Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DAN DEGRADASI MORAL DI ERA GLOBALISASI Sakman, Sakman; Bakhtiar, Bakhtiar
SUPREMASI: Jurnal Pemikiran, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Hukum dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.456 KB) | DOI: 10.26858/supremasi.v14i1.13301

Abstract

Era globalisasi ditandai saling keterbukaan dan ketergantungan antar negara menjadikan negara tidak mengenal batas-batasnya (borderless state) sehingga arus informasi dan telekomunikasi berkembang sangat pesat. Kompetisi antar negara semakin ketat, baik pada bidang ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan keamanan dan pendidikan. Bagi Indonesia era globalisasi ini tidak hanya mengarah pada kepentingan dalam negeri akan tetapi juga mengarah pada kepentingan global. Menghadapi era globalisasi harus disertai dengan penguatan pendidkan karakter bagi generasi muda untuk menangkal dekadensi moral. Oleh karena perlu mengantsipasinya melalui pendidikan kewarganegaraan sebagai bagian dari pendidikan karakter. Melalui Pendidikan Kewarganegeraan, akan membangun, membentuk, dan membina karakter generasi muda sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa sesuai Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945. Perkembangan zaman disikapi dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tantangan era globalisasi dihadapi dengan membekali manusia Indonesia terutama generasi muda untuk sadar akan budaya luhur bangsa yang menjadi pilar kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara melalui pendidikan kewarganegaraan.
Integrasi Nilai Kearifan Lokal Dayak Ngaju Pada Materi Karakteristik Daerah Tempat Tinggal dalam Kerangka NKRI Yetwirani Lampe; Eli Karliani2; Sakman
JURNAL PENDIDIKAN Vol 18 No 2 (2017): Jurnal Pendidikan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52850/jpn.v18i2.937

Abstract

Pengaruh negatif dari globalisasi akan mengikis nilai-nilaikearifan lokal yang ada di sekeliling peserta didik. Pendidikanadalah satu proses dalam mengajarkan nilai-nilai yang diyakini,kebiasaan sosial, sikap, dan tingkah laku yang berkembang dalamsuatu masyarakat kepada peserta didik. Pendidikan merupakanmedia transformasi, internalisasi, dan pembiasaan budaya yang diada di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikannilai kearifan lokal pada materi pembelajaran dan mediapembelajaran yang tertuang dalam perangkat pembelajaran (RPP)PPKn yang mengintegrasikan nilai kearifan lokal Dayak Ngajupada materi karakteristik daerah tempat tinggal dalam kerangkaNKRI di kelas VII. Desain penelitian ini menggunakan pendekatankualitatif dengan teknik pengambilan data menggunakan FocusGroup Discussion (FGD). FGD dihadiri oleh guru-guru PPKnSMPN di Kota Palangka Raya, pakar budaya, dan pakar pendidikandari lingkungan Universitas Palangka Raya. FGD bertujuan untukmenggali nilai kearifan lokal Dayak Ngaju sesuai materi memahamikarakteristik daerah tempat tinggal dalam kerangka NKRI.Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat nilai-nilaikearifan Dayak Ngaju yang dapat diintegrasikan pada materi danmedia materi karakteristik daerah tempat tinggal dalam kerangkaNKRI di kelas VII diantaranya Filosofi “huma betang“, “handephapakat“, “batang garing “, dan “penyang hinje simpei“.
Peran Pendidikan Kewarganegaraan Di Era Globalisasi Dalam Mencegah Degradasi Moral Sakman
Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (JPIPS) Vol. 6 No. 2 (2016): Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (JPIPS) Volume 6, Nomor 2, Desember,
Publisher : FKIP, Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam era globalisasi saat ini dengan adanya saling keterbukaan dan ketergantungan antar negara menjadikan negara tidak mengenal batas-batasnya sehingga arus informasi dan telekomunikasi pun berkembang sangat pesat maka persaingan Internasional pun akan semakin ketat terutama di bidang ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan keamanan dan pendidikan, khususnya bagi Indonesia era globalisasi ini tidak hanya mengarah pada kepentingan dalam negeri akan tetapi juga mengarah pada kepentingan global sehingga terdapat peluang yang dimiliki oleh negara berkembang khususnya Indonesia. Dengan adanya pengaruh globalisasi yang tidak disertai dengan penguatan pendidkan karakter bagi pelajar telah mengakibatkan terjadinya kemerosotan moral bagi generasi mudah bangsa. Hal ini tidak boleh dibiarkan terjadi, untuk itu Pendidikan Kewarganegaraan sebagai bagian dari pendidikan karakter berperan penting untuk menurunkan kemerosotan moralitas pelajar diera globalisasi saat ini, dengan membangun dan membentuk karakter pelajar sesuai dengan yang tecantum dalam UUD 1945 dan Pancasila.
Peran Strategis PKN Dalam Membangun Budaya Hukum Yang Berkeadaban Sakman
Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (JPIPS) Vol. 3 No. 2 (2015): Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (JPIPS) Volume 3, Nomor 2, Desember,
Publisher : FKIP, Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terciptanya budaya hukum yang berkeadaban merupakan cita-cita luhur founding fathers kita dalam mendirikan Negara Republik Indonesia ini. Salah satu cara untuk membangun budaya hukum yang berkeadaban adalah melaksanakan PKn dalam arti luas atau citienzhip education yang mencakup sasaran dunia persekolahan melalui school civic education dan masyarakat luas melalui community civic education (Cogan, 1999). Pendidikan kewarganegaraan secara tegas memberikan gambaran kepada kita bahwa pendidikan kewarganegaraan itu harus ditujukan untuk membentuk warganegara yang cerdas dan baik yaitu warganegara yang memiliki karakter budaya hukum yang berkeadaban sesuai degan nilai-nilai pancasila. Aspek-aspek kompetensi dalam PKn mencakup pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan kewarganegaraaan (civic skills), dan watak atau karakter kewarganegaraan (civic dispositions), ketiga aspek tersebut harus dikembangkan secara seimbang untuk melahirkan warga negara yang memiliki budaya hukum yang berkeadaban sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Budaya hukum terbentuk dari kebiasaan masyarakat, kebiasaan masyarakat terbentuk dari watak atau karakter individu dalam masyarakat itu sendiri.
STUDI TENTANG ANAK JALANAN (Tinjauan Implementasi Perda Kota Makassar Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan, Pengemis, dan Pengamen di Kota Makassar) Sakman Sakman
SUPREMASI: Jurnal Pemikiran, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Hukum dan Pengajarannya Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.39 KB) | DOI: 10.26858/supremasi.v11i2.2816

