Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Effect of Antimicrobial Plants on Indigenous Microorganisms from Rumen Bos Taurus in The Fermentation Process Meyuliana, Aulia; Astuti, Tri
Journal of Animal Nutrition and Production Science Vol. 2 No. 1 (2023): Journal of Animal Nutrition and Production Science
Publisher : Department of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36665/janaps.v2i1.417

Abstract

Indigenous microorganisms (IMO) are used in various agricultural activities. IMO used as a bioactivator for animal feed fermentation. IMO from bovine rumen B. taurus can be used as a bioactivator but it has contamination with pathogenic microorganisms. The antimicrobial plants tested to suppress the growth of pathogenic microorganisms during fermentation were Syzygium polyanthum, Cassia alata, Anredera cordifolia, and Piper betle. Antimicrobial plant fermented with rumen fluid. The results of IMO fermentation with antimicrobials were then analyzed for the microorganisms that grew in them and the display of the number of microorganisms growing. The results of the most growth of microorganisms are without antimicrobial treatment. The suppression of microbial growth on indigenous microorganism fermentation with antimicrobial plant C. alata obtained the highest yield, which was able to suppress up to 84% of microbial growth on NA medium.
The Combination of Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Paitan Root with Several Types of Bokashi and Its Effect on Tatsoi Meyuliana, Aulia; Yora, Muharama; Elinda, Friza; Miranda, Cut Nyak Dara; Sihotang, Saipul
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian Vol. 9 No. 1 (2024): Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, 9 (1)Desember 2024
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/agr.v9i1.12957

Abstract

The combination of PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) with bokashi aims to increase nutrient availability in the soil. PGPR which comes from paitan roots is known to have the potential to help nutrient availability so by combining it with bokashi it is hoped that it will optimize its potential in increasing tatsoi production. The bokashi used in this research were chicken manure bokashi and goat manure bokashi. Research design with two factors, namely five doses of PGPR and two types of bokashi. The PGPR doses used were 0 ml/L (D0), 50 ml/L (D1), 100 ml/L (D2), 150 ml/L (D3), 200 ml/L (D4) and two types of Chicken bokashi (A) and Goat Bokashi (K) with 5 repetitions. The observations measured were plant height (cm), number of leaves (strands) and crop diameter (cm). The results of the research showed that the combination of PGPR with bokashi chicken manure and bokashi goat manure did not have a significant effect on plant growth, namely plant height, number of leaves and crop diameter of tatsoi.
Studi keragaman sumber daya genetik alpukat (Persea americana) Berdasarkan Karakter Morfologi di Kabupaten Solok Sumatera Barat Yanto, Wahyu Dwi; Elinda, Friza; Meyuliana, Aulia; Mansyah, Ellina
Jurnal Sains Agro Vol 9, No 2 (2024): Jurnal Sains Agro
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jsa.v9i2.1666

Abstract

Alpukat (Persea americana) merupakan spesies tanaman menyerbuk silang dan pada umumnya diperbanyak menggunakan biji oleh masyarakat sehingga memiliki keragaman yang tinggi.  Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang keragaman alpukat di Kabupaten Solok, Sumatera Barat berdasarkan karakter morfologi. Penelitian dilaksanakan dari bulan Agustus 2024 sampai Desember 2024. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive sampling) pada empat Kecamatan di Kabupaten Solok yaitu Kecamatan Gunung Talang, X Koto Singkarak, Lembang Jaya dan Junjung Sirih. Pohon sampel dipilih yang sedang berbuah berdasarkan informasi pemilik pohon dan penyuluh pertanian setempat. Pada setiap kecamatan diambil 5 sampai 9 tanaman dengan total sampel sebanyak 29 pohon. Pada setiap tanaman diamati sebanyak 5 sampel buah alpukat yang sudah matang sempurna dan 5 sampel daun yang telah berkembang sempurna. Pengamatan dilakukan berdasarkan perbedaan morfologi daun, buah, biji dan uji organoleptik berdasarkan Descriptor for avocado (IPGRI, 1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa alpokat dari empat kecamatan di  kabupaten Solok memiliki keragaman morfologi yang luas. Berdasarkan kluster analisis menggunakan progam PBSTAT-CL.2.1. diperoleh  enam kelompok aksesi dengan copehenetic distance atau tingkat dissimilarity sebesar 0,4. Beberapa diantaranya memiliki kualitas buah yang cukup baik seperti tekstur daging buah berlemak dan tingkat kepulenan yang tinggi seperti yang ditunjuukkan oleh aksesi TK1 dan LB1.  Informasi ini dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi dan seleksi varietas unggul lokal sesuai selera konsumen.
Identifikasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) dari Paitan (Tithonia difersifolia) dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Bawang Putih (Allium sativum) Meyuliana, Aulia; Yora, Muharama; Elinda, Friza; Septiwahyuni, Wina; Permata Sari, Desi
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian Vol. 8 No. 2 (2024): Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Juni
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/agr.v8i2.10402

