Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Peran Media Sosial Facebook dalam Mempromosikan Makanan Lokal Jagung Titi di Desa Laranwutun Kabupaten Lembata Ronaldo T. G. Panggo; Mikhael Rajamuda Bataona; Urbanus Ola
Filosofi : Publikasi Ilmu Komunikasi, Desain, Seni Budaya Vol. 2 No. 3 (2025): Agustus : Filosofi : Publikasi Ilmu Komunikasi, Desain, Seni Budaya
Publisher : Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/filosofi.v2i3.876

Abstract

Information technology plays a crucial role in supporting the growth of the digital economy, including in the micro and traditional business sectors. One example is the use of digital technology to increase sales of titi corn in Laranwutun Village, Lembata Regency. Titi corn is a traditional food from East Nusa Tenggara, particularly in the eastern Flores region of Solor, Adonara, and Lembata. However, this specialty food is not yet widely known due to minimal promotion and marketing, particularly on social media. This has resulted in limited market share and low incomes for local communities. This study used qualitative methods through direct interviews with titi corn entrepreneurs. The research process was divided into three stages: planning, preparation, and implementation. The theory used refers to the concept of digital marketing, specifically the use of Facebook as a promotional tool. This study examines the extent to which Facebook can increase marketing reach, expand the market, and facilitate the promotion of titi corn. The results show that Facebook plays a significant role in promoting and increasing titi corn sales. This social media platform facilitates the delivery of product information, reaches a wider consumer base, and builds brand awareness. Furthermore, Facebook enables direct interaction between producers and consumers, thereby increasing customer trust and loyalty to local products. This digital promotion strategy also opens up opportunities for collaboration with traditional culinary communities and local MSMEs, which can strengthen marketing networks. These findings emphasize the importance of preserving local food through an integrated digital approach. By optimizing social media, titi corn will not only gain wider recognition but also have the potential to become a superior regional product that supports sustainable and inclusive community economic empowerment.
Mengembangkan Literasi Melalui Pojok Baca Lentera Kata untuk Meningkatkan Minat Baca Anak-Anak di Desa Belobatang Claudiana N.B Djawa; Mikhael Rajamuda Bataoana; Urbanus Ola Hurek
JURPIKAT (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol. 6 No. 3 (2025)
Publisher : Politeknik Piksi Ganesha Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37339/jurpikat.v6i3.2544

Abstract

Minat baca anak-anak di pedesaan cenderung rendah akibat terbatasnya akses bahan bacaan dan minimnya fasilitas literasi. Program Pojok Baca Lentera Kata di Desa Belobatang hadir untuk meningkatkan minat baca anak-anak usia sekolah dasar melalui kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Kamis selama empat minggu. Bertempat di depan kantor desa, program ini menggunakan pendekatan partisipatif melalui observasi, pendampingan langsung, dan dokumentasi. Koleksi buku yang disediakan mencakup buku cerita, bergambar, dan pengetahuan umum. Kegiatan membaca dilakukan secara mandiri, membaca nyaring, diskusi ringan, dan latihan menceritakan kembali isi buku. Hasil menunjukkan peningkatan jumlah peserta dan antusiasme anak-anak dari minggu ke minggu. Program ini terbukti efektif menumbuhkan minat baca dan membangun kebiasaan literasi sejak dini, meskipun dilaksanakan dengan fasilitas terbatas. Keberhasilan program ini didukung oleh pendampingan yang konsisten serta partisipasi aktif masyarakat sekitar.
Gendered Vulnerabilities and Policy Gaps: Analyzing Alienation Among Indonesian Migrant Women Workers in Malaysia Kosat, Emanuel; Boro, Veronika Ina Assan; Hurek, Urbanus Ola; Li, Dominggus Elcid; Fauth, Peter
Journal Public Policy Vol 10, No 4 (2024): October
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jpp.v10i4.10398

