Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

UPAYA MENGEMBALIKAN TRADISI BUDAYA MULUNG MASYARAKAT ADAT BARANUSA MENUJU PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERAIRAN BERWAWASAN LINGKUNGAN Paulus Edison Plaimo; Imanuel Lama Wabang; Isak Feridikson Alelang
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 4, No 2 (2020): JUNI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4573.165 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v4i2.2023

Abstract

Abstrak: Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kami berupaya melakukan penyuluhan atau sosialisasi terhadap masyarakat nelayan yang berdomisili di pesisir Baranusa tentang manfaat pemberlakuan tradisi budaya Mulung. Mulung sendiri adalah sebuah budaya yang telah dititiskan oleh oleh leluhur baranusa yang memilki fungsi secara ekologi sebab melakukan konservasi habitat sumberdaya perairan yang berdampak pada peningkatan produktivitas perairan dan mendorong nilai ekonomi nelayan dan pedagang ikan. Akan tetapi tradisi budaya ditinggalkan sehingga pendapatan nelayan mengalamai penyusutan oleh sebab kerusakan habitat kawasan peraiaran akibatnya ketersedian sumberdaya perairan semakin berkurang. Metode pelaksanaan kegiatan ini meliputi tiga tahapan antara lain tahapan persiapan adalah melakukan observasi, berkoordinasi dan penyiapan bahan dan alat yang dibutuhkan disaat pelaksanaan kegiatan, tahapan pelaksanaan adalah melakukan kegiatan sosialisasi atau penyuluhan mengenai aspek kebermanfaatan tradisi budaya Mulung melalui aspek ekologi dan ekonomi, tahapan evaluasi, mengukur tingkat keberhasilan kegiatan yang dilakukan. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pola pemahaman dari masyarakat (mitra) tentang manfaat memberlakukan kembali tradisi budaya Mulung.Abstract:  Through community service activities, we strive to conduct counseling or outreach to fishing communities who live on the coast of Baranusa about the benefits of applying Mulung cultural traditions. Mulung itself is a culture that has been founded by the ancestors of Baranusa which has an ecological function because it conserves the habitat of aquatic resources which has an impact on increasing aquatic productivity and encourages the economic value of fishermen and fish traders. However, cultural traditions are left behind so that fishermen's income experiences depreciation due to damage to marine habitat due to the diminishing availability of aquatic resources. The method of carrying out this activity consists of three stages including the preparation stage, which is observing, coordinating and preparing the materials and tools needed while carrying out the activity, the implementation stage is conducting socialization activities or counseling on aspects of the benefits of Mulung cultural traditions through ecological and economic aspects, evaluation stages, measure the level of success of the activities carried out. The results of the service show an increase in the pattern of understanding from the community (partners) about the benefits of re-enacting the Mulung cultural tradition.
SUSTAINABLE MARINE TOURISM IN ALOR: A STUDY OF COASTAL COMMUNITIES’ PERCEPTION Alexander M. A. Khan; Imam Musthofa; Indarwati Aminuddin; Fitri Handayani; Ratna N Kuswara; Imanuel L Wabang; Ajeng Wulandari; Evi Novianti; Ute L. S. Khadijah
Jurnal Internasional Ilmu Pengetahuan Terapan bidang Pariwisata dan Events Vol 4 No 2 (2020): December 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31940/ijaste.v4i2.2053

