Claim Missing Document
Check
Articles

Found 55 Documents
Search
Journal : Wana Lstari

ESTIMASI KARBON YANG TERKANDUNG PADA JENIS CEMARA GUNUNG (Casuarina junghuhniana Miq.) DI RESORT KONSERVASI WILAYAH TAMAN WISATA ALAM RUTENG WILAYAH I GOLO LUSANG Hari, Elisabeth Sartika; Marimpan, Lusia Sulo; Purnama, Maria M. E.
Wana Lestari Vol 1 No 1 (2019): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.1902

Abstract

Climate change due to global warming is an environmental issue related to forests which is now being explored in the future. Reducing the impact of climate change, efforts that can be done at this time are to reduce carbon emissions, increase carbon sequestration and maintain existing carbon stocks by managing forests to stay awake. The purpose of this study was to determine the estimation of the amount of carbon found in the type of Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana Miq) at the Conservation Resort of the Golo Lusang Region I Nature Park in Ruteng. This study was limited to an area of ​​50 ha from the total area of ​​the Golo Lusang Region I, which was 8,742.83 Ha. Data retrieval is done by non destructive sampling method with sampling intensity of 5% of the total. Sampling in this study was carried out using the random sampling method. The amount of carbon reserves in each cemara gunung (Casuarina junghuhniana Miq) type is calculated by the allometric equation The total carbon content in the study location amounted to 246,592.66 tons / ha. For the tree phase that is equal to 245,308.1 tons / ha, the pole phase is 833.65 tons/ha of sapling phase of 450.92 tons/ha and seedling phase of 0 tons / ha. The highest percentage of carbon content is found in the stem (76%), twigs (16%) and leaves (8%).
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP HUTAN TAMAN WISATA ALAM CAMPLONG DI KELURAHAN CAMPLONG I, KECAMATAN FATULEU, KABUPATAN KUPANG, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Maubanu, Demris A.; Purnama, Maria M. E.; Rammang, Nixon
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2581

Abstract

Kawasan Taman Wisata Alam Camplong berdasarkan surat menurut Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.423/Kpt-II/1999 Tentang Penetapan Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong, sejak tanggal 15 Juni 1999 dengan luas 696,60 Ha. Kemudian pada Tahun 2014 terbit dasar hukum terbaru yaitu Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.3911/MENHUT-VII/KUH/2014 tanggal 14 Mei 2014 tentang Kawasan Hutan Konservasi Perairan Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan luas luasan yang sama 696,60 Ha. Taman Wisata Alam Camplong merupakan salah satu Taman Wisata Alam yang ada di Indonesia, status kawasan Taman Wisata Alam Camplong adalah Hutan Produksi. Taman Wisata Alam Camplong memiliki vegetasi yang merupakan perwakilan 2 tipe ekosistem,yaitu ekosistem hutan musim dan ekositem savana. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui respon masyarakat tentang adanya Taman Wisata Alam di Kelurahan Camplong I dan untuk mengetahui pengaruh adanya Taman Wisata Alam terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kelurahan Camplong I. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah penduduk sekitar kawasan Tamana Wisata Alam Camplong yang berjumlah 66 jiwa, dengan penentuan menggunakan purposive random sampling. Berdasarkan hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa respon dari masyarakat Kelurahan Camplong I terhadap Taman Wisata Alam berupa sikap masyarakat terhadap kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong dikategorikan sangat baik, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong dikategorikan baik, dan perilaku masyarakat terhadap kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong dikategorikan tidak baik, sedangkan untuk persepsi masyarakat terhadap kondisi sosial ekonomi mayarakat sekitar kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong dikategorikan baik
STUDI KEKAYAAN DAN KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI JALUR TRACKING WOLOGAI TAMAN NASIONAL KELIMUTU, KABUPATEN ENDE, PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR Langkamau, Gregorius B; Purnama, Maria M. E.; Riwu Kaho, Norman P.L.B.
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2590

