Generasi Alpha menghadapi tantangan etis yang semakin kompleks sebagai akibat dari dominasi teknologi digital, arus globalisasi, serta transformasi pola interaksi sosial yang mempengaruhi pembentukan nilai dan karakter mereka. Fenomena seperti penurunan kapasitas regulasi diri, berkurangnya sensitivitas empati, dan pergeseran orientasi nilai mengindikasikan adanya degradasi resiliensi moral pada generasi ini. Dalam konteks tersebut, pendidikan Islam memainkan peran strategis sebagai fondasi penguatan karakter melalui internalisasi akhlak mulia, teladan Nabi Muhammad SAW, serta habituasi nilai-nilai Islam yang relevan dengan dinamika kehidupan kontemporer. Melalui pendekatan kualitatif yang berbasis pada kajian literatur, berbagai penelitian mengungkapkan bahwa institusi keluarga sebagai agen pendidikan primer dan utama, lembaga pendidikan formal sebagai mediator nilai, serta lingkungan sosial sebagai arena praktik moral, memberikan kontribusi signifikan dalam memperkuat resiliensi moral generasi muda. Selain itu, integrasi pendidikan Islam dengan ekosistem digital merupakan imperatif yang tidak dapat dielakkan, mengingat rutinitas harian Generasi Alpha yang sangat terintegrasi dengan teknologi. Pemanfaatan platform digital untuk dakwah, pembelajaran interaktif, dan habituasi karakter berbasis nilai-nilai Islam dapat meningkatkan efektivitas proses pembinaan moral. Dengan implementasi strategi yang integratif, adaptif, dan kontekstual, pendidikan Islam mampu membangun fondasi resiliensi moral yang solid, sehingga Generasi Alpha dapat menavigasi tantangan etis era digital dengan disposisi yang bijak, berintegritas, dan berakhlak mulia.