Hardian, Rinal
Unknown Affiliation

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROYEK PATCHING SIMPANG JALAN PENDIDIKAN GAMPONG PUNGE BLANG CUT KECAMATAN JAYA BARU KOTA BANDA ACEH Hardian, Rinal; Zaini, Azriel; Suri, Murnia; Kombih, Alfiansyah
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 10, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v10i2.4929

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dimensi sosial dari penerapan prinsip circular economymelalui pemanfaatan ecobrick dan bambu dalam pembangunan bangunan sederhana di Desa Nusa,Kecamatan Lhoknga. Fokus utama diarahkan pada pemahaman informasi, tingkat partisipasimasyarakat, perubahan sikap, tingkat kepuasan, dan keberlanjutan pasca pelaksanaan proyek.Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci (tokohgampong, ketua lingkungan, ibu rumah tangga, dan pemuda), observasi lapangan, serta penelusurandokumen internal gampong. Hasil menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat terhadapproyek bervariasi tergantung saluran informasi yang digunakan. Tokoh gampong memiliki pemahamanyang baik karena mendapat penjelasan langsung, sedangkan ibu rumah tangga dan pemuda umumnyamenerima informasi secara tidak langsung, menyebabkan rendahnya pemahaman detail. Dalam halpartisipasi, mayoritas warga berada pada tingkat manipulatif (41,7%) dan hanya sebagian kecil yangterlibat dalam pengambilan keputusan (16,7%). Meski demikian, terdapat perubahan positif dalam sikapmasyarakat: sebanyak 73,3% informan menunjukkan peningkatan rasa memiliki terhadap fasilitaspublik, dan 46,7% berpartisipasi secara sukarela dalam perawatan pasca proyek. Tingkat kepuasanmasyarakat terhadap hasil proyek juga tinggi, dengan 80% menyatakan kualitas pembangunan sesuaiharapan dan 66,7% menilai pelaksanaannya transparan. Aspek keberlanjutan menunjukkan potensipenguatan dengan 33,3% warga mulai melakukan perawatan swadaya, meskipun pembentukankelompok pemelihara formal masih rendah (13,3%). Penelitian ini menegaskan pentingnya komunikasiyang efektif dan pendekatan partisipatif sejak awal perencanaan agar penerapan prinsip circulareconomy tidak hanya berdampak secara lingkungan, tetapi juga berkelanjutan secara sosial.
PERANCANGAN SHELTER EVAKUASI BENCANA BERBASIS PARAMETRIK DI KOTA BANDA ACEH 2025 Sumarto, Donny Arief; Armia, Armia; Zaini, Azriel; Mildani, Renny; Hardian, Rinal; Rizaldi, Fathin
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 11, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v11i1.4925

Abstract

Kota Banda Aceh merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kerentanan bencana yang tinggi diIndonesia, terutama terhadap gempa bumi dan tsunami. Peristiwa bencana besar pada tahun 2004 menjadititik balik dalam upaya penguatan sistem mitigasi bencana, termasuk kebutuhan akan infrastruktur evakuasiyang aman, cepat, dan efisien. Shelter evakuasi bencana merupakan elemen vital dalam sistem ini, namundalam praktiknya masih banyak shelter yang dibangun secara konvensional tanpa pendekatan desainberbasis data dan simulasi risiko.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan konsep perancanganshelter evakuasi berbasis pendekatan parametrik di Kota Banda Aceh. Metode parametrik dalam arsitekturmemungkinkan integrasi berbagai variabel seperti topografi, jarak evakuasi, kepadatan penduduk, waktutempuh, arah aliran massa, dan kondisi iklim lokal ke dalam sistem desain digital yang responsif danadaptif. Pendekatan ini dilakukan melalui tahapan studi literatur, analisis spasial dan data risiko, sertaeksplorasi desain menggunakan software parametrik seperti Grasshopper dan Rhino. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa desain shelter parametrik dapat disesuaikan dengan konteks lokasi secara spesifik danmenghasilkan bentuk yang efisien secara struktural dan fungsional. Shelter yang dirancang mampumenampung populasi target dalam radius waktu evakuasi optimal, memiliki sirkulasi masuk-keluar yangefisien, serta mempertimbangkan aspek keberlanjutan dengan pemilihan material lokal dan sistem ventilasipasif. Pendekatan ini juga memungkinkan replikasi desain dalam berbagai titik rawan secara modular dancepat. Kesimpulannya, metode desain parametrik menawarkan potensi besar dalam pengembangan shelterevakuasi bencana yang tidak hanya tangguh dan adaptif, tetapi juga efektif dalam menjawab kompleksitasperencanaan evakuasi di wilayah rawan seperti Banda Aceh. Penelitian ini diharapkan dapat menjadikontribusi bagi pengembangan desain arsitektur berbasis mitigasi risiko di masa depan.
PENGARUH ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH PADA BANGUNAN PEMERINTAHAN Mildani, Renny; Hardian, Rinal; Saputra, Adam
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 8, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v8i2.4965

