Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Hubungan Asupan Zat Besi, Usia Kehamilan dan Dukungan Keluarga dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Siti Khalisah; Anwar, Rosihan; Mahpolah
Jurnal Riset Pangan dan Gizi Vol. 6 No. 2 (2024): JURNAL RISET PANGAN DAN GIZI (JR-PANZI)
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jr-panzi.v6i2.232

Abstract

Berdasakan data Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru tahun 2023 kasus anemia pada ibu hamil sebesar 22,06%, prevalensi kejadian anemia pada ibu hamil tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Landasan Ulin sebanyak 34,1%. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan zat besi, usia kehamilan dan dukungan keluarga dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Landasan Ulin Kota Banjarbaru. Jenis penelitian observasional analitik, dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Landasan Ulin. Sampel berjumlah 45 orang dengan menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian ini diketahui bahwa asupan zat besi kategori kurang sebanyak 84,4%, usia kehamilan paling abnyak pada trimester III sebanyak 37,8%, dukungan keluarga kategori mendukung sebanyak 55,6% dan kejadian anemia kategori tidak anemia sebanyak 51,1%. Tidak ada hubungan yang signifikan antara asupan zat besi dengan kejadian anemia (p=0,306). Ada hubungan yang signifikan antara usia kehamilan dengan kejadian anemia (p=0,004). Ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kejadian anemia (p=0,001). Diharapkan bagi ibu hamil lebih rqjin berolahraga bersama keluarga serta keluarga juga menemani dan mengingatkan dalam berolahraga serta memperhatikan jadwal pemeriksaan kesehatan ibu. Olahraga untuk ibu hamil seperti berjalan, berenang, aerobic rendah, yoga dan pilates.
The Relationship of Attitudes Towards Food, History of Infectional Diseases, and Family Socio-Economic and Nutritional Status of High School Adolescents Nor Aida; Mahpolah; Magdalena
Jurnal Riset Pangan dan Gizi Vol. 7 No. 1 (2025): JURNAL RISET PANGAN DAN GIZI (JR-PANZI)
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jr-panzi.v7i1.230

Abstract

Riskesdas South Kalimantan in 2018 reported that in Banjar Regency the prevalence of nutritional status based on BMI/U in adolescents aged 16-18 years had a prevalence of nutritional status that was approximately 15.3% compared to the provincial prevalence of 12.3%. The prevalence of overnutrition also has a higher figure of 14.3% compared to the provincial prevalence of 12.1%. This study aims to determine the relationship between attitudes towards food, history of infectious diseases, and family socioeconomic status with the nutritional status of high school adolescents. This type of research is analytical observational with a cross-sectional design. The population is all students in class X and Research data was taken using a questionnaire. Data analysis used the Spearman Rank correlation test α=0.05. The results of this study showed a positive attitude towards food (52.2%), a history of infectious disease (73.9%), family socioeconomic status ≥ average (55.4%), and good nutritional status (63%). Adolescents are advised to explore more information about nutrition, so that nutritional status can be properly observed, because this study shows that there is no significant relationship between attitudes towards food and nutritional status, there is a significant relationship between a history of infectious diseases and family socio-economic status with the nutritional status of adolescents.
The Relationship Between Consumption Patterns and Nutritional Knowledge with The Achievement of IPSI Banjarbaru Martial Arts Athletes Husna, Amilia; Magdalena; Mahpolah
Jurnal Riset Pangan dan Gizi Vol. 7 No. 2 (2025): JURNAL RISET PANGAN DAN GIZI (JR-PANZI)
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jr-panzi.v7i2.218

Abstract

The Indonesian Pencak Silat Association (IPSI) Banjarbaru experienced a decline in performance at the 10th PORPROV in 2017. The pencak silat sport was ranked 17th out of 33 sports in Banjarbaru. Four years later, during the Covid-19 pandemic, the pencak silat sport was ranked 23rd out of 33 sports in Banjarbaru. The purpose of this study was to determine the relationship between consumption patterns and nutritional knowledge with the achievements of athletes who are members of IPSI Banjarbaru. This research method used an analytical observational through a cross-sectional design. The population was 15 IPSI Banjarbaru silat athletes are members of the IPSI Prestasi Banjarbaru team with total sampling data collection. The independent variables were consumption patterns and nutritional knowledge obtained by questionnaires and using the FFQ form. Data analysis used the Spearman Rank Correlation test with a 95% confidence level and α = 0.05. The results of the study found that 80% had poor performance and 20% had good performance. A total of 53.4% ​​of respondents had an insufficient consumption pattern, 33.3% of respondents had an adequate consumption pattern, and 13.3% of respondents had a good consumption pattern. A total of 73.4% of respondents had sufficient knowledge, 13.3% of respondents had good knowledge, and 13.3% of respondents had insufficient knowledge. There is a relationship between consumption patterns and nutritional knowledge with the achievements of IPSI Banjarbaru martial arts athletes. It is hoped that respondents will increase their knowledge of good nutrition and choose the right food to support their achievements.
Pengaruh Edukasi Gizi Seimbang dengan Media Video Motion terhadap Tingkat Pengetahuan, Perilaku Gizi Seimbang dan Kebiasaan Konsumsi Junk Food pada Remaja Rina Shopia; Mahpolah; Mas’odah, Siti
Jurnal Riset Pangan dan Gizi Vol. 6 No. 1 (2024): JURNAL RISET PANGAN DAN GIZI (JR-PANZI)
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jr-panzi.v6i1.169