Abstract

Abstrak Penelitian identifikasi PGPR akar paitan dan pengaruhnya terhadap tanaman bawang putih ini bertujuan untuk mengetahui bakteri yang berada disekitar perakaran paitan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang putih. PGPR sebagai bakteri yang mengkolonisasi rizosfir lapisan tanah di sekitar perakaran bermanfaat sebagai biofertilizer mempercepat proses pertumbuhan tanaman melalui penyerapan unsur hara. PGPR yang berasal dari akar paitan belum teridentifikasi dan belum diketahui pengaruhnya terhadap tanaman bawang putih sehingga perlu dilakukan penelitian ini. Penelitian ini mengunakan metode deskriptif dari hasil analisis identifikasi bakteri rizosfer akar paitan secara NGS (Next Generating Sequencing) dan metode kuantitatif dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) menggunakan 6 perlakuan yaitu P0 (kontrol), P1 (50 ml/l), P2 (75 ml/l), P3 (100 ml/l), P4 (125 ml/l) dan P5 (150 ml/l) dengan 4 ulangan. Pengamatan yang diukur adalah persentase muncul tunas (%), tinggi tanaman (cm) dan jumlah daun (helai). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian PGPR belum berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman yaitu tinggi tanaman dan jumlah daun. Kata Kunci: bawang putih, paitan, PGPR
Variabilitas Fenotipe dan Tingkat Pemahaman Petani dan Masyarakat dan Terhadap Tanaman Kopi (Coffea sp.) di Solok Selatan Sumatera Barat Yora, Muharama; afrahamiryano, afrahamiryano; Meyuliana, Aulia; Chyntia Angela Putri; Fiki Saputra
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian Vol. 8 No. 1 (2023): Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Desember
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/agr.v8i1.10406

Abstract

Perkebunan kopi merupakan salah satu sektor yang berperan cukup penting dalam perekonomian Indonesia. Provinsi Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Solok Selatan merupakan suatu kawasan yang memiliki produksi kedua tertinggi di Sumatera Barat. Namun, jenis kopi yang dikembangkan, dibudidayakan dan belum teridentifikasi dengan baik. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan informasi tentang pemahaman masyarakat tentang tanaman kopi di wilayah pemukiman penduduk, serta variabilitas fenotipe karakter kuantitatif tanaman kopi . Penelitian ini terdiri dari 2 tahap kegiatan yaitu eksplorasi dan wawancara yang memiliki 2 jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengambilan sampel atau aksesi dilakukan secara sengaja (Purposive sampling). Hasil pengamatan yang diperoleh disajikan dalam bentuk deskriptif dan dianalisis secara statistik pada data kuantitatif seperti nilai rata-rata, ragam dan pengelompokkan variabilitas fenotipik mengacu pada yaitu: bila 2 σf ≥ 2 Sd; = variabilitas fenotipik luas dan bila 2 σf < 2 Sd; = variabilitas fenotipik sempit. Berdasarkan hasil wawancara langsung diketahui bahwa sebagian besar petani atau masyarakat menjadi tanaman kopi sebagai tanaman pekarangan dan kebanyakan masyarakat juga melakukan perbanyakan tanaman melalui biji dan anakan. Dari 35 titik pengambilan sampel yang tersebar pada tiga kecamatan dapat diketahui bahwa untuk karakter kuantitatif tinggi tanaman, diameter batang, panjang daun, dan lebar daun memiliki keragaman fenotipe yang luas sedangkan untuk karakter panjang buah dan diameter buah memiliki keragaman fenotipe yang sempit.
Application of Rice Husk Biochar and Chicken Manure Bokashi on the Growth of Mustard Greens (Brasisca juncea L.) Ilham, Dewi Jayagma; Meyuliana, Aulia; Elinda, Friza; Chrisnawati; Imtaz Sumbari, Ahmad
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian Vol. 9 No. 2 (2025): Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, 9 (2) Juni 2025
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/agr.v9i2.15197

Abstract

Green mustard greens (Brassica juncea L.) are a type of horticultural plant that is widely cultivated in Indonesia. However, mustard greens production has continued to decline annually from 2020 to 2023. Efforts that can be made to optimize mustard greens production include increasing soil fertility by providing soil conditioners, such as rice husk biochar and chicken manure bokashi. This study aims to determine the provision of a combination of biochar and bokashi fertilizer that is good for increasing mustard greens' growth. This research was conducted in Sungai Janiah, Gunung Talang District, Solok Regency with an altitude of 490 meters above sea level from September to December 2024. The design used was Randomized Block Design (RAK) with treatments P0 = without organic fertilizer, P1 = 15 tons/ha Biochar (BC) P2 = 20 tons/ha Biochar (BC), P3 = 15 tons/ha Bokasi (Bok) P4 = 20 tons/ha Bokasi (Bok), P5 = 5 tons / ha biochar + 10 tons / ha Bokasi, P6 = 10 tons / ha biochar + 10 tons/ha Bokasi. The results of the research showed that the combination of 10 tons/ha biochar + 10 tons/ha Bokasi was significant on the parameters of plant height and consumption weight. Still, it was no significant on plant leaf width and number of leaves.
The Pengaruh Takaran Pupuk Nitrogen terhadap Serangan Penyakit Layu Fusarium dan Pertumbuhan pada Tanaman Pisang (Musa sp.) Arifandi, Zulfahri; Chrisnawati, Chrisnawati; Meyuliana, Aulia; riska, riska; Jumjunidang, Jumjunidang
Jurnal Proteksi Tanaman (Journal of Plant Protection) Vol. 9 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Plant Protection Department, Faculty of Agriculture, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpt.9.2.131 - 141.2025

