Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Ungkapan Budaya dalam Upacara Menyambut Marapulai Dalam Tari Nan Di Nanti Wahyuni, Wahida; Syofia, Ninon; Erman, Syaiful
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 8, No 1 (2024): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bcdk.v8i1.4868

Abstract

Tari Nan Di Nanti merupakan sebuah interpretasi artistik dari prosesi tradisi Mananti Marapulai, yang merupakan bagian dari adat pernikahan masyarakat Minangkabau. Tari ini berfungsi sebagai medium untuk merepresentasikan kekayaan budaya melalui gerak, kostum, dan tata rias yang mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal. Mananti Marapulai adalah prosesi yang menggambarkan momen penantian keluarga pengantin wanita terhadap kedatangan pengantin pria, yang sarat dengan simbol-simbol budaya dan adat istiadat. Karya tari ini berupaya menggabungkan elemen-elemen tradisional dengan pendekatan estetika kontemporer tanpa kehilangan esensi dari makna prosesi tersebut. Dalam koreografi, tari Nan Di Nanti menonjolkan dinamika antara kesabaran, harapan, dan keagungan adat yang tercermin dalam gerakan yang lemah gemulai namun penuh makna. Musik pengiringnya mengadopsi alat musik tradisional Minangkabau seperti talempong dan saluang, yang memberikan nuansa ritual dan sakral pada keseluruhan pementasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana interpretasi modern terhadap tradisi Mananti Marapulai dapat memperkaya seni pertunjukan tari kontemporer, sekaligus menjadi sarana pelestarian budaya. Karya tari ini juga menjadi jembatan untuk memperkenalkan tradisi lokal kepada khalayak yang lebih luas, baik dalam konteks nasional maupun internasional.
Karya Tari Bakatengkang Terinspirasi Peristiwa Arak Balaki Kabupaten Solok Wansyah, Andri Syatria; Stevenson, Yan; Wahyuni, Wahida; Emri
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 2 No. 6 (2025): Jurnal Ilmiah Nusantara
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v2i6.6205

Abstract

The dance work "Bakatengkang" was inspired by a procession event in Nagari Koto Baru, Kubung District, Solok Regency. This event is a tradition of a procession from the house of the induak bako (paternal sister) to the anak pisang or bride in a wedding procession in Solok Regency, Kubung District, Koto Baru Nagari. Usually better known as maantan nasi kuniang from the induak bako to the anak pisang (paternal sister's child). From this event, the artist interpreted it into a dance work, especially about differences of opinion between the bako and anak pisang which were resolved through deliberation and consensus, which was performed at the Auditorium Boestanoel Arifin Adam, Indonesian Institute of the Arts, Padangpanjang. The work, which is divided into three parts, was performed by five male dancers, five female dancers, and ten additional dancers. The costumes used include beautiful stage makeup for female dancers and dashing stage makeup for male dancers. The costumes used are a floral-patterned kuruang dress with loose batik-patterned trousers for women and a Chinese-style guntiang dress for men. The methods used in creating this work include data collection, field observation, data processing, literature review, exploration, improvisation, formation, and evaluation.
From Somali to Bahasa Indonesia: A Narrative Case Study on Language Policy and the Lived Linguistic Experience of a Somali Student in Indonesia: Dari Somalia ke Bahasa Indonesia: Studi Kasus Naratif tentang Kebijakan Bahasa dan Pengalaman Linguistik Mahasiswa Somalia di Indonesia Salihu, Sabiru; Farikah, Farikah; Wahyuni, Wahida
Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 9 No. 4 (2025): TRANSFORMATIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PENGAJARANNYA
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/transformatika.v9i4.2901

