Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Target Strength Ikan Kerapu Cantang Terhadap Panjang Total Ikan Menggunakan Singlebeam Echosounder Febrianto, Try; Ma'mun, Asep; Apdillah, Dony
Akuatiklestari Vol 6 No 2 (2023): Jurnal Akuatiklestari
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v6i2.5606

Abstract

Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus >< Epinephelus lanceolatus) adalah salah satu produk budidaya utama di Indonesia dan mempunyai nilai harga yang tinggi yaitu berkisar mulai dari Rp. 110.000 hingga Rp.120.000/kg dan sudah menjadi komoditas ekspor penting terutama ke Hongkong, Jepang, Singapura dan Cina. Metode Hidroakustik merupakan metode deteksi objek (ikan) bawah air baik di kolam maupun di laut dan Nilai Target Strength (TS) merupakan parameter utama untuk menduga objek dibawah air, oleh karena itu perlunya dilakukan penelitian terkait nilai Target Strength (TS) dengan tujuan untuk mengetahui nilai hambur balik Ikan Kerapu Cantang yang selanjutnya akan dihubungkan dengan ukuran ikan tersebut. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap 30 sampel Ikan Kerapu Cantang yang terdiri dari berbagai macam ukuran, maka nilai TS yang didapat berkisar dari -56,17 hingga -40,4. Hubungan linier positif dapat terlihat dari hasil uji statistik yaitu mempunyai nilai R2 0,8. Berdasarkan hasil statistik di atas bahwa nilai rata-rata TS dipengaruhi nilai TL Ikan Kerapu Cantang. Adapun hasil dari uji statistik tersebut didapatkan persamaan sebagai berikut: TS200kHz = -87,92+42,75log10 (TL) (95% CI: -44,39 to -49,01 dB, 9 to 10 TL mm; R2=0,83).
Sebaran Substrat Dasar Perairan Berdasarkan Nilai Hambur Balik Hidroakustik Di Perairan Sei Enam, Kabupaten Bintan Rohmah, Roseani Baiti; Ma'mun, Asep; Febrianto, Try
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 2 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i2.26009

Abstract

The use of hydroacoustic technology, namely single beam echosounder scientific Simrad EK15 for the measurement of bottom substrate in large area coverage and accurate data. The purpose of this study was to analyze the hydroacoustic backscatter value of bottom substrate, analyze the relationship between the size of the substrate fraction to the backscatter value and map the distribution of bottom substrate in Sei Enam waters, Bintan Regency. This research was conducted on May 29, 2024-December 2024. The results obtained substrate types with a percentage distribution of 46% gravel, 30% sandy gravel, 13% gravelly sand, and 10% slightly gravelly sand. The highest average surface backscattering strength value E1 on gravel ranged from -22.76 dB to -19.84 dB with an average value of E2 ranging from -40.53 dB to -33.34 and the lowest by slightly gravelly sand substrate ranging from -26.63 dB to -25.20 dB with an average value of E2 ranging from -42.54 dB to -29.43 dB. Based on simple linear regression analysis shows the results of a very strong relationship on the size of the diameter fraction with a roughness backscatter value of 0.900 and the size of the diameter fraction of the substrate has an 81,1% influence on the backscatter value, as well as on the size of the diameter fraction has a very strong relationship with hardness of 0.868 and the size of the diameter fraction has an influence of 75.4% on the backscatter value of hardness. In the distribution of substrates from the land direction, the dominant type of gravel substrate and the direction of open water is the type of slightly gravelly sand. Penggunaan teknologi hidroakustik yaitu single beam echosounder scientific Simrad EK15 untuk pengukuran substrat dasar perairan dalam jangkauan area luas dan data akurat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai hambur balik hidroakustik substrat dasar, menganalisis hubungan antara ukuran fraksi substrat terhadap nilai hambur balik dan memetakan sebaran substrat dasar di perairan Sei Enam, Kabupaten Bintan. Penelitian ini dilaksanakan 29 Mei 2024-Desember 2024. Hasil penelitian memperoleh tipe substrat dengan sebaran persentase 46% gravel, 30% sandy gravel, 13% gravelly sand, dan 10% slightly gravelly sand. Nilai surface backscattering strength rata-rata E1 yang tertinggi pada gravel berkisar -22,76 dB sampai -19,84 dB dengan nilai rata-rata E2 berkisar -40,53 dB sampai -33,34 dan terendah oleh substrat slightly gravelly sand berkisar -26,63 dB sampai -25,20 dB dengan nilai rata-rata E2 berkisar -42,54 dB sampai -29,43 dB. Berdasarkan analisis regresi linier sederhana menunjukkan hasil hubungan yang sangat kuat pada ukuran diameter fraksi dengan nilai hambur balik kekasaran sebesar 0,900 dan ukuran diameter fraksi substrat  memiliki pengaruh 81,1% terhadap nilai hambur balik, serta pada ukuran diameter fraksi  memiliki hubungan yang sangat kuat dengan kekerasan sebesar 0,868 dan ukuran diameter fraksi memiliki pengaruh 75,4% terhadap nilai hambur balik kekerasan. Pada sebaran substrat dari arah daratan dominan tipe substrat gravel dan arah perairan lepas berupa tipe slightly gravelly sand.
PEMETAAN HABITAT BENTIK BERBASIS PIXEL MENGGUNAKAN CITRA SPOT-7 DI PERAIRAN DESA PENGUDANG KABUPATEN BINTAN Kartika, Indah; Syahara, Ulfatul; Kurniawati, Esty; Apdillah, Dony; Febrianto, Try
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jpk.v15i1.32410