Abstract

Purpose: This research aims to determine the tourism potential based on the community’s perception of the existing natural resource and determining the management strategies for the tourism area. Research methods: The research method used in this study is the survey method. This research method was divided into two steps, including data collection using the snowball method and data analysis carried out with a descriptive method for the potential of tourism development and qualitative- quantitative approaches based on the perceptions of the local community to determine the development strategy. Results and discussions: The results showed that several natural resources in Alor can be used as a tourist attraction, such as Wai Ulung, Wai Redang, Wai Urita, Wai Bakolang, Munaseli Kingdom, Hiking Baki Old Village, Kenari beach, Sikka Island, Putri Laut Cave, Tomi Leo Cave, Bat Cave, and Octopus Pond. Based on the analysis using the quantitative and qualitative SWOT Matrix, the suitable strategy to be applied in the development of sustainable tourism in Alor is maximize the strength to get all of the opportunity, such as developing tourism activities with fully managed by the local community, promotes safe tourist sites, provides sustainable tourism development field-laboratory for students and academia, and Enhance the community involvement as local tour services providers. Conclusion: Many natural and historical resources in Alor that can be developed as a tourist attraction, and the suitable development strategy is to maximize the strength to get all the opportunity. Keywords: Alor, development strategy, natural resources, sustainable tourism, SWOT analysis, tourism potential
Peningkatan Pemahaman Masyarakat Nelayan Pesisir Baranusa Mengenai Penerapan Tradisi Budaya Mulung Paulus Edison Plaimo; Imanuel Lama Wabang; Isak Feridikson Alelang; Ferdinand Romelus Anigomang
Jurnal SOLMA Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.244 KB) | DOI: 10.29405/solma.v9i1.4882

Abstract

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kami berupaya melakukan penyuluhan atau sosialisasi terhadap masyarakat nelayan yang berdomisili di pesisir Baranusa tentang manfaat pemberlakuan tradisi budaya Mulung. dampak dari tradisi budaya budaya mulung yang ditinggalkan pendapatan nelayan, mengalami penyusutan oleh sebab kerusakan habitat kawasan perairan sehingga ketersediaan sumberdaya perairan semakin berkurang. metode pelaksanaan kegiatan ini meliputi tiga tahapan antara lain tahapan persiapan adalah melakukan observasi, berkoordinasi dan penyiapan bahan dan alat yang dibutuhkan disaat pelaksanaan kegiatan, tahapan pelaksanaan adalah melakukan kegiatan sosialisasi atau penyuluhan mengenai manfaat tradisi budaya Mulung Penerapan tradisi budaya Mulung dapat memperpendek jarak nelayan ke daerah penagkapan (fishing ground) keadaan ini berdampak penghematan biaya operasional dan juga meminimalisasi kebutuhan waktu maupun tenaga, tahapan evaluasi, mengukur tingkat keberhasilan kegiatan yang dilakukan. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pola pemahaman dari masyarakat (mitra) tentang manfaat tradisi budaya Mulung
KAJIAN KARAKTERISTIK TIPOLOGI PANTAI UNTUK PENGEMBANGAN WISATA REKREASI PANTAI DI SUKA ALAM PERAIRAN SELAT PANTAR KABUPATEN ALOR Imanuel Lamma Wabang; Fredinan Yulianda; Handoko Adi Susanto
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.55 KB) | DOI: 10.29244/core.1.2.199-209

Abstract

SAP Selat Pantar terletak di Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kawasan ini memiliki daya tarik berupa pantai karang berpasir putih yang landai dengan pemandangan bawah laut yang indah. Penelitian ini dilaksanakan di SAP Selat Pantar Kabupaten Alor, pada bulan Agustus s/d Oktober 2016. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kesesuaian kawasan untuk kegiatan wisata rekreasi pantai dan menganalisis daya dukung (carrying capacity) kawasan SAP Selat Pantar untuk kegiatan wisata bahari berbasis ekologi. Penelitian ini menggunakan data primer pengambilan data analisis kualitas air, metode penentuan kesesuaian kawasan berdasarkan perkalian skor dan bobot yang diperoleh dari setiap paremeter, kedalaman, tipe pantai, lebar pantai, kecerahan, kecepatan arus, material dasar perairan, pengamatan biota berbahaya, dan ketersediaan air tawar. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa potensi ekowisata pantai di SAP Selat Pantar ditemukan ada dua kategori yaitu kategori sangat sesuai dengan nila IKW mencapai 85.71% dan kategori sesuai dengan nilai IKW sebesar 64.24%. Daya dukung kawasan kategori ekowisata rekreasi pantai 302 (Orang/hari).Kata kunci : ekowisata pantai, kesesuaian kawasan, daya dukung kawasan, SAP Selat Pantar.
KONDISI TERUMBU KARANG DI KAWASAN SUAKA ALAM PERAIRAN SELAT PANTAR DAN LAUT SEKITARNYA DI KABUPATEN ALOR Imanuel Lamma Wabang
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 2 No. 3 (2018): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.19 KB) | DOI: 10.29244/core.2.3.369-376

