Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Penggunaan Video Tutorial Penyelesaian Garis Leher: Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar Dasar-Dasar Busana Siswa SMK Meilina, Eighteen; Puspaneli, Puspaneli; Novrita, Sri Zulfia; Mahniza, Melda
Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran Vol. 5 No. 3 (2025): September-December 2025
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/jrip.v5i3.3864

Abstract

Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Dasar-Dasar Busana, khususnya materi penyelesaian garis leher, menjadi permasalahan yang dihadapi di SMKN 8 Padang. Lebih dari 60% siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) karena metode pembelajaran yang masih konvensional menggunakan powerpoint dan fragmen, sehingga siswa kesulitan memahami detail langkah pengerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan video tutorial sebagai media pembelajaran yang dinilai mampu memberikan pengalaman belajar lebih interaktif, fleksibel, dan dapat diulang sesuai kebutuhan siswa. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode Quasi Experiment menggunakan desain Posttest-Only Design with Nonequivalent Groups. Subjek penelitian adalah 48 siswa kelas X Busana SMKN 8 Padang tahun ajaran 2025/2026 yang terbagi menjadi 24 siswa kelas eksperimen dan 24 siswa kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa tes keterampilan, sedangkan analisis data dilakukan melalui uji deskriptif, uji normalitas, homogenitas, uji-t, dan perhitungan effect size.Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata post-test kelas eksperimen 79,13 dengan ketuntasan 58%, sedangkan kelas kontrol 65,58 dengan ketuntasan 25%. Uji-t menghasilkan Sig. (2-tailed) < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh signifikan penggunaan video tutorial terhadap hasil belajar siswa. Nilai effect size sebesar 1,1 termasuk kategori tinggi. Dengan demikian, video tutorial efektif digunakan sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan siswa pada materi busana.
Assessing the Multifaceted Determinants of Collaborative Competence Among Students in the Digital Learning: A Comprehensive Analysis Saputra, Indra; Sari, Resti Elma; Mahniza, Melda; Hayatunnufus, Hayatunnufus; Rahmiati, Rahmiati; Yanita, Merita; Yupelmi, Mimi
JOIV : International Journal on Informatics Visualization Vol 8, No 4 (2024)
Publisher : Society of Visual Informatics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62527/joiv.8.4.2202

Abstract

The study background related to the students' collaborative competence in digital learning is still relatively low. The objective of this study is to examine the elements influencing collaborative competence. The study involved 107 cosmetology and beauty education students. The method used was a survey with data collection using questionnaires developed based on predetermined variable indicators. The analysis of data employed Structural Equation Model-Partial Least Square (SEM-PLS) with Smart PLS 4.0 software. The SEM results describe the Convergent Validity (Loading Factor and Average Variance Extracted) and Discriminant Validity (Fornell Larcker Criterion and Cross Loading), which states that the measurement model is valid. Furthermore, the Composite reliability and Cronbach's Alpha conclude that the measurement model is reliable. The analysis results indicate a positive and significant correlation of predictor variables, including project-based learning, social media, instructional approach, and material relevance to collaborative competence. Based on the variable analysis, material relevance becomes the highest aspect, followed by project-based learning, which increases the collaborative competence of students. Conversely, social media as a mediator variable weakens the level of correlation of the predictor variables to collaborative competence. This study contributes to understanding factors affecting students' collaborative competence in digital learning environments, with significant implications for educators, institutions, and policymakers in shaping digital learning frameworks enhancing collaborative competence. Future research, including longitudinal studies, could investigate the lasting impact of digital learning environments on developing collaborative competence over time.
Edukasi ketahanan mental generasi muda: program pengabdian untuk pencegahan bunuh diri Saputra, Indra; Rahmiati, Rahmiati; Hayatunnufus, Hayatunnufus; Silvia, Febri; Oktarina, Rahmi; Putri, Elviza Yeni; Mahniza, Melda
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.23593

