Hardian, Rinal
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROYEK PATCHING SIMPANG JALAN PENDIDIKAN GAMPONG PUNGE BLANG CUT KECAMATAN JAYA BARU KOTA BANDA ACEH Hardian, Rinal; Zaini, Azriel; Suri, Murnia; Kombih, Alfiansyah
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 10, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v10i2.4929

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dimensi sosial dari penerapan prinsip circular economymelalui pemanfaatan ecobrick dan bambu dalam pembangunan bangunan sederhana di Desa Nusa,Kecamatan Lhoknga. Fokus utama diarahkan pada pemahaman informasi, tingkat partisipasimasyarakat, perubahan sikap, tingkat kepuasan, dan keberlanjutan pasca pelaksanaan proyek.Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci (tokohgampong, ketua lingkungan, ibu rumah tangga, dan pemuda), observasi lapangan, serta penelusurandokumen internal gampong. Hasil menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat terhadapproyek bervariasi tergantung saluran informasi yang digunakan. Tokoh gampong memiliki pemahamanyang baik karena mendapat penjelasan langsung, sedangkan ibu rumah tangga dan pemuda umumnyamenerima informasi secara tidak langsung, menyebabkan rendahnya pemahaman detail. Dalam halpartisipasi, mayoritas warga berada pada tingkat manipulatif (41,7%) dan hanya sebagian kecil yangterlibat dalam pengambilan keputusan (16,7%). Meski demikian, terdapat perubahan positif dalam sikapmasyarakat: sebanyak 73,3% informan menunjukkan peningkatan rasa memiliki terhadap fasilitaspublik, dan 46,7% berpartisipasi secara sukarela dalam perawatan pasca proyek. Tingkat kepuasanmasyarakat terhadap hasil proyek juga tinggi, dengan 80% menyatakan kualitas pembangunan sesuaiharapan dan 66,7% menilai pelaksanaannya transparan. Aspek keberlanjutan menunjukkan potensipenguatan dengan 33,3% warga mulai melakukan perawatan swadaya, meskipun pembentukankelompok pemelihara formal masih rendah (13,3%). Penelitian ini menegaskan pentingnya komunikasiyang efektif dan pendekatan partisipatif sejak awal perencanaan agar penerapan prinsip circulareconomy tidak hanya berdampak secara lingkungan, tetapi juga berkelanjutan secara sosial.
PENGARUH ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH PADA BANGUNAN PEMERINTAHAN Mildani, Renny; Hardian, Rinal; Saputra, Adam
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 8, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v8i2.4965