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang meliputi tutupan karang,  bentuk pertumbuhan karang  dan indeks kematian karang di Kawasan Suaka Alam Perairan Selat Pantar. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2018. Stasiun penelitian dibagi ke dalam 14 stasiun yang didasarkan pada karakteristik lingkungan. Pengambilan data terumbu karang menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tutupan terumbu karang pada lokasi penelitian berkisar antara 27.71% hingga 79.22% dan tergolong kategori kondisi sedang hingga sangat baik. Tutupan terumbu karang yang rendah disebabkan oleh lokasi ini sering terjadi penangkapan ikan menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti bubu dan bahan peledak. Tutupan karang yang tertinggi di lokasi perairan ini diduga adanya pengawasan di sekitar kawasan yang dilakukan oleh pemilik home stay dan masyarakat setempat sehingga membuat lokasi ini aman dari kegiatan penangkapan yang tidak ramah lingkungan. Nilai indeks kematian karang berkisar 0,01 – 0,47, namun rata-rata keseluruhan nilai indeks kematian karang sebesar 0,16, menunjukkan perubahan kondisi dari karang hidup menjadi karang mati belum terlalu berarti.Kata kunci : LIT, SAP Selat Pantar, Terumbu Karang
Analisis Kebijakan Pengembangan Ekowisata Bahari yang Berkelanjutan di Kawasan Konservasi Perairan Selat Pantar dan Laut Sekitarnya-Kabupaten Alor Imanuel Lamma Wabang
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.707 KB)

Abstract

Selat Pantar adalah salah satu kawasan area konservasi laut di Kabupaten Alor yang berpotensitinggi menjadi salah satu tujuan wisatawan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untukmenentukan faktor lingkungan internal dan eksternal dalam pengembangan ekowisata bahari.Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2018 sampai Oktober 2018. Metode yangdigunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan purposive sampling sebanyak 50orang wisatawan dan 14 orang yang expert di bidang pariwisata baik pengambil kebijakan maupunmasyarakat lokal yang berada di sekitar lokasi wisata. Hasil penelitian menunjukan bahwa matrixInternal Factors Analysis Summary (IFAS) adalah 0.594 dan matrix Eksternal Factors AnalysisSummary (EFAS) adalah 0.237. Dengan demikian hasil analisis SWOT memperlihatkan bahwaposisi kuadran berada pada kuadran I, antara peluang eksternal dan kekuatan internal (0.5;0.2).Posisi ini menandakan bahwa pemanfaatan ekowisata bahari di Kawasan Konservasi PerairanSelat Pantar memiliki kekuatan dan berpeluang untuk dikembangkan. Analisis AHP menunjukan10 skala prioritas kebijakan untuk pengembangan ekowisata bahari yaitu : 1). Peningkatankapasitas sumberdaya manusia pariwisata, 2).Cluster wilayah pengembangan pariwisata, 3).Pengembangan obyek wisata unggulan dan produk wisata 4). Peningkatan akses transportasiinfrastruktur sarana dan prasarana, 5). Peningkatan kerjasama antar stakeholder, 6). Peningkatanpromosi wisata bahari, 7). Penguatan kelembagaan dan peraturan,Kata kunci : Kebijakan pengembangan ekowisata bahari, KKP Selat Pantar.
PENYULUHAN PENGGUNAAN JARING SEBAGAI PELINDUNG RUMPUT LAUT DARI SERANGAN HAMA MAKRO PADA PEMBUDIDAYA RUMPUT LAUT Paulus Edison Plaimo; Imanuel Lamma Wabang; Isak Feridikson Alelang; Fredrik Abia Kande
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 6, No 3 (2022): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (987.079 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v6i3.8637

