Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Pelatihan Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis Literasi Numerasi dan TPACK di SDN Dermo 2 Kediri Dian Devita Yohanie; Aan Nurfahrudianto; Jatmiko Jatmiko; Samijo Samijo; Darsono Darsono; Ika Santia; Aprilia Dwi Handayani; Bambang Agus Sulistyono; Lina Rihatul Hima; Suryo Widodo; Yuni Katminingsih
Jurnal Abdimas UNU Blitar Vol 5 No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1, Juli 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/jppnu.v5i1.162

Abstract

ABSTRAK Berdasarkan analisis situasi yang dilakukan dengan metode wawancara kepada kepala SDN Dermo 2 Kediri bahwa guru belum sepenuhnya memanfaatkan dan membuat media pembelajaran digital sebagai bahan ajar alternatif. Dalam proses pembelajaran kondisi siswa banyak yang tidak menyimak penjelasan guru, hal ini bisa dilihat dari kurangnya motivasi siswa dalam menjawab setiap pertanyaan guru. Jika hal ini terus dibiarkan maka akan berdampak pada hasil belajar siswa yang tidak maksimal. Adapun solusi yang ditawarkan adalah memberi workshop, mediasi serta bantuan berupa penyediaan forum bagi guru untuk mengenal lebih jauh tentang pembuatan media pembelajaran (berbasis literasi numerasi dan TPACK) dalam pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi guru. Metode yang digunakan pertama melakukan analisis situasi, pelaksanaan kegiatan dan evaluasi. Dari hasil evaluasi menunjukkan bahwa respon pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis literasi numerasi dan TPACK pada kategori keterbaruan rata-rata 88,75 dengan kategori respon sangat baik. Respon pelatihan media pembelajaran berbasis literasi numerasi dan TPACK pada kategori kebermanfaatan mencapai 91,25 dengan kategori respom sangat baik juga. Hasil kegiatan pelatihan ini secara garis besar menunjukkan keberhasilan kegiatan melalui tingkat pemahaman peserta dalam pengetahuan, keterampilan dan lebih percaya diri untuk meningkatkan kompetensi guru.
KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS DITINJAU DARI HASIL BELAJAR SISWA Frischa Angelline Kurniawan; Aan Nurfahrudianto; Dian Devita Yohanie
Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti Vol 10 No 3 (2023)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jipcb.v10i3.2077

Abstract

Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu tujuan dalam pembelajaran matematika (King & Goodson dalam Muliana, 2016) dalam (Pertiwi, 2018). Menurut Ennis (2015) Seseorang yang mempunyai kemampuan berpikir kritis harus memenuhi 12 indikator diantaranya memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, bertanya dan menjawab pertanyaan, mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak, mengobservasi dan mempertimbangakan laporan observasi, mendeduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi, menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi, membuat dan menentukan hasil pertimbangan, mengartikan istilah dan mempertimbangkan suatu arti, mengidentifikasi suatu asumsi, menentukan suatu tindakan, berinteraksi dengan orang lain. Menurut (Perkins & Murphy, 2006) berpikir kritis dibagi dalam 4 tahap yaitu klarifikasi (clarification), asesmen (assessment), penyimpulan (inference), strategi/ taktik (strategy/tactic). Adapun indikator menurut Polya dalam adalah memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, melakukan rencana pemecahan masalah dan memeriksa kembali pemecahan masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis matematis ditinjau dari hasil belajar siswa dengan kategori hasil belajar rendah, sedang dan tinggi. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan siswa dengan kategori hasil belajar rendah mampu memenuhi lima indikator berpikir kritis menurut Perkins & Murphy yang disandingkan dengan indikator pemecahan masalah menurut Polya. Siswa dengan kategori hasil belajar sedang mampu memenuhi lima indikator berpikir kritis menurut Perkins & Murphy yang disandingkan dengan indikator pemecahan masalah menurut Polya. Sedangkan siswa dengan kategori hasil belajar tinggi mampu memenuhi enam indikator berpikir kritis menurut Perkins & Murphy yang disandingkan dengan indikator pemecahan masalah menurut Polya.
ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL SISTEM PERTIDAKSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL MENGGUNAKAN TEORI PEMAHAMAN SKEMP Desy Anggraini; Dian Devita Yohanie; Aan Nurfahrudianto
Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jipcb.v11i1.2060

