Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Perubahan Tutupan Lahan dan Stok Karbon Permukaan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Blega Fahmi Arief Rahman; Nurlaila Mubarokah; Erick Yuhardi; Agung Adiputra; Slamet Supriyadi; Sinar Suryawati
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2023.010.02.3

Abstract

ABSTRAK  Emisi karbon merupakan isu yang sangat berdampak pada pemanasan global, peningkatan bencana hidrometeorologi dan penurunan sumberdaya alam. Salah satu cara mengurangi emisi karbon adalah mencegah perubahan tutupan lahan terutama hutan pada daerah tropis seperti Kawasan DAS Blega. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perubahan tutupan lahan dan dan pengaruhnya terhadap stok karbon permukaandi DAS Blega tahun 1990-2020. Penelitian dilakukan di area DAS Blega melalui 6 tahapan, yaitu koreksi geometric, komposit band, training sample pada Area of Interest (AoI), uji Training sample, klasifikasi tutupan lahan dan menghitung stok karbon. Hasil analisis menunjukkan rata - rata tutupan lahan pada tahun 1990, 2000, 2010 dan 2020 terluas berturut-turut adalah pertanian lahan kering (69%), hutan tanaman (11.2%), sawah (8.77%), hutan tanaman (4.59%), tambak (2.65%), pertanian lahan kering campur (1.56%), hutan mangrove sekunder (0.87%), pemukiman (0.70%), belukar (0.63%) dan sisanya tanah terbuka. Perubahan tutupan lahan 1990-2000 dari belukar rawa menjadi pertanian lahan kering (8,819.81 ha), sawah (2,629.13 ha) dan pemukiman (152.57 ha). Periode 2000-2010 terjadi perubahan tutupan lahan pada pertanian Lahan Kering Campur-Pemukiman sebesar 654.14 ha. Periode 2010-2020 terjadi konversi lahan tertinggi pada sawah - tambak dengan luas 4,571.08, belukar - sawah, dan hutan mangrove sekunder - tambak masing - masing luas 343.12 dan 316.13 ha serta sebagian kecil penutup lahan lainnya. Selanjutnya, periode 2010-2020 tutupan lahan sawah mengalami penurunan sebesar 4,302.7 ha. Perubahan tutupan lahan tersebut berpengaruh pada perubahan stok karbon di DAS Blega, yakni selama periode tahun 1990-2020 mengalami penurunan sebesar 25.98%. Tahun 1990-2000 mengalami penurunan 19.41%, tahun 2000-2010 dan 2010-2020 mengalami penurunan masing-masing sebesar 1.55% dan 5.02%. Kata kunci: emisi karbon, karbon permukaan, madura ABSTRACT Carbon emissions are a strategic issue because of the impact on global warming, increased hydrometeorological disasters, and decreased natural resources. One way to reduce carbon emissions is to prevent land cover change, especially forests for other uses in tropical areas such as forests in the Blega watershed area. This study aims to look at land cover change and its effect on surface carbon stock in the Blega watershed from 1990-2020. This research was conducted in the Blega watershed area through 6 stages, namely: 1) Geometric correction, 2) Band composite, 3) Training sample on Area of Interest (AoI), 4) Training sample test, 5) Land cover classification and 6) Carbon stock calculation. The results of image analysis of the Blega watershed area show that the average land cover in 1990, 2000, 2010, and 2020 are dry land agriculture (69%), plantation forest (11.2%), rice fields (8.77%), plantation forest (4.59%), ponds (2.65%), mixed dry land agriculture (1.56%), secondary mangrove forest (0.87%), settlements (0.70%), shrubs (0.63%) and the remaining open land. The land cover changed 1990-2000 from swamp scrub to dry land agriculture (8,819.81 ha), paddy fields (2,629.13 ha), and settlements (152.57 ha). The period 2000-2010 saw land cover change in Mixed Dryland Agriculture-Settlement of 654.14 ha. The 2010-2020 period saw the highest land conversion in paddy fields - ponds with an area of 4,571.08, scrub - paddy fields, and secondary mangrove forest - ponds with an area of 343.12 and 316.13 ha respectively, and a small portion of other land covers. Furthermore, in the 2010-2020 period, rice field land cover decreased by 4,302.7 ha. The change in land cover affects the change in carbon stock in the Blega watershed, which during the 1990-2020 period decreased by 25.98%.1990-2000 experienced a decrease of 19.41%, 2000-2010 and 2010-2020 experienced a decrease of 1.55% and 5.02% respectively. Keywords: carbon emissions, surface c stock, madura
Flood Mitigation Strategy in Banjar City, West Java Faqqih Ma'ruf Anggoro; Agung Adiputra; R. Tricahyono Nur Harsono
JPG (Jurnal Pendidikan Geografi) Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpg.v10i2.16735

