Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Altruisme dan Keterlibatan Akademik pada Mahasiswa: Peran Psychological Well-Being sebagai Variabel Mediator Fuadah, Luk Luk Atul; Nainggolan, Eben Ezer; Muslikah, Etik Darul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 3 No 01 (2025): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v3i01.12668

Abstract

The problem in this study was identified as the low level of academic engagement in students in Surabaya, which is thought to be influenced by altruism, with the role of psychological well-being as a mediator that is expected to be able to strengthen or explain the relationship, so that researchers conducted a study that attempted to see the relationship between Altruism and Academic Engagement and Psychological Well-Being as a mediator with the aim of exploring the complex relationship between altruistic behavior, psychological well-being, and academic engagement of students. The respondents of this study were 384 active students in Surabaya. The analysis technique used was mediation analysis with the help of JASP. The results showed that Altruism had a relationship with Academic Engagement of 56.3 with a significance level of 0.001 (p<0.05). The mediation test showed that Psychological Well-Being was able to mediate the relationship between Altruism and Academic Engagement from the indirect effect having a Z-value of -14.7 with a significance level of less than 0.001 which stated that Psychological Well-Being was able to partially mediate the relationship between altruism and academic engagement.
Peran Mindfulness dan Regulasi Emosi dalam Meningkatkan Psychological Well-being pada Guru TK di Surabaya Zaulino, Naufal Herari; Nainggolan, Eben Ezer; Ul Haque, Sayidah Aulia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 3 No 01 (2025): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v3i01.12678

Abstract

Abstrack This study aims to examine the relationship between mindfulness and emotion regulation on psychological well-being among kindergarten teachers in Surabaya. The study population consists of 357 kindergarten teachers in Surabaya, selected using a purposive sampling technique. The research employed a descriptive quantitative method with a correlational approach. The research instruments include the Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) with 24 items, the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) with 10 items, and the Psychological Well-Being Scales with 18 items, all of which were tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using ordinal linear regression to evaluate the influence of mindfulness and emotion regulation on psychological well-being. The results indicate that mindfulness has a significant but negative influence on psychological well-being (p < 0.05), while emotion regulation does not show a significant influence (p > 0.05). These findings provide valuable insights for developing more targeted interventions to enhance the psychological well-being of kindergarten teachers. Keywords: Mindfulness, emotion regulation, psychological well-being. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara mindfulness dan regulasi emosi terhadap psychological well-being pada guru TK di Surabaya. Populasi penelitian terdiri dari 357 guru TK di Surabaya yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan korelasional. Instrumen penelitian mencakup five facet mindfulness questionnaire (FFMQ) dengan 24 item, emotion regulation questionnaire (ERQ) dengan 10 item, dan -psychological well-Being scales dengan 18 item, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan uji regresi linear ordinal untuk mengevaluasi pengaruh mindfulness dan regulasi emosi terhadap psychological well-being. Hasil analisis menunjukkan bahwa mindfulness memiliki pengaruh signifikan namun negatif terhadap psychological well-being (p < 0,05), sedangkan regulasi emosi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (p > 0,05). Temuan ini memberikan wawasan penting bagi upaya pengembangan intervensi yang lebih terarah dalam meningkatkan Psychological Well-Being guru TK. Kata Kunci : Mindfulness, regulasi emosi, psychological well-being.
Sense of Belongingness dan Academic Engagement pada Mahasiswa: Peran Psychological Well-Being sebagai Mediator Nadifah, Nadifah; Nainggolan, Eben Ezer; Muslikah, Etik Darul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 3 No 01 (2025): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v3i01.12725