Abstract

Salah satu wujud kebudayaan tradisional Indonesia, dapat dilihat pada Arsitektur Tradisional Aceh. Arsitektur Tradisional Aceh merupakan cerminan dari budaya, pola hidup, dan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat Aceh, sehingga bentukan arsitektur tradisionalnya dapat terlihat pada “Rumoh Aceh” (Hoesin, 1970). Rumoh Aceh merupakan wujud ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap lingkungan. Menurut Mirsa (2013), unsur-unsur pada Rumah Tradisional Aceh terlihat pada bentuk rumah panggung yang ditopang oleh tiang-tiang yangdiatur sejajar, orientasi menghadap Utara dan Selatan, sehingga rumah membujur dari Timur ke Barat, menggunakan ornamen/ukiran yang menempel pada bangunan, dominan menggunakan material kayu serta menggunakan teknologi tradisional dalam membangun struktur dan konstruksinya.Seiring perkembangan zaman, pada masa sekarang dimana tuntutan akan kebutuhan, pola hidup, serta seluruh aspek kehidupannya manusia secara tidak langsung akan berdampak terhadap bentukan Arsitektur Tradisional yang mulai meninggalkan ciri keadaerahannya. Pengaruh modernisasi serta globalisasi akibatdari kemajuan teknologi bangunan, membawa perubahan dalam masyarakat dari keadaan tradisional menuju kearah modern. Hampir setiap bangunan dalam kurun waktu tertentu akan mengalami perubahan baik secara langsung maupun tidak langsung. Awalnya Arsitektur Tradisional dibangun menyesuaikan dengan norma, adat, budaya, kondisi alam dan material bangunan setempat. Dengan kemajuan teknologi bangunan, ditemukannya material- material baru dan pengerjaan struktur dan konstruksi yang lebih mudah membuat bentukan Arsitektur Tradisionaldisesuiakan dengan perubahan yang terjadi akibat kemajuan teknologi bangunan. Dalam upaya Arsitektur Tradisional tidak tersingkirkan oleh modernisasi maka Arsitektur Regionalisme muncul untuk menyatukan antara arsitektur yang lama dengan arsitektur yang baru.Konsep regionalisme berkembang sekitar tahun 1960 (Jenks, 1977), sebagai salah satu perkembangan arsitektur post-modern yang mempunyai perhatian besar pada ciri kedaerahan. Ciri kedaerahan yang dimaksud berkaitan erat dengan budaya setempat, iklim, dan teknologi pada saatnya (Ozkan, 1985). Gagasan regionalisme merupakan peleburan antara yang lama dan yang baru (Curtis,1985). Sedangkan gagasan postmodern dalam arsitektur berusaha menghadirkan yang lama dalam bentuk universal (Jenks, 1977). Menurut Curtis (1985), Regionalisme diharapkandapat menghasilkan bangunan yang bersifat abadi, melebur atau menyatu antara yang lama dan yang baru, antara regional dan universal. Arsitektur tradisional mempunyai lingkup regional sedangkan arsitektur modern mempunyai lingkup universal. Dengan demikian yang menjadi ciri utama regionalism adalah menyatukan arsitektur Tradisional dan Arsitektur Modern.Kecenderungan memakai kembali unsur desain arsitektur tradisional yang kemudian menjadi inspirasi desain arsitektur modern sebagai usaha untuk bertindak lebih baik terhadap lingkungan. Usaha ini mendukung untuk menciptakan suatu desain yang baik di Indonesia, hal ini umumnya diterapkan pada rancangan bangunankantor pemerintah, yang merupakan salah satu usaha untuk mengangkat ciri khas setiap daerah dari segi karya arsitektur. Prijotomo (1998) menyatakan bahwa suatu karya arsitektur dapat dirasakan dan dilihat sebagai karya yang bercorak lokal atau Indonesia bila karya ini mampu untuk berikut : (1) Membangkitkan perasaan dan suasana ke-Indonesiaan lewat rasa dan suasana lingkungan visual dan (2) Menampilkan  unsur  dan komponen  arsitektural  yang  nampak  pada corak kedaerahannya, tetapi tidak hadir sebagai tempelan atau tambahan saja.
DESAIN ADAPTIF HUNIAN PASCA BENCANA BERBASIS ARSITEKTUR VERNAKULAR DI ACEH TAHUN 2021 Sumarto, Donny Arief; Armia, Armia; Mildani, Renny; Hardian, Rinal; Safrizan, Safrizan
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 7, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v7i2.4921

Abstract

Aceh merupakan wilayah yang rawan bencana, terutama gempa bumi dan tsunami. Tragedi tsunami tahun2004 mengubah paradigma perencanaan permukiman di daerah pesisir Aceh. Meskipun berbagai lembagatelah membangun ribuan unit hunian pasca bencana, banyak dari hunian tersebut tidak mempertimbangkanaspek sosial budaya dan iklim lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana prinsipprinsiparsitektur vernakular Aceh dapat diadopsi dalam desain hunian pasca bencana yang adaptif danberkelanjutan. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui studi kasus di dua wilayahterdampak tsunami. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Hasilmenunjukkan bahwa prinsip-prinsip seperti rumah panggung, penggunaan material lokal, sistem ventilasisilang, dan orientasi bangunan tradisional terbukti efektif dan relevan untuk diterapkan. Integrasi elemenelemenvernakular ini dapat meningkatkan ketahanan hunian serta keberterimaan sosial oleh masyarakatlokal.
PEMANFAATAN MATERIAL RINGAN DAN FLEKSIBEL UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN BANGUNAN SEKOLAH BERLANTAI DUA TERHADAP GUNCANGAN SEISMIK Hardian, Rinal; Armia, Armia; Suri, Murnia; Iswanda, Iswanda
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 7, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v7i2.4926