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yang dimaksudkan untuk memberi gambaran dan penjelasan mengenai (1) Karakteristik anak jalanan di Kota Makassar, (2) Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 2 Tahun 2008 dalam  pembinaan  anak jalanan di Kota Makassar, (3) Strategi pemerintah kota dalam mengatasi hambatan-hambatan pelaksanaan pembinaan anak jalanan di Kota Makassar. Populasi penelitian ini adalah Pejabat Dinas Sosial Kota Makassar, Pembina LSM, Satpol PP, Pengurus Panti Sosial, Bos anak jalanan, orang tua anak jalanan dan Anak jalanan. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara  puporsive sampling dan Accidental sampling. Penarikan sampel secara puporsive sampling digunakan untuk menentukan sampel dari : Pejabat Dinas Sosial Kota Makassar, Pembina LSM, Satpol PP, Pengurus Panti Sosial, sedangkan penarikan sampel secara Accidental sampling digunakan untuk menentukan sampel dari anak jalanan. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Karakteristik anak jalanan di Kota Makassar bervariasi ditinjau dari beberapa aspek sebagai berikut: asal-usul daerah anak jalanan, usia anak jalanan, aktivitas anak jalanan, latar belakang keluarga anak jalanan, kesadaran anak jalanan akan hak-haknya, faktor-faktor yang menyebabkan anak turun ke jalanan. (2) Implementasi Perda Kota Makassar Nomor 2 Tahun 2008 dalam pembinaan anak jalanan dapat digambarkan: dari segi subtansi hukum; Perda ini belum mengatur secara jelas dan terperinci tentang bagaimanana pemenuhan hak-hak dasar anak sebagaimana diamanahkan dalam  UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, akan tetapi Perda ini secara subtansi lebih terfokus pada larangan pada anak jalanan untuk tidak berkeliaran di jalan; dari segi struktur hukum; kurangnya koordinasi dan kebersamaan  antara instansi yang terkait dalam Pelaksanaan Perda tersebut; dari segi budaya hukum; adanya sikap apatis dari masyarakat serta kurangnya kontrol dari pihak pelaksana Perda untuk senantiasa melakukan pengawasan terhadap pihak-pihak yang melakukan pelanggaran terhadap Perda tersebut; dari segi sarana dan prasarana; pemerintah Kota Makassar belum memiliki fasilitas yang lengkap, serta kurangnya dana yang dianggarkan oleh pemerintah kota untuk pembinaan anak jalanan di Kota Makassar. (3) Starategi pemerintah kota Mengatasi Hambatan-Hambatan Penanganan Anak Jalanan di Kota Makassar yakni dengan bekerja sama dengan instansi/lembaga pemerintah, dan pihak swasta terkait dalam mengumpulkan anggaran untuk upaya pemenuhan hak anak jalanan. KATA KUNCI: Perda, Implementasi, Anak Jalanan
Bentuk Pelaksanaan Ice Breaking Jenis Storytelling Yang Dilakukan Oleh Guru Dalam Pembelajaran Ppkn Siswa Kelas Viii Di Smp Kristen Palangka Raya Adetya Adetya; Sakman Sakman; Ahmad Saefulloh
Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal Vol 7, No 2 (2021): May 2021
Publisher : Magister Pendidikan Nonformal Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/aksara.7.2.577-588.2021