Abstract

Rendahnya academic engagement dapat memunculkan berbagai permasalahan baru yang berhubungan dengan prestasi akademik mahasiswa, kesehatan mental, dan isu akademik lainnya. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa academic engagement memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan intensi untuk drop out. Berdasarkan data yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada tahun 2023, tercatat sebanyak 4% atau 375.134 mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia mengalami putus studi. Dari jumlah tersebut, mahasiswa program sarjana mendominasi sebanyak 308.495 orang atau 82,24% dari keseluruhan kasus drop out. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran psychological well-being sebagai variabel mediator dalam hubungan antara sense of belongingness dan academic engagement pada mahasiswa di Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan variabel mediator. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling, melibatkan 384 mahasiswa sebagai responden. Analisis mediasi menggunakan perangkat statistik Jamovi versi 2.6.17 menunjukkan bahwa sense of belongingness memiliki hubungan langsung yang signifikan dengan academic engagement. Namun, analisis hubungan tidak langsung menunjukkan bahwa psychological well-being tidak berperan sebagai mediator dalam hubungan tersebut. Dengan demikian, H1 diterima, sedangkan H2 ditolak.
Moral Disengagement Sebagai Mediator dalam Hubungan antara Moral Identity dan Intention To Corruption pada Mahasiswa Ardiansyah, Ricky; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia Ul
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 2: Agustus (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i2.1492

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini diidentifikasi sebagai masih adanya kecenderungan mahasiswa di Surabaya memiliki intention to corruption, yang diduga dipengaruhi oleh tingkat moral identity, dengan peran moral disengagement sebagai mediator. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara moral identity dengan intention to corruption, serta peran moral disengagement sebagai variabel mediator, dengan tujuan menggali proses psikologis yang memungkinkan individu tetap memiliki niat korupsi meskipun memiliki identitas moral tertentu. Penelitian ini melibatkan 350 mahasiswa sebagai partisipan, dengan teknik analisis mediasi menggunakan PROCESS Macro model 4 oleh Hayes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moral identity memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap intention to corruption dengan koefisien regresi sebesar 0,203 dan taraf signifikansi p < 0,001. Uji mediasi menunjukkan bahwa moral disengagement mampu memediasi hubungan antara moral identity dengan intention to corruption secara signifikan, yang menunjukkan bahwa moral disengagement memiliki peran penting dalam menjelaskan peningkatan niat korupsi pada mahasiswa meskipun memiliki moral identity yang tinggi.
NORMA MORAL DAN INTENSI KORUPSI AKADEMIK MAHASISWA: PERAN MEDIASI MORAL DISENGAGEMENT DALAM KONTEKS PENDIDIKAN TINGGI Failasuva, Harviana Sifa; Muslikah, Etik Darul; Nainggolan, Eben Ezer
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6758

Abstract

Corruption is no longer confined to government institutions but has also penetrated the educational sector, including higher education. University students, who are expected to act as agents of change, may become involved in corrupt practices, particularly academic corruption. This study focuses on examining the relationship between moral norms and students' intention to engage in corruption, as well as the mediating role of moral disengagement in that relationship. This research employed a quantitative correlational approach with a convenience sampling technique. A total of 348 students from various universities in Surabaya participated in this study. Three psychological instruments were used to measure moral norms, moral disengagement, and intention to engage in corruption. Data were analyzed using mediation analysis with Hayes' PROCESS Macro Model 4. The results indicate that moral norms have a significant positive relationship with the intention to commit corruption, and moral disengagement partially mediates this relationship. These findings suggest that students with strong moral norms may still develop corrupt intentions when they justify their actions through moral disengagement mechanisms. The study concludes that moral education in higher education institutions should not only focus on cognitive understanding but also emphasize affective and behavioral internalization to prevent rationalization of unethical conduct. ABSTRAK Fenomena korupsi tidak hanya terjadi di sektor pemerintahan, tetapi juga telah menjalar ke dunia pendidikan, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa sebagai agen perubahan justru berpotensi terlibat dalam tindakan koruptif, khususnya dalam bentuk korupsi akademik. Penelitian ini berfokus pada hubungan antara norma moral dan intensi melakukan korupsi pada mahasiswa, serta peran moral disengagement sebagai mediator dalam hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik convenience sampling. Sampel terdiri atas 348 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya. Instrumen yang digunakan terdiri dari tiga skala psikologis, yaitu skala norma moral, moral disengagement, dan intensi korupsi. Analisis data dilakukan menggunakan metode analisis mediasi dengan PROCESS Macro Model 4 dari Hayes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa norma moral memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap intensi melakukan korupsi, serta terdapat mediasi parsial oleh moral disengagement dalam hubungan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat norma moral tinggi tetap berpotensi memiliki intensi untuk melakukan korupsi apabila mereka merasionalisasi perilaku tersebut melalui mekanisme moral disengagement. Simpulan dari penelitian ini menekankan pentingnya pendidikan nilai moral di perguruan tinggi yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga menyentuh aspek afektif dan perilaku, guna menekan rasionalisasi terhadap tindakan tidak etis.
MORAL DISENGAGEMENT SEBAGAI MEDIATOR ANTARA PERSEPSI KONTROL PERILAKU DAN NIAT KORUPSI PADA MAHASISWA SURABAYA Sari, Lidia Aprilia; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia UI
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6759