Abstract

Pendidikan gizi yang tidak efektif berdampak pada pengetahuan remaja yang kurang tentang gizi seimbang, sehingga menyebabkan perilaku yang negatif. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode edukasi gizi untuk meningkatkan pengetahuan, perilaku  dan kebiasaan konsumsi junk food. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi dengan media video motion terhadap tingkat pengetahuan, perilaku gizi seimbang dan kebiasaan konsumsi  junk food pada remaja. Jenis penelitian ini adalah quasi experimental dengan rancangan pre-test dan post-test. Populasi dalam penelitian ini seluruh remaja di Posyandu Remaja yang berusia 12-19 tahun. Penentuan sampel dengan teknik purposive sampling sebanyak 94 orang. Analisis data uji yang digunakan adalah Uji Wilcoxon dan Uji Mann Whitney. Berdasarkan kategori sebelum edukasi tingkat pengetahuan 42% kelompok eksperimen, 51% kontrol, perilaku gizi seimbang kelompok eksperimen 66%, 57% kontrol, kebiasaan konsumsi junk food kelompok eksperimen 34%, kontrol, 46%. Sedangkan sesudah edukasi tingkat pengetahuan 100% kelompok eksperimen maupun kontrol, perilaku gizi seimbang 93% kelompok eksperimen, 89% kontrol, kebiasaan konsumsi junk food 53% kelompok eksperimen, 48% kontrol. Berdasarkan Uji Wilcoxon pada kelompok eksperimen ada pengaruh bermakna tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi (p: 0,000), perilaku gizi seimbang (p: 0,000), kebiasaan konsumsi junk food (p: 0,000). Pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah edukasi tingkat pengetahuan (p: 0,000), perilaku gizi seimbang (p: 0,000), sedangkan tidak ada pengaruh bermakna kebiasaan konsumsi junk food (0,375). Berdasarkan penelitian sesudah edukasi ada perbedaan antara kelompok eksperimen dan kontrol terhadap tingkat pengetahuan, perilaku gizi seimbang, tetapi tidak ada perbedaan terhadap kebiasaan konsumsi. Responden lebih mempelajari tentang gizi seimbang dan kepada peneliti selanjutnya lebih mencari tahu batasan materi pada kelompok kontrol.
PEMBERDAYAAN LANSIA MELALUI GIZI BERBASIS PANGAN LOKAL UNTUK MENCEGAH RISIKO ALZHEIMER DI DESA MELAYU TENGAH: Vol. 2 No.1 (2025) : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT MERDEKA MEMBANGUN NEGERI (ABDIMERKA) Mahpolah; Meilla Dwi Andrestian; Mahdalena; Zulfiana Dewi; Rusmini Yanti; Niken Pratiwi; Rutmauli Hutagaul; Laila Sholehah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Merdeka Membangun Negeri Vol. 2 No. 1 (2025): Desember
Publisher : STIKES BANYUWANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/abdimerka.v2i1.713

Abstract

Peningkatan angka harapan hidup di Indonesia berdampak pada bertambahnya jumlah lansia yang berisiko mengalami penyakit degeneratif seperti alzheimer. Kondisi ini menuntut adanya upaya pencegahan berbasis komunitas, terutama di wilayah pedesaan dengan keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema Pemberdayaan Lansia Melalui Gizi Berbasis Pangan Lokal Untuk Mencegah Risiko Alzheimer dilaksanakan di Desa Melayu Tengah, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Program ini bertujuan meningkatkan literasi gizi, keterampilan pengolahan pangan lokal, dan kapasitas kader dalam mendukung pencegahan Alzheimer. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Agustushingga September 2025 dengan melibatkan 30 lansia, 30 keluarga pendamping, dan 10 kader posyandu serta posbindu. Metode yang digunakan meliputi edukasi interaktif, pelatihan kader, dan demonstrasi pengolahan pangan fungsional berbasis bahan lokal dengan desain pra– eksperimen one group pretest-posttest. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta dari rata-rata 55,0 menjadi 83,3 setelah intervensi. Kegiatan juga meningkatkan keterampilan kader dalam edukasi gizi serta pemanfaatan bahan pangan lokal seperti kelor, talas, dan singkong sebagai sumber antioksidan alami. Kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, pemerintah desa, PKK, dan puskesmas menjadi faktor keberhasilan utama program. Dengan pendekatan partisipatif dan pemanfaatan sumber daya lokal, kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan Alzheimer dan dapat dijadikan model intervensi berkelanjutan di wilayah pedesaan.
Hubungan MPASI dan Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Balita Wasting Usia 6-23 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura Timur Rahmah, Amelia; Aprianti; Mahpolah; Syainah, Ermina
Sains Medisina Vol 4 No 3 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i3.938