Abstract

Matematika adalah sesuatu yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang berpikir matematika itu sulit untuk dipelajari, tetapi itu bukan alasan untuk tidak mempelajarinya. Penelitian ini dilakukan berdasarkan hasil pengamatan terhadap objek penelitian yang menunjukkan kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal Sistem Pertidaksamaan Linear Dua Variabel. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis analisis deskriptif. Penelitian dilakukan di SMAN 1 Kediri dengan subjek yang terdiri dari 6 siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang memiliki pemahaman instrumental cenderung lebih kesulitan dalam menyelesaikan soal sistem pertidaksamaan linier dua variabel, untuk kelompok siswa yang dapat dikategorikan kedalam pemahaman instrumental adalah kelompok siswa yang berkemampuan rendah. Sedangkan siswa yang memiliki pemahaman relasional cenderung lebih sedikit mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal sistem pertidaksamaan linier dua variabel, untuk kelompok siswa yang dapat dikategorikan kedalam pemahaman relasional adalah kelompok siswa yang berkemampuan tinggi dan berkemampuan sedang. Penyebab siswa kesulitan menyelesaikan soal sistem pertidaksamaan linear dua variabel adalah karena belum memahami konsep itu sendiri. Akibatnya, siswa mengalami kesulitan ketika diminta untuk menjawab permasalahan terkait sistem pertidaksamaan linear dua variabel.
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SOAL CERITA DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF SISWA Sinta Nur Aishah; Dian Devita Yohanie; Aan Nurfahrudianto
Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jipcb.v11i1.2061

Abstract

Kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah bervariasi, antara lain kesulitan dalam memahami soal, mengubah soal ke dalam bahasa matematika, dan penerapan rumus yang kurang tepat. Kemampuan pemecahan masalah setiap siswa berbeda karena dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya gaya kognitif. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal cerita program linier pada gaya kognitif reflektif dan untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal cerita program linier pada gaya kognitif impulsif. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Teknik analisis data menggunakan analisis data kemampuan pemecahan masalah. Subjek dalam penelitian ini 4 siswa kelas XI yang terdiri dari 2 siswa dengan gaya kognitif reflektif dan 2 siswa dengan gaya kognitif impulsif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dengan gaya kognitif reflektif lebih baik, dimana subjek mampu menyelesaikan empat tahapan kemampuan pemecahan masalah polya yaitu tahap memahami soal, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian, dan tahap memeriksa kembali, sedangkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dengan gaya kognitif impulsif masih kurang, dimana subjek hanya dapat melakukan tahapan memahami masalah dan merencanakan penyelesaian. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dengan gaya kognitif reflektif lebih baik dibandingkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dengan gaya kognitif impulsif.
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL SISWA Dian Majekroatina; Darsono; Dian Devita Yohanie
Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jipcb.v11i1.2177

Abstract

Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan guru matapelajaranmatematika yang mengatakan bhwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih rendah, hal ini diperkuat dengan adanya bukti dari hasil nilai PTS pelajaran matematika siswa SMP Negeri 1 Grogol.Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dalam menyelesaiakan persoalan dalam materi SPLDV di SMP Negeri 1 Grogol. Metode pendekatan yang dikunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan diskriptif kualitatif. Subjek penelitian Siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 grogol yang berjumlah 32 siswa. untuk pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen dalam bentuk tes soal tertulis dan pendoman wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa siswa dengan kateggori nilai PTS matematika tinggi berhasil menyelesaian semua persoalan matematika dengan lengkap dan benar. Siswa dengan kategori nilai PTS matematika sedang mampu memahami masalah dalam soal yang diberikan namun kurang teliti dalam pengerjaan. Siswa dengan kategori nilai PTS matematika rendah belum mampu mengerjakan persoalan matemtika yang diberikan.
ANALISIS BERPIKIR KRITIS SISWA SMP PADA PEMECAHAN MASALAH SPLDV BERDASARKAN KEMAMPUAN MATEMATIS Am Ayu Kusuma Dewi; Dian Devita Yohanie; Ika Santia
Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jipcb.v11i1.2184