Abstract

Corruption remains a serious issue in Indonesia, as reflected in the 2024 Corruption Perceptions Index (CPI) released by Transparency International, where Indonesia scored 37 out of 100 and ranked 99th out of 180 countries. This study aims to examine the relationship between perceived behavioral control (PBC) and the intention to engage in corruption, as well as to explore the mediating role of moral disengagement. A quantitative approach was employed using convenience sampling, involving 348 active students from public and private universities in Surabaya. The instruments used were standardized scales that had been tested for validity and reliability to measure PBC, corruption intention, and moral disengagement. Data analysis was conducted using Hayes' PROCESS Macro in SPSS, including outlier testing, residual normality, linearity, one-sample t-tests, and mediation analysis through bootstrapping. The results revealed a significant positive relationship between PBC and corruption intention (? = 0.279; p < 0.001), as well as a significant indirect effect through moral disengagement (? = 0.223; p < 0.000; 95% CI [0.135–0.320]). These findings indicate that moral disengagement plays a crucial role in mediating the effect of PBC on the intention to engage in corruption, highlighting the importance of moral awareness enhancement in anti-corruption education efforts. ABSTRAKKorupsi tetap menjadi permasalahan serius di Indonesia, sebagaimana tercermin dalam Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2024 yang dirilis oleh Transparency International, di mana Indonesia memperoleh skor 37 dari 100 dan menempati peringkat ke-99 dari 180 negara. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara perceived behavioral control (PBC) dan niat untuk melakukan korupsi, serta mengeksplorasi peran moral disengagement sebagai mediator. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan teknik convenience sampling, melibatkan 348 mahasiswa aktif dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Surabaya. Instrumen penelitian berupa skala terstandar yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya untuk mengukur PBC, niat korupsi, dan moral disengagement. Analisis data dilakukan menggunakan PROCESS Macro dari Hayes pada SPSS, meliputi uji outlier, normalitas residual, linearitas, one-sample t-test, dan analisis mediasi dengan teknik bootstrapping. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara PBC dan niat korupsi (? = 0,279; p < 0,001), serta efek mediasi tidak langsung yang signifikan melalui moral disengagement (? = 0,223; p < 0,000; 95% CI [0,135–0,320]). Temuan ini mengindikasikan bahwa moral disengagement memainkan peran penting dalam menjembatani pengaruh PBC terhadap niat untuk melakukan korupsi, sehingga intervensi yang berfokus pada penguatan kesadaran moral menjadi krusial dalam upaya pendidikan antikorupsi.
Peran Moral Disengagement dalam Memediasi Hubungan antara Locus of Control dan Intention to Corruption pada Mahasiswa Tasya, Dhara Belinda Nabila; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia Ul
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 4 No 3: Oktober (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v4i3.1677

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara locus of control dan intention to corruption, serta menguji peran moral disengagement sebagai mediator pada mahasiswa di Surabaya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan jumlah partisipan sebanyak 360 mahasiswa aktif dari perguruan tinggi negeri dan swasta yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Analisis data dilakukan dengan regresi linier bertahap mengikuti model Baron dan Kenny (1986) menggunakan IBM SPSS Statistics versi 27. Instrumen penelitian meliputi Skala Locus of Control dengan tiga dimensi, yakni (internality, powerful others, dan chance), Skala Moral Disengagement, dan Skala Intention to Corruption. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga dimensi locus of control; internality (β = 0,094; p = 0,029), powerful others (β = 0,408; p < 0,001), dan chance (β = 0,258; p < 0,001) memiliki hubungan positif dan signifikan dengan intention to corruption. Uji mediasi menunjukkan bahwa moral disengagement memediasi hubungan locus of control dan intention to corruption, dengan mediasi parsial pada powerful others dan mediasi penuh pada internality dan chance. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan locus of control eksternal cenderung memiliki niat koruptif yang lebih tinggi melalui pembenaran moral, sedangkan locus of control internal berperan dalam mencegah terbentuknya niat tersebut.
Peran Mediasi Moral Disengagement antara Trait Cynicism dan Intention to Corruption pada Mahasiswa Subandriyo, Sayyidah Maharani Putri; Muslikah, Etik Darul; Nainggolan, Eben Ezer
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 4 No 3: Oktober (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v4i3.1760

