Claim Missing Document
Check
Articles

TRANSFORMASI PENDIDIKAN PESANTREN MELALUI PEMBINAAN KEAGAMAAN DAN KEGIATAN KREATIF DI MA’HAD BAHRUL HUDA TUBAN MELALUI PENGEMBANGAN KOMUNITAS BERBASIS ASET (ABCD) Moh. Syamsul Muarif; Moch. Nurcholis; Izzu Syakh Ahmad Baihaqi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): Volume 6 No 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i3.47796

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat di Ma’had Bahrul Huda Tuban dilatarbelakangi oleh pentingnya optimalisasi potensi internal pesantren dalam memperkuat pendidikan keagamaan dan keterampilan santri. Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan pesantren melalui pendekatan Asset-Based Community-Driven Development (ABCD), dengan menggali aset-aset lokal seperti budaya religius, kedisiplinan, sistem asrama, dan sumber daya manusia (ustadz dan pengurus) sebagai modal utama pengembangan. Metode pelaksanaan dibagi dalam lima tahapan: inkulturasi, penemuan aset, desain program, pelaksanaan prioritas, dan refleksi evaluatif. Empat program utama berhasil dijalankan, yaitu pembinaan fashohah dan tajwīd berbasis kitab At-Tajwīd al-Muyassar, kajian tematik akhlak dan fikih, pelatihan public speaking, serta pembinaan kesenian hadrah al-banjari. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kualitas bacaan Al-Qurʾān, pemahaman materi akhlak dan fikih, kepercayaan diri santri dalam berbicara di depan umum, serta kemampuan seni religius. Selain itu, pendekatan ABCD terbukti mampu meningkatkan partisipasi aktif santri dan pengurus dalam merancang dan melanjutkan program secara mandiri. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan berbasis aset lokal dapat menghasilkan dampak berkelanjutan, memperkuat kapasitas kelembagaan, serta membentuk karakter santri yang unggul dan mandiri.
PT Rumawan Pusaka Negeri: Perjalanan Usaha Pembibitan dan Kontribusinya Terhadap Penghijauan Nasional A. Fauzi Aziz; Moch. Nurcholis; Muhammad Asrori Ma’sum; Misbahus Sururi; Wildan Zaky Ulya
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 4 (2026): SWARNA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, April, 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v5i4.2097

Abstract

Kegiatan pembibitan tanaman memiliki peran strategis dalam mendukung pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan usaha pembibitan yang dilakukan oleh PT Rumawan Pusaka Negeri serta dampaknya terhadap aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif melalui observasi langsung, dokumentasi, dan analisis terhadap proses produksi, perawatan, serta pemasaran bibit tanaman. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa usaha pembibitan ini mampu memproduksi dan mendistribusikan bibit dalam jumlah besar, dengan capaian hingga 835.000 bibit pada tahun 2025 serta jangkauan distribusi yang luas di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap masyarakat sekitar melalui pembukaan lapangan kerja dan pemberdayaan ekonomi lokal. Dalam aspek lingkungan, usaha ini berkontribusi dalam mendukung program penghijauan dan rehabilitasi lahan yang bekerja sama dengan berbagai instansi, khususnya pemerintah. Meskipun demikian, terdapat kendala dalam akses pasar bagi penangkar serta ketergantungan pada proyek tertentu. Oleh karena itu, diperlukan penguatan strategi pemasaran dan diversifikasi pasar guna menjaga keberlanjutan usaha. Secara keseluruhan, usaha pembibitan ini menunjukkan potensi sebagai model usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan.
The Epistemology of Ijtihad Irsyadi in Fatwas: A Deconstruction of Takhrij Mażhabi through Case Studies of the Lirboyo Fatwa Council Muhammad Ibtihajuddin; Abdul Fattaah; Moch. Nurcholis; Zakka Asvi Auful Shohi Muhammad
Jurnal Al-Hakim: Jurnal Ilmiah Mahasiswa, Studi Syariah, Hukum dan Filantropi Vol. 7 No. 2 November 2025
Publisher : Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/jurnalalhakim.v7i02.12412

Abstract

The rigidity of the takhrīj mażhabi methodology in pesantren fatwa traditions necessitates a new epistemological approach that is more responsive to contemporary realities. This study aims to explore ijtihād irsyādi as a methodological alternative that maintains continuity with classical tradition while enabling contextual creativity grounded in maqāṣid al-sharī’ah. Employing a qualitative-descriptive-analytical-exploratory approach and a case study method focused on the fatwas of the Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Lirboyo from 2019 to 2024, the analysis reveals significant epistemological transformation in istinbath structures. Key findings demonstrate that ijtihād irsyadī prioritizes maslahat (public interest), referential flexibility, and social interpretation as legal foundations, replacing the deductive-formalistic patterns of madhhab-based takhrīj. This approach reinterprets classical authority through maqāṣid frameworks without negating its legitimacy, as evidenced in the 2023 BPJS Healthcare fatwa that teleologically reconstructs social insurance concepts via taḥrīr al-mafhūm (conceptual liberation), tanqīḥ al-manāṭ (ratio legis purification), and ta'līl maqāṣidī (teleological justification). The novelty lies in articulating an adaptive, integrative fatwa epistemology that proactively engages temporal dynamics, offering a reformative paradigm for Indonesian pesantren fatwa methodologies and a substantive contribution to renewing contemporary Islamic legal thought.
Saintifikasi Hukum Islam dalam Kasus Mahram Sepersusuan (Rad{a>’ah) Perspektif Sains Kedokteran dengan Teknik Komparasi Illat Hukum (Silogisme) Ahmad Amin Febrianto; Moch. Nurcholis; Muhammad Za'im Muhibbulloh
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 5 No 1 (2024): April
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/jaksya.v5i1.737

