Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Exploring the Link between Neuroticism and Work–Life Balance in High-Pressure Banking Jobs Maszura, Leni; Pratama, M. Fikri Jaka; Safitri, Yulia Nanda
Nusantara Journal of Behavioral and Social Science Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/njbss.202512443

Abstract

The banking sector is characterized by high work pressure, long working hours, and demanding performance targets, making it one of the most vulnerable industries to occupational stress and work–life imbalance. While organizational factors such as workload, supervisor support, and company policies are recognized as critical determinants of work–life balance (WLB), studies focusing on dispositional factors, particularly personality traits, remain limited. Neuroticism, as one of the Big Five personality dimensions, is strongly associated with emotional instability, anxiety, and rumination, which may hinder employees’ ability to manage competing role demands effectively. This study aims to examine the relationship between neuroticism and WLB among banking employees in Indonesia, where cultural values and organizational contexts may shape employees’ experiences differently than in Western settings. Using a quantitative correlational design, data were collected from 234 banking employees through purposive sampling. Neuroticism was measured using the Big Five Inventory, while WLB was assessed with the Work–Life Balance Scale. Pearson’s correlation analysis revealed a significant negative relationship between neuroticism and WLB (r = –.210, p < .001, 95% CI [–.320, –.090]), with a small-to-moderate effect size. These findings are consistent with global literature linking neuroticism to poor work–family outcomes, while also highlighting contextual factors that may buffer or intensify this relationship. Theoretically, this study contributes by extending the scope of WLB research to include personality-based determinants in a Southeast Asian context. Practically, the results suggest that banking organizations should design interventions such as stress management training, resilience-building programs, and flexible work arrangements to support employees with high neuroticism profiles.   Abstrak: Sektor perbankan dikenal memiliki karakteristik pekerjaan dengan tekanan tinggi, jam kerja yang panjang, serta tuntutan target yang ketat. Kondisi tersebut seringkali menimbulkan risiko stres kerja dan mengurangi kesempatan karyawan untuk menyeimbangkan peran antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Work-life balance tercapai ketika seseorang mampu memenuhi tuntutan dari kedua ranah tersebut secara proporsional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan neuroticism dengan work-life balance pada karyawan perbankan. Subjek dalam penelitian ini adalah pekerja di sektor perbankan yang berjumlah 234 orang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional, pengukuran variabel dilakukan menggunakan skala big-five personality dan skala-work life balance dengan format likert. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan pearson product moment correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa neuroticism berhubungan negatif secara signifikan dengan work-life balance (r = -0.210, p < .001) artinya semakin tinggi neuroticism, semakin rendah work-life balance dan sebaliknya semakin rendah neuroticism maka semakin tinggi work-life balance. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah pentingnya organisasi perbankan menyediakan dukungan kerja yang memadai serta mengembangkan kebijakan work–life balance terutama bagi karyawan dengan profil neuroticism lebih tinggi.
Kepuasan Pernikahan Pasangan yang Menjalani Long Distance Marriage Marital Satisfaction Julistia, Rini; Muna, Zurratul; Anastasya, Yara Andita; Maszura, Leni; Astuti, Widi; Fissilmi, Siti Rahiel; Syahputra, Muhammad Fadillah
Jurnal Diversita Vol. 11 No. 2 (2025): JURNAL DIVERSITA DESEMBER
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v11i2.16012