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi, diantaranya dalam kategori burung tercatat 1.771 jenis burung yang ditemukan diwilayah indonesia dan diantaranya terdapat 563 yang dilindungi. Kecamatan Kelimutu merupakan salah satu kecamatan yang terdapat sebuah Taman Nasional yang disebut Taman Nasional Kelimutu. Didalam Taman Nasional Kelimutu, terdapat areal Jalur Tracking Wologai. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan dari bulan Maret-April 2019 dengan menggunakan metode daftar jenis MacKinnon dan indeks Keanekaragaman ShannonWienner.Hasil penelitian menunjukkan di Jalur Tracking Wologai terdapat 36 jenis burung dari 20 suku. Dari 36 jenis burung tersebut terdapat 5 jenis burung yang dilindungi dan 5 jenis burung endemik Flores Jenis burung yang paling banyak yang ditemukan dilokasi penelitian adalah Perkici Pelangi sebanyak 18 individu sedangkan jenis burung yang paling sedikit ditemukan adalah Gelatik Batu Kelabu sebanyak 1 individu. Keanekaragaman jenis burung yang terdapat di Jalur Tracking Wologai adalah 3.37 dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi
ANALISIS KETERSEDIAAN DAN PREFERENSI PAKAN RUSA TIMOR (Rusa timorensis) DI STASIUN PENELITIAN BU’AT, KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN Faot, Maria L. A; Purnama, Maria M. E.; Riwu Kaho, Norman P.L.B.
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2595

Abstract

Berdasarkan IUCN red list, sejak beberapa tahun terakhir Rusa timor (Rusa timorensis) termasuk dalam kategori vulnerable (rentan). Upaya konservasi perlu dilakukan untuk mempertahankan populasi Rusa timor (Rusa timorensis) baik secara in-situ maupun ek-situ. Salah satu kawasan konservasi ek-situ Rusa timor yang ada di Nusa Tenggara Timur adalah Stasiun Penangkaran Bu’at Soe. Komponen habitat Rusa timor (Rusa timorensis) yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah pakan. Komponen habitat tersebut harus diperhatikan supaya kebutuhan hewan terpenuhi sehingga dapat hidup secara layak dan dapat membantu keberhasilan konservasi Rusa timor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan dan preferensi pakan Rusa timor yang ada di stasiun penelitian bu’at kabupaten Timor Tengah Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan melakukan analisis vegetasi untuk ketersediaan pakan sedangkan untuk preferensi pakan dengan menimbang dan mencatat sisa setiap jenis pakan yang tidak dimakan rusa, setelah data diperoleh, data di analisis secara deskriptif dan diolah menggunakan statistika One-Way Anova dan Uji lanjut BNJ. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Ketersediaan pakan Rusa timor (Rusa timorensis) yang tumbuh secara alami di Stasiun Penelitian Bu’at memiliki keanekaragaman yang tinggi berdasarkan analisis vegetasi yaitu Pennisetum purpureum, Leucaena leucocephala, Gliricidia sepium, Sesbania grandiflora, Ubi hutan, Senna alata, Eucalypthus urophylla, Calliandra, Acacia leucophloea, dan Chromolaena odorata. Namun berdasarkan pengamatan dan wawancara diketahui bahwa tidak semua pakan yang tumbuh alami dalam penangkaran dimakan rusa misalnya Casuarinaceae. Preferensi pakan Rusa timor (Rusa timorensis) di Stasiun Penelitian Bu’at yang paling tertinggi yaitu Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) dengan rata-rata komsumsi 14 kg/hari diikuti Lamtoro (Leucaena leucocephala) yaitu 12,40 kg, Jati Putih (Gmelina arborea) yaitu 9,8 kg, Kabesak Putih (Acacia leucophloea) 6,8 kg, Turi (Sesbania grandiflora) 6,4 kg sedangkan yang jenis pakan yang paling sedikit dikomsumsi Rusa timor adalah beringin (Ficus benjamina) dengan rata-rata komsumsi rusa yaitu 5,6 kg/hari.
UPAYA PELESTARIAN TAMAN WISATA ALAM 17 PULAU RIUNG MELALUI PENINGKATAN KUALITAS MASYARAKAT STUDI KASUS DESA NANGAMESE, KECAMATAN RIUNG, KABUPATEN NGADA, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Ola, Maria M. L; Purnama, Maria M. E.; Riwu Kaho, Norman P.L.B.
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2596