Abstract

Penelitian ini difokuskan untuk mengkaji sejauh mana penggunaan material ringan dan fleksibel dapatmengurangi gaya inersia pada struktur gedung sekolah berlantai dua di kota Banda Aceh, sertamenganalisis pengaruhnya terhadap perilaku dinamis struktur saat terjadi gempa, ditinjau dari aspekdeformasi, percepatan lantai, dan gaya geser dasar. Dengan memahami hubungan ini, diharapkan dapatdiperoleh rekomendasi desain yang lebih efektif dalam pembangunan gedung tahan gempa. Denganmembandingkan jenis material struktur (konvensional Model A vs. ringan/fleksibel Model B) danrespons struktur terhadap gempa, yaitu deformasi maksimum (displacement), percepatan puncak lantai(peak floor acceleration) dan daya geser dasar (base shear). Akhir dari kajian ditemukan bahwa ModelB memiliki periode lebih panjang, artinya lebih lentur ? cocok untuk redam gempa frekuensi tinggi.Gaya geser dasar lebih kecil karena massa bangunan jauh lebih ringan. Perpindahan puncak lebih besar(normal untuk struktur fleksibel) tapi masih dalam batas aman. Drift antar lantai pada Model B masihdi bawah batas SNI (? 2%).
FLOATING HOTEL RESORT DI DANAU TOBA DENGAN TEMA ARSITEKTUR TROPIS Zaini, Azriel; Hardian, Rinal; Saputra, Adam
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 7, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v7i2.4916

Abstract

Abstrak—Indonesia, sebagai negara kepulauan, memiliki potensi besar di sektor pariwisata berkat kekayaan alam danbudaya. Salah satu kawasan yang berkembang pesat adalah Danau Toba, yang telah ditetapkan sebagai Destinasi SuperPrioritas oleh Kementerian Pariwisata. Kawasan ini mencakup 1.145 km2 dengan lebih dari 120 objek wisata di 31kecamatan ("Sinergi Pengembangan Lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas," 2020). Desa Tongging, yang terletak di sisibarat Danau Toba, memiliki potensi wisata menarik, seperti olahraga terjun payung dari Gunung Sipisopiso. Desa ini jugaberperan penting dalam sektor pariwisata lokal, dengan berbagai usaha yang mendukung ekonomi masyarakat, seperti hotel,restoran, dan penyewaan alat olahraga. Kabupaten Karo memiliki iklim tropis dengan musim hujan antara Agustus hinggaJanuari dan musim kemarau antara Februari hingga Juli. Oleh karena itu, diperlukan perancangan fasilitas wisata yang dapatmenyesuaikan dengan iklim tropis di Danau Toba. Salah satu solusi yang diusulkan adalah perancangan Floating HotelResort di Danau Toba, yang akan menjadi alternatif akomodasi unik, dengan mempertimbangkan aspek ekologis dan sosial.Diharapkan resort ini dapat mendukung perekonomian lokal dan meningkatkan daya tarik wisata di kawasan tersebut.
PERANCANGAN KAWASAN WATERFRONT YANG BERKELANJUTAN DI DESA PESISIR LHOKNGA 2022 Sumarto, Donny Arief; Armia, Armia; Mildani, Renny; Hardian, Rinal; Iswanda, Iswanda
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 8, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v8i2.4922

Abstract

Desa Pesisir Lhoknga yang terletak di Kabupaten Aceh Besar merupakan wilayah dengan potensi sumberdaya alam yang tinggi, terutama pada sektor kelautan dan pariwisata bahari. Namun, kawasan inimenghadapi tantangan besar seperti abrasi pantai, degradasi lingkungan, keterbatasan infrastruktur publik,serta minimnya upaya mitigasi terhadap risiko bencana alam, khususnya tsunami. Penelitian ini bertujuanuntuk merancang kawasan waterfront yang berkelanjutan dengan mengintegrasikan aspek ekologis, sosial,ekonomi, dan budaya lokal. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengankombinasi metode observasi lapangan, wawancara partisipatif, studi literatur, dan analisis spasial-zonasi.Hasil analisis menunjukkan pentingnya pembagian zona fungsional berdasarkan karakteristik ekologi danaktivitas masyarakat, yang terdiri dari zona konservasi (restorasi vegetasi pantai dan mangrove), zonaekonomi produktif (pusat perikanan dan UMKM pesisir), serta zona edukatif-rekreatif (taman interaktif,jalur evakuasi, dan ruang publik terbuka). Rancangan kawasan ini menerapkan prinsip-prinsip greeninfrastructure, seperti drainase berwawasan lingkungan, penggunaan material lokal ramah lingkungan, sertastrategi mitigasi risiko bencana berbasis komunitas. Melalui pendekatan desain partisipatif dan prinsipkeberlanjutan, perancangan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir Lhoknga,memperkuat identitas kawasan, dan menjadi prototipe pengembangan waterfront pesisir yang adaptifterhadap perubahan iklim dan tantangan lingkungan masa depan.
ANALISIS STRATEGI DESAIN RUMAH TINGGAL RENDAH EMISI UNTUK ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DI KECAMATAN MEURAXA KOTA BANDA ACEH Hardian, Rinal; Sumarto, Donni Arief; Suri, Murnia; Safrizan, Safrizan
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 8, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v8i2.4927

