Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk Meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak di Kelas Ibu Balita Indrasari, Nelly; Risneni, Risneni; Hasan, Amrul; Octaviana, Amrina; Trianingsih, Indah
Jurnal Perak Malahayati: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 November 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpmpkm.v7i2.23092

Abstract

Masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan periode emas yang menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak, mencakup aspek kesehatan fisik, kemampuan kognitif, serta potensi produktivitas di masa depan. Salah satu upaya preventif dan promotif yang penting dalam mendukung kesehatan ibu dan anak adalah penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), khususnya dalam tatanan rumah tangga. Namun, hasil observasi awal di Desa Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan menunjukkan bahwa pemahaman ibu hamil, ibu menyusui, serta ibu yang memiliki bayi dan balita terhadap indikator PHBS masih terbatas, ditambah dengan rendahnya keterlibatan mereka dalam kegiatan edukasi kesehatan. Menyikapi kondisi tersebut, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, membangun kesadaran, serta memotivasi ibu agar mampu menerapkan PHBS secara konsisten dan berperan sebagai agen perubahan di lingkungan keluarga dan komunitas. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk kelas ibu balita di Posyandu Melati 2 pada 11 Juni 2025 dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang. Rangkaian kegiatan mencakup pre-test, diskusi interaktif, penyampaian materi melalui pendekatan partisipatif berbasis media visual dan leaflet edukatif, serta post-test sebagai alat evaluasi. Hasil menunjukkan bahwa sebelum intervensi dilakukan, 50% peserta belum memahami indikator PHBS, namun setelah kegiatan, seluruh peserta mengalami peningkatan skor pengetahuan. Selain itu, separuh dari mereka menyatakan komitmen untuk menerapkan minimal lima indikator PHBS di rumah serta bersedia menyebarkan informasi kepada keluarga dan tetangga. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan, memperkuat kesadaran, dan membentuk perilaku hidup sehat secara berkelanjutan. 
Edukasi Pencegahan Sarcopenia dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular Putriana, Yeyen; Risneni, Risneni; Berliana, Eva
Jurnal Perak Malahayati: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 November 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpmpkm.v7i2.23712

Abstract

Kegiatan pengabdian Masyarakat  dengan tema edukasi  pencegahan sarcopenia dan pemeriksaan gula darah dengan sasaran para lansia dibawah organisasi Pensiunan wredatama Republik Indonesia  (PWRI) Ranting kelurahan Surabaya Kec  Kedaton Kota Bandar Lampung  . Adalah kegiatan pengabdian Masyarakat dalam rangka meningkatkan Kesehatan para lansia agar dapat tetap sehat jasmani dan rohani .Tujuan dari pengabdian ini adalah Meningkatkan pengetahuan anggota PWRI tentang pencegahan penyakit tidak menular Meningkatkan pengetahuan anggota PWRI tentang pencegahan sarcopenia  . Gaya hidup tidak sehat penyebabkan terjadinya peningkatan Penyakit Tidak Menular (PTM). Penyakit tidak menular telah menjadi penyebab utama kematian secara global pada saat ini (Shilton, 2023). Data WHO menunjukkan bahwa sebanyak 57 juta (63%) angka kematian yang terjadi di dunia dan 36 juta (43%) angka kesakitan disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular. Global status report on NCD World Health Organization (WHO) tahun 2020 melaporkan bahwa 60% penyebab kematian semua umur di dunia adalah karena PTM dan 4% meninggal sebelum usia 70 tahun. Seluruh kematian akibat PTM terjadi pada orang-orang berusia kurang dari 60 tahun, 29% di negara negara berkembang, sedangkan di negara negara maju sebesar 13% (Remais, 2022).Kegiatan Kegiatan berlangsung dengan baik sesuai rencana. Bentuk kegiatan dilaksanakan dengan pemberian penyuluhan dan pemeriksaan gula darah sewaktu. Materi diberikan dalam bentuk leaflet dan dilakukan pemeriksaan gula darah sewaktuHasil kegiatan ini adalah bertambahnya wawasan para lansia tentang PTM dan pencegahan sarcopenia . serta diketahuinya hasil pemeriksaan gula darah sewaktu para peserta penyuluhan .Kata kunci : Edukasi,  PTM,Sarcopenia, PWRI
EFEKTIVITAS APLIKASI SIGER EMAS DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN IBU HAMIL Mugiati, Mugiati; Handayani, Sri; Rosmadewi , Rosmadewi; Risneni, Risneni; Aliyanto, Warjidin
Quality: Jurnal Kesehatan Vol 19 No 2 (2025): Quality : Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/qjk.v19i2.2596