Abstract

AbstrakLatarbelakang kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatnya fenomena bunuh diri di kalangan generasi muda menjadi isu global dan juga menjadi isu yang terus meningkat di Indonesia. Fenomena ini disebabkan oleh masalah kesehatan mental remaja yang disebabkan tekanan akademis, masalah keluarga, kesulitan hubungan sosial, serta pengaruh negatif media sosial. Masalah selanjutnya juga terkait dengan kurangnya dukungan psikososial dan ketidakmampuan mengelola stres bagi remaja. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi terkait kesehatan mental remaja untuk mencegah terjadinya bunuh diri. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah ceramah, diskusi dan praktik. Peserta kegiatan berjumlah 20 orang dengan latar belakang profil dan daerah asal yang beragam. Kegiatan mencakup persiapan, pelaksanaan dan evaluasi yang mencakup antara lain penyampaian materi edukasi, diskusi dan tanya jawab, pendampingan dalam penyusunan rencana strategis pencegahan bunuh diri dan evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan mendeskripsikan bahwa seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan baik dan dapat memahami substansi kegiatan dengan baik. Hasil berikutnya adalah peserta dapat menyusun rencana strategis pencegahan bunuh diri yang dapat diimplementasikan dalam konteks individu maupun masyarakat. Rencana strategis pencegahan tersebut antara lain program pelatihan ketahanan mental di sekolah, sistem pendukung peer counselor (konselor sebaya), kampanye kesadaran kesehatan mental, workshop orang tua dan guru, layanan konseling terintegrasi, program edukasi dan latihan mindfulness, pusat informasi dan dukungan kesehatan mental, program ekstrakurikuler yang menunjang kesehatan mental. Secara keseluruhan, tujuan kegiatan edukasi ini dapat dicapai dengan maksimal. Terakhir, saran yang dapat diberikan adalah agar program pendampingan yang sejalan dapat diberikan secara berkala dan berkelanjutan. Kata kunci: edukasi; ketahanan mental; generasi muda; bunuh diri. Abstract The background of this community service activity is the increasing phenomenon of suicide among young people, which has become a global issue and is also rising in Indonesia. This phenomenon is caused by mental health problems among teenagers due to academic pressure, family issues, social relationship difficulties, and the negative influence of social media. Additionally, there is a lack of psychosocial support and an inability to manage stress among teenagers. This community service activity aims to provide education related to teenage mental health to prevent suicide. The methods used in this activity include delivering educational materials, discussions and Q&A sessions, assistance in formulating strategic suicide prevention plans, and activity evaluation. The results of the activity indicate that all participants could follow the activity well and understand its substance. Furthermore, the participants were able to develop strategic suicide prevention plans that can be implemented on both individual and community levels. These strategic prevention plans include mental resilience training programs in schools, peer counselor support systems, mental health awareness campaigns, workshops for parents and teachers, integrated counseling services, education and mindfulness training programs, mental health information and support centers, and extracurricular programs that support mental health. Overall, the educational objectives of this activity were successfully achieved. Finally, it is recommended that similar supportive programs be provided regularly and continuously. Keywords: education; mental resilience; young generation; suicide.
Persepsi Mahasiswa PKK UNP tentang Perubahan Busana Pengantin Tradisional Pesisir Padang Masa Kini Susanti, Susanti; Yuliarma, Yuliarma; Nelmira, Weni; Mahniza, Melda
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 4 (2025): Oktober, Social Issues and Problems in Society
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i4.50308

Abstract

Busana pengantin tradisional Minangkabau adalah salah satu hasil budaya yang mengandung banyak makna yang membentuk identitas dan nilai masyarakat. Namun, perubahan signifikan telah terjadi pada tata busana, desain, dan cara pemakaian busana pengantin tradisional Pesisir Padang, terutama di kalangan generasi muda. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menggambarkan persepsi mahasiswa PKK UNP mengenai perubahan busana pengantin tradisional, ditinjau berdasarkan tata busana, desain, dan cara pemakaian. Sebanyak 52 mahasiswa berpartisipasi sebagai responden dalam studi yang menerapkan metode kuantitatif deskriptif ini. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner berbasis skala Likert yang disusun berdasarkan aspek kognitif, afektif, konatif dan diolah menggunakan statistik deskriptif. Data yang terkumpul memperlihatkan bahwa persepsi mahasiswa secara umum berada pada kategori sedang. Pada aspek tata busana, persentase kategori sedang mencapai 84,6% (kognitif), 76,9% (afektif), dan 73,1% (konatif). Persepsi terhadap desain busana juga tergolong sedang (69,2%, 75,0%, dan 73,1%), begitu pula pada cara pemakaian (69,2%, 73,1%, dan 75,0%). Aspek kognitif menunjukkan pemahaman mahasiswa terhadap bentuk perubahan yang tetap mencerminkan nilai budaya. Aspek afektif mencerminkan ketertarikan terhadap inovasi yang sesuai perkembangan zaman, sedangkan aspek konatif menunjukkan dukungan terhadap perubahan selama nilai adat Minangkabau tetap dijaga. Dengan demikian, modernisasi busana pengantin dapat diterima sepanjang tetap menjaga keseimbangan antara nilai estetika dan filosofi budaya Minangkabau.