Abstract

Penelitian ini menganalisis karakteristik desain rumah tinggal di Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh,dalam konteks adaptasi terhadap perubahan iklim, khususnya efisiensi termal dan ketahanan terhadapbanjir. Hasil observasi terhadap enam rumah menunjukkan bahwa bentuk bangunan memanjang denganatap pelana tinggi (>30°) dan bukaan di sisi panjang mendukung ventilasi silang yang optimal,menghasilkan suhu dalam ruang yang lebih rendah hingga ±1,5°C dibandingkan rumah dengan bentukmassa kompak dan atap datar. Ventilasi silang pasif yang dihadirkan melalui bukaan berseberangansecara signifikan menurunkan suhu dalam ruang dan mengurangi kebutuhan pendinginan buatan.Penggunaan material lokal seperti kayu juga menunjukkan performa termal yang stabil (29–30°C) sertaemisi embodied carbon yang lebih rendah (±150–180 kg CO?/m²), meskipun perlu mempertimbangkanketahanan terhadap kelembapan dan rayap. Selain itu, elevasi bangunan terbukti memengaruhiketahanan terhadap banjir; rumah panggung dengan elevasi >1 meter tidak mengalami genangan, sertamemberikan manfaat tambahan dalam sirkulasi udara bawah rumah. Temuan ini menegaskanpentingnya pendekatan desain arsitektur tropis dan berkelanjutan dalam merespons tantangan iklim dikawasan pesisir.
PENERAPAN PRINSIP MODULAR DESIGN UNTUK HUNIAN TERJANGKAU DI PERKOTAAN BANDA ACEH 2023 Sumarto, Donny Arief; Armia, Armia; Zaini, Azriel; Mildani, Renny; Hardian, Rinal; Mercuri, Popi
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 9, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v9i2.4923

Abstract

Ketersediaan hunian terjangkau di kawasan perkotaan Banda Aceh menjadi isu krusial seiringmeningkatnya urbanisasi, keterbatasan lahan, dan tingginya biaya konstruksi konvensional. Pendekatanmodular design atau desain modular menawarkan solusi strategis untuk mempercepat pembangunan,menekan biaya, serta menyediakan hunian yang fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat urban.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi penerapan prinsip modular design dalam kontekspembangunan hunian terjangkau di Banda Aceh, dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, dangeografis lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studiliteratur, observasi lapangan, serta wawancara dengan pemangku kepentingan, termasuk perencana kota,arsitek, pengembang, dan warga. Penelitian ini juga dilengkapi dengan studi komparatif terhadap beberapaproyek hunian modular di kota lain yang memiliki karakteristik serupa. Hasil penelitian menunjukkanbahwa penerapan modular design mampu menurunkan biaya konstruksi hingga 20–30% dan mempercepatwaktu pembangunan hingga setengah dari metode konvensional. Sistem ini juga memungkinkanpengembangan bertahap dan penyesuaian desain terhadap budaya lokal Aceh, seperti penggunaan bentukatap tradisional dan orientasi bangunan yang merespon iklim tropis. Meskipun demikian, beberapatantangan seperti keterbatasan industri prefabrikasi lokal, regulasi yang belum mendukung, dan persepsimasyarakat terhadap hunian modular perlu diatasi melalui pendekatan lintas sektor dan kebijakan insentif.Studi ini menyimpulkan bahwa modular design memiliki potensi besar dalam menyediakan hunianterjangkau yang efisien dan berkelanjutan di Banda Aceh, terutama jika diintegrasikan dengan kebijakanpemerintah dan partisipasi masyarakat. Rekomendasi utama dari penelitian ini adalah perlunya dukungankebijakan, penyediaan infrastruktur produksi modular, serta edukasi publik terhadap manfaat desainmodular dalam konteks hunian urban.
PRINSIP ARSITEKTUR VERNACULAR ACEH DALAM DESAIN FUNGSIONAL PERUMAHAN DI GAMPONG NEUHEUN KECAMATAN MESJID RAYA KABUPATEN ACEH BESAR Hardian, Rinal; Suri, Murnia; Henika, Yuli
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 9, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v9i2.4928