Abstract

Indonesia's growing English-Medium Instruction (EMI) policy and vibrant multilingual landscape attract international students, yet the linguistic experiences of African students remain significantly under-researched. This narrative inquiry explored how Somali students in Indonesia perceive and navigate their linguistic experiences while enrolled in EMI programs, and what narratives emerge that illuminate the broader implications of language policy and multicultural education in Indonesia. A single Somali undergraduate participant was selected, and data were collected through in-depth semi-structured interviews, a life story approach, and observational notes. The data were analyzed using thematic narrative analysis. Key findings revealed profound language shock and initial identity displacement, strategic translanguaging and technological mediation, the vital role of peer-mediated emotional and linguistic support, and the cultivation of resilience alongside an evolving learner identity. These insights underscore the necessity for more robust pre-arrival language support, formalized peer mentoring programs, and targeted lecturer training to bridge the gap between EMI policy and practice. This study contributes to a nuanced understanding of language policy's lived implications and offers practical recommendations for enhancing international student inclusion in diverse educational contexts.  
Tari Perang Sebagai Simbol Ekspresi Seni Relevansi dengan Budaya Masyarakat Nias di Kota Padang syofia, ninon; Wahyuni, Wahida; Osmond, Doni
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 8, No 2 (2025): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bcdk.v8i2.5503

Abstract

Penelitian ini membahas Tari Perang sebagai simbol ekspresi seni yang merefleksikan latar belakang budaya masyarakat Nias yang bermukim di Kota Padang, Sumatera Barat, khususnya di kawasan Gunung Pangilun. Tari ini tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga memiliki nilai-nilai sosial dan budaya yang mendalam. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis, data dikumpulkan langsung dari lapangan dan dianalisis menggunakan teori kebudayaan Elly M. Setiadi serta teori adaptasi sosial Soerjono Soekanto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Perang menjadi media untuk menyampaikan pesan moral dan nilai budaya, serta berperan sebagai sarana pelestarian warisan leluhur. Selain itu, tarian ini berfungsi sebagai alat pemersatu di tengah keberagaman budaya masyarakat urban. Masyarakat Nias yang tinggal di Padang mampu mempertahankan identitas budaya mereka sekaligus menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang multikultural. Tari Perang menjadi bukti nyata bagaimana seni pertunjukan dapat memainkan peran penting dalam proses adaptasi budaya dan menjaga harmoni sosial. Dengan demikian, keberadaan Tari Perang tidak hanya memperkaya khasanah seni budaya lokal, tetapi juga memperkuat kohesi sosial di tengah keragaman masyarakat.
Transformasi Pendidikan Seni melalui Teknologi: Memperluas Horison Kreativitas dalam Pembelajaran Seni Tari Citrawati, A A I A; Syofia, Ninon; Wahyuni, Wahida
Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Vokasional Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Vokasional
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jptiv.v5i1.27854

