Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

EPISODE DEPRESI SEDANG DENGAN TREMOR FUNGSIONAL: LAPORAN KASUS DENGAN PENDEKATAN NEUROPSIKIATRI Anindya, Anindya; Wahyuni, Anak Ayu Sri; Trisnawati GS, Sri Yenni; Mahardika, I Komang Ana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.9671

Abstract

ABSTRACT Functional tremor is a form of Functional Neurological Disorder that often presents diagnostic challenges because it is not accompanied by clear structural or neurophysiological abnormalities. This condition is frequently associated with affective disorders, including depression with somatic symptoms, thus requiring an integrative neuropsychiatric approach. The purpose of this case report is to describe a case of functional tremor accompanied by a moderate depressive episode with somatic symptoms and to discuss it within a neuropsychiatric framework. The subject was a 24-year-old man who had experienced progressive tremor since adolescence, which worsened during activity and emotional stress and improved at rest. The patient also reported depressive symptoms including persistent sadness, anergia, sleep disturbances, concentration difficulties, and somatic complaints. Neurological examination revealed an arrhythmic tremor with variable amplitude and frequency that could be suppressed. Supporting examinations, including MRI, MRA, and Electroneuromyography (ENMG), were within normal limits. The management consisted of a combination of antidepressant pharmacotherapy, supportive psychotherapy, education regarding the functional nature of the symptoms, as well as relaxation exercises and stress management techniques. This approach focused on functional recovery, reduction of affective symptoms, and improvement of the patient’s understanding of the relationship between emotional states and motor manifestations. The key finding of this case is that improvement in tremor symptoms occurred in parallel with the improvement of depressive symptoms, supporting the presence of shared neuropsychiatric mechanisms involving emotional regulation, attention, and the perception of motor control. This case implies that an integrative neuropsychiatric approach is essential not only for establishing an accurate diagnosis but also for planning effective, function-oriented management for the patient’s overall recovery. ABSTRAK Tremor fungsional merupakan salah satu bentuk Functional Neurological Disorder yang sering menimbulkan tantangan diagnostik karena tidak disertai kelainan struktural atau neurofisiologis yang jelas. Kondisi ini kerap berasosiasi dengan gangguan afektif, termasuk depresi dengan gejala somatik, sehingga memerlukan pendekatan neuropsikiatri yang integratif. Tujuan laporan kasus ini adalah mendeskripsikan kejadian tremor fungsional yang disertai episode depresi sedang dengan gejala somatik serta membahasnya dalam kerangka pendekatan neuropsikiatri. Subjek penelitian adalah seorang laki-laki berusia 24 tahun dengan keluhan tremor progresif sejak remaja yang memberat saat aktivitas dan kondisi emosional serta membaik saat istirahat. Pasien juga mengalami gejala depresi berupa suasana perasaan sedih, anergia, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, dan keluhan somatik. Pemeriksaan neurologis menunjukkan tremor aritmik dengan amplitudo dan frekuensi bervariasi serta dapat disupresi. Pemeriksaan penunjang, termasuk MRI, MRA, dan Electroneuromyography (ENMG), menunjukkan hasil dalam batas normal. Tatalaksana yang diberikan meliputi kombinasi farmakoterapi antidepresan, psikoterapi suportif, edukasi mengenai sifat fungsional gejala, serta latihan relaksasi dan manajemen stres. Pendekatan ini difokuskan pada pemulihan fungsi, pengurangan gejala afektif, serta peningkatan pemahaman pasien terhadap hubungan antara kondisi emosional dan manifestasi motorik. Temuan penting dari kasus ini menunjukkan bahwa perbaikan gejala tremor berjalan seiring dengan perbaikan kondisi depresi, menguatkan adanya keterkaitan mekanisme neuropsikiatri antara regulasi emosi, atensi, dan persepsi kendali gerakan. Kasus ini memberikan implikasi bahwa pendekatan neuropsikiatri yang integratif tidak hanya membantu dalam penegakan diagnosis yang tepat, tetapi juga efektif dalam perencanaan tatalaksana yang berorientasi pada pemulihan fungsi pasien secara menyeluruh.
PENDEKATAN PSIKIATRI KOMUNITAS PADA ORANG DENGAN HIV DAN POPULASI KUNCI MELALUI YAYASAN INSET DI KOTA MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT Yuanita, Savitri; Lesmana, Cokorda Bagus Jaya; Ariani, Ni Ketut Putri; Wardani, Ida Aju Kusuma; Wahyuni, Anak Ayu Sri; Afrian, Himawan; Mahardika, I Komang Ana
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.9215

Abstract

ABSTRACT People living with HIV (PLHIV) and key populations are at high risk of mental health problems due to persistent stigma, discrimination, and psychosocial stress. Limited availability of community-based mental health services highlights the need to integrate a community psychiatry approach into HIV care. This community service program aimed to identify mental health issues among PLHIV, key populations, and HIV service providers, as well as to implement community-based mental health interventions through Yayasan INSET in Mataram City, West Nusa Tenggara. The program was conducted in June 2025 using a community psychiatry approach. Interventions included mental health screening of service providers using the Depression Anxiety Stress Scales-42 (DASS-42), self-care classes, basic counseling training for peer supporters, and mental health education and consultation integrated with Mobile Voluntary Counselling and Testing (VCT) services. The results showed that most service providers were in a normal psychological condition, with some experiencing symptoms ranging from mild to severe, and there was an improvement in mental health literacy, coping capacity, and psychosocial support skills following the intervention. The integration of mental health services with Mobile VCT also expanded service coverage and enhanced community acceptance. This approach proved effective in supporting the mental health of PLHIV, key populations, and HIV service personnel, and shows potential for replication in similar settings. ABSTRAK Orang dengan HIV (ODHIV) dan populasi kunci berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan mental akibat stigma, diskriminasi, dan tekanan psikososial yang berkelanjutan. Keterbatasan layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas menegaskan perlunya integrasi pendekatan psikiatri komunitas dalam layanan HIV. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan menggambarkan permasalahan kesehatan mental pada ODHIV, populasi kunci, dan petugas layanan HIV, serta pelaksanaan intervensi kesehatan jiwa berbasis komunitas melalui Yayasan INSET di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan dilaksanakan pada Juni 2025 dengan pendekatan psikiatri komunitas. Intervensi meliputi skrining kesehatan mental petugas menggunakan Depression Anxiety Stress Scales-42 (DASS-42), kelas self-care, pelatihan konseling dasar bagi pendukung sebaya, serta edukasi dan konsultasi kesehatan jiwa yang terintegrasi dengan layanan Mobile Voluntary Counselling and Testing (VCT). Hasil menunjukkan sebagian besar petugas berada pada kondisi psikologis normal dengan variasi gejala dari ringan hingga berat, serta terjadi peningkatan literasi kesehatan mental, kapasitas coping, dan keterampilan dukungan psikososial setelah intervensi. Integrasi layanan kesehatan jiwa dengan Mobile VCT juga memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan penerimaan komunitas. Pendekatan ini efektif dalam mendukung kesehatan mental ODHIV, populasi kunci, dan tenaga pendukung layanan HIV serta berpotensi direplikasi di wilayah dengan karakteristik serupa.