Abstract

The flood disaster that occurred in Banjar City was caused by the high intensity of rainfall in each rainy season. The disaster resulted in considerable material and non-material losses. As a result of these impacts, a flood disaster mitigation strategy is needed in Banjar City. Flood disaster mitigation strategies are needed as a form of effort to reduce and manage the risks posed by floods to human health, economic activities, the environment, and cultural heritage. Therefore, this study aims to create a flood disaster mitigation strategy that can be done in Banjar City. This study uses  the Analytic Hierarchy Process (AHP) method which aims to obtain weights and determine the priority scale of flood disaster mitigation strategies used. In using this method there are several principles that must be understood in solving problems with AHP, namely decomposition, comparative judgment, synthsesis of priority and logical consistency.The results of the AHP analysis show that regional regulation policy strategies and their implementation (weight 0.195), policy strategies related to coordination between stakeholders (weight 0.185), policy strategies related to disaster risk assessment (weight 0.129), policy strategies related to disaster  management funding (weight 0.170), policy strategies related to increasing stakeholder capacity (weight 0.089), strategies for disaster-resilient communities and facilities and infrastructure (weight 0.089),  strategies for improving the quality and quantity of human resources (weight 0.085), and strategies for post-disaster recovery (weight 0.059). Based on  the results of the AHP analysis, an inconsistensy ratio of 0.014  < 0.1 was obtained, which means that the results of the analysis can be accepted. 
Analysis of Land Use Change Using Landsat Imagery and GIS in West Cikarang District Luthfiyah Khairun Nisa; Siti Dahlia; R Tricahyono Nur Harsono; Agung Adiputra
JPG (Jurnal Pendidikan Geografi) Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpg.v10i2.16788

Abstract

The research was conducted in West Cikarang Subdistrict which was motivated by the large number of industrial areas which resulted in many agricultural to non-agricultural land uses changing. Based on this, the objectives of this study are 1) To determine the extent of land use change in West Cikarang District, Bekasi Regency in 2010-2020 using Landsat Imagery and GIS; 2) To determine the land use change in 2010-2020 in the West Cikarang District area of Bekasi Regency. The images used are Landsat images in 2010, 2015, and 2020. In this research, the method used is Supervised Image Classification for interpretation. This research uses a composite of bands 4,3,2 for Landsat 8 imagery and 3,2,1 for Landsat 7 imagery. This research uses a descriptive type of research, the method used in this research is a spatial approach. The Kappa accuracy produced in this research is 93.1%. The results of this land use change research that increased significantly were settlements, in 2010 residential land use had an area of 1660.1 Ha, in 2015 the use increased to 2227.8 Ha, and in 2020 residential land use increased again to 2285.3 Ha.  
ANALISIS RISIKO BENCANA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI PULAU BENGKALIS Agung Adiputra
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 2 No. 1 (2018): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v2i1.1015

