Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

MORAL DISENGAGEMENT SEBAGAI MEDIATOR ANTARA PERSEPSI KONTROL PERILAKU DAN NIAT KORUPSI PADA MAHASISWA SURABAYA Sari, Lidia Aprilia; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia UI
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6759

Abstract

Corruption remains a serious issue in Indonesia, as reflected in the 2024 Corruption Perceptions Index (CPI) released by Transparency International, where Indonesia scored 37 out of 100 and ranked 99th out of 180 countries. This study aims to examine the relationship between perceived behavioral control (PBC) and the intention to engage in corruption, as well as to explore the mediating role of moral disengagement. A quantitative approach was employed using convenience sampling, involving 348 active students from public and private universities in Surabaya. The instruments used were standardized scales that had been tested for validity and reliability to measure PBC, corruption intention, and moral disengagement. Data analysis was conducted using Hayes' PROCESS Macro in SPSS, including outlier testing, residual normality, linearity, one-sample t-tests, and mediation analysis through bootstrapping. The results revealed a significant positive relationship between PBC and corruption intention (? = 0.279; p < 0.001), as well as a significant indirect effect through moral disengagement (? = 0.223; p < 0.000; 95% CI [0.135–0.320]). These findings indicate that moral disengagement plays a crucial role in mediating the effect of PBC on the intention to engage in corruption, highlighting the importance of moral awareness enhancement in anti-corruption education efforts. ABSTRAKKorupsi tetap menjadi permasalahan serius di Indonesia, sebagaimana tercermin dalam Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2024 yang dirilis oleh Transparency International, di mana Indonesia memperoleh skor 37 dari 100 dan menempati peringkat ke-99 dari 180 negara. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara perceived behavioral control (PBC) dan niat untuk melakukan korupsi, serta mengeksplorasi peran moral disengagement sebagai mediator. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan teknik convenience sampling, melibatkan 348 mahasiswa aktif dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Surabaya. Instrumen penelitian berupa skala terstandar yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya untuk mengukur PBC, niat korupsi, dan moral disengagement. Analisis data dilakukan menggunakan PROCESS Macro dari Hayes pada SPSS, meliputi uji outlier, normalitas residual, linearitas, one-sample t-test, dan analisis mediasi dengan teknik bootstrapping. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara PBC dan niat korupsi (? = 0,279; p < 0,001), serta efek mediasi tidak langsung yang signifikan melalui moral disengagement (? = 0,223; p < 0,000; 95% CI [0,135–0,320]). Temuan ini mengindikasikan bahwa moral disengagement memainkan peran penting dalam menjembatani pengaruh PBC terhadap niat untuk melakukan korupsi, sehingga intervensi yang berfokus pada penguatan kesadaran moral menjadi krusial dalam upaya pendidikan antikorupsi.
Peran Moral Disengagement dalam Memediasi Hubungan antara Locus of Control dan Intention to Corruption pada Mahasiswa Tasya, Dhara Belinda Nabila; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia Ul
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 4 No 3: Oktober (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v4i3.1677

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara locus of control dan intention to corruption, serta menguji peran moral disengagement sebagai mediator pada mahasiswa di Surabaya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan jumlah partisipan sebanyak 360 mahasiswa aktif dari perguruan tinggi negeri dan swasta yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Analisis data dilakukan dengan regresi linier bertahap mengikuti model Baron dan Kenny (1986) menggunakan IBM SPSS Statistics versi 27. Instrumen penelitian meliputi Skala Locus of Control dengan tiga dimensi, yakni (internality, powerful others, dan chance), Skala Moral Disengagement, dan Skala Intention to Corruption. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga dimensi locus of control; internality (β = 0,094; p = 0,029), powerful others (β = 0,408; p < 0,001), dan chance (β = 0,258; p < 0,001) memiliki hubungan positif dan signifikan dengan intention to corruption. Uji mediasi menunjukkan bahwa moral disengagement memediasi hubungan locus of control dan intention to corruption, dengan mediasi parsial pada powerful others dan mediasi penuh pada internality dan chance. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan locus of control eksternal cenderung memiliki niat koruptif yang lebih tinggi melalui pembenaran moral, sedangkan locus of control internal berperan dalam mencegah terbentuknya niat tersebut.
Peran Mediasi Moral Disengagement antara Trait Cynicism dan Intention to Corruption pada Mahasiswa Subandriyo, Sayyidah Maharani Putri; Muslikah, Etik Darul; Nainggolan, Eben Ezer
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 4 No 3: Oktober (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v4i3.1760