Abstract

Wasting merupakan salah satu bentuk malnutrisi akut pada balita yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama pada usia 6–23 bulan. Praktik pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tidak sesuai serta ketidaklengkapan imunisasi dasar diduga berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya wasting pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan praktik pemberian MP-ASI dan kelengkapan imunisasi dasar dengan kejadian wasting pada balita usia 6–23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Martapura Timur. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh balita usia 6–23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Martapura Timur. Sampel sebanyak 78 balita terdiri dari 39 balita wasting (kasus) dan 39 balita dengan status gizi normal (kontrol) yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara menggunakan kuesioner terkait praktik MP-ASI, serta penelusuran buku KIA dan rekam medis untuk status imunisasi dasar. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita wasting menerima MP-ASI yang tidak sesuai (79,5%) dan memiliki status imunisasi dasar tidak lengkap (71,8%). Terdapat hubungan yang signifikan antara praktik pemberian MP-ASI dan kejadian wasting (p = 0,001; OR = 2,1), serta antara kelengkapan imunisasi dasar dan kejadian wasting (p = 0,001; OR = 1,9). Praktik pemberian MP-ASI yang tidak sesuai dan ketidaklengkapan imunisasi dasar berhubungan signifikan dengan kejadian wasting pada balita usia 6–23 bulan.
The role of diet compliance, vitamin C intake, physical activity and nutrition education on blood sugar levels of diabetes mellitus patients type 2 during the covid-19 pandemic Abdurrachim, Rijanti; Manalu, Asdiniyati; Mahpolah; Syainah, Ermina; Ramie, Agustine
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 14 ISSUE 1, 2026
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2026.14(1).29-37

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah, mempengaruhi kualitas sumber daya manusia, dan meningkatkan biaya perawatan kesehatan. DMT2 juga merupakan komorbiditas COVID-19 . Tujuan: untuk menguji hubungan antara kepatuhan diet, asupan vitamin C, aktivitas fisik, dan edukasi gizi dengan kontrol glukosa darah pada pasien DMT2. Metode: Studi observasional analitik dengan desain potong lintang dari bulan Maret hingga April 2021 di Rumah Sakit Idaman Banjarbaru. Sebanyak 40 pasien dipilih dari 90 populasi yang memenuhi syarat. Pengambilan sampel secara non-probabilitas. Data primer dikumpulkan melalui wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari rekam medis. Gula darah puasa dikategorikan sebagai terkontrol (<125 mg/dl) atau tidak terkontrol (≥126 mg/dl). Data dianalisis menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 46–55 tahun (40%), perempuan (80%), dan ibu rumah tangga (52,5%). Mayoritas tidak mematuhi rekomendasi diet (60%), memiliki asupan vitamin C yang rendah (47,5%), melakukan aktivitas fisik ringan (37,5%), dan telah menerima edukasi gizi (55%). Gula darah yang tidak terkontrol diamati pada 67,5% peserta. Asosiasi signifikan ditemukan antara kepatuhan diet (p=0,000), asupan vitamin C (p=0,001), aktivitas fisik (p=0,002), dan edukasi gizi (p=0,001) dengan kadar glukosa darah. Rasio odds menunjukkan bahwa pendidikan gizi dan aktivitas fisik memiliki pengaruh terkuat. Kesimpulan: Kepatuhan diet, asupan vitamin C, aktivitas fisik, dan edukasi gizi berkorelasi signifikan dengan kontrol glukosa darah pada pasien DMT2.   ABSTRACT Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a metabolic disorder marked by elevated blood glucose levels, affecting human resource quality and increasing healthcare costs. T2DM is also a known comorbidity of COVID-19. Objective: This study aimed to examine the relationship between dietary compliance, vitamin C intake, physical activity, and nutrition education with blood glucose control among T2DM patients. Methods: An analytic observational study with a cross-sectional design was conducted from March to April 2021 at Idaman Hospital, Banjarbaru. A total of 40 patients were selected from 90 eligible participants using non-probability sampling. Primary data were collected through interviews, while secondary data were obtained from medical records. Fasting blood glucose was categorized as controlled (<125 mg/dl) or uncontrolled (≥126 mg/dl). Data were analyzed using chi-square tests with a 95% confidence level. Results: showed that most respondents were aged 46–55 years (40%), female (80%), and housewives (52.5%). The majority did not adhere to dietary recommendations (60%), had low vitamin C intake (47.5%), engaged in light physical activity (37.5%), and had received nutrition education (55%). Uncontrolled blood glucose was observed in 67.5% of participants. Significant associations were found between dietary compliance (p=0.000), vitamin C intake (p=0.001), physical activity (p=0.002), and nutrition education (p=0.001) with blood glucose levels. Odds ratios indicated that nutrition education and physical activity had the strongest influence. Conclusion: Dietary compliance, vitamin C intake, physical activity, and nutrition education significantly correlate with blood glucose control in T2DM patients.