Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search
Journal : Lampuhyang

Implikatur Percakapan Guru dan Siswa dalam Aktivitas Belajar-Mengajar Bahasa Bali di Sekolah Dasar Negeri 5 Ulakan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Juliantari, Ni Kadek
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.164

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk implikatur fungsi implikatur percakapan guru dan siswa pada pembelajaran Bahasa Bali. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan dua ancangan, yaitu (1) ancangan pragmatik dan (2) etnografi komunikasi.Sumber data dalam penelitian ini adalah (1) percakapan dalam interaksi atau percakapan antara guru dan siswa di kelas dalam pembelajaran Bahasa bali, (2) konteks tuturan yang diperoleh melalui pengamatan dan pencatatan lapangan secara langsung. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, simpulan yang ditarik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Konstruksi kebahasaan IP pada tuturan guru, yakni konstruksi kebahasaan IP direktif. Konstruksi kebahasaan IP direktif yang berfungsi untuk menasihati, memerintah, dan meminta atau memohon menggunakan tuturan yang bermodus deklaratif dan interogatif. Sementara itu, bentuk atau konstruksi kebahasaan IP pada tuturan siswa, yaitu konstruksi kebahasaan IP direktif, konstruksi kebahasaan IP asertif, dan konstruksi kebahasaan IP ekspresif. Konstruksi kebahasaan IP ekspresif yang digunakan untuk menyatakan menyindir dan mengejek juga menggunakan tuturan yang bermodus deklaratif. Jadi, konstruksi kebahasaan IP asertif, direktif, dan ekspresif pada tuturan siswa lebih banyak bermodus deklaratif. (2) Fungsi yang cenderung tampak pada tuturan siswa dalam aktivitas belajar-mengajar bahasa Bali adalah fungsi IP direktif, yakni meminta atau memohon. Hal itu dapat dimaknai bahwa siswa bersikap santun melalui pilihan bahasa yang tepat saat menyampaikan permohonan atau pun permintaan. Permohonan atau permintaan tersebut pada umumnya disampaikan oleh siswa kepada mitra tuturnya (guru) secara tidak langsung melalui berbagai bentuk tuturan, yang salah satunya melalui bentuk interogatif (tanya). Jadi, maksud meminta atau memohon tersebut terselubung pada pilihan bahasa bahasa yang digunakan penutur.
Logika dalam Berbahasa Indonesia (Suatu Tinjauan Filsafat Bahasa) Wirahyuni, Kadek; Juliantari, Ni Kadek
LAMPUHYANG Vol 10 No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v10i1.175

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan logika dalam bahasa masyarakat, kaitan/hubungan antara fakta dan logika dalam berbahasa Indonesia, penggunaan kalimat efektif dalam kaitannya dengan logika berbahasa, dan salah nalar yang terjadi dalam berbahasa Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa Bahasa yang digunakan dalam masyarakat kadang kala tidak logis atau bahasa yamh mengandung ketidaknalaran. Kata ketidaknalaran mengandung pengertian adanya sesuatu yang tidak sesuai dengan nalar atau logika (logic). Ketidaklogisan atau kesalahnalaran itu tercermin dalam bahasa yang kita produksi dalam bentuk tutur. Ujaran atau tutur kita jadinya dapat mencerminkan cara kita berpikir, sehingga muncul ungkapan bahasa yang logis dan bahasa yang tidak logis. Bahasa ternyata tidak selalu tunduk kepada kebenaran fakta dan kebenaran penalaran secara logika. Di satu sisi bahasa harus tuntuk kepada logika dan di sisi lain bahasa tidak selamanya tunduk kepada logika. Penggunaan atau penataan kalimat juga berkaitan dengan logika. Kalau sebuah kalimat memiliki sebuah kata yang tidak berfungsi, kalimat tersebut disebut kalimat mubazir, dan dianggap tidak efektif. Adanya kata yang mubazir itu juga menyebabkan kalimat itu tidak benar dan tidak logis karena penutur tidak mengikuti alur penalaran yang benar. Ada beberapa corak berpikir salah atau salah nalar, yang dapat menghasilkan kalimat-kalimat yang tidak dapat diterima akal sehat atau tidak logis. Corak yang dapat menyebabkan salah nalar di antaranya adalah dalam wujud generalisasi atau stereotype.
Campur Kode dalam Komunikasi Antarpemandu Wisata di Candidasa Juliantari, Ni Kadek
LAMPUHYANG Vol 10 No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v10i2.180

