Claim Missing Document
Check
Articles

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS INKUIRI PADA MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH MANUSIA DI UPTD SMP NEGERI 4 GUNUNG SITOLI SELATAN Laia, Aldin Putra Jaya; Zega, Novelina Andriani; Waruwu, Toroziduhu; Gulo, Hardikupatu
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i1.9773

Abstract

teaching materials that have not yet encouraged students to think critically and solve problems independently in science learning at UPTD SMP Negeri 4 Gunungsitoli Selatan. This condition indicates the need for more innovative teaching materials that promote active student involvement in the learning process. This study aims to develop an inquiry-based module on the topic of the human circulatory system for eighth-grade junior high school students and to determine its feasibility, practicality, and effectiveness. The study employed a research and development method using the 4-D model consisting of define, design, develop, and disseminate stages. Data were collected through expert validation, student response questionnaires, and learning outcome tests. The results showed that the developed module obtained a very high level of validity from experts, a very high level of practicality based on student trials, and an effectiveness level that indicated improvement in student learning outcomes. These findings indicate that the inquiry-based module can support more active learning and help students better understand the concept of the human circulatory system. Therefore, the developed inquiry-based module is considered feasible, practical, and effective to be used as a teaching material in science learning for eighth-grade junior high school students. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penggunaan bahan ajar yang belum mampu mendorong peserta didik berpikir kritis dan memecahkan masalah secara mandiri pada pembelajaran IPA di UPTD SMP Negeri 4 Gunungsitoli Selatan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengembangan bahan ajar yang lebih inovatif dan berorientasi pada keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul berbasis inkuiri pada materi sistem peredaran darah manusia kelas VIII SMP serta mengetahui tingkat kelayakan, kepraktisan, dan efektivitasnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan dengan model 4-D yang meliputi tahap define, design, develop, dan disseminate. Pengumpulan data dilakukan melalui validasi ahli, respons peserta didik, serta tes hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan memperoleh tingkat validitas sangat layak dari para ahli, tingkat kepraktisan yang sangat tinggi berdasarkan uji coba kepada peserta didik, serta tingkat efektivitas yang menunjukkan peningkatan hasil belajar. Temuan ini menunjukkan bahwa modul berbasis inkuiri dapat mendukung pembelajaran yang lebih aktif dan membantu peserta didik memahami konsep sistem peredaran darah manusia secara lebih baik. Dengan demikian, modul berbasis inkuiri yang dikembangkan dinyatakan layak, praktis, dan efektif untuk digunakan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran IPA di kelas VIII SMP.
PENGARUH PENGGUNAAN E-MODUL TERHADAP PENINGKATAN LITERASI SAINS PESERTA DIDIK DI SMP NEGERI 1 GUNUNGSITOLI ALO'OA Hulu, Mistariani Putri; Zega, Novelina Andriani; Waruwu, Toroziduhu; Gulo, Hardikupatu
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i1.9823