Abstract

ABSTRAK Salah satu daerah yang mengalami kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan adalah Pulau Bengkalis di Provinsi Riau. Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau hampir setiap tahun terjadi. Kebakaran di lokasi tersebut terjadi setiap musim kemarau. Berdasarkan data statistik Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau 2014, sekitar 56% total lahan gambut di Pulau Bengkalis mengalami kebakaran hampir setiap tahun. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui nilai risiko bencana kebakaran hutan dan lahan di pulau Bengkalis, dengan memperhitungkan kerawanan dan kerentananya. Upaya mengurangi risiko bencana kebakaran hutan dan lahan memerlukan arahan mitigasi bencana sebagai tindakan preventif. Sekitar 543,786 jiwa total penduduk di pulau Bengkalis sebagian di-antaranya rentan terpapar bencana asap dari kebakaran hutan dan lahan. Metode dalam penelitian ini merupakan metode perhitungan risiko bencana dari interaksi antara bahaya (hazard) yang ada, dan tingkat kerentanan (vulnerability) masyarakat terhadap bencana, serta kapasitas yang dimiliki masyarakat dalam menghadapi bencana (R=H x V x E). Jika masyarakat cukup tinggi dalam menghadapi bencana, maka kapasitas bersifat mengurangi risiko. Luas wilayah Pulau Bengkalis yang mempunyai tingkat risiko tinggi terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan seluas 73.441,61 ha, dan tingkat risiko sedang seluas 2.721,81 ha. Total luas wilayah berisiko terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan di Pulau Bengkalis adalah 14.295,83 ha. Seluruh desa atau kelurahan di Pulau Bengkalis mempunyai wilayah dengan risiko sedang dan tinggi dengan luas yang bervariasi. Kata Kunci: Kebakaran hutan dan lahan, Risiko Bencana. ABSTRACT One of the areas that suffered losses due to forest and land fires was Bengkalis Island in Riau Province. Forest and land fires in Riau Province almost every year. Fires in these locations occur every dry season. Based on Statistics of Riau Provincial Environmental Agency 2014, about 56% of the total peatland on Bengkalis Island suffered fire almost every year. This study aims to determine the value of risk of forest and land fires on Bengkalis Island taking into account the vulnerability. Risks reducing to forest and land fires requires disaster mitigation directives as a preventive measure. Around 543,786 people in Bengkalis are some of them are vulnerable to smoke from forest and land fires. The method used in this research is a method of calculating risk from the interaction between hazard, vulnerability of society to disaster and the capacity of society (R = H x V x E). If the community is high enough in the face of disaster, then the society have hight of capacity it can reduce of risk. The area of "‹"‹Bengkalis Island which has a high risk level for the forest fire disaster and land area of "‹"‹73,441.61 ha. While the level of risk was about 2,721.81 ha. The total area of "‹"‹risk for forest and land fire disasters on Bengkalis Island is 14,295.83 ha. All villages in Bengkalis Island have medium and high risk areas with varying areas. Keywords: Land and Forest Fire, Disaster Risk.
Kajian Risiko Bencana Kekeringan Di Kabupaten Cianjur M.Galih Permadi; Agung Adiputra
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 3 No. 1 (2019): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v3i1.2991

Abstract

Kejadian kekeringan merupakan masalah rutin di Kabupaten Cianjur yang perlu di tanggulangi melalui persiapan dan perencanaan. Penanggulangan kekeringan dapat diumlai dengan kajian risiko bencana, sehingga dapat mengurangi tingginya dampak kerugian. Kajian risiko bencana merupakan penilaian (assessment) pra bencana yang dilakukan dengan metode analisis keruangan melalui pemberian skor pada setiap parameter berdasarkan pada kontribusi relatif terhadap kekeringan. Parameter yang dipergunakan adalah curah hujan, ketersediaan sumber air, penggunaan lahan, jenis tanah dan kemiringan lereng. Hasil analisis menunjukkan wilayah dengan kelas bahaya tinggi seluas 23.263,4 ha, dan wilayah dengan tingkat bahaya sedang seluas 314.145,6 ha. Kekeringan umumnya terjadi di wilayah bagian selatan dan tenggara Kabupaten Cianjur yang lebih dekat ke arah laut. Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah topografi wilayah yang tidak terjangkau pasokan air dari pegunungan, dan curah hujan yang lebih rendah dari wilayah utara. Wilayah yang memiliki kerentanan tinggi adalah Kecamatan Cidaun, Kecamatan Takokak, Kecamatan Sukaresmi, dan Kecamatan Naringgul. Keterpaparan menurut jarak dari ibukota kabupaten Cianjur adalah wilayah Karang Tanah sebagai yang terluas, disusul oleh Kecamatan Pacet dan Kecamatan Cibeber.
Pemetaan Bahaya dan Kerentanan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau Sumardani Kusmajaya; Supriyati Supriyati; Agung Adiputra; M. Galih Permadi
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 3 No. 1 (2019): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v3i1.2993

