Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Studi Komparatif Kadar Flavonoid Total Makroalga Caulerpa racemosa Asal Pantai Teluk Sepang Melalui Variasi Konsentrasi Pelarut Etanol Ade Apriansyah; Dwi Kurnia Putri; Putri Mulia; Ikhsan; Delia Komala Sari
Jurnal Pharmacopoeia Vol 5 No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/jp.v5i1.1281

Abstract

Sea grapes are members of the Caulerpaceae algae family that have a thallus-like structure, a structure that can form chains or branches, and have small grains that resemble grapes, hence the name sea grapes. Furthermore, various modern studies have shown that Caulerpa racemosa contains important secondary metabolites, especially flavonoid compounds.  Flavonoids are a group of phenolic compounds found in almost all parts of plants, especially in the outer layer of leaves and fruit skin. The purpose of this study was to determine the total flavonoid content of 70% and 96% ethanol extracts of sea grape plants found in Teluk Sepang Beach, Bengkulu City. The method used was UV-Vis spectrophotometry with an aluminum chloride (AlCl₃) complexation colorimetric approach. This technique is relatively easy, fast, highly sensitive, and can be successfully applied to various extracts derived from natural materials, producing reliable results if accompanied by method validation. Measurement of flavonoid levels using quercetin as a comparison at a maximum wavelength of 430 nm and obtained a linear regression equat ion y = 0.0096x + 0.0535 and R2 = 0.9729. The total flavonoid content of 70% ethanol extract was 12.6 ± 0.16 mg QE/g and 96% ethanol extract was 44,1 ± 0.29 mg QE/g. Based on the results of this study, it can be concluded that 96% ethanol extract has a greater flavonoid content than 70% ethanol extract. Statistical analysis using the independent sample t-test confirmed a significant difference between the two treatments (p<0.05). This study concluded that 96% ethanol is a more effective solvent for extracting flavonoid compounds from Caulerpa racemosa than 70% ethanol, this shows that the difference does not occur by chance, but is a real effect of the difference in ethanol concentration in extraction.
ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) DAN RIMPANG KUNYIT (Curcuma longa) TERHADAP Escherichia coli Windi Apriandri; Suci Rahmawati; Samwilson Slamet; Aina Fatkhil Haque; Dwi Kurnia Putri; Delia Komala Sari
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v9i1.13362

Abstract

Masalah resistensi antibiotik dalam mengatasi infeksi bakteri saat ini mendorong pencarian bahan alam sebagai alternatif pengobatan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi aktivitas antibakteri dari kombinasi ekstrak etanol 70% kulit buah kopi robusta (Coffea canephora) dan rimpang kunyit (Curcuma longa) terhadap bakteri Escherichia coli ATCC-8739 pada berbagai tingkat konsentrasi. Kedua bahan alam tersebut diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan melalui metode difusi cakram menggunakan variasi konsentrasi 10%, 20%, 40%, 60%, dan 80% dengan rasio perbandingan kombinasi 1:1. Penelitian ini juga menggunakan DMSO sebagai kontrol negatif dan Ciprofloxacin sebagai kontrol positif. Hasil pengujian menunjukkan terbentuknya zona hambat di sekitar cakram pada konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 80% serta pada kontrol positif. Nilai diameter zona hambat yang dihasilkan secara berturut-turut adalah 0,7 ± 0,12 mm, 1,63 ± 0,41 mm, 3,93 ± 1,75 mm dan 6,13 ± 1,43 mm. Temuan ini membuktikan bahwa kombinasi kedua ekstrak tersebut memiliki efektivitas yang terus meningkat seiring bertambahnya konsentrasi. Konsentrasi 80% menghasilkan diameter zona hambat terluas dan menjadi konsentrasi terbaik dalam kategori sedang.
Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Kulit Buah Kopi Robusta (Coffea canephora) dan Jahe Merah (Zingiber officinale var. Rubrum) Terhadap Escherichia coli Saniyyah Aqilah Heryson; Suci Rahmawati; Oky Hermansyah; Fauzia Noprima Okta; Dwi Kurnia Putri; Delia Komala Sari
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v9i1.13350