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk dan faktor penyebab terjadinya campur kode oleh masyarakat Hindu yang bekerja sebagai pemandu wisata di daerah Candidasa. Data dikumpulkan melalui observasi dengan teknik perekaman dan pencatatan, serta wawancara. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan teknit interpretatif dan argumentatif sesuai data yang terkumpul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga bentuk campur kode dalam komunikasi antarpemandu wisata di Candidasa, yakni campur kode bahasa Inggris dalam pemakaian bahasa Bali (campur kode ke luar), campur kode bahasa Indonesia dalam pemakaian bahasa Bali (campur kode ke dalam), campur kode campuran (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia) dalam pemakaian bahasa Bali. Ada tujuh faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode, yakni (1) tidak baiknya penguasaan bahasa di kawasan wisata Candidasa, baik penguasaan bahasa Bali, bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, (2) adanya niat untuk menambah gengsi, (3) ingin menunjukkan kebolehan, (4) pencarian jati diri, (5) kebiasaan, (6) ingin bersenda gurau (melucu) dan (7) kesantaian (ketidakformalan) situasi pembicaraan.
Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Kearifan Lokal Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 2 No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v2i1.113

Abstract

Artikel mengenai pembelajaran bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penggunaan BI di masyarakat yang tidak mencerminkan kearifan lokal dan (2) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal. Artikel ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sementara metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi berbantuan catatan lapangan dan metode studi dokumentasi. Hasilnya adalah banyak ditemukan gejala penggunaan BI yang terjadi di masyarakat yang jauh dari harapan kompetensi komunikatif tersebut dan tidak mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal. Gejala penggunaan BI yang tidak santun, misalnya. Penggunaan bahasa yang tidak santun tersebut sangat memicu terjadinya konflik. Sementara itu, pembelajaran BI berbasis kearifan lokal dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan komunikatif, yakni dengan cara menampilkan beberapa contoh peristiwa komunikasi yang senyatanya dan selanjutnya menuntut siswa agar mampu mempraktikkan komunikasi sesuai dengan tata cara berkomunikasi atau etika berkomunikasi yang santun, yang di dalamnya terkandung nilai-nilai yang arif dan bijaksana.
Penulisan New Diary untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerpen Siswa Kelas IXC SMP Dharma Kirti Sengkidu Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 2 No 2 (2011)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v2i2.116

Abstract

penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan (1) membiasakan menulis new diary pada siswa, (2) meningkatkan kemampuan siswa menulis cerpen melalui penulisan new diary, (3) mendeskripsikan langkah-langkah kegiatan pembelajaran menulis cerpen melalui penulisan new diary, dan (4) mendeskripsikan respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran. PTK ini dilaksanakan melalui dua siklus. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IXC SMP Dharma Kirti Sengkidu, Tahun Ajaran 2008/2009 yang berjumlah 30 orang (14 laki-laki dan 16 perempuan), yang nilai rata-rata klasikalnya adalah 66,24. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi dokumentasi, metode penugasan, metode observasi, metode angket, dan metode wawancara. Metode studi dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan menulis new diary dan kemampuan menulis cerpen. Data tersebut dianalisis secara kualitatif. Sementara itu, data kemampuan menulis cerpen yang dikumpulkan dengan metode penugasan dianalisis secara kuantitatif. Metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data mengenai langkah-langkah pembelajaran. Datanya dianalisis secara kualitatif. Data respons siswa yang dikumpulkan dengan metode angket dianalisis secara kuantitatif, sedangkan yang dikumpulkan dengan metode wawancara dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian ini adalah (1) siswa mau dan mampu menulis new diary karena diberikan motivasi; (2) nilai menulis cerpen siswa adalah 72,63 pada siklus 1 dan 78,07 pada siklus 2; (3) menulis cerpen dapat dilakukan berdasarkan new diary; dan (4) siswa senang mengikuti pembelajaran tersebut. Dengan demikian, dapat ditarik simpulan bahwa (1) kemauan dan kemampuan menulis new diary dapat ditumbuhkembangkan dengan pemberian motivasi dan pelatihan; (2) dengan penulisan new diary, hasil menulis cerpen siswa dapat ditingkatkan; (3) belajar menulis cerpen dapat dilakukan dengan cara yang inovatif melalui penulisan new diary; dan (4) belajar dalam suasana menyenangkan membawa keberhasilan yang signifikan.
Deiksis Persona dan Deiksis Sosial dalam Bahasa Bali Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 3 No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v3i2.130