Abstract

Provinsi Riau merupakan salah satu wilayah yang tidak pernah luput dari kebakaran hutan dan lahan. Salah satu penyebab kebakaran semakin parah, karena kejadian kebakaran hutan dan lahan terjadi pada ekosistem gambut. Di sisi lain, pemerintah daerah mempunyai kewajiban untuk menyusun, menetapkan, dan menginformasikan peta rawan bencana untuk melakukan perencanaan dan pemadaman dini, apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan. Mengacu Perka BNPB Nomor 2 Tahun 2012, peta bahaya kebakaran hutan dan lahan Provinsi Riau dibuat menggunakan map algebra dan peta kerentanan dibuat secara dasimetrik. Hasil pemetaan menunjukkan daerah yang mempunyai bahaya tinggi adalah Kabupaten Indragiri Hilir dan Kabupaten Rokan Hilir, sedangkan kerentanan tertinggi berada di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Indragiri Hilir.
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Pasca Kejadian Tsunami Tahun 2018 Sebagai Rekomendasi Tata Ruang Di Pesisir Pantai Kecamatan Panimbang, Pandeglang, Banten Siti Dahlia; Agung Adiputra; Alwin; M. Aji Najiyullah; Kamzia; Fakhri Kurnia Rahmadiansyah
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 4 No. 1 (2020): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v4i1.3640