Abstract

pada sektor pendidikan dan kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara trait cynicism dan intention to corruption dengan moral disengagement sebagai mediator. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional. Partisipan berjumlah 460 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan meliputi skala intention to corruption, skala trait cynicism, dan skala moral disengagement. Analisis data dilakukan dengan menggunakan PROCESS Macro model 4 (Hayes) versi 5.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara trait cynicism dan intention to corruption (β = 0,844; p = 0,000), yang berarti semakin tinggi tingkat trait cynicism mahasiswa, semakin tinggi pula tingkat intention to corruption-nya. Selain itu, moral disengagement terbukti memediasi hubungan antara trait cynicism dan intention to corruption secara parsial (β = 0,419; p = 0,000). Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa yang memiliki kecenderungan sinis terhadap orang lain cenderung melepaskan tanggung jawab moralnya, sehingga meningkatkan niat untuk melakukan tindakan koruptif.
Hubungan Antara Kepercayaan Diri dan Kecemasan Komunikasi Interpersonal pada Mahasiswa di Surabaya dengan Motivasi Belajar Sebagai Variabel Moderator F.Z, Baiq Jihannisa; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia Ul
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 1 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i1.2007

Abstract

Mahasiswa sering menghadapi kecemasan komunikasi interpersonal yang dapat memengaruhi interaksi sosial dan proses pembelajaran mereka. Kepercayaan diri sering dianggap sebagai faktor penting dalam mengurangi kecemasan ini, namun pengaruhnya dapat dipengaruhi oleh variabel lain. Research ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self confidence dan kecemasan komunikasi interpersonal pada mahasiswa di Surabaya, serta menguji peran motivasi belajar sebagai variabel moderator. Memanfaatkan pendekatan kuantitatif pada desain analisis regresi hierarki, research ini melibatkan 384 mahasiswa yang ditentukan secara acak. Hasil analisis menjelaskan bahwasanya hubungan langsung antara self confidence dan kecemasan komunikasi interpersonal tidak signifikan (β = -0,08; p > 0,05). Namun, motivasi belajar terbukti memoderasi hubungan tersebut, dengan interaksi antara kepercayaan diri dengan motivasi belajar menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kecemasan komunikasi interpersonal (β = -0,23; p < 0,05). Temuan ini menekankan pentingnya penguatan motivasi belajar dalam membantu mahasiswa mengelola kecemasan komunikasi interpersonal dan meningkatkan kepercayaan diri mereka.
Religiusitas dan Quarter-life Crisis pada Dewasa Muda:: Peran Intensitas Penggunaan Media Sosial Sebagai Variabel Moderator Shafrina, Nadia Zulfa; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia Ul
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 2 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i2.2104

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah religiusitas berhubungan dengan quarter-life crisis pada dewasa muda, serta apakah intensitas pengunaan media sosial dapat memoderasi hubungan religiusitas dengan quarter-life crisis. Populasi dalam penelitian ini adalah dewasa muda di Kota Surabaya. Jumlah sampel untuk penelitian ini adalah 350 orang, seperti yang ditetapkan oleh tabel Isaac dan Michael, dengan tingkat kesalahan 5%. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif korelasional, dengan teknik probability sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala quarter-life crisis (18 item), skala religiusitas (30 item), dan skala intensitas penggunaan meia sosial (15 item). Hasil penelitian ini menunjukkan dewasa muda di Surabaya sebanyak 12,00% mengalami quarter-life crisis pada kategori sangat tinggi, 26,29% pada kategori tinggi, 30,86% pada kategori sedang, 24,29% pada kategori rendah dan 6,57% pada kategori sangat rendah. Hasil menunjukkan religiusitas dan quarter-life crisis memiliki hubungan yang negatif, sedangkan intensitas penggunaan media sosial tidak dapat memoderasi hubungan religiusitas dan quarter-life crisis.