mengenai pentingnya pemanfaatan bahan alam dan TOGA sebagai alternatif pilihan pengobatan untuk minor ilness. Hasil pengabdian ini dapat meningkatkan produktivitas dan keberdayaan warga terhadap pemanfaatan urban farming terutama tanaman obat keluarga (TOGA) dan juga meningkatkan empati serta kepedulian apoteker dan tenaga kefarmasian dalam memberikan edukasi dan swamedikasi tanaman obat.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Terhadap Swamedikasi Diare Pada Balita Di Dukuh Manggal Telo Purwodadi Kinanti Putri Amalia; Zaenal Fanani; Intan Adevia Rosnarita
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2846

Abstract

Diare merupakan penyebab kematian kedua terbanyak setelah pneumonia pada balita di Indonesia. Swamedikasi yang tidak tepat berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang serius, sehingga pengetahuan ibu mengenai diare dan pengobatan mandiri menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan praktik swamedikasi diare pada balita di Dukuh Manggal Telo, Purwodadi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 30 ibu yang memiliki balita, dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang meliputi data demografis, pengetahuan tentang diare, dan praktik swamedikasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan pengetahuan tentang diare (p = 0,010) serta antara tingkat pendidikan dengan praktik swamedikasi (p = 0,000). Pengetahuan ibu tentang swamedikasi diare tergolong baik, sedangkan praktik swamedikasi tergolong cukup. Jenis obat yang paling banyak digunakan dalam swamedikasi adalah Lacto B, Zinkid, dan Oralit. Temuan ini menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan bagi ibu dalam menangani diare balita secara mandiri namun tepat.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Swamedikasi Penyakit Gastritis Pada Masyarakat Di Dusun Kedungwatu Blora Siti Mumfaridatul Mukarromah; Zaenal Fanani; Intan Adevia Rosnarita
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2965

Abstract

Latar belakang: Swamedikasi adalah perilaku yang seringdigunakan masyarakat untuk mendapatkan solusi terkait masalah kesehatan, untuk alasan ini swamedikasi harus tetap diawasi oleh tenaga kesehatan. Masyarakat membutuhkan pengetahuan yangtepat untuk mendapatkan perilaku yang sesuai dalam swamedikasi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingat pengetahuan dengan perilaku swamedikasi gastritis pada masyarakat Dusun Kedungwatu Blora. Metode penelitian: Penelitian ini merupakan observasional deskripif dan survei yang bersifat analitik dengan cara melakukan pengambilan data melalui kuesoiner pengetahuan dan perilaku. Studi ini dilaksanakan di Dusun Kedungwatu Blora, dengan populasi 216 jiwa. Pengambilan sampel diambil dengan Teknik Purposive Sampling. Sampel diambil sebanyak 85 responden yang akan dilakukan pada bulan juni 2025. Instrumen penelitian ini berisi dua variabel, yaitu variabel tingkat pengetahuan swamedikasi gastritis masyarakat dan perilaku swamedikasi gastritis masyarakat. Setelah data sudah didapatkan akan dilakukan pengujian menggunakan uji kolerasi, yaitu dengan teknik uji Spearman Rank. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan yang lebih baik tentang hubungan antara pengetahuan dan perilaku swamedikasi penyakit gastritis pada masyarakat. Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa dari 85 responden, sebagian besar memilikitingkat pengetahuan dalam kategori baik (62,4%), dan 58,8% responden memiliki perilaku swamedikasi yang baik. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan nilai p = 0,024 dan nilai r = 0,245, yang mengindikasikan adanya hubungan positif yang signifikan namun lemah antara tingkat pengetahuan denganperilaku swamedikasi gastritis pada masyarakat di Dusun Kedungwatu Blora. Kesimpulan: Bahwa terdapat hubunganantara tingkat pengetahuan dengan perilaku swamedikasi gastritis.
Analisis Terapi dan interaksi obat Antiplatelet pada Pasien Angina Pektoris Stabil di RSUD RA Kartini Jepara Firdaus, Ade Kurnia bayu; Etikasari, Ria; Rosnarita, Intan Adevia
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.108254

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia, dengan prevalensi di Indonesia sebesar 0,85‰. Terapi antiplatelet merupakan strategi utama dalam pencegahan sekunder PJK, termasuk pada kasus angina pektoris stabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan dan potensi interaksi obat antiplatelet pada pasien angina pektoris stabil. Desain penelitian ini menggunakan observasional dengan kohort desain retrospektif dan pendekatan kuantitatif dan kualitatif,  Data diambil dari rekam medis pasien rawat jalan di RSUD RA Kartini Jepara periode Januari 2023–Desember 2024. Variabel yang dianalisis meliputi usia, jenis kelamin, jenis terapi antiplatelet (aspilet 80 mg, klopidogrel 75 mg, atau kombinasi), serta potensi interaksi obat. Dari 31 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, mayoritas berusia 50–59 tahun (54,85%). Pola terapi didominasi penggunaan aspilet tunggal (67,74%), diikuti kombinasi dengan klopidogrel (19,35%), dan klopidogrel tunggal (12,90%). Terdapat 94 potensi interaksi: 30 (31,9%) minor, 63 (67%) moderate, dan 1 (1,1%) mayor. Interaksi mayor ditemukan antara klopidogrel dan ketorolac. 
Evaluation of Black Garlic (Allium Sativum) as a Nephroprotective Agent in Gentamicin-Induced Renal Injury Mice Sukesih, Sukesih; Adevia Rosnarita, Intan; Wigati, Atun
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol. 23 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mf.v23i1.31799

Abstract

Gentamicin is widely used for severe Gram‑negative infections but is limited by nephrotoxicity, often reflected by increased serum creatinine. To evaluate the dose‑dependent effect and safety profile of black garlic (Allium sativum) ethanol extract on serum creatinine in a gentamicin‑induced renal injury mouse model. An in vivo experimental study was conducted in 18 male Wistar mice allocated into six groups (n=3/group): negative control (vehicle), positive control (gentamicin vehicle), and four treatment groups (gentamicin plus black garlic extract at 25, 50, 100, and 400 mg/kg/kg body weight). Serum creatinine was measured at Day 0 (baseline), Day 5 (post‑induction), and Day 8 (post‑treatment) using the Jaffe kinetic method. One‑way ANOVA indicated a significant difference among groups (p<0.05). Post‑hoc analysis showed that 25 and 50 mg/kg/kg did not differ significantly from the control group (p>0.05). In contrast, 100 and 400 mg/kg/kg significantly increased serum creatinine (p<0.05). Black garlic ethanol extract showed a dose‑dependent pattern. Low doses (25–50 mg/kg/kg) were not statistically different from control, whereas higher doses (100–400 mg/kg/kg) were associated with increased creatinine, suggesting potential nephrotoxic effects at high doses. Mechanistic pathways require confirmation using histopathology and oxidative‑stress/inflammatory biomarkers.