Abstract

Salah satu wujud kebudayaan tradisional Indonesia, dapat dilihat pada Arsitektur Tradisional Aceh. Arsitektur Tradisional Aceh merupakan cerminan dari budaya, pola hidup, dan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat Aceh, sehingga bentukan arsitektur tradisionalnya dapat terlihat pada “Rumoh Aceh” (Hoesin, 1970). Rumoh Aceh merupakan wujud ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap lingkungan. Menurut Mirsa (2013), unsur-unsur pada Rumah Tradisional Aceh terlihat pada bentuk rumah panggung yang ditopang oleh tiang-tiang yangdiatur sejajar, orientasi menghadap Utara dan Selatan, sehingga rumah membujur dari Timur ke Barat, menggunakan ornamen/ukiran yang menempel pada bangunan, dominan menggunakan material kayu serta menggunakan teknologi tradisional dalam membangun struktur dan konstruksinya.Seiring perkembangan zaman, pada masa sekarang dimana tuntutan akan kebutuhan, pola hidup, serta seluruh aspek kehidupannya manusia secara tidak langsung akan berdampak terhadap bentukan Arsitektur Tradisional yang mulai meninggalkan ciri keadaerahannya. Pengaruh modernisasi serta globalisasi akibatdari kemajuan teknologi bangunan, membawa perubahan dalam masyarakat dari keadaan tradisional menuju kearah modern. Hampir setiap bangunan dalam kurun waktu tertentu akan mengalami perubahan baik secara langsung maupun tidak langsung. Awalnya Arsitektur Tradisional dibangun menyesuaikan dengan norma, adat, budaya, kondisi alam dan material bangunan setempat. Dengan kemajuan teknologi bangunan, ditemukannya material- material baru dan pengerjaan struktur dan konstruksi yang lebih mudah membuat bentukan Arsitektur Tradisionaldisesuiakan dengan perubahan yang terjadi akibat kemajuan teknologi bangunan. Dalam upaya Arsitektur Tradisional tidak tersingkirkan oleh modernisasi maka Arsitektur Regionalisme muncul untuk menyatukan antara arsitektur yang lama dengan arsitektur yang baru.Konsep regionalisme berkembang sekitar tahun 1960 (Jenks, 1977), sebagai salah satu perkembangan arsitektur post-modern yang mempunyai perhatian besar pada ciri kedaerahan. Ciri kedaerahan yang dimaksud berkaitan erat dengan budaya setempat, iklim, dan teknologi pada saatnya (Ozkan, 1985). Gagasan regionalisme merupakan peleburan antara yang lama dan yang baru (Curtis,1985). Sedangkan gagasan postmodern dalam arsitektur berusaha menghadirkan yang lama dalam bentuk universal (Jenks, 1977). Menurut Curtis (1985), Regionalisme diharapkandapat menghasilkan bangunan yang bersifat abadi, melebur atau menyatu antara yang lama dan yang baru, antara regional dan universal. Arsitektur tradisional mempunyai lingkup regional sedangkan arsitektur modern mempunyai lingkup universal. Dengan demikian yang menjadi ciri utama regionalism adalah menyatukan arsitektur Tradisional dan Arsitektur Modern.Kecenderungan memakai kembali unsur desain arsitektur tradisional yang kemudian menjadi inspirasi desain arsitektur modern sebagai usaha untuk bertindak lebih baik terhadap lingkungan. Usaha ini mendukung untuk menciptakan suatu desain yang baik di Indonesia, hal ini umumnya diterapkan pada rancangan bangunankantor pemerintah, yang merupakan salah satu usaha untuk mengangkat ciri khas setiap daerah dari segi karya arsitektur. Prijotomo (1998) menyatakan bahwa suatu karya arsitektur dapat dirasakan dan dilihat sebagai karya yang bercorak lokal atau Indonesia bila karya ini mampu untuk berikut : (1) Membangkitkan perasaan dan suasana ke-Indonesiaan lewat rasa dan suasana lingkungan visual dan (2) Menampilkan  unsur  dan komponen  arsitektural  yang  nampak  pada corak kedaerahannya, tetapi tidak hadir sebagai tempelan atau tambahan saja.
PENERAPAN PRINSIP CIRCULAR ECONOMY MELALUI PEMANFAATAN ECOBRICK DAN BAMBU PADA BANGUNAN SEDERHANA DI DESA NUSA KECAMATAN LHOKNGA Hardian, Rinal; MD Ali, Umi Fazara; Fitriliana, Fitriliana; Suri, Murnia; Lidia, Ella Andini
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 11, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v11i1.4930