Abstract

Penulisan artikel tentang deiksis persona dan deiksis sosial dalam bahasa Bali ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai deiksis persona dan deiksis sosial dalam bahasa Bali dan mendeskripsikan penggunaan deiksis persona dan deiksis sosial tersebut dalam peristiwa percakapan sehari-hari. Penyajian hasil dalam penulisan artikel ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Maksudnya, paparan hasil disajikan apa adanya sesuai gejala yang diamati secara objektif dan disampaikan secara naratif verbal (tanpa statistik). Sementara itu, metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi atau metode simak berbantuan penggunaan catatan lapangan. Hasilnya menunjukkan bahwa nama generik telah menjadi bagian dari deiksis persona. Walaupun nama diri hanya ditujukan kepada pemilik nama tersebut, tetapi tetap dikatakan sebagai deiksis persona. Nama diri mengacu kepada penutur atau petutur dalam konteks tertentu. Tidak menutup kemungkinan bahwa ada nama diri yang sama dimiliki pula oleh orang lain sehingga acuan nama diri tersebut pun akan berubah sesuai konteksnya.
Implikatur Percakapan Guru dan Siswa dalam Aktivitas Belajar-Mengajar Bahasa Bali di Sekolah Dasar Negeri 5 Ulakan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.164

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk implikatur fungsi implikatur percakapan guru dan siswa pada pembelajaran Bahasa Bali. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan dua ancangan, yaitu (1) ancangan pragmatik dan (2) etnografi komunikasi.Sumber data dalam penelitian ini adalah (1) percakapan dalam interaksi atau percakapan antara guru dan siswa di kelas dalam pembelajaran Bahasa bali, (2) konteks tuturan yang diperoleh melalui pengamatan dan pencatatan lapangan secara langsung. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, simpulan yang ditarik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Konstruksi kebahasaan IP pada tuturan guru, yakni konstruksi kebahasaan IP direktif. Konstruksi kebahasaan IP direktif yang berfungsi untuk menasihati, memerintah, dan meminta atau memohon menggunakan tuturan yang bermodus deklaratif dan interogatif. Sementara itu, bentuk atau konstruksi kebahasaan IP pada tuturan siswa, yaitu konstruksi kebahasaan IP direktif, konstruksi kebahasaan IP asertif, dan konstruksi kebahasaan IP ekspresif. Konstruksi kebahasaan IP ekspresif yang digunakan untuk menyatakan menyindir dan mengejek juga menggunakan tuturan yang bermodus deklaratif. Jadi, konstruksi kebahasaan IP asertif, direktif, dan ekspresif pada tuturan siswa lebih banyak bermodus deklaratif. (2) Fungsi yang cenderung tampak pada tuturan siswa dalam aktivitas belajar-mengajar bahasa Bali adalah fungsi IP direktif, yakni meminta atau memohon. Hal itu dapat dimaknai bahwa siswa bersikap santun melalui pilihan bahasa yang tepat saat menyampaikan permohonan atau pun permintaan. Permohonan atau permintaan tersebut pada umumnya disampaikan oleh siswa kepada mitra tuturnya (guru) secara tidak langsung melalui berbagai bentuk tuturan, yang salah satunya melalui bentuk interogatif (tanya). Jadi, maksud meminta atau memohon tersebut terselubung pada pilihan bahasa bahasa yang digunakan penutur.
Logika dalam Berbahasa Indonesia (Suatu Tinjauan Filsafat Bahasa) Kadek Wirahyuni; Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 10 No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v10i1.175