Abstract

ABSTRACT The low level of students’ scientific literacy, particularly in the aspects of concept application and scientific reasoning, indicates a gap between the demands of the Merdeka Curriculum and teacher-centered instructional practices at SMP Negeri 1 Gunungsitoli Alo’oa. The use of interactive digital media has not been optimized, highlighting the need for more contextual and participatory learning innovations. This study aims to analyze the effect of E-module implementation on improving students’ scientific literacy. The research employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a Nonequivalent Control Group Design. The sample consisted of two purposively selected classes: an experimental class (using E-modules) and a control class (conventional learning). Data were collected through valid and reliable scientific literacy tests and questionnaires and analyzed using an Independent Samples t-test (α = 0.05). The results revealed a significant difference (Sig. < 0.05), with the experimental class achieving higher mean scores. These findings confirm that E-modules effectively enhance scientific literacy and provide empirical support for strengthening digital learning implementation within the Merdeka Curriculum at the junior secondary level. ABSTRAK Rendahnya literasi sains peserta didik, khususnya pada aspek penerapan konsep dan penalaran ilmiah, menunjukkan adanya kesenjangan antara tuntutan Kurikulum Merdeka dan praktik pembelajaran yang masih berpusat pada guru di SMP Negeri 1 Gunungsitoli Alo’oa. Pemanfaatan media digital interaktif belum optimal, sehingga diperlukan inovasi pembelajaran yang lebih kontekstual dan partisipatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penggunaan E-modul terhadap peningkatan literasi sains siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment tipe Nonequivalent Control Group Design. Sampel terdiri atas dua kelas yang dipilih secara purposive, yaitu kelas eksperimen (menggunakan E-modul) dan kelas kontrol (pembelajaran konvensional). Data dikumpulkan melalui tes dan angket literasi sains yang valid dan reliabel, kemudian dianalisis menggunakan Independent Sample t-test (α = 0,05). Hasil menunjukkan perbedaan signifikan (Sig. < 0,05) dengan rata-rata literasi sains kelas eksperimen lebih tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa E-modul efektif meningkatkan literasi sains dan memberikan kontribusi empiris terhadap penguatan pembelajaran digital berbasis Kurikulum Merdeka di tingkat SMP.
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KREATIVITAS DAN KOLABORASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPA Gowasa, Desdayanti; Harefa, Agnes Renostini; Telaumbanua, Desman; Waruwu, Toroziduhu
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i2.9860

Abstract

ABSTRACT This study aims to determine the effect of the Problem Based Learning model on students' creativity and collaboration in science learning. The study is motivated by the importance of developing 21st-century skills, particularly creative thinking and collaboration, which still need improvement in classroom learning. The Problem Based Learning model is applied because it uses contextual problems as the starting point of learning, encouraging students to think creatively, discuss ideas, and collaborate to find solutions. This research employed a quantitative approach using a quasi-experimental design with a posttest only control design. The sample consisted of 23 students in the experimental class and 24 students in the control class selected through random sampling. The research instruments included a creativity test, a collaboration questionnaire, and a collaboration observation sheet. The data analysis results showed that the Independent Sample t-test for creativity obtained a sig. (2-tailed) value of 0.000 < 0.05 and the collaboration test also obtained a sig. (2-tailed) value of 0.000 < 0.05. In addition, the MANOVA test showed a significance value of 0.000 < 0.05, indicating that the Problem Based Learning model simultaneously affects students' creativity and collaboration. These findings indicate that the Problem Based Learning model is effective in improving students' creativity and collaboration in science learning. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh model Problem Based Learning terhadap kreativitas dan kolaborasi siswa dalam pembelajaran IPA. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pengembangan keterampilan abad ke-21, khususnya kemampuan berpikir kreatif dan bekerja sama yang masih perlu ditingkatkan dalam proses pembelajaran di sekolah. Model Problem Based Learning digunakan karena menempatkan masalah kontekstual sebagai titik awal pembelajaran sehingga mendorong siswa berpikir kreatif, berdiskusi, dan berkolaborasi dalam menemukan solusi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu (Quasi-Experimental Design) tipe posttest only control design. Sampel penelitian terdiri dari 23 siswa pada kelas eksperimen dan 24 siswa pada kelas kontrol yang dipilih melalui teknik random sampling. Instrumen penelitian meliputi tes kreativitas, angket kolaborasi, dan lembar observasi kolaborasi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa uji Independent Sample t-test pada kreativitas memperoleh nilai sig. (2-tailed) 0,000 < 0,05 dan pada kolaborasi juga memperoleh nilai sig. (2-tailed) 0,000 < 0,05. Selain itu, uji MANOVA menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 yang menegaskan bahwa model Problem Based Learning secara simultan berpengaruh terhadap kreativitas dan kolaborasi siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa model Problem Based Learning efektif meningkatkan kreativitas dan kemampuan kolaborasi siswa dalam pembelajaran IPA.
PENGEMBANGAN VIDEO PEMBELAJARAN BERBASIS DISCOVERY LEARNING PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI Bu'ulolo, Three Putri Nirmala; Waruwu, Toroziduhu; Zega, Novelina Andriani; Gulo, Hardikupatu
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i2.9865

