Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

The Relationship Between Body Mass Index and Hypertension Incidents among the Elderly Dini Tiarani Puspita Sari; Musthika Wida Mashitah
Health and Technology Journal (HTechJ) Vol. 4 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : KHD Production

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53713/htechj.v4i2.596

Abstract

Hypertension is a prevalent health concern among older adults and is strongly associated with increased Body Mass Index (BMI). Excess body weight contributes to elevated blood pressure through physiological mechanisms, including increased peripheral vascular resistance and heightened sympathetic nervous system activity. This study aimed to examine the association between BMI and hypertension prevalence among older adults. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted among 60 older adults selected through purposive sampling. Data were collected using standardized procedures, including measurements of body weight, height, and blood pressure. BMI was categorized according to standard criteria. The association between BMI and hypertension was analyzed using Fisher's Exact Test, with α = 0.05. The prevalence of hypertension among participants was 58.3%. Higher proportions of hypertension were observed in overweight (68.2%) and obese (80.0%) individuals compared to those with normal BMI. Statistical analysis revealed a significant association between BMI and hypertension (p = 0.012). BMI is significantly associated with hypertension among older adults. These findings highlight the importance of weight management through nutritional education, physical activity promotion, and routine blood pressure monitoring as part of comprehensive elderly healthcare services.
Hubungan Persepsi dan Pengetahuan Orang Tua dengan Status Pemberian Imunisasi Dasar Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Gandasuli: Corellation between Parents’ Perceptions and Knowledge and the Status of Routine Infant Immunization in the Service Area of the Gandasuli Community Health Center Salma Salma; Musthika Wida Mashitah
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 3 (2026): EDISI MARET
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i3.270

Abstract

Latar Belakang: Imunisasi dasar merupakan intervensi kesehatan yang efektif dalam mencegah penyakit infeksi pada bayi. Namun, cakupan imunisasi masih menghadapi berbagai kendala, salah satunya dipengaruhi oleh persepsi dan pengetahuan orang tua. Faktor persepsi, pengetahuan terhadap manfaat dan keamanan vaksin sangat menentukan keputusan orang tua dalam melengkapi imunisasi dasar bayi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan persepsi dan pengetahuan orang tua dengan status pemberian imunisasi dasar bayi di wilayah kerja Puskesmas Gandasuli, Kecamatan Bacan Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 210 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai persepsi, pengetahuan, dan status imunisasi bayi. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05.       Hasil: Mayoritas responden memiliki persepsi positif (68,1%) dan pengetahuan baik (72,4%). Sebanyak 76,2% bayi telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Hasil uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara persepsi orang tua dengan kelengkapan imunisasi dasar (p = 0,001), serta pengetahuan orang tua dengan kelengkapan imunisasi dasar (p = 0,000). Kesimpulan: Persepsi dan pengetahuan orang tua terbukti berhubungan signifikan dengan status pemberian imunisasi dasar bayi. Peningkatan edukasi kesehatan dan promosi imunisasi perlu dilakukan secara intensif dan berkelanjutan untuk meningkatkan cakupan imunisasi dasar di masyarakat.
Hubungan Pola Makan dengan Kadar Asam Urat pada Penderita Gout Arthritis di RSUD Jailolo: Corellation between Dietary Patterns and Uric Acid Levels in Patients with Gout Arthritis at Jailolo Regional Hospital Resa M. Labuha; Musthika Wida Mashitah
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 3 (2026): EDISI MARET
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i3.277