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan logika dalam bahasa masyarakat, kaitan/hubungan antara fakta dan logika dalam berbahasa Indonesia, penggunaan kalimat efektif dalam kaitannya dengan logika berbahasa, dan salah nalar yang terjadi dalam berbahasa Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa Bahasa yang digunakan dalam masyarakat kadang kala tidak logis atau bahasa yamh mengandung ketidaknalaran. Kata ketidaknalaran mengandung pengertian adanya sesuatu yang tidak sesuai dengan nalar atau logika (logic). Ketidaklogisan atau kesalahnalaran itu tercermin dalam bahasa yang kita produksi dalam bentuk tutur. Ujaran atau tutur kita jadinya dapat mencerminkan cara kita berpikir, sehingga muncul ungkapan bahasa yang logis dan bahasa yang tidak logis. Bahasa ternyata tidak selalu tunduk kepada kebenaran fakta dan kebenaran penalaran secara logika. Di satu sisi bahasa harus tuntuk kepada logika dan di sisi lain bahasa tidak selamanya tunduk kepada logika. Penggunaan atau penataan kalimat juga berkaitan dengan logika. Kalau sebuah kalimat memiliki sebuah kata yang tidak berfungsi, kalimat tersebut disebut kalimat mubazir, dan dianggap tidak efektif. Adanya kata yang mubazir itu juga menyebabkan kalimat itu tidak benar dan tidak logis karena penutur tidak mengikuti alur penalaran yang benar. Ada beberapa corak berpikir salah atau salah nalar, yang dapat menghasilkan kalimat-kalimat yang tidak dapat diterima akal sehat atau tidak logis. Corak yang dapat menyebabkan salah nalar di antaranya adalah dalam wujud generalisasi atau stereotype.
Campur Kode dalam Komunikasi Antarpemandu Wisata di Candidasa Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 10 No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v10i2.180

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk dan faktor penyebab terjadinya campur kode oleh masyarakat Hindu yang bekerja sebagai pemandu wisata di daerah Candidasa. Data dikumpulkan melalui observasi dengan teknik perekaman dan pencatatan, serta wawancara. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan teknit interpretatif dan argumentatif sesuai data yang terkumpul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga bentuk campur kode dalam komunikasi antarpemandu wisata di Candidasa, yakni campur kode bahasa Inggris dalam pemakaian bahasa Bali (campur kode ke luar), campur kode bahasa Indonesia dalam pemakaian bahasa Bali (campur kode ke dalam), campur kode campuran (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia) dalam pemakaian bahasa Bali. Ada tujuh faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode, yakni (1) tidak baiknya penguasaan bahasa di kawasan wisata Candidasa, baik penguasaan bahasa Bali, bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, (2) adanya niat untuk menambah gengsi, (3) ingin menunjukkan kebolehan, (4) pencarian jati diri, (5) kebiasaan, (6) ingin bersenda gurau (melucu) dan (7) kesantaian (ketidakformalan) situasi pembicaraan.
Penerapan Strategi Deep Dialogue and Critical Thingking Berbasis Reward untuk Meningkatkan Respons dan Hasil Belajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti I Wayan Putu Suastika; Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 12 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan respons dan hasil belajarPendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Siswa Kelas X Bahasa 2 Sekolah MenengahAtas Giri Natha Karangasem pada semester II tahun pelajaran 2018/2019. Dalam penelitianini, peneliti mengambil subjek kelas X Bahasa 2. Jumlah subjek penelitian adalah 23 siswa.Objek penelitian yang diambil meliputi respons dan hasil belajar Pendidikan Agama Hindudan Amlapura siswa kelas X Bahasa 2 Sekolah Menengah Atas Giri Natha Karangasempada semester 2 tahun pelajaran 2018/2019. Hasil analisis data menunjukkan bahwapenerapan model pembelajaran deep dialogue and critical thingking dapat meningkatkanrespons dan hasil belajar siswa. Dari respons siklus I, 117,12 dengan kategori positifkemudian meningkat ke siklus II menjadi 120,79 dengan kategori sangat positif. Rata-ratapra siklus 68,31, pada siklus I menjadi 69,34 dan 77,42 pada siklus II. Daya serap pra siklus39,13 % menjadi 69,78% pada siklus I dan 79,34% pada siklus II. Ketuntasan klasikal prasiklus 39,13 % menjadi 65,21% pada siklus I dan 91,30% pada siklus II. Berdasarkan hasiltersebut, maka dalam penelitian ini diajukan beberapa saran yakni : 1) kepada guru agarmenggunakan model pembelajaran Deep Dialogue and Critical Thingking (DDCT) sebagaialternatif model pembelajaran di kelas; 2) bagi peneliti lain lebih lanjut agarmemperhatikan kendala-kendala yang peneliti alami sebagai bahan pertimbangan untukpenyempurnaan proses maupun penelitian yang dilaksanakan.