Abstract

ABSTRACT The rapid development of educational technology demands innovative learning media that can enhance student engagement and learning outcomes. However, Biology instruction at SMA Negeri 1 Susua is still dominated by lecture-based methods and textbooks, resulting in low student participation and learning outcomes that have not reached the Minimum Mastery Criteria (KKM). This condition indicates a gap between the demands of 21st-century student-centered learning and the current teacher-centered instructional practices, highlighting the need for media that facilitate independent concept discovery. This study aimed to develop a Discovery Learning–based instructional video for Grade XI Biology and to evaluate its feasibility, practicality, and effectiveness. This study employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model (analysis, design, development, implementation, and evaluation). The research subjects were 26 students of class XI-MIPA. The instruments included expert validation sheets, student response questionnaires, and learning outcome tests, which were analyzed descriptively using a Likert scale and percentage techniques. The results showed that the developed video achieved a feasibility level of 82.29% (feasible) and a practicality level of 88.53% (very practical). The average learning outcome score reached 81.92 with a classical mastery level of 84.62%. Therefore, the Discovery Learning–based instructional video developed in this study is considered feasible, practical, and effective for Biology learning. ABSTRAK Perkembangan teknologi pendidikan menuntut inovasi media pembelajaran yang mampu meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar peserta didik. Namun, pembelajaran Biologi di SMA Negeri 1 Susua masih didominasi metode ceramah dan buku paket sehingga partisipasi siswa rendah dan hasil belajar belum mencapai KKM. Kondisi ini menunjukkan kesenjangan antara tuntutan pembelajaran abad ke-21 yang berpusat pada siswa dengan praktik pembelajaran yang masih berpusat pada guru, sehingga diperlukan media yang mendorong penemuan konsep secara mandiri. Penelitian ini bertujuan mengembangkan video pembelajaran berbasis Discovery Learning pada mata pelajaran Biologi kelas XI serta menilai kelayakan, kepraktisan, dan efektivitasnya. Penelitian ini merupakan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (analisis, desain, pengembangan, implementasi, evaluasi). Subjek penelitian adalah 26 peserta didik kelas XI-MIPA. Instrumen meliputi lembar validasi ahli, angket respon siswa, dan tes hasil belajar yang dianalisis secara deskriptif menggunakan skala Likert dan persentase. Hasil menunjukkan tingkat kelayakan sebesar 82,29% (layak) dan uji kepraktisan sebesar 88,53% (sangat praktis). Nilai rata-rata hasil belajar mencapai 81,92 dengan ketuntasan klasikal 84,62%. Dengan demikian, video pembelajaran berbasis Discovery Learning yang dikembangkan dinyatakan layak, praktis, dan efektif untuk pembelajaran Biologi.
Analisis Pengelolaan Kelas Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Proses Pembelajaran IPA Telaumbanua, Delvi Wardani; Waruwu, Toroziduhu; Telaumbanua, Desman; Gulo, Hardikupatu
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 8, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v8i1.11140