Abstract

Latar Belakang: Gout arthritis merupakan bentuk radang sendi akibat akumulasi kristal monosodium urat yang dipicu oleh peningkatan kadar asam urat dalam tubuh. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya hiperurisemia adalah pola makan yang kaya purin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola makan dengan kadar asam urat pada penderita gout arthritis di RSUD Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara.  Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 44 responden penderita gout arthritis yang menjalani pemeriksaan/perawatan di RSUD Jailolo yang didapatkan secara accidental sampling. Data pola makan diperoleh menggunakan kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ), sedangkan data kadar asam urat diperoleh dari laboratorium di rekam medis. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Penelitian menunjukkan sebagian besar responden dengan pola makan tinggi purin (54.4%) dan dengan kadar asam urat tinggi (75%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara konsumsi purin dengan kadar asam urat pada penderita gout arthritis (p = 0.036, p < 0.05). Kesimpulan: Tingginya kadar asam urat pada responden dengan konsumsi purin rendah–sedang menunjukkan bahwa pengendalian hiperurisemia tidak dapat dicapai melalui pengaturan diet saja. Modifikasi pola makan tetap merupakan bagian penting dalam pengelolaan gout artritis. Pengelolaan klinis perlu menekankan pendekatan komprehensif yang mencakup edukasi pasien, peningkatan kepatuhan terhadap terapi farmakologis, serta pengendalian faktor risiko lain yang berkontribusi terhadap peningkatan kadar asam urat.
Studi Deskriptif tentang Perilaku Merokok Keluarga pada Anak dengan Pnemonia yang di Rawat di RSUD Jailolo: A Descriptive Study of Family Smoking Behavior Among Children with Pneumonia Hospitalized at Jailolo Regional General Hospital Rahayu A. Abd. Karim; Musthika Wida Mashitah
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 4 (2026): EDISI APRIL
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i4.341

Abstract

Latar Belakang: Pneumonia masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah. Salah satu faktor risiko lingkungan yang penting adalah paparan asap rokok di rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menggambarkan perilaku merokok keluarga, berdasarkan data yang diperoleh pada saat  anak sedang dirawat dengan pneumonia di RSUD Jailolo.                Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik accidental sampling terhadap 35 orang tua anak penderita pneumonia yang berobat di Poli Anak RSUD Jailolo selama September 2025. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai jumlah anggota keluarga yang merokok di dalam rumah, jenis rokok yang digunakan, serta derajat konsumsi rokok, kemudian dianalisis secara univariat. Hasil menunjukkan 94,2% anak dengan pneumonia tinggal di rumah yang memiliki perokok, dengan 54,2% memiliki dua perokok dan 14,2% lebih dari dua perokok. Jenis rokok yang paling banyak digunakan adalah rokok batang (71,4%), sedangkan paparan rokok batang termasuk kombinasi mencapai 80%. Pada kelompok perokok rokok batang, mayoritas termasuk perokok sedang (10–20 batang/hari) sebesar 64,29%. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan tingginya paparan asap rokok rumah tangga pada anak dengan pneumonia. Edukasi rumah bebas asap rokok dan intervensi berhenti merokok berbasis keluarga perlu diperkuat sebagai bagian dari upaya pencegahan pneumonia anak.
Analisis Kualitas Layanan Rawat Inap Berdasarkan Persepsi Pasien di RSUD Jailolo: Analysis of Inpatient Service Quality Based on Patient Perceptions at Jailolo Regional General Hospital Arlita Nyanyi; Musthika Wida Mashitah
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 4 (2026): EDISI APRIL
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i4.359

Abstract

Latar Belakang: Pelayanan rawat inap merupakan salah satu komponen utama dalam pelayanan rumah sakit yang berperan penting dalam membentuk persepsi dan kepuasan pasien terhadap mutu layanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas layanan rawat inap berdasarkan persepsi pasien di RSUD Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 95 pasien rawat inap yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang mengacu pada model SERVQUAL, dengan fokus pada tiga dimensi kualitas layanan, yaitu keandalan, daya tanggap, dan jaminan. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase.                 Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai kualitas layanan rawat inap dalam kategori baik, terutama pada dimensi keandalan (69,5%). Dimensi daya tanggap dinilai baik oleh 61% responden, sedangkan 39% menilai kurang. Dimensi jaminan menunjukkan hasil paling rendah, dengan 54,8% responden menilai baik dan 45,2% menilai kurang. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun layanan inti telah berjalan cukup baik, masih terdapat aspek yang perlu ditingkatkan, khususnya pada daya tanggap dan jaminan layanan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas layanan rawat inap di RSUD Jailolo secara umum telah dinilai baik, namun peningkatan mutu layanan yang berorientasi pada pasien pada daya tanggap dan jaminan layanan untuk meningkatkan kepuasan dan kepercayaan pasien.
The Relationship Between Nutritional Status and Child Development Among Preschool Children Aged 3–6 Years Sarah Faroja Krismawardani; Amin Zakaria; Musthika Wida Mashitah
Jurnal Keperawatan Florence Nightingale Vol 9 No 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52774/jkfn.v9i1.446