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi integrasi prinsip arsitektur vernakular Aceh dalam desainfungsional perumahan di Gampong Neuheun, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Fokusutama penelitian ini adalah bagaimana elemen-elemen arsitektur tradisional seperti penataan ruang yangmencerminkan nilai adat, struktur keluarga, dan pola kehidupan sosial masyarakat Aceh, dapatdiakomodasi dalam konteks perumahan modern, khususnya pada perumahan bantuan dari pihakeksternal. Pendekatan yang digunakan bersifat kualitatif dengan metode observasi lapangan, wawancaradengan penghuni, dan analisis desain ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besarpenghuni melakukan modifikasi terhadap rumah bantuan untuk menyesuaikan dengan kebutuhanbudaya local. Hal ini menunjukkan pentingnya perumahan yang tidak hanya layak secara fisik, tetapijuga kontekstual secara sosial dan kultural. Temuan dari penelitian ini merekomendasikan agar prinsiparsitektur vernakular Aceh dijadikan acuan awal dalam desain perumahan, terutama dalam programbantuan, guna memastikan keberlanjutan, kenyamanan, dan keberterimaan oleh masyarakat lokal.
REINTERPRETASI ARSITEKTUR TRADISIONAL DALAM DESAIN MUSEUM BUDAYA LOKAL ACEH 2024 Sumarto, Donny Arief; Armia, Armia; Zaini, Azriel; Mildani, Renny; Hardian, Rinal; Farliansyah, Farliansyah
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol 10, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v10i2.4924

Abstract

Arsitektur tradisional merupakan representasi konkret dari nilai-nilai budaya, kepercayaan, serta cara hidupmasyarakat lokal yang telah teruji oleh waktu. Di Aceh, Rumoh Aceh sebagai rumah adat tidak hanyamemiliki nilai estetika, tetapi juga simbolisme dan filosofi mendalam yang merefleksikan identitasmasyarakat Aceh. Dalam konteks perancangan museum budaya lokal, penting untuk menghadirkanbangunan yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang pameran, tetapi juga menjadi simbol representasibudaya daerah. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi konsep reinterpretasi arsitektur tradisional Acehdalam rancangan museum budaya lokal yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan masa kini. Metodeyang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik studi literatur, observasi lapangan, analisiselemen arsitektur tradisional, serta eksplorasi desain konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwaelemen-elemen arsitektur tradisional seperti struktur panggung, bentuk atap limas, orientasi ruang, materiallokal, serta ornamen ukiran dapat diadaptasi secara kreatif dalam desain modern. Reinterpretasi dilakukanbukan melalui duplikasi bentuk semata, tetapi melalui transformasi makna dan fungsi yangmempertimbangkan aspek keberlanjutan, iklim tropis, teknologi konstruksi, dan kebutuhan ruang museumkontemporer. Penerapan reinterpretasi ini mampu menciptakan museum yang tidak hanya fungsional danestetis, tetapi juga komunikatif secara kultural. Museum menjadi media edukatif yang tidak hanyamenampilkan artefak budaya, tetapi juga menampilkan arsitektur itu sendiri sebagai bagian dari narasibudaya. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi strategis bagi arsitek, perancang kebijakan, danpemangku budaya dalam merancang bangunan publik yang menghargai dan menghidupkan kembali nilainilaiarsitektur lokal.