Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Radio Sebagai Media Komunikasi Politik Dan Penyambung Informasi Pemerintah Tahun 1945 Hingga Sekarang Sri Widia Ningsih; Laila Sari Masyhur
Journal of International Multidisciplinary Research Vol. 2 No. 6 (2024): Juni 2024
Publisher : PT. Banjarese Pacific Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62504/jimr541

Abstract

Media komunikasi dan informasi semakin kompleks seiring berkembangnya zaman. Namun, ada satu media elektronik yang tidak pernah pudar dari sejarah terutama pada sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Radio sebagai alat komunikasi mampu berperan dalam mendongkrak kemerdekaan Republik Indonesia masa itu. Tulisan ini menggunakan metode penelitian deskriptif, dengan teknik pengumpulan data kepustakaan dan dokumentasi dengan melibatkan penelitian sejarah sebagai pendukungnya. Penulis memperoleh informasi dan data secara mendalam melalui literatur sejarah, buku, jurnal, serta media yang mendukung untuk mendapatkan landasan teori mengenai radio sebagai media komunikasi pemerintah dan masyarakat. Berdasarkan catatan sejarah, proklamasi diumumkan pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 melalui siaran stasiun radio pemerintah Jepang Hoso Kyoku, Yusuf Ronodipuro yang dikenal sebagai pendiri Radio Republik Indonesia (RRI) mengumumkan kemerdekaan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bebas seutuhnya dari segala penindasan dan penguasaan bangsa asing. Penulis mendapati perkembangan radio setelah kemerdekaan dimulai saat lahirnya RRI pada tanggal 11 September 1945, hingga saat ini tercatat sekitar 53 lebih jenis stasiun radio di Indonesia yang tersebar ke seluruh wilayah Indonesia. Masing-masing stasiun siaran tersebut memiliki Output nya tersediri sebagai ciri khas hingga dapat dinikmati berbagai kalangan. Kerap kali radio di jadikan media penyampaian aspirasi masyarakat kepada pemerintah melalui program-program podcast, talkshow, dsb. Radio juga membantu pemerintah dalam memberikan informasi penting kepada masyarakat terkait kebijakan-kebijakan maupun himbauan terutama di daerah-daerah terisolir yang memiliki keterbatasan akses internet dan listrik. Hal ini membuktikan bahwa radio turut mewarnai dunia perpolitikan di Indonesia, sehingga menjadi salah satu media political communicator bagi pemerintah dan rakyat.
ANALISIS KETELADANAN NABI MUHAMMAD SAW DALAM PERANG UHUD (PERSPEKTIF AL-QUR'AN) Ananda Nabila; Laila Sari Masyhur
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 10 No. 4 (2025): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v10i4.10084

Abstract

Perang Uhud merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah dakwah Nabi Muhammad SAW yang memberikan banyak pelajaran tentang kepemimpinan, kesabaran, dan pengelolaan emosi dalam menghadapi ujian hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam Perang Uhud berdasarkan perspektif Al-Qur'an, dengan fokus pada sikap-sikap beliau dalam menghadapi berbagai peristiwa krusial, seperti sikap orang munafik, sikap dua kelompok yang hampir mengalami kegagalan, serta pengelolaan ketakutan dan kesabaran para sahabat. Selain itu, penelitian ini juga menggali nilai-nilai kepemimpinan Nabi SAW, seperti kemampuan dalam mengelola kegagalan, memberikan kasih sayang, serta menjaga konsistensi dalam mengikuti perintah Allah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW menunjukkan keteladanan dalam menghadapi tantangan dengan sabar, bijaksana, dan penuh kasih sayang. Beliau memaafkan kesalahan sahabatnya dan memberikan harapan, serta mengajarkan pentingnya keteguhan dalam menjaga prinsip dan mengikuti perintah Allah. Keteladanan ini menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam untuk menghadapi tantangan hidup dengan kesabaran, keberanian, dan pengertian, serta mengedepankan kasih sayang dalam interaksi sosial.