Abstract

Taman Wisata Alam 17 Pulau merupakan salah satu kawasan konservasi yang berada di Pulau Flores. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: bagaimana upaya pelestarian Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung melalui peningkatan kualitasmasyarakat (studi kasus Desa Nangamese, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.Penelitian ini dilakukan di Desa Nangamese, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur menggunakanmetode kualitatif yang dilaksanakan pada Juli 2019 – Agustus 2019. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi, kuesioner terhadap 81 responden yang ditentukan berdasarkan teknik purposive sampling dan data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Analisis data yang digunakan adalah analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang terpilih dalam upaya pelestarian Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung melalui peningkatan kualitas masyarakat adalah strategi SO yang memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya : 1) Melakukan pemberdayaan, penyuluhan agar enumbuhkan dan meningkatkan kualitas masyarakat tentangnya pelestarian alam. 2) Menciptakan kerja sama antar masyarakat lokal, pelaku wisata, pengelola Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung dan pemerintah secara optimal. 3)Memanfaatkan potensi alam yang ada di Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung untuk menarik para wisatawan berkunjung atau berekreasi di kawasan Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung. 4) Membuat kebijakan dan peraturan yang khusus konservasi dan perlindungan (fauna, flora, dan ekosistemnya) dalam pengembangan objek wisata.
PERSEPSI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL TERHADAP KEBERADAAN HUTAN DIKLAT SISIMENI SANAM DI DESA SILLU KECAMATAN FATULEU KABUPATEN KUPANG Koreh, Niken W; Purnama, Maria M. E.; Mau, Astin E.
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2598

Abstract

Hutan Diklat Sisimeni Sanam merupakan suatu areal hutan yang diperuntukan sebagai sarana dan prasarana praktek dalam rangka mendukung kegiatan diklat kehutanan serta sebagai laboratorium alam untuk mengembangkan ilmu pengetahun dan teknologi (Iptek) di bidang kehutanan. Kawasan Hutan Diklat Sisimeni sanam (RTK.185) Pulau Timor secara keseluruhan telah disahkan sebagai kawasan hutan tetap pada tanggal 25 September 1982 oleh MenteriPertanian u.b. Direktur Jendral Kehutanan dengan fungsi sebagai hutan produksi terbatas, sehingga kawasan hutan tersebut telah mempunyai kekuatan hukum. Dalam Permenhut No. 44 tahun 2012, tentang pengukuhan kawasan hutan dilakukan melalui tahapan penunjukan kawasan hutan, penataan batas kawasan hutan serta penetapan kawasan hutan. Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Diklat Sisimeni sanam telah ditetapkan melalui Keputusan MenteriKehutanan No. SK. 367/Menhut-II/2009 dengan luas ± 2.973,20 ha dan panjang 37,94 km. Sebelum ditunjuk sebagai kawasan hutan pendidikan dan pelatihan berstatus sebagai Register Tanah Kehutanan (RTK) 185 kelompok hutan Sisimeni Sanam, dikelola sebagai Hutan Produksi oleh RPH Camplong, BKPH Camplong, CDK Kupang. Kurangnya sosialisasi dan komunikasi dari pihak pengelola dengan masyarakat Desa Sillu, mengakibatkan kurangnya pemahaman danwawasan masyarakat tentang Keberadaan Hutan Diklat Sisimeni Sanam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap, persepsi, perilaku mayarakat lokal terhadap keberadaan Hutan Diklat Sisimeni Sanam dan untuk mengetahui bagaimana partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Hutan Diklat Sisimeni Sanam. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah penduduk sekitar kawasan Hutan Diklat Sisimeni Sanam yang berjumlah 91 jiwa, dengan penentuannya menggunakan purposive sampling. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa sikap dan partisipasi masyarakat terhadap Hutan Diklat Sisimeni Sanam di Desa Sillu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur tergolong pada kategori baik (60.93% dan 79,08%), sedangkan tingkat persepsi dan perilaku mayarakat lokal terhadap keberadaan Hutan Diklat Sisimeni Sanam tergolong pada kategori netral (50,92% dan 52,59%).
Studi Keanekaragaman Jenis Burung di Taman Wisata Alam Baumata, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Banoet, Salomo Y; Purnama, Maria M. E.; Rammang, Nixon
Wana Lestari Vol 2 No 2 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v3i02.3386