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh motivasi belajar siswa yang menjadi kendaladalam usaha guru dalam melaksanakan proses pembelajaran khusus dalam matapelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan kelas VIII di SMPKristen Palangka Raya. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan motivasi yangbesar untuk belajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraankelas VIII di SMP Kristen Palangka Raya masih perlu untuk disempurnakanlagi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Bentuk Pelaksanaan IceBreaking Jenis Storytelling Yang Dilakukan Oleh Guru Dalam PembelajaranPPKn Siswa Kelas VIII di SMP Kristen Palangka Raya yang dilakukan sesudahmasa pandemi covid-19.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang dimanasampel dalam penelitian ini terd iri dari guru mata pelajaran PPKn dan siswasebanyak 9 orang yang ditetapkan dengan teknik purposive sampling dan datapenelitian diperoleh dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasilpenelitian ini adalah: 1) Pelaksanaan ice breaking yang dilakukan dalampembelajaran PPKn siswa kelas VIII SMP Kristen Palangka Raya meliputi duaaspek yaitu pelaksanaan dan mengevaluasi faktor penghambat dan solusinyadengan cara menerapkan bentuk ice breaking jenis storytelling ke dalampembelajaran PPKn. 2) Faktor penghambat penerapan ice breaking jenisstorytelling adalah yang pertama, fasilitas pendukung berlangsungnya penerapanice breaking jenis storytelling yang dilakukan secara daring melalui aplikasizoom dikarenakan peserta didik melakukan pembelajaran secara daring dimasapandemi ini maka tidak semua peserta didik mengunakan fasilitas sepertihandphone maupun laptop untuk mengikuti zoom. Sedangkan faktorpendukungnya adalah adanya peserta didik yang bisa di ajak kerja sama, sertaguru yang mampu mengarahkan peserta didiknya agar mau melaksanakanpenerapan ice breaking jenis storytelling; 3) Solusi yang dilakukan dalampelaksanaan ice breaking jenis storytelling dalam pembelajaran PPKn siswakelas VIII yaitu Guru terus berusaha memberikan semangat, motivasi,bimbingan kepada siswa, mengarahkan dan mengajak peserta didik agar mau melaksanakan ice breaking jenis storytelling bersama dalam pembelajaran PPKn.
PELAKSANAAN PERKAWINAN MENURUT ADAT DAYAK NGAJU DI KECAMATAN TIMPAH KABUPATEN KAPUAS Novialayu, Ela; Sakman; Offeny
Jurnal Paris Langkis Vol 1 No 1 (2020): Vol 1 No.1 Edisi Agustus 2020
Publisher : PPKn, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.419 KB) | DOI: 10.37304/paris.v1i1.1665