Abstract

pada sektor pendidikan dan kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara trait cynicism dan intention to corruption dengan moral disengagement sebagai mediator. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional. Partisipan berjumlah 460 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan meliputi skala intention to corruption, skala trait cynicism, dan skala moral disengagement. Analisis data dilakukan dengan menggunakan PROCESS Macro model 4 (Hayes) versi 5.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara trait cynicism dan intention to corruption (β = 0,844; p = 0,000), yang berarti semakin tinggi tingkat trait cynicism mahasiswa, semakin tinggi pula tingkat intention to corruption-nya. Selain itu, moral disengagement terbukti memediasi hubungan antara trait cynicism dan intention to corruption secara parsial (β = 0,419; p = 0,000). Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa yang memiliki kecenderungan sinis terhadap orang lain cenderung melepaskan tanggung jawab moralnya, sehingga meningkatkan niat untuk melakukan tindakan koruptif.
Hubungan Antara Kepercayaan Diri dan Kecemasan Komunikasi Interpersonal pada Mahasiswa di Surabaya dengan Motivasi Belajar Sebagai Variabel Moderator F.Z, Baiq Jihannisa; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia Ul
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 1 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i1.2007

Abstract

Mahasiswa sering menghadapi kecemasan komunikasi interpersonal yang dapat memengaruhi interaksi sosial dan proses pembelajaran mereka. Kepercayaan diri sering dianggap sebagai faktor penting dalam mengurangi kecemasan ini, namun pengaruhnya dapat dipengaruhi oleh variabel lain. Research ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self confidence dan kecemasan komunikasi interpersonal pada mahasiswa di Surabaya, serta menguji peran motivasi belajar sebagai variabel moderator. Memanfaatkan pendekatan kuantitatif pada desain analisis regresi hierarki, research ini melibatkan 384 mahasiswa yang ditentukan secara acak. Hasil analisis menjelaskan bahwasanya hubungan langsung antara self confidence dan kecemasan komunikasi interpersonal tidak signifikan (β = -0,08; p > 0,05). Namun, motivasi belajar terbukti memoderasi hubungan tersebut, dengan interaksi antara kepercayaan diri dengan motivasi belajar menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kecemasan komunikasi interpersonal (β = -0,23; p < 0,05). Temuan ini menekankan pentingnya penguatan motivasi belajar dalam membantu mahasiswa mengelola kecemasan komunikasi interpersonal dan meningkatkan kepercayaan diri mereka.
Religiusitas dan Quarter-life Crisis pada Dewasa Muda:: Peran Intensitas Penggunaan Media Sosial Sebagai Variabel Moderator Shafrina, Nadia Zulfa; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia Ul
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 2 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i2.2104

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah religiusitas berhubungan dengan quarter-life crisis pada dewasa muda, serta apakah intensitas pengunaan media sosial dapat memoderasi hubungan religiusitas dengan quarter-life crisis. Populasi dalam penelitian ini adalah dewasa muda di Kota Surabaya. Jumlah sampel untuk penelitian ini adalah 350 orang, seperti yang ditetapkan oleh tabel Isaac dan Michael, dengan tingkat kesalahan 5%. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif korelasional, dengan teknik probability sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala quarter-life crisis (18 item), skala religiusitas (30 item), dan skala intensitas penggunaan meia sosial (15 item). Hasil penelitian ini menunjukkan dewasa muda di Surabaya sebanyak 12,00% mengalami quarter-life crisis pada kategori sangat tinggi, 26,29% pada kategori tinggi, 30,86% pada kategori sedang, 24,29% pada kategori rendah dan 6,57% pada kategori sangat rendah. Hasil menunjukkan religiusitas dan quarter-life crisis memiliki hubungan yang negatif, sedangkan intensitas penggunaan media sosial tidak dapat memoderasi hubungan religiusitas dan quarter-life crisis.
Hubungan Antara Subjective Well-Being dan Job Satisfaction pada Karyawan di Surabaya: Peran Work Engagement Sebagai Variabel Mediator Arofi, Achmad Muchtar; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia Ul
Indonesian Research Journal on Education Vol. 6 No. 1 (2026): Irje 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v6i1.4068