Abstract

Artikel ini membahas pentingnya transformasi pendidikan seni tari melalui pemanfaatan teknologi untuk memperluas kreativitas dalam pembelajaran. Dengan melakukan tinjauan literatur yang komprehensif, artikel ini mengungkap hasil penelitian dan temuan terkait penggunaan teknologi dalam pendidikan seni tari. Analisis tersebut menyoroti dampak positif yang dihasilkan, termasuk pengayaan pengalaman belajar, kemudahan kolaborasi global, dan eksplorasi kreatif yang tak terbatas dalam seni tari. Temuan dari kajian ini menunjukkan bahwa integrasi teknologi dalam pendidikan seni tari memiliki potensi besar untuk meningkatkan proses pembelajaran, mengembangkan kreativitas, dan memperluas konektivitas global di kalangan komunitas seni tari. Dengan teknologi sebagai alat, siswa dan pelaku seni tari dapat mengakses sumber daya yang lebih luas, mengeksplorasi berbagai gaya tari dari seluruh dunia, dan berkolaborasi dengan sesama seniman secara online. Selain itu, penggunaan teknologi dalam pendidikan seni tari memungkinkan adanya inovasi dalam metode pengajaran, seperti penggunaan aplikasi, perangkat lunak, dan multimedia interaktif. Hal ini memberikan kebebasan kepada siswa untuk bereksperimen, menciptakan karya-karya baru, dan berbagi hasil karyanya dengan publik secara online. Dengan demikian, transformasi pendidikan seni tari melalui penggunaan teknologi memberikan peluang yang menjanjikan bagi pengembangan seni tari di masa depan. Penting bagi para pendidik dan praktisi seni tari untuk terus mengikuti perkembangan teknologi dan mengintegrasikannya secara kreatif dalam proses pembelajaran untuk mengoptimalkan potensi siswa dan memperluas dampak seni tari dalam masyarakat global. Kata Kunci: Horison Kreativitas, Penggunaan Teknologi, Tinjauan Literatur, Transformasi Pendidikan Seni Tari 
Penciptaan Karya Tari “Gara-Gara” Terinspirasi Dari Pandangan Masyarakat Terhadap Perilaku Sebagian Mahasiswa Dalam Pergaulan Gita Irawan, Esika; Sukri, Ali; Wahyuni, Wahida
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Gara-gara berangkat dari pandangan masyarakat terhadap perilaku mahasiswa di kampus Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Karya tari Gara-gara merupakan karya tari kontemporer ditarikan secara berpasangan dengan tipe abstrak dengan tema sosial. Dalam penggarapanya karya ini dikolaborasikan dengan teknik-teknik tari yang sudah dipelajari diperkuat dengan unsur unsur koreografi. Metode yang digunakan memakai teori dari Alma M. Hawkins yaitu observasi lapangan, eksplorasi, improvisasi, komposisi dan evaluasi. Selain dari ungkapan gerak dalam penyampaian isi karya diperkuat pula dengan menggunakan bubuk warna hitam sebagai simbol tentang pengaruh negatif dari mahasiswa yang dipandang buruk oleh masyarakat. Musik tari yang digunakan dibuat dari teknologi komputer untuk mendukung suasana garapan. Karya tari ini memberikan pesan tentang pentingnya memilih teman yang baik dalam pergaulan agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang tidak baik yang keluar dari tatanan norma dalam masyarakat.
TARI SAILIA SAMUDIAK DALAM KONTEKS SOLIDARITAS BUDAYA MANGONJI Nahwita, Nahwita; Wahyuni, Wahida; Emri, Emri
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 10, No 2 (2024): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v10i2.5338

Abstract

Penciptaan karya tari dengan judul Sailia Samudiak adalah karya yang terinfirasi dari peristiwa budaya mangonji yang menjadi pemersatu bagi masyarakat Kuantan Singingi dengan tetap menjalankan rasa tolong menolong dan menjalin kebersamaan saat melakukan sebuah kegiatan. Pada karya Sailia Samudiak lebih di arahkan terhadap nilai-nilai yang ada dalam mangonji yaitu kebersamaan, kepedulian antar sesama, kegotong royongan, keharmonisan, dan kerukunan yang melekat erat hingga saat ini, dengan perbedaan yang ada antara satu sama lain kemudian tetap menjadi satu kesatuan sehingga tebentuk garapan karya tari baru. Menggarap karya tari ini menggunakan properti sekaligus setting yang berukuran sedang untuk sImbol pada tradisi mangonji yaitu ayakan. Eksplorasi pijakan gerak yang digunakan yaitu, menekan, melingkar, dan mengayun yang dikembangkan sesuai dengan ruang, waktu, tenaga, dan desain. Metode penciptaan yang digunakan yaitu Metode dari Alma M Hawkins terjemahan oleh Y.Sumandiyo Hadi , mencipta lewat tari dengan melakukan wawancara, mengumpulkan data, explorasi, improvisasi, pembentukan, dan evaluasi yang di olah berdasarkan ilmu koreografi yang telah di dapat untuk proses penggarapan karya tari baru.
Character Education’s Dialectics Based on Art and Culture in the Approach of Cultural Studies Ediwar, Ediwar; Elizar, Elizar; Wahyuni, Wahida; Admiral, Admiral; Syofia, Ninon; Nurmalena, Nurmalena
Interdisciplinary Social Studies Vol. 2 No. 9 (2023): Special Issue
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/iss.v2i9.464