Dinamika Kajian Tafsir dari masa ke masa (Tradisional, Tekstual, dan Kontekstual) Abiyusuf, Ilham; Fadzillah, Rizka; Yulan permata sari; Oja alfi Ahmad; Laila Sari Masyhur
Almustofa Journal of Islamic Studies and Research Vol 2 No 01 (2025): almustofa
Publisher : BAMALA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas perkembangan penafsiran Al-Qur’an dari masa klasik hingga era modern dengan menyoroti metode, pendekatan, dan karakteristik tafsir di setiap periode. Pada masa Rasulullah dan para sahabat, penafsiran bersifat praktis, langsung berdasarkan wahyu, dan dibantu oleh penjelasan Rasul serta ijtihad para sahabat. Masa tabi’in memperkenalkan unsur Israiliyyat dan mulai muncul perbedaan pandangan antar mazhab dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Periode pertengahan (abad ke-9 hingga ke-19) merupakan masa kejayaan ilmu tafsir, dengan hadirnya berbagai corak penafsiran seperti linguistik, fiqih, filsafat, dan teologi. Di era modern, berkembang metode tafsir tematik (maudhui’), serta pendekatan tafsir tradisional, tekstual, dan kontekstual yang lebih responsif terhadap persoalan kekinian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis literatur terhadap karya-karya tafsir lintas zaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir Al-Qur’an terus berevolusi secara dinamis untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sosial, budaya, dan tantangan zaman, demi menjaga relevansi dan kedalaman makna Al-Qur’an dalam kehidupan umat Islam masa kini.
MAQĀṢID AL-QUR’ĀN DALAM TAFSIR TEMATIK:: PENDEKATAN HERMENEUTIK UNTUK MENJAWAB TANTANGAN KONTEMPORER lidiawati, rohayulidiawati; Kholid, M. Kholilulloh; Laila Sari Masyhur
Almustofa Journal of Islamic Studies and Research Vol 2 No 01 (2025): almustofa
Publisher : BAMALA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji konsep Maqāṣid al-Qur’ān sebagai pendekatan hermeneutik dalam memahami pesan dan nilai-nilai utama Al-Qur’an melalui metode tafsir tematik (al-tafsīr al-mawḍū‘ī). Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana memahami ayat-ayat Al-Qur’an secara menyeluruh dan kontekstual, tanpa terfragmentasi, serta bagaimana menjaga relevansi tafsir Al-Qur’an terhadap tantangan kontemporer yang dihadapi umat Islam. Pendekatan tematik yang berpijak pada maqāṣid memungkinkan eksplorasi terhadap tujuan universal Al-Qur’an seperti keadilan, kebebasan, dan kemanusiaan secara sistematis. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif kepustakaan dengan menganalisis karya-karya klasik dan kontemporer dari para pemikir seperti al-Shāṭibī, Ibn ‘Āshūr, dan Jasser Auda. Penelitian ini menemukan bahwa tafsir maqāṣid tidak hanya memperkaya dimensi penafsiran Al-Qur’an, tetapi juga membuka ruang aplikatif bagi penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam menghadapi isu-isu sosial modern, seperti keadilan sosial, hak asasi manusia, dan kesetaraan gender. Selain itu, pendekatan maqāṣid menawarkan dimensi yang lebih luas dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, yang tidak hanya mengedepankan aspek teks, tetapi juga relevansinya dengan konteks zaman. Simpulan utama dari penelitian ini adalah bahwa tafsir maqāṣid al-Qur’ān dalam tafsir tematik menawarkan paradigma penafsiran yang kontekstual, integratif, dan solutif terhadap dinamika sosial umat Islam masa kini. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan tafsir Al-Qur’an yang lebih aplikatif dan responsif terhadap perubahan zaman.
HERMENEUTIKA KONTEMPORER DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN: STUDI ATAS METODE TAFSIR MUHAMMAD ARKOUN putra, aryandi eka putra; Tasya Salsabila; Laila Sari Masyhur
Almustofa Journal of Islamic Studies and Research Vol 2 No 01 (2025): almustofa
Publisher : BAMALA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemikiran tafsir dalam dunia Islam terus mengalami perkembangan seiring dengan perubahan sosial budaya dan intelektual. Muhammad Arkoun, salah seorang pemikir Islam kontemporer turut menawarkan sebuah pembaharuan dalam dunia penafsiran al-Qur’an yang menekankan analisis kritis terhadap teks dan wacaa Islam. kajian ini bertujuan untuk menganalisa pendekatan kontekstual yang digunakan oleh Muhammad Arkoun untuk membongkar pemikiran dogmatis dalam menafsirkan al-Qur’an. dengan metode deskriptif kualitatif, data diintegrasikan melalui studi pustakan terhadap karya-karya Arkoun dan literatur yang membahas pemikiranya. hasil penelitian menunjukkan bahwa Arkoun menggunakan pendekatan hermeneutika khususnya dekonstruksi makna untuk memahami bagaimana makna teks berkembang dalam berbagai konteks historis. metode tafsir Arkoun berusaha membedakan antara al-qur'an sebagai wahyu dan al-qur'an sebagai teks yang telah mengalami kodifikasi dan interpretasi. meskipun terdapat banyak tantangan dari kalangan konservatif, namun pendekatan ini memberikan kontribusi signifikan studi Islam modern, terutama dalam membangun pemahaman yang lebih inklusif dan dinamis terhadap teks-teks keislaman. temuan ini memperkaya diskursus tafsir kontemporer dengan perspektif yang menyeimbangkan otentisitas teks dan kontekstualisasi historis.