Abstract

Penelitian ini mengkaji penerapan prinsip circular economy di Desa Nusa, Kecamatan Lhoknga,Kabupaten Aceh Besar, melalui pemanfaatan limbah plastik rumah tangga dan material bambu lokaldalam pembangunan bangunan sederhana. Tahapan penelitian meliputi studi literatur, survei lapangan,pengumpulan data lingkungan dan sosial, uji material, pembangunan prototipe, dan evaluasi. Hasilsurvei menunjukkan tingginya ketersediaan plastik lunak dan bambu betung sebagai sumber daya lokalyang murah dan terbarukan. Melalui proses edukasi dan pelibatan masyarakat, berhasil dikumpulkan±180 botol ecobrick berisi ±45 kg limbah plastik yang digunakan sebagai elemen dinding dalambangunan berukuran 3x3 meter. Bambu digunakan sebagai struktur utama (kolom dan rangka atap),sedangkan ecobrick disusun horizontal dan direkatkan dengan mortar tanah dan semen. Uji materialmenunjukkan bahwa ecobrick mampu menahan beban tekan 120–150 kg, sedangkan bambu yang telahdiawetkan cukup kuat untuk menopang bangunan ringan satu lantai. Secara lingkungan, program iniberhasil meningkatkan kebersihan dan mendorong budaya pemilahan sampah. Secara sosial, 82%responden menyatakan tertarik menggunakan ecobrick-bambu untuk bangunan kecil, dan 70%berkomitmen melanjutkan pemilahan sampah. Prototipe bangunan yang dibangun bersama wargadalam waktu 10 hari menunjukkan efisiensi biaya hingga 35% dibandingkan material konvensional.Kombinasi ecobrick dan bambu dinilai cocok untuk bangunan non-permanen seperti ruang baca, posronda, atau tempat bermain anak, dan memperkuat kemandirian desa dalam pengelolaan material danlingkungan secara berkelanjutan.
DESAIN ADAPTIF HUNIAN PASCA BENCANA BERBASIS ARSITEKTUR VERNAKULAR DI ACEH TAHUN 2021 Sumarto, Donny Arief; Armia, Armia; Mildani, Renny; Hardian, Rinal; Safrizan, Safrizan
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 7, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v7i2.4921

Abstract

Aceh merupakan wilayah yang rawan bencana, terutama gempa bumi dan tsunami. Tragedi tsunami tahun2004 mengubah paradigma perencanaan permukiman di daerah pesisir Aceh. Meskipun berbagai lembagatelah membangun ribuan unit hunian pasca bencana, banyak dari hunian tersebut tidak mempertimbangkanaspek sosial budaya dan iklim lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana prinsipprinsiparsitektur vernakular Aceh dapat diadopsi dalam desain hunian pasca bencana yang adaptif danberkelanjutan. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui studi kasus di dua wilayahterdampak tsunami. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Hasilmenunjukkan bahwa prinsip-prinsip seperti rumah panggung, penggunaan material lokal, sistem ventilasisilang, dan orientasi bangunan tradisional terbukti efektif dan relevan untuk diterapkan. Integrasi elemenelemenvernakular ini dapat meningkatkan ketahanan hunian serta keberterimaan sosial oleh masyarakatlokal.
PEMANFAATAN MATERIAL RINGAN DAN FLEKSIBEL UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN BANGUNAN SEKOLAH BERLANTAI DUA TERHADAP GUNCANGAN SEISMIK Hardian, Rinal; Armia, Armia; Suri, Murnia; Iswanda, Iswanda
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 7, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v7i2.4926