Abstract

The problem in this study is regarding the Implementation of Marriage According to Dayak Ngaju Customs in the District of Taya Kapuas District "The research method used is descriptive qualitative." Based on the reality that is ongoing now and of the 3 couples who are married ". Based on the results of the study can be explained the implementation of Dayak Ngaju traditional marriages in the District Taya Kapuas District includes the implementation process, knowing the purpose of building a household it has a function to tie each other which can provide and fulfill the Marriage Requirements, Post-Marriage Procession, consists of several stages that must be carried out.The first stage provides contributors who are included in the Hakumbangauh (application) stage; all families and traditional leaders who produce a customary agreement and determine the day of the marriage, the giving of my head or the bride price and the fulfillment of the conditions that must be prepared for marriage; thanksgiving from a family of men. as well as questioning the readiness and certainty of the day agreed upon at mamanggul, the fourth stage, namely Indigenous Marriage in Dayak Ngaju which has seventeen items that are fulfilled by men called paramun pisek, paramun marath and the last stages such as gongs, perpetrators etc. in the implementation of marriage according to the Dayak Ngaju tradition, Pakaja Manantu where this stage is carried out after the marriage process has been completed Permasalahan dalam penelitian ini adalah mengenai Pelaksanaan Perkawinan Menurut Adat Dayak Ngaju Di Kecamatan Timpah Kabupaten Kapuas” Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif.” Didasarkan atas kenyataan yang sedang berlangsung sekarang dan dari 3 pasangan yang melakukan perkawinan". Berdasarkan hasil penelitian dapat di jelaskan pelaksanaan perkawinan adat Dayak Ngaju di Kecamatan Timpah Kabupaten Kapuas meliputi proses Pelaksanaan, mengetahui tujuan membangun rumah tangga hal ini memiliki fungsi untuk mengikat satu sama lainnya yang dapat memberikan dan memenuhi Syarat Perkawinan, Prosesi Pasca Perkawinan. terdiri dari beberapa tahapan yang harus dilakukan. Tahap pertama memberikan pangumbang yang termasuk dalam tahapan Hakumbangauh (lamaran); tahap kedua yaitu mamanggul atau mamupuh merupakan langkah kedua setelah hakumbang auh, mamanggul dilakukan disaksikan dihadapan semua keluarga dan pemuka adat yang menghasilkan suatu perjanjian adat dan menentukan hari pelaksanaan perkawinan, pemberian palaku atau mahar serta pemenuhan syarat-syarat yang harus disiapkan menuju Perkawinan,; tahap ketiga yaitu maja misek dilakukan antar kedua belah keluarga sebagai ucapan syukur dari keluarga laki-laki. serta mempertanyakan kesiapan dan kepastian hari yang disepakati saat mamanggul;tahap keempat yaitu Perkawinan Adat secara Adat Dayak Ngaju yang mempunyai tujuh belas item yang dipenenuhi oleh pihak laki-laki yang disebut paramun pisek, paramun hadat kawin dan tahapan terakhir seperti gong, pelaku dll. dalam pelaksanaan perkawinan menurut adat Dayak Ngaju yaitu Pakaja Manantu dimana tahapan ini dilakukan setelah proses pelaksanaan perkawinan telah selesai
TARIAN DADAS DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER DISIPLIN ANAK PADA SANGGAR IGAL JUE PALANGKA RAYA Leluni, Eriska; Sakman; Offeny
Jurnal Paris Langkis Vol 1 No 1 (2020): Vol 1 No.1 Edisi Agustus 2020
Publisher : PPKn, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.735 KB) | DOI: 10.37304/paris.v1i1.1670