Abstract

Fusarium wilt disease caused by Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) is a major constraint in banana cultivation, and its development in the field is frequently associated with improper nitrogen fertilization. However, information on how different nitrogen fertilizer rates influence Fusarium wilt severity remains limited. This study aimed to evaluate the effect of varying nitrogen doses on Fusarium wilt and growth of banana. The experiment was conducted under laboratory and field conditions at the Horticulture Research Center of BRIN, Solok, Indonesia, using a randomized block design with nine treatments and four replications. The treatments were nitrogen with different rates (control, 100, 250, 400, and 550 kg ha⁻¹ year⁻¹), applied with and without Foc inoculation. The results demonstrated that nitrogen fertilization enhanced vegetative growth of banana plants under pathogen-free conditions. However, in Foc-infected plants, increasing nitrogen rates—particularly at high levels—exacerbated disease development. High nitrogen rates (400–550 kg ha⁻¹ year⁻¹) accelerated symptom appearance, indicated by shorter incubation periods, and increased disease severity. In contrast, a moderate nitrogen rate (250 kg ha⁻¹ year⁻¹) delayed symptom development and reduced disease severity, although it did not prevent infection. These findings suggest that excessive nitrogen fertilization increases Fusarium wilt severity, while moderate nitrogen application may help suppress disease progression. Therefore, nitrogen management in Fusarium wilt–endemic banana production areas should prioritize moderate nitrogen rates and avoid excessive fertilization as part of an integrated and sustainable disease management strategy.
In Vitro Somatic Embryogenesis and Regeneration of Cayenne Pepper (Capsicum frutescens) from West Sumatra Renfiyeni, Renfiyeni; Yora, Muharama; Meyuliana, Aulia
AGRIVITA Journal of Agricultural Science Vol 48, No 1 (2026): IN PRESS
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v48i1.4928

Abstract

The development of superior cultivars and the availability of high-quality seedlings require stable in vitro propagation. This study evaluated the effectiveness of different culture media for the in vitro propagation of local West Sumatra cayenne peppers using a Completely Randomized Design with eight treatments and six replications. Further testing used the Duncan Multiple Range Test. This research was conducted in the tissue culture laboratory of Mahaputra Muhammad Yamin University, Solok, West Sumatra. Callus initiation and shoot regeneration were conducted on MS medium with various auxin–cytokinin combinations, while root induction was tested on MS and WPM supplemented with auxins. Explants consisted of the first leaf and epicotyl from 21-day-old chili seedlings. The highest callus induction (100%) was observed on MS medium supplemented with 3 mg/l BAP + 0.5 mg/l IAA and MS medium supplemented with 4 mg/l 2,4-D for both types of explants. The highest embryogenic callus formation (98.45%) was obtained on MS + 3 mg/l BAP + 0.5 mg/l IAA. Optimal shoot regeneration (5.29 shoots) was achieved on MS + 2 mg/l BAP + 1 mg/l NAA, whereas the best root induction occurred on WPM + 1 mg/l NAA.
Pengaruh Co-Composting Fly Ash Batu Bara Dengan Bahan Organik Terhadap Sifat Kimia Kompos Dan Pertumbuhan Sawi Hijau Di Ultisol Ilham, Dewi Jayagma; Meyuliana, Aulia; Elinda, Friza; Maya Putri, Tri Messa Juniza
Jurnal Sains Agro Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Sains Agro
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jsa.v10i2.1874

Abstract

Penelitian untuk mengetahui pengaruh co-compost fly ash dengan bahan organik terhadap kualitas kompos dan pertumbuhan tanaman sawi hijau. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor yaitu co-compost dan dosis. Faktor I: Co-compost dengan 3 taraf yaitu: fly ash+ kotoran ayam (FA+KA), fly ash + limbah pasar (FA+LP), fly ash + biochar (FA+BS) dan Faktor II: Dosis dengan 4 taraf yaitu : A0 (0 ton/ha), A1 (10 ton/ha), A2 (20 ton/ha), A3 (30 ton/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa co-compost fly ash dengan beberapa bahan organik dapat meningkatkan kandungan oksida Ca, Mg, K, P dan S, Mn, serta co-compost FA+KA, FA+ SP, dan FA+ BS memiliki standar mutu yang sesuai dengan pupuk organik, kecuali kandungan C-organik yang masih rendah yaitu sebesar 7,71%-3,95%. Co-compost FA+LP dan 20 ton/ha memiliki interaksi dan berpengaruh nyata terhadap jumlah daun sawi hijau. Selain itu, pemberian co-compost FA+ SP dengan dosis 20 ton/ha sudah mampu berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman sawi hijau. Hal ini menunjukan co-compost fly ash dengan bahan organik dapat menjadi amelioran untuk meningkatkan kesuburan tanah