Abstract

Penelitian ini difokuskan untuk mengkaji sejauh mana penggunaan material ringan dan fleksibel dapatmengurangi gaya inersia pada struktur gedung sekolah berlantai dua di kota Banda Aceh, sertamenganalisis pengaruhnya terhadap perilaku dinamis struktur saat terjadi gempa, ditinjau dari aspekdeformasi, percepatan lantai, dan gaya geser dasar. Dengan memahami hubungan ini, diharapkan dapatdiperoleh rekomendasi desain yang lebih efektif dalam pembangunan gedung tahan gempa. Denganmembandingkan jenis material struktur (konvensional Model A vs. ringan/fleksibel Model B) danrespons struktur terhadap gempa, yaitu deformasi maksimum (displacement), percepatan puncak lantai(peak floor acceleration) dan daya geser dasar (base shear). Akhir dari kajian ditemukan bahwa ModelB memiliki periode lebih panjang, artinya lebih lentur ? cocok untuk redam gempa frekuensi tinggi.Gaya geser dasar lebih kecil karena massa bangunan jauh lebih ringan. Perpindahan puncak lebih besar(normal untuk struktur fleksibel) tapi masih dalam batas aman. Drift antar lantai pada Model B masihdi bawah batas SNI (? 2%).
FLOATING HOTEL RESORT DI DANAU TOBA DENGAN TEMA ARSITEKTUR TROPIS Zaini, Azriel; Hardian, Rinal; Saputra, Adam
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 7, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v7i2.4916

Abstract

Abstrak—Indonesia, sebagai negara kepulauan, memiliki potensi besar di sektor pariwisata berkat kekayaan alam danbudaya. Salah satu kawasan yang berkembang pesat adalah Danau Toba, yang telah ditetapkan sebagai Destinasi SuperPrioritas oleh Kementerian Pariwisata. Kawasan ini mencakup 1.145 km2 dengan lebih dari 120 objek wisata di 31kecamatan ("Sinergi Pengembangan Lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas," 2020). Desa Tongging, yang terletak di sisibarat Danau Toba, memiliki potensi wisata menarik, seperti olahraga terjun payung dari Gunung Sipisopiso. Desa ini jugaberperan penting dalam sektor pariwisata lokal, dengan berbagai usaha yang mendukung ekonomi masyarakat, seperti hotel,restoran, dan penyewaan alat olahraga. Kabupaten Karo memiliki iklim tropis dengan musim hujan antara Agustus hinggaJanuari dan musim kemarau antara Februari hingga Juli. Oleh karena itu, diperlukan perancangan fasilitas wisata yang dapatmenyesuaikan dengan iklim tropis di Danau Toba. Salah satu solusi yang diusulkan adalah perancangan Floating HotelResort di Danau Toba, yang akan menjadi alternatif akomodasi unik, dengan mempertimbangkan aspek ekologis dan sosial.Diharapkan resort ini dapat mendukung perekonomian lokal dan meningkatkan daya tarik wisata di kawasan tersebut.
PERANCANGAN KAWASAN WATERFRONT YANG BERKELANJUTAN DI DESA PESISIR LHOKNGA 2022 Sumarto, Donny Arief; Armia, Armia; Mildani, Renny; Hardian, Rinal; Iswanda, Iswanda
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 8, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v8i2.4922

Abstract

Desa Pesisir Lhoknga yang terletak di Kabupaten Aceh Besar merupakan wilayah dengan potensi sumberdaya alam yang tinggi, terutama pada sektor kelautan dan pariwisata bahari. Namun, kawasan inimenghadapi tantangan besar seperti abrasi pantai, degradasi lingkungan, keterbatasan infrastruktur publik,serta minimnya upaya mitigasi terhadap risiko bencana alam, khususnya tsunami. Penelitian ini bertujuanuntuk merancang kawasan waterfront yang berkelanjutan dengan mengintegrasikan aspek ekologis, sosial,ekonomi, dan budaya lokal. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengankombinasi metode observasi lapangan, wawancara partisipatif, studi literatur, dan analisis spasial-zonasi.Hasil analisis menunjukkan pentingnya pembagian zona fungsional berdasarkan karakteristik ekologi danaktivitas masyarakat, yang terdiri dari zona konservasi (restorasi vegetasi pantai dan mangrove), zonaekonomi produktif (pusat perikanan dan UMKM pesisir), serta zona edukatif-rekreatif (taman interaktif,jalur evakuasi, dan ruang publik terbuka). Rancangan kawasan ini menerapkan prinsip-prinsip greeninfrastructure, seperti drainase berwawasan lingkungan, penggunaan material lokal ramah lingkungan, sertastrategi mitigasi risiko bencana berbasis komunitas. Melalui pendekatan desain partisipatif dan prinsipkeberlanjutan, perancangan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir Lhoknga,memperkuat identitas kawasan, dan menjadi prototipe pengembangan waterfront pesisir yang adaptifterhadap perubahan iklim dan tantangan lingkungan masa depan.
ANALISIS STRATEGI DESAIN RUMAH TINGGAL RENDAH EMISI UNTUK ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DI KECAMATAN MEURAXA KOTA BANDA ACEH Hardian, Rinal; Sumarto, Donni Arief; Suri, Murnia; Safrizan, Safrizan
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 8, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v8i2.4927