Abstract

Berdasarkan hasil observasi terdapat 70? siswa SMPN 1 Loceret belum menunjukkan proses berpikir kritis pada proses pemecahan masalah SPLDV, padahal proses berpikir kritis merupakan aspek yang sangat penting yang harus dimiliki siswa ketika belajar matematika, terutama ketika memecahkan masalah yang membutuhkan alternatif pemecahan yang lebih mendalam. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan hasil analisis berpikir kritis siswa SMP pada pemecahan masalah SPLDV bersadarkan kemampuan matematis tinggi, sedang, rendah. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data yang dihasilkan akan berupa hasil triangulasi yang diperoleh dari hasil tes tulis dan wawancara. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Loceret yang berjumlah 3 siswa (SM,SD,FA). Hasil penelitian menunjukkan Subjek dengan proses berpikir kritis tinggi dapat mengungkapkan setiap indikator berpikir kritis dengan lancar sehingga subjek dapat menyelesaikan masalah dengan tepat. Subjek dengan proses berpikir kritis sedang kurang dapat mengungkapkan setiap indikator berpikir kritis dengan lancar sehingga subjek kurang dapat menyelesaikan masalah dengan tepat. Subjek hanya menentukan informasi-informasi penting yang ada pada soal nomor 1 dan 2 dengan menuliskan informasi tersebut pada lembar jawaban. Subjek dengan proses berpikir kritis rendah tidak dapat mengungkapkan setiap indikator berpikir kritis dengan lancar sehingga subjek tidak dapat menyelesaikan masalah dengan tepat. Subjek hanya menentukan informasi-informasi penting yang ada pada 1 soal dengan menuliskan informasi tersebut pada lembar jawaban.
Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Berdasarkan Teori Newman Tri Ivanka, Nova Tya; Darsono; Yohanie, Dian Devita
Eksponen Vol. 14 No. 2 (2024): Eksponen: Volume 14 Nomor 2 September 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kotabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47637/eksponen.v14i2.1026

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya tingkat penguasaan siswa dalam pemecahan masalah matematika dan tidak sejalannya dengan salah satu tujuan pembelajaran matematika menurut Permendiknas No.22 Tahun 2006 yaitu bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan pemecahan masalah. Salah satu penerapan pemecahan masalah dalam matematika adalah soal cerita. Selain itu hasil wawancara peneliti dengan guru kelas 5 SD menyatakan bahwa kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dan faktor persekutuan terbesar (FPB) termasuk salah satu materi yang terbilang sulit bagi peserta didik, khususnya pada soal cerita. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendiskripsikan kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita berdasarkan teori newman yaitu kesalahan memahami, kesalahan transformasi dan kesalahan keterampilan proses pada siswa kategori tinggi dan rendah. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Hasil tes dan wawancara yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa tingkat kesalahan memahami pada siswa kelas 5 SD Katolik Frateran 2 cenderung minim, pada siswa dengan kategori tinggi tidak melakukan kesalahan memahami, pada kategori rendah dari 3 soal semua melakukan kesalahan memahami. Tingkat kesalahan transformasi cukup banyak dilakukan, untuk siswa kategori tinggi dari 3 soal melakukan 1 kesalahan transformasi, untuk siswa kategori rendah dari 3 soal semua melakukan kesalahan transformasi. Tingkat kesalahan keterampilan proses cukup banyak dilakukan, untuk siswa kategori tinggi dari 3 soal melakukan 1 kesalahan keterampilan proses, untuk ksiswa kategori rendah dari 3 soal semua melakukan kesalahan keterampilan proses.
Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Materi Bangun Datar Fatmasari, One Ayu; Handayani , Aprilia Dwi; Yohanie, Dian Devita
Eksponen Vol. 14 No. 2 (2024): Eksponen: Volume 14 Nomor 2 September 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kotabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47637/eksponen.v14i2.1027