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pengelolaan kelas yang efektif dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif, khususnya dalam meningkatkan minat belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan pengelolaan kelas oleh guru pada proses pembelajaran IPA di Kelas VIII-2 MTs Nu Gunungsitoli. (2) Mendeskripsikan pengelolaan kelas yang diterapkan guru dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam proses pembelajaran IPA di Kelas VIII-2 MTs Nu Gunungsitoli. (3) Mengetahui Kendala yang dihadapai oleh guru dalam pengelolaan kelas pada proses pembelajaran IPA di kelas VIII-2 MTs Nu Gunungsitoli. Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif  dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian yaitu peserta didik kelas VIII pada Tahun Pelajaran 2024/2025 dengan jumlahnya sebanyak 30 orang. Instrument penelitian yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan penyebaran angket kepada siswa. Lokasi Penelitian di MTs Nu Gunungsitoli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pengelolaan kelas oleh guru di kelas VIII-2 MTs NU Gunungsitoli telah berjalan dengan sangat baik , mencakup pengaturan fisik kelas, manajemen waktu, aturan yang konsisten, dan interaksi yang baik, berkontribusi pada suasana belajar yang kondusif. (2) Hasil angket menunjukkan bahwa pengelolaan kelas berdampak positif dengan nilai rata-rata 79,3%, sementara minat belajar siswa mencapai 77,9%. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan kelas yang baik berdampak positif terhadap peningkatan minat belajar siswa secara signifikan. (3) Terdapat beberapa kendala dalam pengelolaan kelas seperti kurangnya fokus siswa, gangguan dalam kelas, waktu terbatas, dan keterbatasan sarana perlu diatasi.
Pengaruh Model Pembelajaran Treffinger Terhadap Hasil Belajar IPA Gulo, Hardikupatu; Waruwu, Toroziduhu
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 8, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v8i1.10837

Abstract

Model pembelajaran Treffinger adalah pembelajaran aktif yang mampu memberikan kesempatan kepada Peserta Didik untuk memahami konsep yang mendorong Peserta Didik untuk berfikir kreatif dalam memecahkan suatu masalah dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan ada tidaknya pengaruh yang signifikan model pembelajaran Treffinger terhadap hasil belajar Peserta Didik pada mata pelajaran IPA. Sampel penelitian yaitu kelas VIII-1 dengan jumlah Peserta Didik 18 orang sebagai kelas Eksperimen dan kelas VIII-3 dengan jumlah Peserta Didik 17 orang sebagai kelas Kontrol. Desain penelitian yaitu Quasy Experimen. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa “ada pengaruh yang signifikan model pembelajaran Treffinger terhadap hasil belajar Peserta Didik pada mata pelajaran sesuai dengan uji hipotesis hasil belajar diperoleh nilai t-hitung = 4,489 dan ttabel = 2,035, karena nilai t-hitung tidak terletak pada interval -2,035 ≤ thitung ≤ 2,035 sehingga Ha diterima dan H0 ditolak artinya ada pengaruh penerapan model pembelajaran Treffinger terhadap hasil belajar Peserta Didik pada mata pelajaran IPA ”.
Optimalisasi Kompetensi Guru melalui Pelatihan Media Pembelajaran Berbasis Augmented Reality (AR) di SMP Negeri 3 Sitolu’ori, Nias Utara Toroziduhu Waruwu; Novelina Andriani Zega; Hardikupatu Gulo; Agnes Renostini Harefa; Dasari Waruwu; Nofamataro Zebua; Ester Novi Kurnia Zebua
Kolaborasi : Jurnal Hasil Kegiatan Kolaborasi Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2026): Juni: Kolaborasi : Jurnal Hasil Kegiatan Kolaborasi Pengabdian
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Matematika dan Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/kolaborasi.v4i2.983