Abstract

Problems discussed by Dadas Dance in Forming Disciplinary Character of Children in Jgal Palangka Raya Studio Igal. This study aims to determine the Dadas Dance in the Formation of Disciplinary Characters of Children in Jgal Palangka Raya Studio Igal. The method used is a qualitative method. The research instruments are included: observation sheets, interview, literature study, documentation.The results of the research that the meaning of dadas dance in shaping the character of discipline that performs dadas dance there, of course, if it is not disciplined in doing dance exercises it cannot be done, must have a high concentration in dancing to adjust the rhythm and motion so that inevitably the studio children indirectly train the studio disciplined character in conducting exercises. The values ??contained in dadas dance are magical values, cultural art values, historical message values, character values ??and aesthetic values ??of beauty and uniqueness in dance and music. So that the dancer dances must have good attitude and character, physically and mentally healthy, if not then, another impression can come in because it has megis values. Factors supporting the formation of discipline character are schedules that are made and mutually agreed upon because each team member must be disciplined in time and also committed. Then the inhibiting factor when there are members who are undisciplined and difficult to memorize the character that he holds and the movement and suitability between motion and music Penelitian ini bertujuan untuk melihat makna tarian dadas dalam membentuk karakter disiplin anak pada sanggar Igal Jue Kota Palangka Raya. Metode penelitian menggunakan Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif deskriptif karena dalam penelitian ini menghasilkan kesimpulan berupa data yang menggambarkan secara rinci, bukan data yang berupa angka-angka. Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan ilmiah yang mengungkap situasi sosial tertentu dengan mendeskripsikan kenyataan secara benar, dibentuk oleh kata-kata berdasarkan teknik pengumpulan analisis data yang relevan yang diperoleh dari situasi yang alamiah. Hasil penelitian menunjukan bahwa makna tarian dadas dalam membentuk karakter disiplin yang melakuklan tarian dadas disitu sudah tentu jika tidak disiplin dalam melakukan latihan tarian itu tidak bisa dilakukan harus mempunyai konsentari yang tinggi dalam menari untuk menyesuaikan irama dan gerak sehingga mau tidak mau anak sanggar secara tidak langsung melatih karakter disiplin dalam melakukan latihan. Nilai–nilai yang terkandung dalam tarian dadas adalah nilai magis, nilai seni budaya, nilai pesan sejarah, nilai karakter dan nilai estetika keindahan dan keunikan dalam tarian dan musik. Sehingga penari tarian dadas haru mempunyai sikap dan karakter yang baik sehat jasmani dan rohani jika tidak maka, kesan lain bisa masuk karena mempunyai nilai – nilai megis. Faktor pendukung pemebentukan karakter disiplin adalah jadwal yang di buat dan disepakati bersama sebab setiap anggota tim, harus disiplin waktu dan juga mempunyai komitmen. Kemudian faktor penghambat ketika ada anggota yang tidak disiplin dan sulit menghapal karakter yang ia pegang serta gerakan dan kesesuaian anatara gerak dan musik
VCT Model Based on Local Wisdom Values in Pancasila and Citizenship Education to Strengthen Students' Social Awareness Sakman Sakman; Aim Abdulkarim; Kokomo Komalasari; Iim Sitti Masyitoh
IJORER : International Journal of Recent Educational Research Vol. 5 No. 5 (2024): September
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education Muhammadiyah University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46245/ijorer.v5i5.683

Abstract

Objective: This research aims to determine the effectiveness of using the VCT Model based on local wisdom values in Pancasila and Citizenship education to increase students' social awareness. Method: This research used a quasi-experiment with a one-class group pretest-posttest design. This research was conducted at JHS 26 Makassar, Indonesia, with a sample of 31 students. Effectiveness is measured based on the results of the n-Gain test developed by Hake. Results: The research results found that the use of the VCT model based on local wisdom values was practical and effective in increasing students' social awareness as evidenced by the results of the N gain pretest and post-test, which were in the high category with a g- ave of 0.89 and the results of the practical test of the value-based VCT model local wisdom by teachers 92.30% (efficient) and observers 90.98% (very practical). Novelty: This research contributes to preserving cultural heritage as the nation's wealth.
Pentingnya Kecerdasan Interpersonal Sebagai Basis Karakter Siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Makassar Sakman, Sakman; Abdulkarim, Aim; Komalasari, Kokom; Masyitoh, Iim Sitti
Jurnal Moral Kemasyarakatan Vol 9 No 1 (2024): Volume 9, Nomor 1 - Juni 2024
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jmk.v9i1.10220

Abstract

Kecerdasan interpersonal siswa merupakan basis dari karakter siswa yang berkaitan dengan perilaku sosial siswa, Kecerdasan interpersonal siswa adalah kemampuan siswa untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain dengan efektif, sedangkan perilaku sosial siswa mencakup perilaku individu dalam hubungannya dengan orang lain di lingkungan sosial seperti kemampuan untuk berinteraksi, berkomunikasi, bergaul, dan bekerja sama dengan teman sekelas dalam pemecahan permasalahan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecerdasan interpersonal siswa sebagai basis karakter siswa sekolah menengah pertama di kota Makassar. Penelitian ini dilakukan pada tiga sekolah menengah pertama di kota Makassar yaitu: 1) Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Makassar, 2) Sekolah Menengah Pertama Negeri 26 Makassar dan 3) Sekolah Menengah Pertama Negeri 31 Makassar. Pengumpulan data dilakukan dengan cara penyebaran angket dengan jumlah responden sebanyak 162 siswa. Indikator kecerdasan interpersonal dalam penelitian ini terdiri dari: empati, komunikasi, kepemimpinan, kerjasama dan kesadaran sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan interpersonal siswa sekolah menengah pertama di kota Makassar berada pada kategori baik sebanyak 19 %, kategori sedang 35%, kategori cukup sebanyak 46%. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan kecerdasan interpersonal siswa sekolah menengah pertama di kota Makassar perlu dilakukan.