Abstract

Research on women migrant workers in East Nusa Tenggara intends to explore the dimensions of women's vulnerability that are often placed as disciplinary objects in the context and policies of labor migration. This research is described in the discourse of public policy confrontation with the moment of exploitation of women migrant workers in East Nusa Tenggara in the labor market between Indonesia and Malaysia. Indonesian women migrant workers experience vulnerability from recruitment in the upstream line to the placement location in neighboring Malaysia. Using the analytical tool from the perspective of alienation shows that every public policy scheme is not yet inclusive of the civic dimension. This research is based on the post-positivism paradigm using inductive logical reasoning, which implies the specification of the use of critical methods. The results show that pro-market policy choices marginalize the civic participation of women Indonesian migrant workers in East Nusa Tenggara, while alienating women and their work, women with their employers, and women with their civic identity per se. In summary, the significant number of women workers who are targeted by violence is a sign of moments of objectification, discrimination, and exploitation with gender, class, and even nationality-based identities.
Pelatihan Kepemimpinan Tingkat Dasar untuk Pengurus Osis di Sekolah SMAN 1 Mauponggo, Kabupaten Nagekeo Medho, Yohana Fransiska; Tokan, Frans Bapa; Boro, Veronika I.A.; Hurek, Urbanus Ola; Lamawuran, Yosef Dion; Ethelbert, Yohanes Kornelius
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 11 (2023): Volume 6 No 11 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i11.12428

Abstract

ABSTRAK Pelatihan kepemimpinan tingkat dasar untuk pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di SMAN 1 Mauponggo bertujuan untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan pada siswa yang bertanggung jawab dalam memimpin organisasi di sekolah mereka. Hal ini untuk membantu mereka mempelajari konsep, praktik yang efektif dalam konteks kepemimpinan OSIS. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah dengan analisis situasi, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Selama pelatihan, peserta terlibat dalam berbagai aktivitas dan latihan yang melibatkan pemahaman konsep kepemimpinan, komunikasi efektif, dan strategi organisasi. Mereka belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik dengan rekan-rekan mereka, mengorganisir kegiatan di sekolah, memotivasi siswa lain untuk berpartisipasi, dan mengambil keputusan yang tepat dan pentingnya etika kepemimpinan, seperti integritas, tanggung jawab, dan sikap positif. sehingga mereka dapat menjadi contoh yang baik bagi siswa lainnya dan membangun citra positif OSIS di sekolah. Di akhir pelatihan, peserta akan diberikan kesempatan untuk menerapkan keterampilan kepemimpinan baru mereka melalui program kerja OSIS. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pengalaman praktis kepada mereka dalam mengelola program kerja , berkolaborasi dengan anggota tim, dan menghadapi tantangan yang mungkin muncul. Tujuannya adalah untuk memperkuat keterampilan kepemimpinan mereka serta memberikan kontribusi yang nyata bagi pengembangan sekolah. Pengabdian ini diharapkan dapat memberikan landasan yang kuat bagi mereka untuk menjadi pemimpin yang efektif dan dapat memberikan dampak positif dalam memajukan sekolah dan komunitas mereka. Kata Kunci: Kepemimpinan, Latihan Tingkat Dasar  ABSTRACT Basic level leadership training for Intra-School Student Organization (OSIS) administrators at SMAN 1 Mauponggo aims to develop leadership skills in students who are responsible for leading organizations in their schools. This is to help them learn concepts, effective practices in the context of student council leadership. The method used in this training is situation analysis, preparation, implementation and evaluation .During the training, participants are involved in various activities and exercises that involve understanding the concepts of leadership, effective communication, and organizational strategy. They learn how to communicate well with their peers, organize activities at school, motivate other students to participate, and make sound decisions and the importance of ethical leadership, such as integrity, responsibility, and a positive  attitude. so that they can set a good example for other students and build a positive image of the student council at school. At the end of the training, participants will be given the opportunity to apply their new leadership skills through the student council work program. This service aims to provide them with practical experience in managing work programs, collaborating with team members, and dealing with challenges that may arise. The aim is to strengthen their leadership skills as well as make a real contribution to school development. This dedication is expected to provide a strong foundation for them to become effective leaders and to have a positive impact in advancing their schools and communities. Keywords: Leadership, Basic Level Training
Upaya Melestarikan Budaya Lokal Lamaholot Tenun Ikat Bagi Kaum Muda Di Desa Pledo Kecamatan Witihama Adonara Timur Kabupaten Flores Timur NTT Martha Veronika Diaz; Urbanus Ola; Eusabius Separera Niron
BANTENESE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 7 No. 2 (2025): Bantenese: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Pusat Studi Sosial dan Pengabdian Masyarakat Fisipkum Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/ps2pm.v7i2.11649