Abstract

Keberadaan jalur subduksi di dasar Samudra Hindia membentang di sepanjang laut selatan jawa yang merupakan rangkaian ring of fire, mengakibatkan tingginya intensitas proses geologi berupa gempa dasar laut dan aktivitas vulkanik yang mengakibatkan Indonesia rawan terhadap bencana gempa dan tsunami. Hal ini termasuk pada area pesisir Kecamatan Panimbang, Pandeglang, Banten yang merupakan terletak di area Selat Sunda, dan risiko terhadap bencana tsunami akibat aktivitas erupsi Anak Gunung Krakatau. Pada Desember Tahun 2018 terjadi silent tsunami akibat runtuhan material erupsi Anak Krakatau, yang berdampak pada kerusakan di pesisir Kecamatan Panimbang. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memetakan perubahan lahan sebelum dan pasca kejadian tsunami tahun 2018, dan analisis tata ruang wilayah Pesisir Panimbang berbasis bencana tsunami. Metode untuk memetakan perubahan penggunaan lahan yaitu identifikasi penggunaan lahan wilayah penelitian sebelum dan sesudah terjadi tsunami Desember Tahun 2018 berbasis data Citra Googel Earth, dengan metode interpretasi citra. Selain itu, penggunaan lahan pasca tsunami diidentifikasi dengan metode survei lapangan menggunakan alat drone, dan GPS. Untuk memvalidasi informasi dilakukan wawancara mendalam dengan Masyarkat setempat. Metode analisis data penggunaan lahan menggunakan software Arc Gis 10.6, dan pemetaan penggunaan lahan mengacu SNI Penggunaan Lahan di level Kecamatan. Metode untuk analisis tata ruang dengan cara melakukan review Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pandegelang, secara struktur dan pola ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perubahan penggunaan lahan wilayah penelitian, khususnya diarea pesisir Panimbang. Perubahan yang terjadi teridentifikasi adanya kawasan pemukiman yang hilang, kawasan wisata dan resort yang rusak, dan memunculkan adanya kawasan Hunian Sementara. Desa yang mengalami signifikan perubahan yaitu Desa Tanjungjaya. Berdasarkan peninjauan Perda Kabupaten Pandeglang No. 3 Tahun 2011 wilayah penelitian merupakan kawasan konservasi mangrove, bencana banjir, pertanian dan perikanan, wisata, dan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi, dan kawasan startegis kabupaten. Berdasarkan hal tersebut, tidak teridentifikasi wilayah penelitian sebagai kawasan bencana geologis atau rawan tsunami, untuk itu tidak tergambarkan rencana tata ruang wilayah penelitian berbasis tsunami.
Analisis Dampak Sosial-Ekonomi Akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 di Provinsi DKI Jakarta Rasminto, Rasminto; Rasyid, Aliy; Adiputra, Agung; Amin; Ain, Mihyal
Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol. 11 No. 1 (2022): Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan
Publisher : Program Studi Magister Manajemen Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.326 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak yang disebabkan oleh pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dalam menghadapi pandemik Covid-19 terhadap sosial-ekonomi masyarakat di Provinsi DKI Jakarta dengan meliputi; mengetahui dampak yang terjadi setelah adanya pandemik Covid-19 terhadap pendapatan; dampak pada pekerjaan, upaya bertahan hidup, dan pola usaha. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan pendekatan survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan PSBB berdampak pada pola pekerjaan, penghasilan masyarakat, permasalahan aktifitas harian dan harmonisasi rumahtangga. Berdasarkan pola pekerjaan berpengaruh dengan adanya pola bekerja di rumah atau work from home (WFH) sebesar 54%, menjadi korban pemutusan hubungan kerja sebesar 18%; penerapan PSBB juga berdampak pada penurunan penghasilan sebesar 76,23% dan hanya 0,49% mengalami peningkatan penghasilan; selain itu juga pada permasalahan aktifitas harian yang paling terdampak adalah sulitnya akses transportasi umum sebesar 35,09% dan dampak pada harmonisasi rumahtangga dengan munculnya persoalan tidak memiliki waktu berkualitas sebesar 57,40%, terjadi cekcok rumah tangga sebesar 10,12% dan terjadi miss-komunikasi sebesar 35,46%.
Analisis Geopark Ciletuh – Palabuhanratu sebagai Daya Tarik Wisata Berbasis Edukasi Ibrahim, Muhammad Maulana; Adiputra, Agung
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.28037