Abstract

Habitat bentik, yang merupakan bagian dari daerah pesisir, meliputi ekosistem terumbu karang dan lamun, keduanya sangat produktif dan vital bagi kehidupan laut. Ekosistem ini memberikan manfaat besar dalam bentuk barang dan jasa lingkungan. Desa Pengudang di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, memiliki ekosistem laut yang beragam dan sehat, termasuk ekosistem lamun dan terumbu karang. Wilayah ini telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi lamun dan daerah wisata, namun menghadapi perubahan ekosistem, termasuk kerusakan dan kehilangan, yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia. Oleh karena itu, pemetaan dan pemantauan habitat bentik sangat penting untuk melacak perubahan yang terjadi. Citra satelit SPOT-7 digunakan untuk mengamati perubahan ini. Pengumpulan data dilakukan dari 10 Juni 2023 hingga 15 Januari 2024, dengan 250 titik observasi di Desa Pengudang, Kecamatan Teluk Sebong. Penelitian ini menggunakan algoritma Maximum Likelihood Classification (MLC) untuk pemrosesan citra. Komponen penyusun habitat bentik di perairan Desa Pengudang terdiri dari enam jenis habitat yaitu Alga bercampur dengan Karang Mati (AKM), Karang Mati bercampur dengan Pasir (KMP), Lamun (L), Lamun bercampur dengan Pasir (LP), Pasir (P), dan Pasir bercampur dengan Karang Hidup (PKH). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan yang signifikan dalam tutupan habitat bentik dalam kurun waktu 6 tahun di perairan Desa Pengudang dari tahun 2016 hingga 2022. Overall Accuracy (OA) dari hasil klasifikasi adalah 65,33% untuk citra tahun 2016 dan 76% untuk citra tahun 2022. Pemetaan ini membantu untuk menilai kondisi ekosistem dan memberikan wawasan tentang perubahan lingkungan laut di wilayah tersebut.
ANALISIS PARAMETER OSEANOGRAFI DAN KAITANNYA DENGAN HASIL TANGKAPAN IKAN TENGGIRI (Scromeberomorus commerson) DI PERAIRAN TIMUR BINTAN Asmarani, Esty Widya Devi; Ma'mun, Asep; Febrianto, Try
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.31.2.2025.1-13

Abstract

Penelitian ini dilakukan dari Maret hingga Agustus 2024 dengan validasi data pada musim peralihan I (28 Mei - 3 Juni 2024) di perairan Timur Bintan dan Sei Enam, Kijang, Bintan Timur. Metode kuantitatif deskriptif dan perhitungan menggunakan Generalized Additive Model (GAM) digunakan untuk menganalisis data perikanan dan oseanografi periode 2022-2023 serta melihat hubungan parameter oseanografi dengan hasil tangkapan ikan tenggiri (S. commerson). Hasil tangkapan menunjukkan puncak pada musim timur (Juni-Agustus) dan terendah pada musim barat (Desember-Februari). Pada 2022, tangkapan mencapai 37.026 kg (112 trip) di musim timur dan 5.426 kg (16 trip) di musim barat, sedangkan tahun 2023 meningkat menjadi 49.365 kg di musim timur dan 13.787 kg di musim barat. CPUE tertinggi tercatat di musim timur, yaitu 422,08 kg/trip pada 2022 dan 398,10 kg/trip pada 2023; terendah pada musim barat 2022 (350,00 kg/trip) dan peralihan I 2023 (293,86 kg/trip). Suhu permukaan laut berkisar antara 28,0°C – 29,7°C, dengan nilai tertinggi pada musim timur 2022 dan peralihan II 2023, sementara salinitas fluktuatif berkisar antara 32,1 – 32,6 psu, tertinggi di musim peralihan I dan terendah di musim barat. Klorofil-a bervariasi antara 0,24 – 0,54 mg/m³, dengan nilai tertinggi di musim timur 2022 dan terendah di peralihan I 2023. Kecepatan arus laut rata-rata berkisar antara 0,00 – 0,38 m/s, tertinggi pada musim timur dan terendah di peralihan I 2022 serta musim barat 2023. Analisis GAM digunakan untuk menentukan hubungan antara suhu permukaan laut, salinitas, klorofil-a, dan kecepatan arus dengan hasil tangkapan ikan tenggiri, di mana model terbaik (Model 12) menunjukkan pengaruh signifikan dari suhu permukaan laut (p = 0,002), salinitas (p = 0,004), klorofil-a (p = 0,001), dan kecepatan arus laut (p = 0,003). Hal ini mengindikasikan bahwa parameter-parameter tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil tangkapan ikan tenggiri, sesuai dengan perhitungan model GAM yang digunakan.
Struktur Komunitas Bivalvia pada Ekosistem Lamun dengan Tutupan Berbeda di Perairan Pulau Bintan Annisa, Annisa; Febrianto, Try; Nugraha, Aditya Hikmat
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.52048