Abstract

Kebudayaan lokal merupakan salah satu komponen yang memberikan identitas dari masyarakat sebagai komunitas yang spesial. Budaya lokal setiap pulau memiliki ciri khasnya. Kebudayaan lokal terdiri dari tradisi lisan, adat istiadat, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, dan ritus. Salah satu dari kebudayaan lokal ialah tenun ikat. Lamaholot adalah salah satu suku bangsa (etnis) dengan budaya khas yang melingkupi wilayah Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Suku Lamaholot mendiami wilayah meliputi Pulai Flores bagian Timur, Pulau Adonara, Pulau Solor dalam wilayah Kabupaten Flores Timur dan Pulau Lembata, Kabupaten Lembata. Lamaholot yang mendiami Pulau Adonara juga memiliki beragam budaya tepatnya di Pulau Adonara Timur, Desa Pledo, Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur kebudayaan salah satunya adalah tenun ikat. Pada era globalisasi saat ini dan perkembangan zaman yang serba praktis khususnya untuk anak muda sebagai penerus budaya tenun ikat sudah kurang memahami maupun tidak tahu akan cara tenun-menenun. Karena berbagai faktor yaitu kurangnya minat kaum milenial dalam menenun, kurangnya sosialisasi dari orang tua maupun lembaga-lembaga, seperti sekolah juga karena perubahan teknologi yang semakin canggih yang membuat kaum milenial ini tidak mau dan malas untuk bergabung menenun. Beranjak dari permasalahan tersebut, dilaksanakanlah kegiatan sosialisasi dan pelatihan teknik pembuatan tenun ikat bagi kaum muda di Desa Pledo. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini diawali dengan tahap observasi pada tingkat pemahaman tenun ikat Lamaholot-Nulu Nuda dan wawancara pada anak muda untuk mengetahui tingkat pemahaman mereka tentang tenun ikat Lamaholot. Tahap berikut adalah melakukan sosialisasi bertempat di Kelompok tenun ikat Nulu-Nuda. Tahap terakhir adalah pelatihan pembuatan secara langsung. Dari kegiatan pengabdian ini hasilnya berupa sudah terlaksanya pengetahuan dan melatih keterampilan anak-anak muda Desa Pledo agar mampu mempelajari budaya lokal tenun ikat sehingga terus dilestarikan.
Kebijakan Penutupan Tik Tok Shop Bagi Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kota Kupang Hoar, Selvia Hildegardis; Hurek, Urbanus Ola; I.A. Boro, Veronika
Jurnal Sosial Humaniora Sigli Vol 8, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Universitas Jabal Ghafur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47647/jsh.v8i2.3720