Abstract

Penelitian ini muncul dari kesadaran akan pentingnya kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menangani soal cerita matematika. Fokus penelitian tertuju pada cara siswa memahami dan menyelesaikan masalah sebagai indikator utama kemampuan pemecahan masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi bangun datar. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan subjek penelitian siswa kelas V. Instrumen yang digunakan adalah soal tes dan wawancara yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya oleh validator ahli. Indikator pemecahan masalah yang digunakan adalah teori Polya meliputi empat tahap yaitu memahami masalah, membuat rencana, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek yang memiliki kemampuan matematika tinggi mampu memecahkan masalah dengan baik dan benar sesuai langkah-langkah Polya, sementara subjek dengan kemampuan matematika sedang dan rendah tidak mampu melakukannya dengan baik dan benar.
Pengembangan Bahan Ajar Interaktif Berbantuan Aplikasi Book Creator dengan Model Problem Based Learning Nisa, Sefiya Khoirun; Yohanie, Dian Devita; Darsono, Darsono
SJME (Supremum Journal of Mathematics Education) Vol 8 No 2 (2024): Supremum Journal of Mahematics Education
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Singaperbangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/sjme.v8i2.11553

Abstract

The objective of this research is to develop interactive learning materials supported by the Book Creator application. Leveraging advancements in information technology is essential for enhancing interactivity in school learning processes. Book Creator facilitates the creation of interactive digital books for classroom use or independent study by students. The research employed a development method, or R&D, utilizing the 4D model. The research instrument uses a questionnaire and test. Expert assessments in media, material, and practitioner confirmed the product's validity with scores of 85.5%, 85%, and 92,3%, signifying a very high validity level. The practicality and effectiveness of the product is proven through testing on students. Average score of 89% from students in limited testing. Subsequent broader testing showed an average score of 86.7%, underscoring the material's practicality. Effectiveness is seen based on the increase in the number of students who have scores above the KKM with an initial percentage of 40% to 84%, indicating that teaching materials have effective criteria.
Thinking Process of Mathematics Education Students in Problem Solving Proof Yohanie, Dian Devita; Botchway, Gloria A.; Nkhwalume, Alakanani Alex; Arrazaki, Mohammed
Interval: Indonesian Journal of Mathematical Education Vol. 1 No. 1 (2023): June
Publisher : Cahaya Ilmu Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37251/ijome.v1i1.611

Abstract

This type of research is quantitative research. This study used document analysis, interviews and evidence problem solving task instruments. Qualitative data analysis was carried out interactively. The results of this study are the thinking processes of 2nd semester Mathematics Education students who have high learning achievements. Solving the problem of proof in a direct way, contraposition, and contradiction in the entry phase of the thought process activity obtained is the same, that is, the subject understands the problem by writing down the antecedents as what is known and the consequent as what must be proven. The thinking process of 2nd semester Mathematics Education students who have moderate learning achievements. Solving the problem of proof in a direct way, contraposition, and contradiction in the entry phase of the thought process activity obtained is the same, that is, the subject understands the problem by writing down the antecedents as what is known and the consequence as what must be proven. The thinking process of 2nd semester Mathematics Education students who have low learning achievements. Solving the problem of proof in a direct way, contraposition, and contradiction in the entering phase of the thinking process activity obtained is the same, that is, the subject understands the problem by writing down the antecedents as what is known and the consequent as what must be proven