Abstract

Nutritional problems among preschool-aged children in Indonesia continue to show significant prevalence with potential impacts on children's cognitive, motor, language, and social development. This study aimed to analyze the relationship between nutritional status and development among preschool-aged children three to six years old at Posyandu Teratai, Wonorejo Village, Kencong District, Jember Regency. This study employed a descriptive analytical design with a cross-sectional approach conducted in October 2025. The study population consisted of all children aged three to six years registered in the Wonorejo Primary Health Center service area totaling 210 children, with a sample of 137 respondents selected using purposive sampling technique. Research instruments included digital scales and stadiometer to measure nutritional status based on Weight-for-Age index using WHO Antro standards with Z-score, and the Pre-Screening Development Questionnaire to assess child development. Data were analyzed using Chi-Square test with significance level α = 0.05. Results showed that most children had normal nutritional status (60.27%) and normal development (55.24%), with p-value 0.001 (p < 0.05) indicating a significant relationship between nutritional status and child development. Children with normal nutritional status showed a higher proportion of normal development compared to children with undernutrition or overnutrition, confirming the crucial role of adequate nutrition during the golden age period in supporting optimal development among preschool-aged children.
Sociodemographic, Household, and Environmental Determinants of Recent Diarrhea Among Under-Five Children in Indonesia: Evidence from the 2017 IDHS Risiska Rahayu Safitri; Musthika Wida Mashitah; Yuni Asri
Health Gate Vol 4, No 3 (2026): July
Publisher : Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kota Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70111/hg4307

Abstract

Background: Diarrhea remains a health problem in Indonesia. Despite various prevention programs, the prevalence of diarrhea in children in Indonesia remains relatively high. Objective: This study aimed to analyze factors associated with recent diarrhea among children under five years of age in Indonesia. Methods: This study used a cross-sectional design based on secondary data from the 2017 Indonesian Demographic and Public Health Survey (PJS). A total of 13,756 weighted mother-child pairs were included in the analysis. Sampling weights were applied prior to statistical analysis to account for the complex survey design. Data were analyzed using the chi-square test and binary logistic regression analysis was performed to identify factors associated with recent diarrhea. Adjusted odds ratios (AORs) with 95% confidence intervals (CIs) were reported. Results: The prevalence of recent diarrhea in children under five years of age was 14.9%. Maternal age, maternal education, husband/partner's education level, province, household wealth index, and child gender were significantly associated with diarrhea incidence. Children from poor households were more likely to experience diarrhea compared to children from wealthier households. Boys were more likely to experience diarrhea than girls (AOR=1.19; 95% CI=1.08–1.31). Regional differences were also observed, particularly among children living outside Java–Bali. Conclusion: Strengthening maternal education, improving household socioeconomic conditions, and reducing regional differences are crucial to support childhood diarrhea prevention programs in Indonesia.
Hubungan Riwayat Penyakit Diabetes Melitus Dengan Kejadian Gagal Ginjal Kronis di Usia Muda di RSUD R.T Notopuro Sidoarjo Farah Najwa Saffa Balqis; Musthika Wida Mashitah; Riki Ristanto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61337