Abstract

Penutupan TikTok Shop sebagai bagian dari implementasi Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 31 Tahun 2023 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) memberikan dampak signifikan bagi pelaku UMKM di Kota Kupang yang sebelumnya bergantung pada platform tersebut dalam pengadaan dan pemasaran produk. Penelitian ini bertujuan mengkaji dampak kebijakan penutupan TikTok Shop terhadap UMKM di Kota Kupang dengan menggunakan teori analisis kebijakan publik dan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan ini menyebabkan penurunan omzet dan jumlah transaksi, kehilangan pelanggan dan akses pasar, meningkatnya biaya promosi, berkurangnya minat beli, serta hilangnya momentum pemasaran melalui fitur live selling. Keterbatasan interaksi juga berdampak pada menurunnya kepercayaan konsumen dan kemampuan adaptasi pelaku usaha. Kesimpulannya, penutupan TikTok Shop berdampak besar terhadap keberlangsungan UMKM di Kota Kupang. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu memberikan pendampingan melalui pelatihan literasi digital, pemasaran daring, serta memfasilitasi akses ke marketplace alternatif dan dukungan promosi produk lokal, sementara pelaku UMKM dituntut untuk meningkatkan kreativitas, kualitas produk, dan kemampuan adaptasi digital..Kata kunci : dampak kebijakan, penutupan TikTok Shop, usaha mikro kecil menengah
PERAN DINAS SOSIAL SEBAGAI KOORDINATOR DALAM MENANGANI BANTUAN BENCANA LETUSAN GUNUNG LEWOTOBI LAKI-LAKI DI KABUPATEN FLORES TIMUR Vinsensius Alfridus Ekho Making; Urbanus Ola Hurek; Eusabius Separera Niron
Journal Education and Government Wiyata Vol 4 No 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Yayasan Panca Bakti Wiyata Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71128/e-gov.v4i1.387

Abstract

Penanganan bencana alam menuntut adanya koordinasi pemerintahan yang efektif agar bantuan dapat disalurkan secara cepat, tepat sasaran, dan akuntabel. Dalam konteks bencana letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Dinas Sosial memiliki peran strategis sebagai koordinator utama dalam pengelolaan dan pendistribusian bantuan kepada masyarakat terdampak. Koordinasi, baik secara vertikal maupun horizontal, menjadi faktor kunci dalam memastikan sinergi antarlevel pemerintahan dan antarinstansi terkait. Secara teoretis, koordinasi vertikal memungkinkan keterpaduan kebijakan, pelaporan, dan pengambilan keputusan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat, sementara koordinasi horizontal memperkuat kerja sama lintas sektor dalam situasi darurat. Penelitian ini membahas peran Dinas Sosial Kabupaten Flores Timur dalam menjalankan fungsi koordinasi tersebut dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa koordinasi vertikal dan horizontal yang berjalan efektif mampu meningkatkan ketertiban distribusi bantuan, mempercepat respons penanganan bencana, serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Temuan ini menegaskan bahwa koordinasi pemerintahan bukan sekadar mekanisme administratif, melainkan elemen strategis yang menentukan keberhasilan penanganan bencana secara berkelanjutan.
KEARIFAN OKOMAMA SEBAGAI SARANA MEDIASI DALAM PENYELESAIAN KONFLIK TANAH ULAYAT (Studi Kasus Penyelesaian Konflik Tanah Ulayat Adat Di Desa Noinbila Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan) Fay , David Mariano; Servatius, Rodriques; Ola, Urbanus
Journal Education and Government Wiyata Vol 4 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Yayasan Panca Bakti Wiyata Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71128/e-gov.v4i2.403