Pendekatan Kontekstual dalam Penafsiran Al-Qur'an: Analisis Pemikiran Abdullah Saeed Mohd Nazri bin johari; Nahdatul Fitri; Zazkia fara Dinda; Laila Sari Masyhur
Almustofa Journal of Islamic Studies and Research Vol 2 No 01 (2025): almustofa
Publisher : BAMALA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tafsir Al-Qur'an memegang peranan penting dalam perkembangan tradisi intelektual Islam. Sebagai sumber utama, Al-Qur'an telah dipelajari dan dipahami selama berabad-abad dengan menggunakan berbagai pendekatan dan metode untuk memenuhi kebutuhan setiap zaman. Dominasi model penafsiran tekstual dalam tradisi penafsiran Al-Qur'an sepanjang sejarah Islam mendorong Guru Besar Studi Islam Universitas Melbourne, Abdullah Saeed, untuk mengusulkan model penafsiran "kontekstual" alternatif, yaitu pendekatan interpretatif. Al-Qur'an lebih peka terhadap konteks. Sebab, model penafsiran tekstual cenderung mengabaikan konteks sosio-historis turunnya dan konteks periode penafsiran. Artikel ini secara khusus berfokus pada analisis aspek metodologis pemikiran Abdullah Saeed dalam mengontekstualisasikan penafsiran Al-Qur'an. Secara umum Saeed mengajukan empat langkah fungsional penafsiran kontekstual, yaitu: mengidentifikasi aspek orisinal melalui pemahaman subjektivitas penafsir, konstruksi bahasa dan makna, serta dunia Al-Qur'an (perjumpaan dengan dunia teks), memulai tugas penafsiran dengan mengenali makna orisinal teks dan meyakini keaslian serta keandalan teks (analisis kritis teks secara independen), mengidentifikasi makna teks dengan menelaah setiap konteks (makna bagi penerima pertama), mengaitkan penafsiran teks dengan konteks terkini (kontekstualisasi, makna masa kini).  
LIVING QUR’AN: TAFSIR SOSIAL ATAS AYAT SUCI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI Nurhidayah; Rizki Hidayat; Laila Sari Masyhur
Almustofa Journal of Islamic Studies and Research Vol 2 No 01 (2025): almustofa
Publisher : BAMALA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jurnal ini mengangkat kajian mengenai Living Qur’an sebagai pendekatan kontemporer dalam studi al-Qur’an yang semakin relevan dalam konteks keilmuan Islam modern. Living Qur’an dipahami sebagai metode penelitian ilmiah yang berfokus pada fenomena sosial dan budaya yang muncul dari interaksi umat Islam dengan teks al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Pendekatan ini tidak hanya memusatkan perhatian pada analisis linguistik atau tafsir teks secara tradisional, tetapi lebih menekankan pada dimensi praksis, yaitu bagaimana ayat-ayat al-Qur’an dipraktikkan, diresapi, dan dihidupkan dalam konteks kehidupan masyarakat Muslim. Dengan demikian, Living Qur’an merepresentasikan dinamika antara teks dan realitas sosial, di mana teks al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga diaktualisasikan dalam bentuk perilaku, ritual, tradisi, hingga simbol-simbol budaya yang berkembang di berbagai komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa al-Qur’an tidak bersifat statis, melainkan terus hidup dan memberikan pengaruh dalam praktik keagamaan maupun sosial. Tradisi keagamaan seperti ruqyah, penggunaan ayat sebagai jimat, pengajian, hingga seni kaligrafi menjadi bagian dari ekspresi keberislaman yang terinspirasi dari ayat-ayat suci. Dengan pendekatan ini, studi al-Qur’an menjadi lebih terbuka dan inklusif, memungkinkan keterlibatan masyarakat sebagai subjek aktif dalam penafsiran dan pengamalan al-Qur’an. Kajian ini diharapkan mampu memperluas cakrawala studi keislaman dan memperkuat relevansi al-Qur’an dalam dinamika kehidupan umat.