Abstract

Salah satu komplikasi serius akibat diabetes mellitus adalah gagal ginjal kronik (GGK). Hiperglikemia kronis pada penderita DM menyebabkan kerusakan glomerulus ginjal secara bertahap melalui mekanisme stres oksidatif, glikosilasi protein, dan aktivasi jalur inflamasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2025 di RSUD R. T. Notopuro Sidoarjo. Populasi dari penelitian ini adalah Adalah 215 pasien GGK stadium V. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. penelitian yang digunakan adalah kohort retrospektif. Peneliti menggunakan variabel status Riwayat penyakit DM dan variable usia didagnosa GGK.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebagian besar pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo berjenis kelamin laki-laki dan memulai hemodialisis pada usia lebih dari 40 tahun. Penyakit penyerta terbanyak yang ditemukan pada pasien GGK adalah hipertensi, diikuti oleh diabetes mellitus. Berdasarkan riwayat diabetes mellitus, sebagian besar responden tidak memiliki riwayat diabetes mellitus, namun responden dengan riwayat diabetes mellitus memiliki rerata usia terdiagnosis gagal ginjal kronik yang lebih tinggi dibandingkan responden tanpa riwayat diabetes mellitus, Terdapat perbedaan yang bermakna antara riwayat diabetes mellitus dengan usia terdiagnosis gagal ginjal kronik, yang ditunjukkan oleh hasil uji Mann–Whitney dengan nilai p = 0,031 (p < 0,05). Terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat diabetes mellitus dengan kejadian gagal ginjal kronik di usia muda berdasarkan uji koefisien kontingensi dengan nilai p = 0,015 (p < 0,05), namun kekuatan hubungan berada pada kategori lemah. Hal ini menunjukkan bahwa diabetes mellitus berperan sebagai salah satu faktor risiko GGK di usia muda, tetapi bukan faktor dominan. Kata Kunci : Gagal Ginjal Kronik, Diabetes Mellitus,
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PENERAPAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DALAM PENCEGAHAN DBD PADA KELUARGA DI RW 1 KELURAHAN TEMAS Kurnia Dewi Putri; Musthika Wida Mashitah; Shinta Wahyusari
Health Sciences Journal Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/hsj.v9i2.3190

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, terutama di musim hujan. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan upaya kolektif yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan individu maupun masyarakat. Fokus PHBS melibatkan berbagai aspek kehidupan, seperti kebersihan diri, pemeliharaan kebersihan lingkungan, konsumsi makanan bergizi, serta aktivitas fisik yang teratur.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan dengan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam pencegahan DBD pada keluarga di RW 1 Kelurahan Temas, Kota Batu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 164 dari 256 keluarga dipilih sebagai sampel melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mencakup pengetahuan dan penerapan PHBS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan penerapan PHBS dalam mencegah DBD. Pengetahuan yang baik mendorong penerapan PHBS yang lebih optimal, termasuk kegiatan 4M Plus dan pengelolaan sampah. Penelitian ini menyarankan edukasi kesehatan yang lebih intensif untuk meningkatkan kesadaran dan tindakan preventif terhadap DBD di masyarakat.Kata Kunci: Demam Berdarah, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Pengetahuan
Stress Levels and Sleep Quality: A Study of Final-Year Nursing Students at ITSK RS dr. Soepraoen Malang Maysa Faranadia Wulansari; Tien Aminah; Musthika Wida Mashitah
PROFESSIONAL HEALTH JOURNAL Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/phj.v8i1.1341

Abstract

Stress is a psychological response that arises when an individual faces certain pressures or demands. One common form of stress experienced by university students is academic stress, particularly among final-year students who are completing their thesis as a graduation requirement. High academic demands often become a major source of stress that affects both physical and mental health, including sleep disturbances. This study aims to determine the relationship between stress levels and sleep quality among final-year Bachelor of Nursing students at ITSK RS dr. Soepraoen Malang. This research employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. Sampling was conducted using a total sampling technique, resulting in 159 participants. Data were collected using the DASS-42 questionnaire to measure stress levels and the PSQI to assess sleep quality. Data analysis was performed using the Chi-Square test (p < 0.05). The results showed a p-value of 0.001, indicating a significant relationship between stress levels and sleep quality. Higher levels of stress were associated with poorer sleep quality. Therefore, it is recommended that the university provide mentoring or counseling programs to help students manage academic stress, especially for final-year students. Students are also encouraged to enhance positive coping strategies and manage their study time more effectively.