Abstract

Penelitian ini menganalisis karakteristik desain rumah tinggal di Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh,dalam konteks adaptasi terhadap perubahan iklim, khususnya efisiensi termal dan ketahanan terhadapbanjir. Hasil observasi terhadap enam rumah menunjukkan bahwa bentuk bangunan memanjang denganatap pelana tinggi (>30°) dan bukaan di sisi panjang mendukung ventilasi silang yang optimal,menghasilkan suhu dalam ruang yang lebih rendah hingga ±1,5°C dibandingkan rumah dengan bentukmassa kompak dan atap datar. Ventilasi silang pasif yang dihadirkan melalui bukaan berseberangansecara signifikan menurunkan suhu dalam ruang dan mengurangi kebutuhan pendinginan buatan.Penggunaan material lokal seperti kayu juga menunjukkan performa termal yang stabil (29–30°C) sertaemisi embodied carbon yang lebih rendah (±150–180 kg CO?/m²), meskipun perlu mempertimbangkanketahanan terhadap kelembapan dan rayap. Selain itu, elevasi bangunan terbukti memengaruhiketahanan terhadap banjir; rumah panggung dengan elevasi >1 meter tidak mengalami genangan, sertamemberikan manfaat tambahan dalam sirkulasi udara bawah rumah. Temuan ini menegaskanpentingnya pendekatan desain arsitektur tropis dan berkelanjutan dalam merespons tantangan iklim dikawasan pesisir.
PENERAPAN PRINSIP MODULAR DESIGN UNTUK HUNIAN TERJANGKAU DI PERKOTAAN BANDA ACEH 2023 Sumarto, Donny Arief; Armia, Armia; Zaini, Azriel; Mildani, Renny; Hardian, Rinal; Mercuri, Popi
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 9, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v9i2.4923

Abstract

Ketersediaan hunian terjangkau di kawasan perkotaan Banda Aceh menjadi isu krusial seiringmeningkatnya urbanisasi, keterbatasan lahan, dan tingginya biaya konstruksi konvensional. Pendekatanmodular design atau desain modular menawarkan solusi strategis untuk mempercepat pembangunan,menekan biaya, serta menyediakan hunian yang fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat urban.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi penerapan prinsip modular design dalam kontekspembangunan hunian terjangkau di Banda Aceh, dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, dangeografis lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studiliteratur, observasi lapangan, serta wawancara dengan pemangku kepentingan, termasuk perencana kota,arsitek, pengembang, dan warga. Penelitian ini juga dilengkapi dengan studi komparatif terhadap beberapaproyek hunian modular di kota lain yang memiliki karakteristik serupa. Hasil penelitian menunjukkanbahwa penerapan modular design mampu menurunkan biaya konstruksi hingga 20–30% dan mempercepatwaktu pembangunan hingga setengah dari metode konvensional. Sistem ini juga memungkinkanpengembangan bertahap dan penyesuaian desain terhadap budaya lokal Aceh, seperti penggunaan bentukatap tradisional dan orientasi bangunan yang merespon iklim tropis. Meskipun demikian, beberapatantangan seperti keterbatasan industri prefabrikasi lokal, regulasi yang belum mendukung, dan persepsimasyarakat terhadap hunian modular perlu diatasi melalui pendekatan lintas sektor dan kebijakan insentif.Studi ini menyimpulkan bahwa modular design memiliki potensi besar dalam menyediakan hunianterjangkau yang efisien dan berkelanjutan di Banda Aceh, terutama jika diintegrasikan dengan kebijakanpemerintah dan partisipasi masyarakat. Rekomendasi utama dari penelitian ini adalah perlunya dukungankebijakan, penyediaan infrastruktur produksi modular, serta edukasi publik terhadap manfaat desainmodular dalam konteks hunian urban.