Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Moderation: Journal of Islamic Studies Review

SUFISTIC INTERPRETATION OF THE SIX FORMS OF DA’WAH COMMUNICATION IN THE QUR’AN: Reception, Manhaj, And Ushub, Tafsir, Ruh, Al-Bayan Haris Hakam, Muhammad; Nurhaidah, Siti Nuri; Hidayatullah, Hidayatullah; Cholil, Ifham; Arafah, Mudrikatul; Ali Akbar, Muhamad Yudi; Santoso, Budi
Moderation | Journal of Islamic Studies Review Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Asosiasi Dosen PTKIS Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63195/moderation.v5i1.124

Abstract

Metodologi penelitian ini, dirancang untuk mencapai tujuan penting untuk memahami interpretasi tasawuf dari enam bentuk komunikasi dakwah dalam Al-Qur’an. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, yang berfokus pada eksplorasi mendalam dan analisis detail, sehingga data yang diperoleh menjadi lebih kaya dan informatif. Proses kajian dimulai dengan identifikasi konsep tafsir tasawuf sebagai bagian integral dari tradisi Islam yang telah teruji sepanjang sejarah. Komunikasi dakwah didefinisikan secara komprehensif, menekankan perannya yang signifikan dalam konteks agama dan masyarakat kontemporer. Penelitian ini juga menganalisis enam elemen kunci komunikasi dakwah, yaitu penerimaan, manha, uslub, tafsir, semangat, dan al-bayan. Masing-masing elemen ini dianalisis untuk mengidentifikasi fungsinya dalam menyampaikan pesan agama. Studi kasus penafsiran Sufistik diterapkan dengan hati-hati pada teks Al-Qur’an, dilakukan secara mendalam untuk mencapai hasil yang valid dan dapat diandalkan. Dalam seluruh proses ini, metode pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan analisis teks untuk memastikan signifikansi temuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang ini. Di akhir penelitian, kesimpulan dari temuan yang diperoleh diharapkan dapat memberikan rekomendasi berharga untuk pengembangan tafsir sufistik dalam konteks komunikasi dakwah yang lebih luas dan memberikan kontribusi positif bagi praktik dakwah yang lebih efektif dan efisien di masa depan.
ETIKA DAN TANTANGAN DAKWAH DI ERA POST TRUTH DAN DISRUPSI Nurhaidah, Siti Nuri; Hidayat, Rahmat; Ramdani, Riska; Rahman, Deni; Wardi, Miftahussa’adah; Arafah, Mudrikatul; Maskur, Asep
Moderation | Journal of Islamic Studies Review Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Asosiasi Dosen PTKIS Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63195/moderation.v5i2.141

Abstract

The main characteristic of the post-truth era is the proliferation of fake news (hoaxes), disinformation, and misinformation that spreads at an extraordinary speed. This information is often designed to manipulate emotions, reinforce polarization, or damage reputations. The line between fact and fiction becomes blurred, making it difficult for society to distinguish between what is true and what is not. This phenomenon is exacerbated by the role of social media and algorithms that create echo chambers or filter bubbles. Users tend to be exposed only to information that aligns with their own views, which further reinforces existing beliefs and makes them resistant to contrary information. This creates an environment where confirmation bias is highly dominant. In the context of preaching, the post-truth era presents a significant challenge. Straightforward preaching messages based on strong evidence can easily be distorted or attacked by narratives based on emotions and slander. The community is also affected. highly at risk of exposure to deviant teachings because it is difficult to distinguish credible sources of information. The impact of this era is not limited to information but also affects public trust in institutions—including religious organizations and scholars. When facts are questioned and emotions dominate, the authority of scientific and religious knowledge can erode, which in turn can threaten social and religious stability.