Abstract

Customary land for indigenous communities has diverse economic, political, cultural, and spiritual meanings, so that conflict can disrupt social harmony and community identity. Disputes over customary land in Noinbila often arise due to differing ownership claims between managers and owners, which are usually based only on verbal agreements without official documents. In this case, the community prefers to use customary methods through Okomama rather than resolving disputes through formal law. Okomama serves as a place for customary deliberation, where mediators appointed by customary leaders bring peace symbols such as betel nut, sopi, and money as a sign of willingness to reconcile. This research uses a case study approach with qualitative methods, through interviews, observations, and document collection from customary leaders, the community, and related parties. The results of the study indicate that Okomama is effective as a means of mediation based on tradition in mitigating conflict, strengthening social solidarity, and contributing to the development of social science, customary law, and public policy regarding customary land management. These findings emphasize the significance of preserving local wisdom as a sustainable strategy for conflict resolution amidst the modernization process. Customary land for indigenous communities has diverse economic, political, cultural, and spiritual meanings, so that conflicts can disrupt social harmony and community identity. Disputes over customary land in Noinbila often arise due to differing ownership claims between managers and owners, which are usually based only on verbal agreements without official documents. In this case, the community prefers to use customary methods through Okomama rather than resolving them through formal law. Okomama functions as a place for customary deliberation, where mediators appointed by customary leaders bring peace symbols such as betel nut, sopi, and money as a sign of willingness to reconcile. This research uses a case study approach with qualitative methods, through interviews, observations, and document collection from customary leaders, the community, and related parties. The results of the study indicate that Okomama is effective as a means of mediation based on tradition in reducing conflict, strengthening social solidarity, and contributing to the development of social sciences, customary law, and public policy regarding customary land management. This finding emphasizes the significance of preserving local wisdom as a sustainable strategy in resolving conflicts amidst the modernization process.
DAMPAK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI DESA ULUBELU KABUPATEN NGADA Laurensius Bai; Urbanus Ola; Rodriques Servatius
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 4 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v4i1.1851

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis dampak sosial-ekonomi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Daratei terhadap masyarakat Desa Ulubelu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Menggunakan metode studi kasus kualitatif dengan 12 narasumber, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan dampak yang bersifat dualistis. Dampak positif ekonomi meliputi terbukanya 252 lapangan kerja lokal, munculnya usaha baru (kontrakan, kios, jasa transportasi), dan peningkatan pendapatan bagi sebagian warga. Dampak positif sosial mencakup pembangunan jalan 8 km, distribusi meteran listrik gratis, dan interaksi sosial baru. Di sisi lain, dampak negatif ekonomi meliputi konversi lahan pertanian seluas 12 hektar, penurunan produktivitas pertanian hingga 100% (vanili), dan ketidakmerataan distribusi manfaat ekonomi. Dampak negatif sosial mencakup kecemburuan sosial antarwarga, polarisasi komunitas, dan ketegangan antara warga dengan pemerintah yang memuncak pada aksi demonstrasi Maret 2025. Evaluasi menggunakan Model CIPP menyimpulkan bahwa program memiliki justifikasi konteks yang kuat namun menghadapi kelemahan serius pada proses dan hasil, di mana listrik komersial belum terwujud setelah lebih dari dua dekade. Program memerlukan reformasi pada mekanisme kompensasi, transparansi, dan distribusi manfaat yang lebih inklusif.
PERAN STRATEGIS KETUA ADAT DALAM PELESTARIAN BUDAYA LOKAL: STUDI KASUS TRADISI TINJU ADAT (ETU) SUKU NATAIA DI DESA OLAIA KABUPATEN NAGEKEO Maria Fatima Coo; Urbanus Ola; Veronika Ina Assan Boro
Journal Education and Government Wiyata Vol 4 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Yayasan Panca Bakti Wiyata Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71128/e-gov.v4i2.404

Abstract

Etu traditional boxing is a type of martial art similar to boxing, but with differences from traditional boxing. A young man who participates in etu does not want to win, but rather to demonstrate his mental and spiritual readiness as a strong indigenous man. He learns to control his emotions, manage his anger, and most importantly, uphold brotherhood. The background of this research is the decreasing participation of the younger generation in the traditional boxing tradition (etu) of the Nataia tribe in Olaia Village, Nagekeo Regency, which can threaten the continuity of local culture. Traditional leaders play a crucial role as guardians of values, motivators of participation, and managers of cultural heritage in preserving the etu tradition. This study aims to describe and analyze the important role of traditional leaders in maintaining this tradition. The method used is a qualitative research approach with a case study approach. Data were collected through interviews and documentation, then analyzed descriptively-thematically. The research findings indicate that traditional leaders are active in maintaining the values ​​and meaning of etu, encouraging the participation of the younger generation, and maintaining traditional facilities and locations. This role is crucial for maintaining cultural identity and ensuring the sustainability of traditions amidst changing times.