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepuasan pernikahan pada pasangan yang menjalani long distance marriage (LDM). Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan teknik snowball sampling, melibatkan 385 responden yang sedang menjalani LDM. Instrumen yang digunakan adalah Skala Kepuasan Pernikahan berdasarkan teori Fowers dan Olson (1993). Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang tinggi (N = 49,6%), dengan aspek aktivitas bersama sebagai faktor yang dominan (61,6%) dan aspek komunikasi yang memperoleh kategori rendah (26%). Analisis berdasarkan jenis kelamin menunjukkan tingkat kepuasan pernikahan perempuan yang lebih tinggi daripada laki-laki, hal ini perempuan lebih cenderung menyesuaikan diri secara emosional dan memiliki kemampuan coping yang lebih baik dalam menghadapi dinamika relasi jarak jauh. Selain itu, analisis berdasarkan lama LDM menunjukkan responden yang menjalani LDM lebih dari lima tahun memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang tinggi dibandingkan kelompok lainnya, hal ini didukung oleh komitmen yang kuat, kemampuan adaptif, serta kemampuan dalam menyelesaikan masalah bersama. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas hubungan dapat terjaga meskipun secara fisik terpisah.
Fostering Productive Village Youth: Soft-Skills and Work Culture Development through Village-Owned Enterprise (BUMDes) Programs in Cibrek Baroh Village Pratama, M. Fikri Jaka; Maszura, Leni; Lestari, Maya; Safitri, Yulia Nanda; Rahma, Febriani; Iramadhani, Dwi; Akbar, Muhammad Naufal; Tambun, Vincent
Gotong Royong: Jurnal Pengabdian, Pemberdayaan Dan Penyuluhan Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): Gotong Royong (JP3KM) Desember 2025
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/jp3km.v5i1.88

Abstract

Village youth have great potential in community development as they are in a phase of character building, skill development, and work ethic formation. However, in Gampong Cibrek Baroh, this potential has not been fully optimized due to low education levels, limited training opportunities, and a lack of self-development spaces. The Village-Owned Enterprise (BUMDes) is expected to serve as a platform for youth empowerment, yet it still focuses mainly on asset management without addressing human resource development. This situation results in low participation and readiness among youth in village economic activities, as well as increasing dependence on parents. Through a community service program in the form of soft-skill training and the establishment of a productive work culture integrated with BUMDes activities, it is hoped that the capacity of youth as local development actors can be strengthened. The results of the program indicate improved awareness, participation, and collaborative spirit among youth. Quantitatively, the average pre-test score of 72.75 increased to 88.50 on the post-test, showing a general and more evenly distributed improvement in participants’ abilities. In addition, qualitative findings reveal enhanced reflective ability, communication, and teamwork, indicating changes in attitudes and behavior toward greater productivity and participation.
Internalisasi Nilai Respect untuk Meningkatkan Profesionalisme Perawat dalam Layanan terhadap Rekan Sejawat Musni, Riza; Astuti, Widi; Anastasya, Yara Andita; Julistia, Rini; Muna, Zurratul; Maszura, Leni; Setiawan, Tio; Harahap, T.R. Fitrah At-Taqwa
Jurnal SOLMA Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v15i1.21408

Abstract

Background: Salah satu permasalahan yang terdapat pada salah satu Puskesmas di Aceh Utara yaitu Puskesmas Banda Baro adalah rendahnya sikap saling menghargai (respect) antar perawat, yang terlihat dari kurangnya penghargaan terhadap rekan sejawat. Hal ini dipengaruhi faktor internal, seperti keengganan menerapkan sikap respect, kurangnya kontribusi dalam lingkungan kerja, serta rendahnya partisipasi dalam kegiatan bersama. Pengabdian ini bertujuan agar nilai respect dapat terinternalisasi sehingga dapat meningkatkan profesionalisme dalam layanan terhadap rekan sejawat. Metode: Sejumlah 25 perawat mengikuti psikoedukasi yang dikemas dalam bentuk tanya jawab, FGD (Focus Group Discussion), simulasi, role play dan games. Hasil: Terdapat adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah diuji menggunakan pre-test dan post-test. Peningkatan pengetahuan terjadi pada 10 dari 25 perawat yang mengikuti kegiatan, hal ini bermakna terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 40%, menyatakan bahwa kegiatan pengabdian ini efektif membantu menumbuhkan dan mengaplikasikan nilai respect di lingkungan puskesmas. Kesimpulan: Pentingnya menerapkan nilai respect pada aktivitas sehari-hari di lingkungan kerja sehingga dapat memunculkan sikap kerja yang profesional sehingga dapat meningkatkan mutu layanan terhadap rekan sejawat.