Abstract

Resistensi bakteri Escherichia coli terhadap antibiotik, sehingga diperlukan alternatif antibakteri dari bahan alam. Bakteri Escherichia coli yang dapat mengganggu saluran pencernaan dan memiliki potensi penyebab penyakit diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dan menentukan konsentrasi terbaik dari kombinasi ekstrak etanol kulit buah kopi Robusta (Coffea canephora) dan jahe merah (Zingiber officinale var. Rubrum) terhadap bakteri Escherichia coli. Jahe merah dan kulit buah kopi Robusta memiliki senyawa metabolit sekunder yang bermanfaat sebagai antibakteri. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram menggunakan konsentrasi kombinasi 10%, 20%, 40%, 60%, dan 80% dengan perbandingan 1:1. Kontrol positif yang digunakan adalah siprofloksasin dan kontrol negatif menggunakan DMSO 10%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol negatif DMSO 10% tidak memiliki aktivitas antibakteri, sedangkan pada kontrol positif siprofloksasin memiliki zona hambat dengan rata-rata sebesar 12,70±0,18 mm dan masuk ke dalam kategori kuat. Pada Konsentrasi 10%, 20%, dan 40% termasuk dalam kategori sedang (6,75±0,18 mm, 7,33±0,08 mm, dan 8,67±0,21 mm), sedangkan konsentrasi 60% dan 80% termasuk dalam kategori kuat (10,93 mm dan 11,58 mm). Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 60% dan 80% efektif menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan rata-rata diameter zona hambat termasuk dalam kategori kuat.
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Toner Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum) Dengan Metode Sonikasi Tiara Nisrina Fitri; Tri Danang Kurniawan; Dwi Kurnia Putri; Putri Mulia; Rose Intan Perma Sari
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1166

Abstract

Kulit wajah memerlukan perawatan yang tepat untuk menjaga kebersihan, kelembapan, dan kesehatan kulit, salah satunya melalui penggunaan toner. Daun Salam yang berpotensi digunakan sebagai bahan aktif perawatan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi sediaan toner ekstrak etanol 96% daun salam menggunakan metode sonikasi. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium dengan empat formula, yaitu F0 (kontrol), F1 (1%), F2 (3%), dan F3 (5%) konsentrasi ekstrak. Evaluasi meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, kelembapan, iritasi, dan hedonik. Hasil menunjukkan seluruh formula berbentuk cair, homogen, dan memiliki aroma green tea. Nilai pH berada pada rentang 5,40–6,47 dan viskositas 1,29–2,75 cPs yang memenuhi standar toner. Uji kelembapan menunjukkan peningkatan kelembapan kulit dari 65,08% pada F0 hingga 77,51% pada F3. Uji iritasi pada 10 panelis menunjukkan tidak adanya kemerahan, gatal, maupun pembengkakan. Uji hedonik menunjukkan formula F2 memperoleh tingkat kesukaan tertinggi sebesar 80%. Berdasarkan hasil evaluasi, F2 merupakan formula terbaik karena memiliki karakteristik fisik yang baik, mampu meningkatkan kelembapan kulit, tidak menimbulkan iritasi, dan paling disukai panelis.
Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Toner Ekstrak Daun Katuk (Sauropus androgynous (L) Merr) Sebagai Pelembab Wajah Anggini dwi silfianti; Tri Danang Kurniawan; Dwi Kurnia Putri; Rose Intan Perma Sari
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1174

Abstract

Daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr) berpotensi digunakan sebagai bahan alami dalam sediaan perawatan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak etanol 96% daun katuk menjadi sediaan toner serta mengevaluasi mutu fisik, efektivitas kelembapan, dan keamanan sediaan. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan empat formula, yaitu F0 (0%), F1 (3%), F2 (5%), dan F3 (7%) ekstrak daun katuk. Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, kelembapan, iritasi, dan hedonik. Hasil penelitian menunjukkan seluruh formula berbentuk cair, homogen, dan memiliki nilai pH pada rentang 4,8–6,47 sehingga masih sesuai dengan pH kulit. Nilai viskositas seluruh formula berada pada rentang 0,96–3,24 cPs dan memenuhi persyaratan sediaan toner. Uji kelembapan menunjukkan nilai kelembapan kulit berkisar 62,3%–66,2%, dengan formula F2 dan F3 memberikan hasil lebih baik dibandingkan formula lainnya. Uji iritasi pada 10 panelis menunjukkan tidak adanya reaksi iritasi seperti kemerahan, gatal, maupun rasa perih pada kulit. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak etanol 96% daun katuk dapat diformulasikan menjadi sediaan toner yang memenuhi persyaratan mutu fisik, aman digunakan, dan dapat dikembangkan.
Uji Efek Antipiretik Ekstrak Daun Gelinggang Yang Diberikan Secara Oral Pada Mencit Putih Jantan Fatima Khoirunisa; Dwi Kurnia Putri; Suci Rahmawati; Tri Danang Kurniawan
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1202