Abstract

Digital transformation in education requires teachers to be capable of integrating technology into the learning process. However, in reality, the utilization of digital media in schools remains suboptimal, particularly in the use of Augmented Reality (AR)-based learning media. This study aims to analyze the optimization of teachers’ competencies through AR-based learning media training at SMP Negeri 3 Sitolu’ori. The study employed a quantitative descriptive approach with a hands-on practice-based training design. The research subjects consisted of 19 teachers from various subject areas selected using purposive sampling techniques. Data were collected through observations, questionnaires, interviews, and documentation, and were analyzed using descriptive statistics and interactive analysis. The results showed that all research instruments were valid and highly reliable, with Cronbach’s Alpha values of 0.973 and 0.981. Most teachers demonstrated positive perceptions toward the use of AR media, with 87% categorized as good and very good. The training was also considered effective in improving teachers’ readiness, understanding, and confidence in developing technology-based learning. The findings indicate that AR media has significant potential to support interactive and innovative learning, although its implementation still faces challenges related to limited devices and the technical abilities of some teachers.
Integrasi Augmented Reality dalam Pembelajaran Biologi di Tingkat Sekolah Menengah: Systematic Literature Review: Integration of Augmented Reality in Biology Learning at the Secondary School Level: A Systematic Literature Review Waruwu, Toroziduhu; Zebua, Nofamataro; Ziraluo, Yan Piter Basman; Gulo, Hardikupatu
BIODIK Vol. 12 No. 02 (2026): June 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biodik.v12i02.56366

Abstract

Biology learning at the secondary level still struggles to explain abstract and complex concepts that are difficult to observe directly, while traditional approaches often lack strong visual and contextual support. In response to rapid digital advancements, Augmented Reality (AR) has emerged as a promising innovation, yet its research landscape in biology education remains fragmented and insufficiently synthesized. This study aims to systematically examine trends in AR research, identify commonly studied biology topics, explore frequently used instructional models, and analyze AR’s contribution to students’ 21st-century skills. Using a Systematic Literature Review (SLR) based on PRISMA guidelines, this study reviewed Scopus-indexed articles published between 2015 and 2025. Out of 267 initial records, 12 articles met the inclusion criteria. Findings reveal a significant rise in AR research, especially after 2020, with a shift from media development toward evaluating pedagogical outcomes such as engagement, self-efficacy, and meaningful learning. Frequently addressed topics include anatomy, human body systems, genetics, cell biology, and ecology, particularly those requiring strong visualization. AR is commonly integrated with active learning, guided inquiry, discovery learning, mobile learning, as well as project-based and problem-based approaches. Moreover, AR supports the development of critical thinking, creativity, collaboration, communication, digital literacy, and self-regulated learning. However, most studies remain small-scale and short-term, indicating the need for longitudinal research and deeper curriculum integration to maximize AR’s transformative potential in biology education. Pembelajaran biologi di sekolah menengah masih menghadapi persoalan mendasar dalam menjelaskan konsep-konsep abstrak dan kompleks yang sulit diamati secara langsung, sementara pendekatan konvensional sering belum mampu menyediakan pengalaman visual dan kontekstual yang memadai. Di tengah perkembangan teknologi digital, Augmented Reality (AR) muncul sebagai alternatif inovatif, tetapi implementasi dan arah risetnya dalam pembelajaran biologi masih tersebar, beragam, dan belum terpetakan secara spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis perkembangan tren riset AR dalam pembelajaran biologi sekolah menengah, mengidentifikasi topik materi yang paling banyak dikaji, mengeksplorasi model pembelajaran yang paling sering dikombinasikan, serta menelaah kontribusinya terhadap pengembangan keterampilan abad ke-21 siswa. Penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) berbasis pedoman PRISMA dengan menelusuri artikel terindeks Scopus pada rentang 2015–2025. Dari 267 dokumen awal, hanya 12 artikel yang memenuhi kriteria inklusi berdasarkan relevansi topik, kualitas publikasi, dan fokus empiris. Hasil kajian menunjukkan bahwa tren penelitian AR meningkat signifikan terutama setelah 2020, dengan pergeseran fokus dari pengembangan media menuju evaluasi dampak pedagogis seperti keterlibatan, self-efficacy, dan pembelajaran bermakna. Topik dominan mencakup anatomi, sistem tubuh manusia, genetika, biologi sel, dan ekologi—khususnya pada materi yang memerlukan visualisasi tinggi. AR paling sering diintegrasikan dengan active learning, guided inquiry, discovery learning, mobile learning, serta pendekatan berbasis proyek dan masalah. Secara signifikan, AR terbukti mendukung pengembangan critical thinking, creativity, collaboration, communication, digital literacy, dan self-regulated learning. Meskipun demikian, riset masih didominasi studi skala kecil dan jangka pendek, sehingga diperlukan penelitian longitudinal dan integrasi kurikulum yang lebih kuat. Temuan ini menegaskan bahwa AR memiliki potensi besar sebagai transformasi pedagogis dalam pembelajaran biologi, bukan sekadar inovasi teknologi, dengan syarat didukung desain instruksional, kesiapan guru, dan kebijakan pendidikan yang berkelanjutan.
PERBEDAAN HASIL BELAJAR IPA MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DI UPTD SMP NEGERI 1 GUNUNGSITOLI ALO’OA Ros Neli Gulo; Agnes Renostini Harefa; Hardikupatu Gulo; Toroziduhu Waruwu
PENDIDIKAN SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 12 No 4 (2025)
Publisher : STKIP PGRI Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47668/edusaintek.v12i4.2214