ANALISIS PENDEKATAN INTERTEKSTUALITAS TERHADAP AJARAN PERCERAIAN DALAM ALQUR’AN DAN AL-KITAB Soleh Anwar Pohan; Norain; Laila Sari Masyhur
Almustofa Journal of Islamic Studies and Research Vol 2 No 01 (2025): almustofa
Publisher : BAMALA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Islam, divorce is seen as the last resort in a family's journey, when all other options have been exhausted, not as a forbidden practice. Article 38 letter b of Law Number 1 of 1974 concerning Marriage contains legal provisions regarding divorce. According to the law, a marriage can be dissolved due to a court decision, divorce, or death. From this it is clear that divorce is a way to end a marriage that is different from other ways (Kamal, 1974). One way of looking at divorce is as the dissolution of a marriage and the end of a marital relationship. According to a number of these definitions, divorce is defined as the termination of the marriage bond between a husband and a wife, which aims to create a stable, eternal, and everlasting household. As a result, the couple is no longer allowed to live together as they should as husband and wife.
Hermeneutika Kritis Emansipatoris Hasan Hanafi , Nurhasanah; M. Reski Aditia Pires; Laila Sari Masyhur
Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol. 2 No. 4 (2025): April - Juni
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas hermeneutika kritis emansipatoris Hasan Hanafi sebagai pendekatan alternatif untuk memahami teks keagamaan, terutama Al-Qur'an. Hermeneutika ini berasal dari kegelisahan terhadap dominasi tafsir klasik, yang dianggap tidak menanggapi realitas sosial modern. Hanafi menawarkan model penafsiran yang menekankan pentingnya keadilan, pembebasan, dan relevansi sosial dengan menggabungkan metode ushul fiqh, fenomenologi, marxisme, dan hermeneutika. Hanafi menekankan bahwa penafsiran tidak hanya harus sah secara tekstual tetapi juga bermakna dalam konteks manusia melalui tiga tahap utama: kritik historis, kritik eidetik, dan kritik praktis. Metode ini menegaskan bahwa tafsir harus memiliki kemampuan untuk menjawab masalah umat dan berkembang menjadi kekuatan yang dapat mengubah masyarakat.
INTERKONEKSI AGAMA DAN SAINS: MEMAHAMI MAKNA BUAH DELIMA DALAM AL-QUR'AN, HADIS, DAN PENELITIAN KESEHATAN KONTEMPORER Vita Susmita; Intan Safira; Riski Maulana; Laila Sari Masyhur
Almustofa Journal of Islamic Studies and Research Vol 2 No 01 (2025): almustofa
Publisher : BAMALA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah delima (Punica granatum) memiliki kedudukan penting dalam tradisi Islam dan mendapatkan perhatian signifikan dalam kajian ilmiah modern. Meskipun demikian, kajian interdisipliner yang mengintegrasikan perspektif teologis dari Al-Qur’an dan hadis dengan temuan ilmiah di bidang kesehatan masih relatif terbatas. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan pustaka tematik untuk mengkaji posisi dan manfaat delima berdasarkan sumber-sumber primer keislaman dan literatur ilmiah kontemporer. Dalam Al-Qur’an, delima disebutkan pada Surah Al-An‘am (6):99 dan Ar-Rahman (55):68 sebagai salah satu tanda kebesaran Allah, sementara hadis menganjurkan konsumsi delima dengan alasan nilai spiritual dan potensi terapeutiknya. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa delima mengandung berbagai senyawa bioaktif yang memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi, serta berperan dalam menurunkan risiko penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskular dan kanker. Hasil kajian ini menegaskan bahwa buah delima tidak hanya memiliki nilai religius dan simbolik yang tinggi, tetapi juga manfaat empiris yang signifikan dalam konteks kesehatan. Oleh karena itu, delima relevan untuk dimasukkan dalam praktik kesehatan holistik yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk mengeksplorasi potensi aplikatif buah delima secara klinis dan farmakologis dalam pengobatan modern.