Abstract

Abstrak: Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pembudidaya rumput laut terkait upaya melindungi tanaman rumput laut dari serangan hama makro seperti ikan baronang dan penyu untuk menjamin stabilitas produksi rumput laut, keberadaan stok dan kestabilan harga dan kepercayaan pasar, hal ini sangat penting, untuk menjaga kestabilan perekonomian pembudidaya rumput laut yang terguncang akibat lahan budidaya rumput laut di serang hama makro rumput laut yaitu ikan baronang dan penyu dengan intensitas tinggi. Metode pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, dilakukan dalam beberapa tahapan antara lain: (1) Tahap Persiapan; (2) tahap pelaksanaan kegiatan; (3) tahap evaluasi. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dan sosialisasi terkait penggunaan jaring untuk memagari rumput laut yang di budidaya dapat dikatakan berhasil secara signifikan 100%, indikator nya, terlihat jelas adanya perubahan pengetahuan dan pemahaman pembudidaya rumput laut secara keseluruhan yang mengikuti kegiatan ini. Hal ini nampak dari kemampuan serta ketrampilan pembudidaya rumput laut Desa Allumang yang sudah dapat menerapkan teknik ini, setelah kegiatan penyuluhan dan sosialisasi selesai dilakukan. Abstract: The implementation of this community service activity aims to increase knowledge and understanding of seaweed farmers regarding efforts to protect seaweed plants from macro pests such as baronang fish and turtles to ensure the stability of seaweed production, stock availability and price stability and market confidence, this is very important. , to maintain the stability of the economy of seaweed cultivators who were shaken by the seaweed cultivation area being attacked by macro pests of seaweed, namely baronang fish and turtles with high intensity. The method of implementing Community Service activities is carried out in several stages, including: (1) Preparation Stage; (2) activity implementation stage; (3) evaluation stage. The implementation of counseling and socialization activities related to the use of nets to fence the cultivated seaweed can be said to be significantly successful 100%, the indicator, it is clear that there is a change in knowledge and understanding of seaweed cultivators as a whole who participates in this activity. This can be seen from the abilities and skills of Allumang Village seaweed cultivators who have been able to apply this technique, after the counseling and socialization activities have been completed
Peningkatan Pemahaman Penggunaan Kontrusksi Sistem Patok Kepada Pembudidaya Rumput Paulus Edison Plaimo; Imanuel Lamma Wabang; Andri Permata Timung; Junius Manase Sau Sabu; Theresia Lounggina Luisa Peny
MATAPPA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : STKIP Andi Matappa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31100/matappa.v5i1.1708

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyaakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pembudidaya rumput laut Di Desa Allumang, terhadap Penggunaan Kontrusksi Sistem Patok pada metode dasar (bottom method) dengan jarak antar patok 50cm, hal ini dimaksudkan mengurangi kompetisi antar bibit rumput laut terhadap sumberdaya (nutrisi) sehingga memperoleh thallus rumput laut dengan diameter besar untuk meningkatkan produksi keragenan, sehingga memenuhi selera pasar. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, dilakukan dalam beberapa tahapan antara lain: (1) Tahap Persiapan; (2) tahap pelaksanaan kegiatan; (3) tahap evaluasi. Pelakasanaan kegiatan penyuluhan ini dikatakan berhasil secara signifikan yaitu 100% oleh karena secara psikologis terlihat adanya perubahan pola pikir pembudidaya terkait teknik budidaya yang tidak semata-mata sesuai kebiasaan meningkatkan volume hasil panen, tetapi juga harus berkorelasi dengan kualitas rumput laut yang dihasilkan. Selanjutnya untuk lebih meyakinkan pemahaman pembudidaya rumput laut dilakukan kegiatan demonstrasi menancapkan tiang patok sesuai jarak yang dianjurkan dilokasi budidaya. Hasil pelaksanan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini secara signifikan memberikan dampak positif, karena secara mayoritas pembudidaya rumput laut melakukan praktek pembudidayaan sesuai dengan yang di anjurkan.
Persepsi Masyarakat Terhadap Wisata Mangrove di Desa Pante Deere, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor Paulus Edison Plaimo; Imanuel Lamma Wabang
Barakuda'45 Vol 4 No 1 (2022): Edisi April
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.515 KB) | DOI: 10.47685/barakuda45.v4i1.206