Abstract

Job satisfaction merupakan aspek penting dalam efektivitas organisasi yang dipengaruhi tidak hanya oleh kondisi kerja objektif, tetapi juga oleh faktor psikologis individu. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara subjective well-being dan job satisfaction pada karyawan di Surabaya serta menguji peran work engagement sebagai variabel mediator. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional non-parametrik. Data dikumpulkan dari karyawan aktif di Surabaya menggunakan teknik insidental sampling. Pengukuran dilakukan menggunakan skala subjective well-being, work engagement, dan job satisfaction yang telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan analisis regresi dan uji mediasi dengan bantuan PROCESS Model 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjective well-being berpengaruh positif dan signifikan terhadap job satisfaction (β = 2,2550; p < 0,001). Subjective well-being juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap work engagement (β = 1,4138; p < 0,001). Selanjutnya, work engagement berpengaruh positif dan signifikan terhadap job satisfaction setelah mengontrol subjective well-being (β = 0,2638; p = 0,0038). Hasil uji mediasi menunjukkan bahwa pengaruh tidak langsung subjective well-being terhadap job satisfaction melalui work engagement signifikan (effect = 0,1359; BootLLCI = 0,1294; BootULCI = 0,6098). Sementara itu, pengaruh langsung subjective well-being terhadap job satisfaction tetap signifikan setelah mediator dimasukkan, sehingga menunjukkan bahwa work engagement berperan sebagai mediator parsial. Temuan ini menunjukkan bahwa kesejahteraan subjektif karyawan berkontribusi terhadap kepuasan kerja baik secara langsung maupun melalui peningkatan keterlibatan kerja.
Hubungan Antara Work-Life Balance dan Job Satisfaction pada Karyawan Manufaktur di Surabaya: Peran Work Engagement Sebagai Variabel Mediator Alfarizi, Muchammad Fitroh; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia Ul
Indonesian Research Journal on Education Vol. 6 No. 1 (2026): Irje 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v6i1.4082

Abstract

Industri manufaktur di Surabaya menghadapi tantangan kompleks terkait kepuasan kerja karyawan akibat tuntutan kerja yang tinggi dan kesulitan mencapai keseimbangan kehidupan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara work-life balance dan job satisfaction, serta menguji peran work engagement sebagai mediator pada karyawan manufaktur di Surabaya. Penelitian kuantitatif dengan desain kuantitatif korelasional ini melibatkan 300 partisipan yang dipilih melalui convenience sampling dan snowball sampling. Instrumen penelitian terdiri dari tiga skala yang telah diadaptasi dan diuji validitas serta reliabilitasnya: Work-Life Balance Scale, Job Satisfaction Survey, dan Utrecht Work Engagement Scale. Data dianalisis menggunakan mediation analysis dengan Hayes PROCESS Model 4 dan metode bootstrapping (5.000 sampel). Hasil penelitian menunjukkan bahwa work-life balance memiliki hubungan positif yang sangat signifikan dengan job satisfaction (estimate = 1,8475; SE = 0,0251; t = 73,6612; p = 0,000), sehingga hipotesis pertama diterima. Work engagement terbukti berperan sebagai mediator parsial dalam hubungan tersebut, dengan indirect effect yang signifikan (estimate = 0,7110; BootSE = 0,0673; 95% CI = [0,5839; 0,8506]) dan direct effect yang tetap signifikan (estimate = 1,1365; SE = 0,0694; t = 16,3733; p = 0,000), sehingga hipotesis kedua diterima. Temuan penelitian ini mengonfirmasi pentingnya work-life balance sebagai prediktor job satisfaction dan peran strategis work engagement dalam memperkuat hubungan tersebut, memberikan implikasi teoritis bagi pengembangan literatur psikologi industri dan organisasi serta implikasi praktis bagi manajemen perusahaan manufaktur dalam merancang kebijakan sumber daya manusia yang mendukung kesejahteraan dan produktivitas karyawan.
Hubungan Antara Self Regulated Learning dan Berpikir Kritis pada Mahasiswa di Surabaya: Peran Academic Engagement sebagai Variabel Mediator Khuzaimah, Dewi Halim; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia Ul
Indonesian Research Journal on Education Vol. 6 No. 1 (2026): Irje 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v6i1.4103