Abstract

Demam merupakan peningkatan suhu tubuh di atas normal yang terjadi karena adanya gangguan pada pusat pengatur panas di hipotalamus. Salah satu alternatif terapi yang dapat dikembangkan adalah pemanfaatan tanaman herbal seperti daun gelinggang (Cassia alata L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ektrak etanol daun gelinggang terhadap aktivitas antipiretik pada mencit putih jantan yang diinduksi ragi. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan rancangan acak lengkap menggunakan 5 kelompok, yaitu kontrol sehat (aquadest), kontrol negatif (Na-CMC), kontrol positif (paracetamol) serta kelompok perlakuan ekstrak dosis 100 mg/kgBB dan 200 mg/kgBB. Induksi antipiretik dilakukan dengan pemberian ragi 40% kemudian dilakukan perlakuan setelah 1 jam induksi. Hasil uji Tukey menunjukkan bahwa ekstrak daun gelinggang memiliki efek antipiretik pada mencit. Dosis 200 mg/kgbb memiliki rata-rata suhu tubuh tertinggi dibandingkan kelompok lain dengan selisih 0,5433°C terhadap kontrol negatif. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun gelinggang dosis 200 mg/kgbb memberikan efek antipiretik yang lebih baik dibandingkan kontrol positif dan dosis 100 mg/kgbb. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan dosis ekstrak daun gelinggang dapat memperkuat efek penurunan suhu tubuh.
Uji Efektivitas Analgetik Ekstrak Etanol Daun Gelinggang (Cassia alata L) Pada Mencit Jantan (Mus musculus) Regina Anggun Pitri; Dwi Kurnia Putri; Vernonia Yora Saki; Tri Danang Kurniawan; Putri Mulia
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1208

Abstract

Gelinggang (Cassia alata L) mengandung metabolit sekunder yaitu, flavonoid, alkaloid yang diduga memiliki efektivitas analgetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas analgetik ekstrak daun gelinggang (Cassia alata L) pada mencit jantan (Mus musculus) dengan metode hot plate. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Gelinggang diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian dilanjutkan dengan pemekatan dengan rotary evaporator. Mencit dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif, serta dua kelompok perlakuan ekstrak daun gelinggang dosis 250 mg/kgBB dan dosis 500 mg/kgBB. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati latensi. Hasil uji Anova menunjukkan (sig <0,05) yang berarti ada perbedaan yang bermakna antara kelima kelompok perlakuan. Kemudian dilanjutkan dengan uji Tukey untuk melihat perbedaan antara kelompok perlakuan, di mana hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak 500 mg/kgBB menunjukkan aktivitas analgesik lebih baik karena mampu meningkatkan waktu latensi secara signifikan dibandingkan dengan kontrol negatif dan memberikan efek yang mendekati kontrol positif. Nilai rata-rata uji Tukey tertinggi terdapat pada kelompok positif (16,36), diikuti oleh ekstrak 500 mg/kgBB (15,92).
Skrining Fitokimia Dan Uji Daya Hambat Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Dan Kulit Batang Pohon Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) Terhadap Escherichia coli ATCC 25922 Dan Bacillus subtilis ATCC 6633 Yessica Nadeak; Risky Hadi Wibowo; Oky Hermansyah; Dwi Kurnia Putri; Afifah Fauziyyah
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1255