Abstract

Geopark di Indonesia saat ini telah menunjukkan perkembangan yang pesat, hal ini terjadi dikarenakan pengembangan Geopark dilakukan melalui intergrasi konsep perlindungan, pendidikan dan pembangunan ekonomi lokal secara holistik. Potensi pariwisata di Kabupaten Sukabumi, khususnya daerah bagian selatan, memberikan macam - macam keragaman wisata dan edukasi, salah satunya adalah wisata UNESCO Global Geopark Ciletuh – Palabuhanratu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya yang dilakukan oleh stakeholder di geopark ciletuh-palabuhanratu dalam mengembangkan kawasaan objek wisata berbasis edukasi, dan menganalisis suatu fenomena yang terjadi dan mencoba memahami perilaku manusia dari sudut pandang partisipan yang berkaitan dengan pengembangan wisata berbasis edukasi. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan studi fenomenologi. Pengumpulan data yang dilakukan yaitu melalui observasi, wawancara, literatur studi, dan studi dokumentasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pariwisata yang dilakukkan di Geopark Ciletuh - Palabuhanratu kini telah menjadi andalan bagi Kabupaten Sukabumi. Kebutuhan terhadap wisatawan dan masyarakat lokal menjadi alasan utama stakeholder - stakeholder atau elemen pariwisata untuk terus mengembangkan kawasan ini menjadi lebih baik. Hal ini dikarenakan penerapan konsep eduwisata dalam pengembangan pariwisata berbasis edukasi menunjukkan adanya peningkatan yang baik, dan dapat memberikan manfaat secara langsung maupun tidak langsung terhadap wisatawan dan masyarakat lokal, serta dapat merubah pandangan masyarakat lokal, dan wisatawan terhadap upaya pelestarian alam serta untuk mendapatkan pengalaman berwisata yang berkesan dan bermanfaat.   Geoparks in Indonesia are currently showing rapid development, this is because Geopark development is carried out through the integration of the concepts of protection, education and local economic development in a holistic manner. The tourism potential in Sukabumi Regency, especially the southern region, provides a wide variety of tourism and education, one of which is the UNESCO Global Geopark Ciletuh - Palabuhanratu. The purpose of this research is to find out the efforts made by stakeholders in the ciletuh-palabuhanratu geopark in developing education-based tourism objects, analyze a phenomenon that occurs and try to understand human behavior from the perspective of participants related to the development of education-based tourism. The research conducted by researchers is qualitative research using phenomenological studies. Data collection was done through observation, interviews, literature studies, and documentation studies. The sampling technique in this study used the snowball sampling technique. The results showed that tourism activities carried out in the Ciletuh - Palabuhanratu Geopark have now become a mainstay for Sukabumi Regency. The need for tourists and local communities is the main reason for stakeholders or tourism elements to continue to develop this area for the better. This is because the application of the concept of edu-tourism in education-based tourism development shows a good increase, can provide direct and indirect benefits to tourists and local communities, and can change the views of local communities, and tourists towards nature conservation efforts and get a memorable and useful travel experience.
Pengembangan Pariwisata Berbasis Kerakyatan di Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal Jawa Tengah Nadhirah, Faizzati; Adiputra, Agung
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.30583

Abstract

Pengembangan pariwisata kerakyatan mengutamakan partisipasi aktif masyarakat setempat dalam seluruh tahapan pengembangan pariwisata, mulai dari perencanaan hingga implementasi program pariwisata. Hal ini akan memastikan bahwa pembangunan pariwisata berlangsung secara berkelanjutan dan memperkuat ekonomi lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana pariwisata kerakyatan dapat dikembangkan di kawasan Bumijawa. Penelitian yang dilakukan peneliti merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis SWOT. Pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan teknik Multistage Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan pengembangan pariwisata Kecamatan Bumijawa dilakukan menggunakan analisis SWOT yang termasuk dalam Kuadran I, menjelaskan bahwa Kabupaten Bumijawa masih dalam posisi yang baik karena mempunyai kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk  peluang yang menguntungkan. Analisis strategi yang digunakan pada Kuadran I adalah strategi agresif, yaitu dengan cara pengelolaan wisata yang dilakukan oleh masyarakat meningkatkan daya tarik wisata dan berdampak pada perekonomian lokal.   Popular tourism is an idea that supports the local community's economy with the culture and local wisdom of the local area. This idea will impact the selling value of the tourist destination by becoming a tourist attraction wrapped in local culture. Community tourism development prioritizes the active participation of local communities in all stages of tourism development, from planning to implementing tourism programs. This will ensure that tourism development takes place in a sustainable manner and strengthens the local economy. The aim of this research is to explain how popular tourism can be developed in the Bumijawa region. The research conducted by the researcher was a qualitative descriptive study using a SWOT analysis approach. The sampling technique for this research uses the Multistage Random Sampling technique. The research results show that one of the strengths of tourism is its high dependence on natural resources and local culture. The variety of tourist attractions in Bumijawa Regency is the reason why tourists are interested in visiting Bumijawa Regency because their interest is not only in the beauty of its natural resources, but also the rich culture offered by the local community. The reason tourists are interested in visiting is because of the friendliness of the community in receiving visitors, making it easier for visitors to carry out tourist activities.