Abstract

Ekosistem lamun memiliki kaitan yang erat dengan keberadaan bivalvia. Kondisi struktur ekosistem lamun yang berbeda-beda di Perairan Pulau Bintan diduga dapat berpengaruh terhadap asosiasi bivalvia pada ekosistem lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur ekosistem lamun dan mempelajari struktur asosiasi bivalvia pada beberapa ekosistem lamun di Pesisir Pulau Bintan. Terdapat 4 stasiun pengamatan yang diamati pada penelitian ini. Penentuan lokasi penelitian berdasarkan keterwakilan sebaran ekosistem lamun di Pulau Bintan, dengan kondisi tutupan lamun yang berbeda, yaitu meliputi: Dompak, Pengudang, Teluk Bakau dan Pengujan. Metode sampling menggunakan transek kuadrat yang dipadukan dengan 3 buah transek garis sepanjang 100 m ke arah laut. Diperoleh 7 jenis lamun yang tersebar di 4 lokasi penelitian. Tutupan lamun tertinggi terdapat di Pesisir Pengudang dengan nilai tutupan sebesar 66.1%.  Ditemukan 28 spesies bivalvia dengan  nilai kepadatan tertinggi yaitu Gafrarium pectinatum. Hasil analisis PCA menunjukkan bahwa tutupan lamun memiliki keterikatan dengan kepadatan bivalvia. Beberapa bivalvia memiliki kecenderungan untuk hidup pada vegetasi lamun tertentu.  Seagrass ecosystems have a close relationship with the existence of bivalves. The different structural conditions of the seagrass ecosystem in the waters of Bintan Island are thought to influence the association of bivalves in the seagrass ecosystem. This study aims to describe the structure of seagrass ecosystems and study the structure of bivalve associations in several seagrass ecosystems on the coast of Bintan Island. There are four observation stations observed in this study. The determination of the research location was based on the representation of the distribution of seagrass ecosystems on Bintan Island, with different seagrass cover conditions, including: Dompak, Pengudang, Bakau Bay and Pengujan. The sampling method uses a quadratic transect combined with 3 line transects along 100 m seaward, obtaining 7 types of seagrasses scattered in 4 research locations. The highest seagrass cover was found in Pengudang Coastal Area, with a cover value of 66.1%. Found 28 species of bivalves with the highest density value, namely Gafrium pectinatum. PCA analysis results show that seagrass cover has an attachment to the density of bivalves. Some bivalves tend to live on specific seagrass vegetation.
Exploration of the Environmental Characteristics of Kijang Waters (Sungai Enam Village) from the Perspective of Statistics and Development Potential: Eksplorasi Rona Lingkungan Perairan Kijang (Desa Sungai Enam) Dalam Persefektif Angka Dan Potensi Pengembangannya Ma'mun*, Asep; Nugraha, Aditya Hikmat; Febrianto, Try; Kurniawati, Esty; Kurniawan, Rika; Suhana, Mario Putra
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/dinamisia.v9i1.22235

Abstract

Sei Enam, which is located in Bintan Regency, is planned to become a modern village whose development is balanced between local culture and sustainable environmental practices (Rizki, 2023). Quantitative data obtained from environmental studies and direct measurements can be used as a measuring tool for assessing the development of tourism and aquaculture areas, with a focus on reporting plankton as a food source, oceanographic conditions and air quality (Azhar & Anuar, 2021). The research results show that the speed and pattern of tidal currents at the research location play an important role in each season in the distribution of water mass at the research location, while high waves are relatively small throughout the season, in line with the results of previous research (Rizal & Anwar, 2021). These air movement patterns play an important role in the distribution of food and nutrient sources in waters (Budiarto & Fathoni, 2019). The results of the land suitability analysis show that Sei Enam has an area of ​ ​303.73 Ha, which can be recommended as an area for developing cage-based floating restaurant culinary tourism. With the results of this area, the development of cage-based culinary areas can be carried out on a large scale, but this needs to consider other factors such as shipping lanes and ship docks (Halim & Rizal 2021). The results of the community response showed that 85% agreed with the development plan. The government's role in planning, implementation and commitment to activities is an important factor in sustainable development (Suharto & Astuti, 2020)