Abstract

Daun dan kulit batang angsana (Pterocarpus indicus Willd.) mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin, dan triterpenoid yang berpotensi sebagai antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun dan kulit batang angsana dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis, serta mengetahui kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak daun dan kulit batang angsana. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan menggunakan metode difusi cakram dengan variasi konsentrasi 3,25%, 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, dan 75% dengan kontrol positif Ciprofloxacin dan kontrol negatif DMSO 10%. Hasil uji menunjukkan ekstrak daun dan kulit batang angsana mampu menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan B. subtilis. Konsentrasi yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli terdapat pada ekstrak daun pada konsentrasi 75% dengan zona hambat 10,76 mm katagori kuat dan pada B. subtilis yang paling efektif terdapat pada ekstrak kulit batang kosentrasi 75% dengan zona hambat 11,23 mm katagori kuat. Hasil analisis statistik dilakukan dengan uji analisis non-parametrik Kruskal-Wallis yang menunjukkan nilai signifikansi p<0,05 yang berarti terdapat pengaruh nyata variasi konsentrasi ekstrak terhadap daya hambat antibakteri. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun dan kulit batang angsana berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri Bacillus subtilis dan Escherichia coli.
Skrining Fitokimia Dan Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol 70% Kulit Buah Aren (Arenga Pinnata Merr.) Anissa nayla septri; Risky Hadi Wibowo; Suci Rahmawati; Tri Danang Kurniawan; Dwi Kurnia Putri
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1257

Abstract

Kulit buah aren (Arenga Pinnata Merr.) merupakan limbah tanaman yang mengandung metabolit sekunder dan berpotensi sebagai antimikroba alami. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas ekstrak etanol 70% kulit buah aren dalam menghambat pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis ATCC 6633, Escherichia coli ATCC 25922, dan jamur Candida albicans, serta mengidentifikasi kandungan metabolit sekundernya. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi dan remaserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Aktivitas antimikroba diuji dengan metode difusi cakram pada konsentrasi 3,25%, 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, dan 75%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak mampu menghambat pertumbuhan B. subtilis dan E. coli, tetapi tidak menghambat pertumbuhan C. albicans. Konsentrasi 75% merupakan konsentrasi paling efektif dengan zona hambat sebesar 2,06 mm terhadap B. subtilis (kategori lemah) dan 8,16 mm terhadap E. coli (kategori sedang). Analisis statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukkan nilai signifikansi p<0,05, yang menandakan adanya pengaruh variasi konsentrasi ekstrak terhadap daya hambat antimikroba. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak etanol 70% kulit buah aren berpotensi sebagai antimikroba alami terhadap B. subtilis dan E. coli.
Efektivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Batang dan Akar Jeruju (Acanthus ilicifolius L.) Dalam Menghambat Pertumbuhan Escherichia coli ATCC 25922 dan Bacillus subtilis ATCC 6633 Siti Nurhaliza; Risky Hadi Wibowo; Dwi Kurnia Putri; Oky Hermansyah; Afifah Fauziyyah
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1258

Abstract

Jeruju (Acanthus ilicifolius L.) merupakan tumbuhan mangrove yang mengandung metabolit sekunder dan digunakan sebagai antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak etanol batang dan akar jeruju dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli ATCC 25922 dan B. subtilis ATCC 6633, serta mengetahui kandungan metabolit sekunder pada ekstrak batang dan akar jeruju. Pembuatan ekstrak dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Pengujian efektivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram dengan variasi konsentrasi 3,25%, 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, dan 75%, dengan 8 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol batang dan akar jeruju mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, dan triterpenoid. Ekstrak batang dan akar jeruju efektif menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan B. subtilis. Konsentrasi yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli terdapat pada ekstrak batang jeruju pada konsentrasi 75% dengan zona hambat 7,35 mm (kategori sedang), sedangkan pada bakteri B. subtilis yang paling efektif terdapat pada ekstrak akar jeruju pada konsentrasi 75% dengan zona hambat 3,96 mm (kategori lemah). Hasil analisis statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukkan nilai signifikansi p<0,05 yang berarti terdapat pengaruh nyata variasi konsentrasi ekstrak terhadap daya hambat antibakteri. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol batang dan akar jeruju memiliki efektivitas antibakteri terhadap bakteri E. coli dan B. subtilis.