Abstract

Indonesia is one of the countries with a high level of diversity, including in the bird category, there are 1,771 species found in Indonesia, of which there are 533 protected species. Baumata Nature Park is one of the nature conservation areas included in the Kupang Regency,Taebenu District. This study aims to determine the diversity of bird species in Baumata Nature Park, carried out for 2 months from October-November 2019 using the point transect method and the MacKinnon method. From the analysis using the MacKinnon method, it was found that there were 27 bird species from 17 tribes, of all bird species there were 20 species of birds endemic to Nusa Tenggara, namely Isap madu timor (Lichmera flavincans), Burung madu matari (Nectarinia solaris), Kancilan timor (Pachycephala orpheus), Anis timor (Zoothera peronii), Decu timor (Saxicola caprata), Cikrak timor (Phylloscopus presbtyes), Meliphaga dada lurik (Meliphaga reticulata), Bondol pancawarna (Lonchura quinticolor), Kacamata limau (Zosterops citrinellus), Pipit zebra (Taeniopygia guttata), Ayam hutan merah (Gallus gallus), Burung madu matari (Nectarinia solaris), Walet sapi (Collocalia esculenta), Burung gereja erasia (Passer montanus), Kipasan dada hitam (Rhipidura rufifrons), Srigunting walaceae (Dicrurus densus), Cikrak dada kuning (Seicercus montis), Puyuh coklat (Coturnix ypsilophora) Tekukur biasa (Streptopelia chinensis), Elang boneli (Hieraaetus fasciatus) and 1 type of migrant bird, namely Kirik-kirik australia (Merops ornatus). The most common types of birds in Baumata Nature Park are insectivorous and nectar species. The diversity of bird species in Baumata Nature Park has an H 'value of 3.15 with a high category.
Strategies for Increasing Protection Effectiveness in the Camplong Nature Park Area, Kupang Regency, East Nusa Tenggara Province Seu, Wilfrido Ridwan; Purnama, Maria M. E.; Mau, Astin E
Wana Lestari Vol 2 No 2 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v3i02.3395

Abstract

Camplong Nature Tourism Park (NTP) is one of the conservation areas in Kupang Regency, East Nusa Tenggara Province. The NTP Camplong area is partially designated as a Nature Tourism Park managed by the Natural Resources Conservation Agency East Nusa Tenggara (BBKSDA NTT) based on the Decree of the Minister of Forestry Number: SK.347 / MenhutII / 2010 with an area of ​​696.60 Ha. One of the management activities carried out in Camplong NTP is protection of forest areas. Protection efforts are faced with various threats, including being located near settlements and public roads, making them vulnerable to habitat destruction. Forest fires, illegal use of area resources and waste disposal are the main problems that threaten the existence of the NTP Camplong area. Based on the Management Effectiveness Tracking Tool (METT) assessment by BBKSDA NTT, the METT score was 69%, from the minimum value of 70%. This study aims to determine the effectiveness and strategies to increase the effectiveness of efforts to protect the Camplong Nature Park area. The research was conducted in July-August 2019 at NTP Camplong. Data collection was carried out by direct observation and in-depth interviews. From the research results, it is known that the management aspects in the form of planning, organizing, implementing, and monitoring carried out in NTP Camplong have generally been implemented even though they have not run optimally. This has an impact on the less than optimal protection efforts for the NTP Camplong area. Strategies for increasing the effectiveness of the management of the NTP Camplong area, namely: strengthening management management; increasing the implementation of area protection and security; coordination with government and legal institutions; as well as increasing community participation in area protection efforts.
Studi Perilaku (Aktivitas Harian) Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Taman Nasional Kelimutu, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur Djaga, Wilhelmiana; Pelondo'u, Mamie E; Purnama, Maria M. E.
Wana Lestari Vol 2 No 2 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v3i02.3405

Abstract

Long-tailed monkeys (Macaca fascicularis) are non-human primates that live in groups and are inextricably linked to social interactions between individuals in a population and cause many different activities. Activities that occur can indicate the use and feasibility of the habitat and the distribution of the niche by each long-tailed macaque (Macaca fascicularis). The Kelimutu National Park is one of the habitats of long-tailed macaques (Macaca fascicularis), one of the efforts to preserve the population of long-tailed monkeys (Macaca fascicularis) in natural habitats. This study is designed to determine the daily behavior of long-tailed macaques (Macaca fascicularis) and was carried out from July to August 2019 in Kelimutu National Park, Kelimutu District, late Regency, East Nusa Tenggara Province. Observation and data acquisition are carried out according to the focal point method and the ad libitum method with a recording duration of 5-10 minutes. After the data is obtained, it is analyzed descriptively and the percentage of daily activity of long-tailed macaques (Macaca fascicularis) is calculated using the frequency percentage formula. The results showed that the activities that were frequently performed by long-tailed macaques (Macaca fascicularis) moved with 35% presentation, followed by 24% feeding activity, 22% nursing activity, 9% rest activity, 7% social activity and 3% agonistic activity.
STUDI PENGEMBANGAN EKOTORISME DAN EVALUASI PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN PADA AREAL PENGELOLAAN KPHL KOTA KUPANG Rammang, Nixon; Purnama, Maria M. E.; Marimpan, Lusia Sulo
Wana Lestari Vol 1 No 1 (2019): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.3672