Abstract

Ketentuan tentang mahram sebab persamaan asupan air susu ibu (ASI) dimaknai oleh sarjana muslim klasik sebagai ajaran dogmatis semata. Dalam perkembangan selanjutnya dunia sains mengungkap data-data saintifik terkait persoalan kandungan ASI. Artikel ini berupaya mengkaitkan temuan sains yang rasional dengan ajaran agama yang bersifat dogmatis tersebut. Pertanyaan dalam artikel ini berkisar pada persoalan dampak ASI terhadap seorang anak perspektif sains kedokteran dan rasionalisasi mahram radha’ah dalam Islam perspektif sains kedokteran terhadap penetapan mahram seseorang anak. Persoalan tersebut penting untuk diungkap agar nilai-nilai ajaran agama dapat dipahami secara rasional oleh dunia modern. Penelitian kualitatif ini menggunakan data kepustakaan. Data kepustakaan diperoleh melalui metode dokumentasi. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan metode komparatif dengan paradigma berfikir induktif, penarikan kesimpulan menggunakan teknik siklus interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Artikel ini menyimpulkan dua hal. Pertama, ASI memiliki dampak yang signifikan terhadap tumbuh kembang bayi di awal masa kelahirannya, yakni sebagai asupan sempurna, pengawal bagi penyakit dan alergi dengan resiko kematian, menyempurnakan perkembangan otak dan mental, serta pembelajaran dari sisi psikis, sosial dan emosional. Kedua, alasan yang menyebabkan menyusui bayi dapat menjadikan mahram adalah disamakan dengan alasan mahram karena hubungan nasab, yaitu terdapat bagian dari tubuh orang tua yang masuk kedalam bayi dan menjadi bagian darinya. Telah ditemukan juga kesamaan manfaat dan kandungan yang terdapat didalam ASI sebagai perwakilan dari mahram sepersusuan dan mani sebagai perwakilan dari mahram sebab nasab.
Substantive Maturity In ‘Āishah’s Marriage Moch. Nurcholis; Mohammad Fajrul Falah Afandi; Maila Aflahul Karimah; Abdul Latif
Hikmatuna : Journal for Integrative Islamic Studies Vol 7 No 1 (2021): Hikmatuna: Journal for Integrative Islamic Studies, June 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/hikmatuna.v7i1.3319

Abstract

This study aims to analyze the substantive maturity of Aishah's marriage, where based on the hadist of the Prophet, Aishah married the Prophet at the age of 6 years and started married at the age of 9 years. The information contained in the hadith is closely related to the issue of child marriage in the mainstream discourse of protecting children's rights, particularly the rules for limiting the age of marriage that have been implemented so far. The method used in analyzing the above problems is descriptive with an approach to the history of Islamic law. This study notes that 'Aishah marriage has fulfilled the substantive maturity element, both physically which is marked by reproductive readiness and non- physical with indicators of intellectual maturity. Besides that, the age of marriage 'Aishah is done by determining the element of purpose (al-ḥadf) in the form of maturity quality and the component of means (al-wasīlah) in the form of age. Thus, this element has significance for religious legality guarantees related to the rules for the age limit of marriage that apply in Muslim countries.
Best Interest of the Child (Ḥifẓ al-Awlād) Principle in Adjudicating Marriage Dispensation for Under-Age Couples Moch. Nurcholis; Iffatin Nur; Abd. Holik; Ahmad Muhtadi Anshor
AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial Vol. 20 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Sharia IAIN Madura collaboration with The Islamic Law Researcher Association (APHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/al-lhkam.v20i2.15927

Abstract

Since the enactment of Law Number 16 of 2019, which amended Law Number 1 of 1974 on Marriage, the Religious Court of Malang Regency has experienced a significant surge in marriage dispensation applications compared to the period when the previous Marriage Law was still in effect. This research aims to construct the concept of maqāṣid asy-syarī’ah fī ḥifẓ al-awlād by analyzing judicial reasoning of judges in determining marriage dispensations at Malang Regency Religious Court. It specifically explores how judges’ interpretations of the best interests of the child can be formulated into a new derivative of maqāṣid theory. This research is a normative-empirical juridical research with a case approach. The data were collected through interviews with three male judges and two female judges from the Religious Court of Malang Regency. Informants were selected using purposive sampling, targeting judges with the most extensive experience in handling marriage dispensation cases. As data saturation had been reached, the number of informants was deemed qualitatively representative. Data were also obtained from official documentation of legally binding marriage dispensation rulings (inkracht van gewijsde). All data were analyzed using a descriptive-analytical approach, and conclusions were drawn through the application of an interactive cyclical method. The principle of the best interests of the child in determining marriage dispensations aims at providing protection for the child, both physically and psychologically. It includes the age of the prospective bride and groom, economic adequacy, reliable guidance and assistance from the family, and adequate religious safety and protection of children in the womb.