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) antara siswa yang mengikuti pembelajaran berdiferensiasi dan siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif di UPTD SMP Negeri 1 Gunungsitoli Alo’oa. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian Quasi Eksperimen (eksperimen semu). Sampel dalam penelitian ini terdiri dari kelas VIII-A sebagai kelas eksperimen I (E1) dan kelas VIII-B sebagai kelas eksperimen II (E2) yang dipilih melalui teknik sampel jenuh (saturated sampling) yaitu teknik pengambilan sampel di mana seluruh anggota populasi penelitian diikutsertakan sebagai sampel karena keterbatasan jumlah populasi. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah tes hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran berdiferensiasi memperoleh nilai rata-rata 83,33 untuk kelas eksperimen 1 dan pembelajaran kooperatif memperoleh nilai rata-rata 79,17 untuk kelas eksperimen 2. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan secara statistik antara capaian hasil belajar peserta didik yang diajarkan pembelajaran berdiferensiasi dan peserta didik yang diajarkan pembelajaran kooperatif.
Peran dan Strategi Guru Untuk Menghadapi Tantangan Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di UPTD SMP Negeri 1 Moro’o Frengki Finsensius Gulo; Novelina Andriani Zega; Toroziduhu Waruwu; Hardikupatu Gulo
Emasains : Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Vol. 15 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika dan Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/emasains.v15i1.5706

Abstract

Penerapan Kurikulum Merdeka menuntut guru mampu merancang pembelajaran yang fleksibel, berpusat pada peserta didik, serta sesuai dengan karakteristik dan konteks lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran dan strategi guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di UPTD SMP Negeri 1 Moro’o. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik purposive sampling, melibatkan guru yang aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi proses pembelajaran. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis melalui proses reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang berorientasi pada kredibilitas temuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran strategis sebagai perencana pembelajaran, fasilitator, inovator, evaluator, serta penghubung antara kurikulum dan realitas lokal. Guru mampu menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), mengembangkan pengalaman belajar yang kontekstual, serta mengintegrasikan lingkungan sosial dan budaya ke dalam proses pembelajaran sehingga kegiatan belajar menjadi lebih relevan, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi siswa. Tantangan yang muncul meliputi keterbatasan sarana prasarana, kesenjangan kemampuan peserta didik, variasi pemahaman terhadap modul ajar dan proyek, serta penyesuaian terhadap paradigma pembelajaran baru yang memberi ruang lebih besar pada kemandirian siswa. Dalam menghadapi hambatan tersebut, guru menerapkan strategi adaptif berupa Project Based Learning, Inkuiri Terbimbing, diferensiasi pembelajaran, hingga evaluasi autentik, disertai peningkatan kompetensi melalui pelatihan dan pemanfaatan platform digital. Strategi ini memungkinkan guru menyesuaikan praktik pembelajaran dengan kebutuhan siswa serta kondisi sekolah, sehingga Kurikulum Merdeka dapat diimplementasikan secara lebih optimal.