Abstract

KPHL City of Kupang has a strategic role in creating forest sustainability, community welfare and at the same time accommodate the demands and interests of the central government and regional governments. Some of the strategies that can be done include optimizing community access to forests as an effort to resolve conflict, and improve community welfare. The exixtence of KPH organization at the field level thats close to the community will make it easier to understand the dynamic and the real issues at the field level, and at the same time being alternative solution for the conflict resolution. One of the potentials that is expected to be the main source of revenue for the Kupang City KPHL is Ecotourism. Ecotourism is a recreational and tourism activities that utilize the potential of natural resources, both in natural conditions and after cultivation. Ecotourism development is expected to begin in the first year of KPH Management. The initial step that is planned to be undertaken is to build supporting facilities and infrastructure such as gates, huts, food outlets, road infrastructure and conduct promotions. To be able to calculate the projected value of the economic benefits of nature tourism, it is necessary to develop business plans for each of these attractions. The strategies that can be carried out for ecotourism development in the KPH of Kupang City include the following; (1) promoting through social networking, (2) installing photographs and banners in places frequented by tourists, (3) selling tour packages based on tourist conditions and locations, (4) developing and fulfilling infrastructure (roads, facilities and other infrastructure (5) Participating in exhibitions organized by government and private institutions and (6) Promotion through the website.
Co-Authors Abi, Novianti Rosalia Apu, Orlando Calvin araujo, graciano vivio de Arka, Dimas Christyan Pratama Aziz, Ineng Utami Intri Banoet, Salomo Y Boimau, Runi Febriani Buling, Karel Febryanto Dahar, Marianus Dedi De Jesus, Sanjina Paul Dengga, Petrus Djaga, Wilhelmiana Due, Maria Manggiasih Meo Edo, Emanuel Fallo, Tri Putra M. Faot, Maria L. A Giri, Stella Goasyah, Ikujram Haba, Fidelina Sulastry Hari, Elisabeth Sartika Hidayat, Oky Kaho, Norman P. L. B. Riwu Kolin, Robertus Berkama Koreh, Niken W Kuanine, Wengki Lalus, Gabriela Stefani Langkamau, Gregorius B Lasa, Salomo Chrismondus Leo, Nelson Jose Lobo, March Cahya Maru Lusia Sulo Marimpan Mali, Monika Ignasia Manafe, Rischaardts Chornelis Mau, Astin E Mau, Astin E. Mau, Astin Elise Maubanu, Demris A. Molana, Nadya Sarwina Muras, Agustinus Charles Nainupu, Stefani Angela Namu, Ardiyanto Nauk, Fernanda Solagracia Nixon Rammang, Nixon Oki Hidayat Ola, Maria M. L Pamona Silvia SINAGA Pasang, Gregoria Reina Pehi, Yosua Prastowo Pelondo'u, Mamie E Pramatana, Fadlan Putra, Bukhari Muslim Maloko Rado, Petrus Laga Rahmadani, Azahra Rande, Anastasia Riwu Kaho, Ludji Michael Riwu Kaho, No P.L.B. Riwu Kaho, Norman P. L. B. Riwu Kaho, Norman P.L.B. Seran, Camelia K. Bano Seu, Wilfrido Ridwan Sipayung, Roni H. Sipayung, Roni Haposan Soimin, Muhamad Tabana, Ofliyani Yeni Sanrina Tahun, Daris A. S. tanggu, adityo umbu djaga ladu Tanik, Yeremias Tantap, Gaudensia Oktaraviani Telaumbanua, Bartolomeus Tukan, Jimilus Uge, Maria Margaretha Wea, Prudensia Wilhelmina Seran Worho, Hermanus Carvin Yasinta L. Kleden