Abstract

Self-regulated learning (SRL) merupakan prediktor kunci prestasi akademik yang dipengaruhi oleh kemampuan mahasiswa mengelola proses belajar mandiri. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan SRL terhadap berpikir kritis pada mahasiswa di Surabaya dan menyelidiki peran mediasi academic engagement dalam hubungan tersebut. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional. Data dikumpulkan dari 350 mahasiswa aktif (Psikologi & Ekonomi) melalui purposive sampling. SRL, academic engagement, dan berpikir kritis diukur menggunakan skala MSLQ, UWES-S, CCTST yang valid dan reliabel (α=.884-.901). Data dianalisis menggunakan regresi hierarkis dan uji mediasi PROCESS Model 4. Hasil menunjukkan SRL berpengaruh positif signifikan terhadap berpikir kritis (β = .5840; p < 0.001). SRL juga berpengaruh positif signifikan terhadap academic engagement (β = .6230; p < 0.001). Selanjutnya, academic engagement berhubungan positif signifikan dengan berpikir kritis setelah mengontrol SRL (β = .4560; p < 0.001). Uji mediasi mengungkap indirect effect SRL terhadap berpikir kritis melalui academic engagement signifikan (effect = .2840; BootLLCI = .2310; BootULCI = .3420). Direct effect SRL terhadap berpikir kritis tetap signifikan setelah mediator dimasukkan, mengindikasikan partial mediation (56.8% jalur dimediasi). Temuan ini menunjukkan academic engagement berkontribusi terhadap berpikir kritis baik langsung maupun tidak langsung melalui peningkatan SRL mahasiswa swasta Surabaya.
Peran Moral Engagement Memediasi Antara Attitude Dan Intention to Corruption pada Mahasiswa Zeverina Nur Alifah Zahra; Etik Darul Muslikah; Eben Ezer Nainggolan
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Corruption is a serious problem that not only undermines governance but has also spread to various sectors, including higher education. Students, as agents of change, even show a permissive attitude toward corrupt behavior from their college days. This study aims to examine the relationship between attitude and intention to engage in corruption, as well as the role of moral engagement as a mediator among students. This study employs a quantitative approach with a correlational design. The subjects of this research are active students in Surabaya, with a population of 300,031 and a sample of 358 students selected using convenience sampling. Data were analyzed using mediation regression with the assistance of SPSS software and the PROCESS Macro Model 4. The results of the study indicate that attitudes toward corruption have a positive and significant relationship with the intention to engage in corruption. Additionally, moral engagement was found to partially mediate this relationship Keywords: Attitude, Intention to Corruption, Moral Engagement Abstrak Korupsi merupakan permasalahan yang serius tidak hanya merusak tata kelola pemerintahan, tetapi juga telah merambah di berbagai sektor, termasuk perguruan tinggi. Mahasiswa sebagai agen perubahan bahkan menunjukkan kecenderungan permisif terhadap perilaku koruptif sejak di bangku kuliah. Kajian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara attitude dan intention to corruption, serta peran moral engagement sebagai mediator pada mahasiswa. Kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif di Surabaya dengan jumlah populasi 300.031 dan sampel sebanyak 358 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik convience sampling. Data dianalisis menggunakan regresi mediasi melalui bantuan perangkat lunak SPSS dan PROCESS Macro Model 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap terhadap korupsi memiliki hubungan positif dan signifikan dengan niat untuk melakukan korupsi. Selain itu, moral engagement terbukti memediasi secara parsial hubungan tersebut. Kata kunci: Attitude, Intention to Corruption, Moral Engagement
Hubungan Antara Self Transedence Values Dan Digital Prosocial Behavior Pada Mahasiswa Di Kota Surabaya: Peran Moral Elevation Sebagai Mediator Nur Laila Fajrin; Eben Ezer Nainggolan; Etik Darul Muslikah
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.4665

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara self-transcendence values dan digital prosocial behavior pada mahasiswa di Kota Surabaya, serta menguji peran moral elevation sebagai mediator dalam hubungan tersebut. Perilaku prososial dalam konteks digital menjadi fenomena yang semakin penting seiring meningkatnya penggunaan media digital dalam kehidupan mahasiswa. Namun, kemunculan perilaku prososial digital tidak terlepas dari pengaruh nilai personal dan emosi moral yang dimiliki individu, sehingga perlu dikaji lebih lanjut melalui pendekatan empiris. Hasil analisis data menunjukkan bahwa self-transcendence values berpengaruh positif dan signifikan terhadap digital prosocial behavior (B = 0,8851; t = 4,7711; p = 0,0000). Interval kepercayaan 95% berada pada rentang LLCI = 0,5203 hingga ULCI = 1,2498, yang tidak melewati angka nol, sehingga Hipotesis 1 dinyatakan diterima. Selanjutnya, hasil uji mediasi menunjukkan bahwa self-transcendence values berpengaruh positif dan signifikan terhadap moral elevation (B = 0,9386; t = 14,9030; p = 0,0000), serta moral elevation berpengaruh positif dan signifikan terhadap digital prosocial behavior (B = 0,9389; t = 7,8599; p = 0,0000). Selain itu, hasil uji efek tidak langsung menunjukkan nilai effect sebesar 0,8812 dengan interval kepercayaan bootstrap 95% pada rentang 0,6212 hingga 1,1649 yang tidak melewati angka nol. Temuan ini menunjukkan bahwa moral elevation memediasi secara signifikan hubungan antara self-transcendence values dan digital prosocial behavior, sehingga Hipotesis 2 dinyatakan diterima. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa nilai self-transcendence berperan penting dalam mendorong perilaku prososial mahasiswa di ruang digital, baik secara langsung maupun melalui pengalaman emosi moral berupa moral elevation.