Abstract

Background: Dialectics of character education based on local culture is conducted through the approach of cultural studies in order to comprehend meanings resulted symbolically from the phenomena of local culture. The process of character education based on local culture is a process that gives an individual the ability to give meaning toward his/herself and his/her environment. Aim: The researchers would like to analyze character education’s dialectics based on art and culture in the approach of cultural studies. Method: Literature studies related to character education studies based on local culture in Minangkabau were carried out through written and oral sources or primary and secondary sources. Qualitative methods with a multidisciplinary approach were used. Field data collection was managed in an 'etic' and 'emic' manner. The data were then analyzed using Miles and Huberman techniques. Findings: The attitude of West Sumatera government that launches the program of "back to nagari (village) and back to surau” is a proper space to rebuild an old culture that is still relevant and is developed in the society toward modern culture. Islamic culture that initially evolves in the surau should be able to be developed with bringing religious mission. The art of local people that lives and evolves in sasaran is also resurrected with bringing the mission of Minangkabau customs.
How to Use Kinship Greetings in Everyday Life in Minangkabau and It`S Implementation in Scriptwriting Maryelliwati Maryelliwati; Efrinon Efrinon; Wahida Wahyuni; Ninon Syofia
Aksara Vol 34, No 2 (2022): AKSARA, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i2.1232.244-253

Abstract

This research problem is to reveal and describe how the people in Nagari Mungka use the patterns of kinship greeting forms in the Minangkabau language as a case example. Mungka is one of the areas that, until now, still uses the values of the Minangkabau language and culture well, so it is necessary to see how they use the greeting language in their daily kinship. Data were collected using questionnaires, interviews, cross-checks, data collection, and recording. In addition, free and unbound listening techniques were also used to collect data using the form of kinship greetings in a conversation. The analysis method was using sorting and classifying the data based on the type or category of kinship greeting forms through the kinship system in Minangkabau. The analysis results show the characteristics of Minangkabau culture in using patterns of kinship greeting forms such as pronouns, titles, kinship greetings, and kinship greetings added with pronouns and adjectives. Based on the findings, if a scriptwriter wants to write a traditional script in kinship greetings, it can refer to the use of kinship in Minangkabau. AbstrakMasalah penelitian ini adalah mengungkap dan mendeskripsikan bagaimana masyarakat di Nagari Mungka menggunakan pola-pola sapaan kekerabatan dalam bahasa Minangkabau sebagai contoh kasus. Mungka merupakan salah satu daerah yang sampai saat ini masih menggunakan nilai-nilai bahasa dan budaya Minangkabau dengan baik, sehingga perlu dilihat bagaimana mereka menggunakan bahasa sapaan tersebut dalam pergaulan sehari-hari. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket, wawancara, cek silang, pengumpulan data, dan pencatatan. Selain itu, teknik menyimak bebas dan tidak terikat juga digunakan untuk mengumpulkan data berupa sapaan kekeluargaan dalam percakapan. Metode analisis menggunakan pemilahan dan pengklasifikasian data berdasarkan jenis atau kategori bentuk sapaan kekerabatan melalui sistem kekerabatan di Minangkabau. Hasil analisis menunjukkan ciri-ciri budaya Minangkabau dalam menggunakan pola bentuk sapaan kekerabatan seperti kata ganti, gelar, sapaan kekerabatan, dan sapaan kekerabatan ditambah dengan kata ganti dan kata sifat. Berdasarkan temuan tersebut, jika seorang penulis naskah ingin menulis naskah adat dalam sapaan kekerabatan, dapat merujuk pada penggunaan kekerabatan di Minangkabau.