Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Analysis of T5 Heat Treatment Parameters on the Hardness and Microstructure of Aluminum-Silicon Alloy Nafi, Maula; Hartanti, Lusia Permata Sari; Aziz, Moh. Nor Ali; Wahid, Ichlas; Setiawan, Agung
Widya Teknik Vol. 24 No. 2 (2025): November
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/wt.v24i2.6108

Abstract

In alignment with the United Nations Sustainable Development Goal (SDG) 9 on Industry, Innovation, and Infrastructure, this study investigates methods to enhance the durability and sustainability of aluminum alloys in automotive applications, thereby reducing material waste and extending component life. Aluminum is widely used in automotive parts like engine pistons due to its beneficial properties, including lightweight, high formability, and excellent corrosion resistance. A key material in these applications is the Aluminum-Silicon (AlSi) alloy, which is known for its mechanical strength but also prone to gradual performance degradation under operational stress. Addressing this challenge, T5 heat treatment is applied to explore its impact on the alloy's microstructure and hardness, with the aim of enhancing resilience and extending the functional lifespan of automotive parts. The T5 heat treatment process involves three main stages: initial heating, sustained heating, and cooling. By exposing the AlSi alloy to varied temperatures of 240°C, 260°C, and 280°C, with a holding time of 30 minutes, this study evaluates how these temperature conditions influence the alloy's mechanical properties. The findings from Rockwell hardness testing reveal that at 240°C in SAE 40 oil at 750°C, the alloy reaches a hardness of 64.6 HRB. Similarly, at 260°C in air at room temperature, the hardness remains at 64.6 HRB, while at 280°C in water with a pH of 8 at 750°C, the hardness slightly decreases to 62.1 HRB. These results suggest that higher heating temperatures improve mechanical strength and significantly alter the microstructure of the AlSi alloy, with minor variations in hardness observed depending on cooling mediums. This study demonstrates that optimizing heat treatment can enhance both the mechanical properties and durability of AlSi alloys, contributing to the production of more resilient and sustainable automotive components in line with SDG 9 objectives.
PENGARUH BESAR KECEPATAN ALIRAN GAS PELINDUNG DAN TEMPERATUR AIR PADA PENGELASAN MIG TERHADAP CACAT PENGELASAN DAN KEKUATAN TARIK BAJA KEYLOS 50 UNTUK APLIKASI SHELL FEED WATER TANK Aziz, Moh Nor Ali; Seputra, Harjo; Santoso, Edi; Ismail, Ismail
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol. 11 No. 1 (2025): July
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jm.v11i1.132391

Abstract

Pengaruh pengelasan Metal Inert Gas (MIG) pada baja Keylos 50 terhadap cacat pengelasan dan kekuatan tarik material. Kebocoran sering kali terjadi akibat struktur martensit yang terbentuk selama quenching, yang meskipun keras, bersifat getas dan mudah retak. Selain itu, pemilihan media pendingin yang tidak tepat dan minimnya perlakuan pasca-pengelasan, seperti stress relieving, semakin memperparah risiko kegagalan sambungan las. Baja Keylos 50 merupakan baja karbon sedang yang sering digunakan dalam aplikasi struktural berkat sifat mekaniknya yang unggul. Tujuan penelitian ini adalah variasi kecepatan aliran gas pelindung (10 L/min, 15 L/min dan 20 L/min) dan temperatur media pendingin (5°C - 8°C, 25°C - 28°C dan 50°C - 53°C) pada proses quenching. Teknik uji tarik (ASTM E8) dan uji radiografi (NDT RT) digunakan untuk mengevaluasi sifat mekanik dan cacat pengelasan, seperti incomplete penetration, porosity, cluster porosity dan slag inclusion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi parameter pengelasan signifikan memengaruhi jumlah dan jenis cacat, serta kekuatan tarik material. Temperatur pendingin yang rendah menghasilkan struktur martensit yang keras namun getas, meningkatkan risiko cacat. Sementara itu, aliran gas pelindung yang optimal mencegah kontaminasi atmosfer, meminimalkan cacat seperti porosity. Pengujian tarik menunjukkan tegangan maksimum tertinggi pada variasi 10L/min terdapat pada spesimen A1 senilai 63,98 Kg/mm² dengan regangan maksimum 6,61%, pada variasi 15L/min terdapat pada spesimen B3 senilai 64,31Kg/mm2 dengan regangan maksimum 6,4% dan pada variasi 20L.min terdapat pada spesimen C1 senilai 64,69Kg/mm2 dengan regangan maksimum 7,1%. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi optimasi pengaruh pengelasan untuk meningkatkan kualitas sambungan baja Keylos 50, serta berkontribusi pada pengembangan standar pengelasan yang lebih efektif dan aman.
Perancangan Mesin Terintegrasi Pengupas Dan Pemotong Bawang Merah Dengan Kapasitas 30kg/Jam Aziz, Moh Nor Ali; Hartanti, Lusia Permata Sari; Nafi, Maula; Pratama, Reffi Wira; Widianto, Widianto
Widya Teknik Vol. 23 No. 1 (2024): May
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bawang merah merupakan komoditas penting dalam industri makanan dan rumah tangga. Namun, proses pengupasan dan pemotongan bawang merah yang masih dilakukan secara manual memerlukan banyak tenaga dan waktu, sehingga menimbulkan inefisiensi yang signifikan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan merancang dan membangun mesin pengupas dan pemotong bawang merah terintegrasi dengan kapasitas 30 kg/jam. Penelitian ini dilaksanakan dengan menjunjung tinggi profesionalisme dan etika keinsinyuran, yang mencakup studi lapangan, kajian literatur, perancangan mekanis, perhitungan teknis, serta perakitan mesin yang bertanggung jawab. Mesin dirancang menggunakan motor listrik berdaya 0,5 HP dengan kecepatan 1420 rpm, yang menggerakkan sistem pengupas dan pemotong melalui transmisi bevel gear. Poros baja S45C dipilih untuk memberikan kekuatan dan ketahanan optimal, sedangkan rangka baja siku 4x4 digunakan untuk memastikan stabilitas dan kemudahan perakitan. Proses perancangan memperhatikan aspek etika keinsinyuran, seperti keselamatan operasional, dengan menambahkan penutup pelindung pada komponen pemotong guna melindungi operator dari potensi bahaya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa mesin mampu bekerja secara efisien, mencapai kapasitas yang diharapkan dengan tingkat akurasi pemotongan yang cukup tinggi, sehingga mampu mengurangi kebutuhan tenaga kerja manual dan meningkatkan efisiensi waktu produksi. Mesin ini dirancang sesuai dengan standar profesionalisme dan memberikan solusi berkelanjutan bagi industri kecil dan menengah. Inovasi ini tidak hanya aman dan efisien, tetapi juga mendukung pengembangan industri pengolahan bawang merah skala rumahan. Penelitian ini membuktikan bahwa teknologi yang dirancang dengan baik dan etis dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat serta mendorong industri yang lebih modern.