Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Sejarah Lokal dan Perkembangan Desa Bone Tondo Dari Pemekaran hingga Desa Mandiri (1977–2017) Harnisa, Susi; Maysuri, Tama; Musa'adah, Siti
Lani: Jurnal Kajian Ilmu Sejarah dan Budaya Vol 6 No 2 (2025): Lani: Jurnal Kajian Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/Lanivol6iss2page152-160

Abstract

Abstrak: Tulisan ini berjuan untuk mendeskripsikan latar belakang terbentuknya Desa Bone Tondo Kecamatan Bone Kabupaten Muna, proses terbentuknya Desa Bone Tondo Kecamatan Bone Kabupaten Muna dan perkembangan Desa Bone Tondo Kecamatan Bone Kabupaten Muna dari Tahun 1997-2017. Metode penelitian yang di gunakan adalah penelitian sejarah yang bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan strukturis dengan tiga sumber data penelitian yaitu sumber tertulis, sumber lisan dan visual serta menggungakan prosedur penelitian Helius Sjamsuddin yang terdiri dari pengumpulan sumber dan kritik sumber. Hasilnya, Terbentuknya Desa Bone Tondo memiliki latar belakang sejarah yakni sebagai mana dengan terbentuknya desa-desa yang ada diseluruh wilayah Sulawesi tenggara yang tidak terlepas dari usaha dan kerja keras para tokoh masyarakat serta dukungan aparat pemerintah setempat dalam membangun wilayah tersebut berupa pengembangan wilayah, administrasi pemerintah, ekonomi, sosial, dan budaya yang teratur. Hingga kini, Desa Bone Tondo merupakan desa yang cukup maju dalam beberapa bidang yang didukung dengan hasil pertanian dan perkebunan, peternakan serta wirausaha masyarakat, dan menjadi akses jalur ekonomi. Desa Bone Tondo awalnya merupakan daerah perkampungan yang didiami oleh masyarakat dari desa yang berbeda-beda dengan suku yang beragam. Masyarakat yang melakukan aktivitas perkebunan di daerah tersebut awalnya adalah masyarakat yang berasal dari Lolibu dan Mone yang sering dikenal dengan suku terasing. Setelah itu masyarakat dari Kampung Kabone-bone dan Tondo yang pada saat itu masuk wilayah Kecamatan Tongkuno mulai berdatangan memasuki wilayah perkebunan tersebut. Kata Kunci: sejarah, Lokal, Desa, Bone Tondo
Selayang Pandang Upacara Adat Karia (Pingitan) Dalam Masyarakat Muna Harnisa, Susi
Lani: Jurnal Kajian Ilmu Sejarah dan Budaya Vol 5 No 2 (2024): Lani: Jurnal Kajian Sejarah Dan Budaya
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/Lanivol5iss2page158-174

Abstract

Abstrak: Upacara adat Karia, atau yang dikenal sebagai pingitan, adalah salah satu tradisi penting dalam masyarakat Muna yang memiliki nilai kultural dan spiritual yang mendalam. Upacara ini melibatkan proses isolasi sementara bagi perempuan yang telah memasuki usia dewasa sebagai simbol transisi menuju kedewasaan dan persiapan memasuki kehidupan sosial yang lebih luas. Dalam masa pingitan, para perempuan menjalani serangkaian ritual dan pembelajaran yang bertujuan untuk memperkuat karakter, pengetahuan tentang adat istiadat, serta nilai-nilai kehidupan yang dianut masyarakat Muna. Karia tidak hanya menekankan persiapan fisik dan mental, tetapi juga dimaknai sebagai sarana pelestarian nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Selain itu, upacara ini mempererat ikatan sosial dalam masyarakat Muna, karena melibatkan partisipasi keluarga besar dan tokoh adat. Sebagai simbol kearifan lokal, Karia turut memperkuat identitas budaya dan rasa kebersamaan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan gambaran selayang pandang tentang upacara Karia dalam masyarakat Muna, menyoroti peran dan signifikansi budaya serta fungsinya dalam mempertahankan nilai-nilai lokal di tengah perubahan sosial. Kata kunci: Adat, Karia, Masyarakat Muna Abstract: The Karia ceremony, also known as seclusion, is an important tradition in Muna society with deep cultural and spiritual significance. This ceremony involves a temporary isolation process for young women who have reached adulthood as a symbol of their transition to maturity and preparation for entering a broader social life. During the seclusion period, the young women undergo a series of rituals and lessons aimed at strengthening their character, knowledge of customs, and life values upheld by the Muna community. Karia emphasizes not only physical and mental preparation but is also seen as a means of preserving cultural values passed down through generations. Additionally, this ceremony strengthens social bonds within Muna society, as it involves the participation of extended families and traditional leaders. As a symbol of local wisdom, Karia also reinforces cultural identity and a sense of togetherness. Thus, this study provides an overview of the Karia ceremony in Muna society, highlighting its role, cultural significance, and function in maintaining local values amidst social change. Keywords: Adat, Karia, Muna People