Anita Joeliantina
Department Of Nursing, Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya Anita@poltekkesdepkes-sby.ac.id (Corresponding Author)

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Optimisation of the role of families of chronic hypertension patients based on the mcmaster model of family functioning in self-care agency Proboningsih, Jujuk; Sriyono, Sriyono; Ambarwati, Rini; Wuryaningsih, Sri Hardi; Joeliantina, Anita
Jurnal Ners Vol. 20 No. 2 (2025): VOLUME 20 ISSUE 2 MAY 2025
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jn.v20i2.65083

Abstract

Introduction: This study aims to analyse the impact of the McMaster Model of Family Functioning (MMFF) on the self-care agency of patients with chronic hypertension in Surabaya. Methods: This study employs an analytical observational design with a cross-sectional approach, involving 300 respondents from families of patients with hypertension who meet the inclusion criteria. The independent variables examined include the six dimensions of the McMaster Model of Family Functioning (MMFF): problem-solving, communication, family roles, affective responsiveness, affective involvement, and behaviour control. Meanwhile, the dependent variable is self-care agency, which consists of medication, physical activity, and diet. Hypothesis testing was conducted using SEM-PLS, which was processed with SmartPLS 4.0.4 software. Results: The analysis results indicate that the MMFF has a positive and significant effect on self-care agency, with a coefficient of 0.340 (CI = 0.247 – 0.445). The effect size result obtained an effect size value of 0.131. Structured and adaptive family support, particularly in communication and affective involvement, has enhanced patients' motivation to adhere to medication and engage in self-care activities. Conclusions: This study expands on previous research on the role of family support in self-care agencies, by involving the McMaster Family Function Model (MMFF) to analyse the specific role of family functions in improving self-care agencies in chronic hypertension patients, thus providing a more comprehensive, contextual, and relevant perspective for family-based interventions. These results also enrich other theoretical studies, namely the Family-Centred Care (FCC) Model, Social Support Theory, and Health Belief Model (HBM).
Faktor Body Image Pada Remaja Kelas X Di SMAN 3 Tuban Happy April Yanita; Padoli; Anita Joeliantina; Teresia Retna Puspitadewi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 9 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i9.1903

Abstract

Body image merupakan gambaran atau penilaian yang dimiliki oleh seseorang terhadap kondisi fisik yang dimilikinya. Body image sendiri terbagi menjadi dua, yaitu body image positif dan body image negatif. Body image remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu jenis kelamin, media sosial, hubungan interpersonal dan self esteem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor body image pada remaja kelas X di SMAN 3 Tuban. Desain penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 3 Tuban yaitu sebanyak 331 remaja. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Penelitian ini menggunakan sample sebanyak 154 remaja. Variabel penelitian adalah faktor body image pada remaja. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner faktor body image pada remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (60%) faktor-faktor yang mempengaruhi body image remaja adalah media massa dan berjenis kelamin perempuan. Media massa sangatlah berpengaruh pada body image remaja. Perempuan sangat mudah terpengaruh body image-nya baik melalui media massa, hubungan interpersonal maupun self-esteem. Namun media massa paling besar perannya bagi body image remaja. Remaja harus lebih selektif dalam penggunaan media massa, pembekalan tentang rasa syukur dan body image perlu diajarkan di sekolah maupun keluarga untuk meningkatkan body image yang positif
Gaya Hidup Pasien Penyakit Jantung Koroner Di Poli Jantung RSUD dr. R. Koesma Tuban Rossy Sinta Nurbaya; Anita Joeliantina; Padoli; Minarti
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1960

Abstract

Secara global, Penyakit Jantung Koroner termasuk faktor kematian tertinggi di antara penyakit lainnya, bersama Tingkat prevalensi tinggi di Indonesia. Diabetes Mellitus (DM) sebagai faktor risiko memperburuk kondisi pasien PJK. Aspek kebiasaan sehari-hari yang menambahkan potensi bahaya kesehatan, termasuk pola makan yang tidak sehat, rendahnya tingkat aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok, dan kurang istirahat menjadi penyebab utama. Menganalisa dan memaparkan ciri khas gaya hidup pasien Penyakit Jantung Koroner di Poli Jantung RSUD Dr. R. Koesma Tuban merupakan tujuan penelitian. Studi ini menggunakan desain deskriptif melalui pendekatan cross-sectional. Dengan populasi berjumlah 112 pasien PJK, dengan sampel sebanyak 74 pasien dipilih menggunakan metode purposive sampling. Data diperoleh melalui kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif. Data dan temuan yang diperoleh melalui penelitian ini, kebanyakan responden berada antara umur 60 hingga 74 tahun (47,3%), berjenis kelamin laki-laki (54,1%), berpendidikan rendah (hampir setengahnya tidak sekolah), dan tidak bekerja (57,3%). Sebanyak 89,2% pasien memiliki gaya hidup yang tidak sehat, ditandai oleh aktivitas fisik yang kurang, pola makan tinggi lemak, serta kebiasaan istirahat yang kurang. Seluruh pasien mengonsumsi makanan yang disediakan keluarga, dan sebagian besar belum pernah menjalani tindakan operasi atau kateterisasi jantung. Data yang dihasilkan dari penelitian ini memperlihatkan bahwa gaya hidup pasien PJK sangat dipengaruhi oleh faktor sosiodemografis seperti usia lanjut, rendahnya pendidikan, dan status pekerjaan. Rendahnya tingkat aktivitas fisik dan konsumsi makanan yang tidak seimbang termasuk masalah utama yang dapat memperburuk kondisi pasien. Hal ini menegaskan pentingnya peran tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi yang konsisten dan berkelanjutan kepada pasien dan keluarga, serta perlunya pengembangan program promotif dan preventif oleh fasilitas kesehatan untuk mendukung perubahan gaya hidup yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Pengaruh Kecanduan Smartphone Terhadap Tingkat Aktivitas Fisik Pada Remaja Di SMA Negeri 4 Tuban Shinta Nurul Fadhila; Titik Sumiatin; Su’udi; Anita Joeliantina
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1984