Abstract

This study aims to determine public perceptions regarding the management of mangrove tourism areas in Pante Deere Village, Kabola District, Alor Regency, East Nusa Tenggara. The research method used is the Likert scale. The results of the research regarding the benefits or benefits obtained related to the existence of mangrove forest areas, 81% of respondents stated strongly agree; 4% agree; 4% Neutral; 5% Disagree and 6% strongly Disagree; Furthermore, mangrove tourism has an effect on people's income or economy, 74% of respondents and 10% stated strongly agree and agree, while 10% are neutral, while 6% and 5% disagree and strongly disagree; then related to the need for improvement or improvement of the quality of mangrove tourism assets, 86% of respondents stated strongly agree; 9% agree; 5% Neutral; Meanwhile, to give sanctions to anyone who takes/cut down Mangrove trees in the Mangrove Forest Tourism area, it turns out that the majority or 100% of respondents stated that they strongly agreed.
Penyuluhan Penanganan Biofouling Sebagai Upaya Peningkatkan Kualitas Rumput Laut Kepada Pembudidaya Rumput Laut di Desa Allumang Paulus Edison Plaimo; Imanuel Lamma Wabang; Efrin Antonia Dollu; Andri Permata Timung; Emirensiana Latuan; Isak Feridikson Alelang; Jublina Bakoil; Hemy Ratmas Djasibani; Anita Trisia Dimu Lobo; Elia Maruli; Fredrik Abia Kande; Setia Budi Laoepada; Thomas John Tanglaa
Madaniya Vol. 3 No. 3 (2022)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.215

Abstract

Budidaya rumput laut yang dilakukan oleh petani rumput laut di Desa Allumang, Kecamatan Pantar Barat Laut, Kabupaten Alor, Propinsi Nusa Tenggara Timur, belum sepenuhnya memperhatikan biofouling yang tumbuh bersama rumput laut, baik pada thallus rumput laut maupun pada tali atau longline yang digunakan untuk mengikat benih rumput laut dari awal budidaya, serta setelah panen. Hal ini berdampak pada penurunan kualitas rumput laut karena pertumbuhannya terhambat akibat adanya kompetisi unsur hara antara rumput laut dan biofouling. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai penanganan biofouling sebagai pesaing dalam pengambilan sumberdaya (nutrisi) untuk meningkatkan mutu atau mutu rumput laut. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dalam beberapa tahapan, antara lain: (1) Tahap Persiapan; (2) tahap pelaksanaan kegiatan; (3) tahap evaluasi. Pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini ditujukan kepada pembudidaya rumput laut di Desa Alumang yang berjumlah 582 KK dan perkembangannya dikatakan berhasil secara signifikan yaitu 100% karena secara kognitif psikologis terjadi perubahan pola pikir petani mengenai penanganan biofouling. untuk meningkatkan mutu atau mutu rumput laut karena berkorelasi dengan mutu rumput laut yang dihasilkan. Selanjutnya untuk lebih memastikan pemahaman pembudidaya rumput laut, dilakukan contoh kegiatan demonstrasi penanganan biofouling di lokasi budidaya.