Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Tiada Sesuatu Perbuatan Boleh Dijatuhi Pidana Melainkan Lewat Kekuatan Ketentuan Perundang-Undangan Amstrong Harefa; Jesslyn Elisandra Harefa
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrish.v4i2.5033

Abstract

The principle of legality is a legal principle that states that every act may only be subject to sanctions if it has been stipulated in the legislation before the criminal act is committed. The research aims to analyze the necessity of a law before a criminal event occurs; analyze the assessment of an act that is not analogous; analyze the need for the principle of legality to protect individuals from arbitrary actions by judicial officers. The research method is the normative legal method, by adopting conventions, legislation, law books, journals, articles, the internet. Furthermore, comprehensively reviewing the literature so that maximum results are obtained. The results of the research, law enforcement that is fair, pure and consistent is still difficult to achieve considering that many officers still do not fully understand the meaning of the principle of legality so that they often make mistakes in considering imposing criminal sanctions, and often their decisions exceed their authority. Human rights are inherent rights in individuals, so individuals should get their rights. Protection of individual rights is mandated in the 1945 Constitution Article 28G paragraph (1) Article 28H paragraph (1). Legal certainty is a vital element in building an honest and fair legal strategy. It is expected that when laws are created, they should be in accordance with a systematic, democratic mechanism based on empirical observation results, so that errors in the application of the law can be minimized. Thus, all people get legal certainty where their rights are protected and maintained, on the other hand, each individual is aware not to do prohibited acts because every action has logical and firm consequences.
PERAN PENDIDIKAN MORAL DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT NIAS YANG BERKARAKTER Harni Sartika Marulafau; Sipriana Lince I. Waruwu; Pergawan Canofan Hulu; Adil Ramah Telaumbanua; Serlin Ningsih Zebua; Misael Ananda Zega; Firdamai Yanti Waruwu; Amstrong Harefa
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 12 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Desember
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/adrgw887

Abstract

Pendidikan moral memiliki peran penting dalam membentuk serta membangun  karakter masyarakat yang kaya akan tradisi budaya lokal, seperti nilai integritas, solidaritas, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi pendidikan moral dalam  membangun  masyarakat nias yang berkarakter dengan  menjunjung nilai integritas, solidaritas, dan tanggung jawab. Penelitian ini dilaksanakan disalah satu kota gunungsitoli dengan  metode  yang digunakan adalah  pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis data dengan  model miles dan  huberman  di lingkungan pendidikan dan  sosial  masyarakat kota gunungsitoli. Subjek penelitian terdiri dari guru, tokoh adat, dan  masyarakat nias kota gunungsitoli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan moral yang terintegrasi dengan  kearifan  lokal mampu memperkuat kohesi sosial dan  mencegah degradasi moral akibat globalisasi dan teknologi, serta membentuk generasi muda yang beretika melalui tahap moral knowing, feeling, dan action menurut lickona. Faktor pembentukan  moral meliputi lingkungan keluarga sebagai fondasi utama, diikuti masyarakat, sekolah, dan agama, yang secara holistik menjaga ketahanan budaya nias ditengah globalisasi.