Abstract

Kecanduan smartphone seringkali menyebabkan dampak negatif pada kehidupan sehari-hari seperti malas beraktivitas, gangguan emosi, dan gangguan tidur. Tujuan umum yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kecanduan smartphone terhadap tingkat aktivitas fisik pada remaja di SMA Negeri 4 Tuban. Pengembangan ilmu keperawatan tentang aktivitas fisik pada remaja sangat diharapkan dengan terlaksananya penelitian ini. Penelitian ini mengambil desain korelasional dimana menggunakan pendekatan cross-sectional. Dari 256 siswa kelas X sebagai populasi, dengan mengacu pada kriteria serta teknik purposive sampling, maka sebanyak 156 siswa akan dilibatkan dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai instrumen, dan proses analisis dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Dari hasil penelitian didapatkan 50% remaja yang kecanduan smartphone memiliki tingkat aktivitas fisik rendah. Nilai uji Chi-Square <0.001 menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kecanduan smartphone dengan tingkat aktivitas fisik remaja. Dengan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat kecanduan smartphone, maka secara signifikan akan semakin rendah aktivitas fisik pada remaja. Temuan ini menegaskan pentingnya peran bersama dari sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan dalam menangani kecanduan smartphone. Pendekatan yang bisa dilakukan meliputi sosialisasi, pembatasan penggunaan smartphone di luar jam belajar, dan peningkatan kegiatan fisik yang menyenangkan. Membangun kesadaran siswa terhadap pentingnya aktivitas fisik serta risiko dari penggunaan smartphone berlebihan juga sangat dibutuhkan. Upaya ini dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi perkembangan remaja.
Hubungan Kecanduan Telepon Pintar (Smartphone Addiction) Dengan Kecenderungan Perilaku Phone Snubbing (Phubbing) Pada Remaja Kelas X Di SMAN 3 Tuban Dinda Ailsa Vania; Padoli; Anita Joeliantina; Titik Sumiatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 11 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i11.1987

Abstract

Indonesia memiliki tingkat kecanduan smartphone tertinggi di dunia, dengan lebih dari 19% remaja mengalami kecanduan. Data menunjukkan peningkatan signifikan dalam durasi online remaja, dari 7,27 jam menjadi 11,6 jam per hari (peningkatan 59,7%) pada 2.933 remaja yang disurvei di 34 provinsi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecanduan smartphone dengan kecenderungan perilaku phubbing remaja di SMAN 3 Tuban. Desain penelitian ini diklasifikasikan sebagai studi correlational dengan pendekatan cross-sectional. Populasi yang diteliti terdiri dari 251 siswa, dengan jumlah sampel sebanyak 154 siswa yang dipilih menggunakan teknik probability sampling melalui metode simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner SAS-SV dan PS. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank Correlation. Hasil penelitian terhadap 154 siswa SMAN 3 Tuban menunjukkan bahwa sebagian besar berada pada tingkat kecanduan smartphone sedang sebanyak 97 orang (63%), dengan kecenderungan perilaku phubbing hampir setengahnya berada pada kategori sedang sebanyak 50 orang (32,5%). Uji Spearman Rank Correlation dengan taraf signifikansi <0,05, menghasilkan nilai p-value <0,001, menandakan hubungan yang signifikan antara kecanduan smartphone dan perilaku phubbing, dengan koefisien korelasi -0,595 yang menunjukkan hubungan kuat dan negatif. Kecanduan smartphone di kalangan remaja telah menjadi fenomena global yang memengaruhi dinamika sosial sehari-hari. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya perilaku phubbing, di mana remaja lebih memilih interaksi digital daripada komunikasi langsung dengan orang di sekitarnya. Kondisi ini menyoroti perlunya pendidikan digital yang seimbang dan dorongan untuk membangun kesadaran akan pentingnya koneksi antarmanusia di era teknologi yang kian mendominasi.
Identification of Foot Complaints in Patients with DM, Descriptive Study Joeliantina, Anita
Global Ten Public Health and Nursing Journal Vol. 3 No. 4 (2025): December
Publisher : Prodi keperawatan sidoarjo, politeknik kesehatan kemenkes surabaya indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetic foot ulcers (DFUs) are a common complication of diabetes mellitus (DM) and cause significant morbidity and mortality. Diabetic feet exhibit various structural and functional changes compared to non-diabetic feet. The purpose of this study was to identify foot complaints commonly experienced by patients with DM. This study employed a descriptive design with a cross-sectional approach. The sample size was 200 adult patients with DM selected using a purposive sampling technique. Patients with DM were asked to provide written consent before completing the questionnaire. This study used descriptive analysis, using a frequency distribution table. Data on foot complaints of patients with DM showed that numbness or thickening of the feet was present in 28.5%, tingling in 32.5%, and numbness in the feet was less common, with only 7.0% reporting consistent experience. Meanwhile, 13.0% experienced itchy feet, and only 3.0% reported persistent reddish feet. Blackish feet, a more serious condition, were recorded with 12.5% reporting persistent blackness. Swelling in the feet was reported by 6.0% and pain in the feet was reported by 15.0%. All patients with diabetes in the study experienced complaints in their feet, some even having more than one foot complaint. Among these foot complaints, numbness/thickness, tingling, and pain are common among patients with diabetes. Patients with DM should receive accurate information to identify foot complaints of developing Diabetic foot ulcer and to prevent them by performing proper and regular foot care