Abstract

Provinsi Lampung memiliki angka kejadian stunting sebesar 14,9% pada tahun 2023 dan meningkat menjadi 15,9% tahun 2024 angka ini belum memenuhi  target yang ingin di capai tahun 2025 sebesar 13,2% hal ini menunjukkan bahwa stunting di Provinsi Lampung masih harus diperhatikan secara serius. Upaya preventif perlu dilakukan sejak kehamilan misalnya pemberian edukasi untuk mengenali dan mencegah terjadinya stunting pada anak yang akan dilahirkannya. Edukasi kesehatan dapat dilakukan melalui aplikasi yang dikembangkan peneliti dan dapat di akses ibu hamil melalui gawai yang di milikinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan stunting sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Metode : Jenis penelitian quasi eksperimen dengan  rancangan pre and post test one group design Penelitian dilakukan tahun 2024 dengan jumlah sampel 30 orang sebagai kelompok kasus dan 30 orang kelompok kontrol, pengambilan sampel secara accidental sampling bagi responden yang memenuhi kriteria inklusi yaitu ibu dengan kehamilan normal, berdomisili diwilayah puskesmas Bernung  Analisa univariat dan bivariat menggunakan “uji T sampel Independen” untuk menguji perbedaan pengetahuan antara kelompok kasus dan kelompok kontrol. Hasil : Rerata peningkatan pengetahuan pada kelompok kasus sebesar 12,17 poin sedangkan pada kelompok kontrol  sebesar 3,83 poin dengan p-value  0.000 . Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan  aplikasi Siger Emas lebih efektif digunakan sebagai media pada promosi kesehatan tentang Stunting yang dilakukan pada ibu hamil. Rekomendasi: promosi kesehatan sebaiknya menggunakan media yang lebih variatif dan dekat dengan kehidupan responden misalnya dengan memanfaatkan perangkat gawai yang saat ini sangat familiar dikalangan masyarakat luas.
PERBEDAAN EFEKTIFITAS POVIDONE IODINE DENGAN AIR REBUSAN DAUN BINAHONG TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM PADA IBU POSTPARTUM DI BPM WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2017 riyanti imron, riyanti; risneni, risneni
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sakai Sambayan Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jss.v2i2.57

Abstract

Berdasarkan data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) jumlah laserasi atau luka perineum di Indonesia pada tahun 2013 menemukan bahwa dari total 1951 kelahiran spontan pervaginam, 57% ibu bersalin mengalami rupture dan mendapat jahitan perineum (Depkes RI,2013). Upaya untuk mencegah terjadinya infeksi laserasi perineum dapat diberikan dengan terapi farmakologis iodine atau obat-obatan lainnya dan terapi non farmakologis berupa daun binahong. BPM Jamilah merupakan BPM yang ada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Lampung Selatan, berdasarkan hasil presurvei awal pada bulan April di BPM Jamilah di dapatkan dara jumlah ibu yang melahirkan sebanyak 30 orang, yang mengalami rupture sebanyak 18 orang, rata – rata perawatan luka di berikan bethadin cair dan rata-rata penyembuhan luka perineum lebih dari 10 hari. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui perbedaan efektifitas povidone iodine dengan air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu postpartum di BPM wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2017. Jenis penelitian ini menggunakan True Experimental post test only Design.. Populasi dalam penelitian ini semua ibu postpartum yang megalami laserasi perineum yang melahirkan pervaginam di BPM wilayah Kerja dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan. Sampel yang di ambil sebanyak 80 responden yang di bagi menjadi 2 kelompok dengan intervensi yang berbeda. yaitu 40 ibu post partum di berikan perawatan laserasi dengan Povidone Iodine dan 40 responden menggunakan rebusan Daun Binahong. Data yang di kumpulkan adalah data primer dengan 3 kali obsevasi. Data di olah dengan. menggunakan uji T independen, proses pengolahan data menggunakan komputer. Hasil penelitian ini di dapatkan ibu post partum yang di berikan perawatan laserasi dengan Povidone Iodine lama penyembuhan luka yang terbanyak selama ≥7 hari yaitu 38 responden (95%) dengan rata- rata lama penyembuhan 8 hari , sedangkan responden menggunakan rebusan Daun Binahong penyembuhan luka terbanyak 5 hari dengan luka kering 20 responden (50%).Lama penyembuhan rata-rata 5 hari. Berdasarkan hasil uji statistik dengan T Test diperoleh Uji beda T test p value = 0,000.< 0,05 sehingga H0 di tolak artinya, bahwa ada perbedaan yang signifikan antara penyembuhan luka perineum dengan menggunakan Povidone iodine dan air rebusan daun Binahong di Praktik Mandiri Bidan Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2017 Peneliti menyarankan bagi petugas kesehatan terutama bidan agar terus meningkatkan penyuluhan/konseling serta perawatan luka perineum dengan menggunakan rebusan air rebusan daun binahong.
The effect of giving ambon bananas during the first stage of labor on the duration of the second stage of labor Putriana, Yeyen; Risneni, Risneni; Berliana, Eva
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 4 No. 11 (2026): February Edition
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v4i11.2408

Abstract

Background: During the intrapartum period, a laboring mother experiences physiological stress due to contractions of the uterine muscles and skeletal muscles. Continuous contractions during the first stage of labor for 8 to 10 hours require adequate energy. Pain caused by these contractions often leads to a decreased appetite and fluid intake in laboring mothers, resulting in insufficient energy when entering the second stage of labor. This lack of energy can reduce the strength of uterine contractions, which may prolong the duration of the second stage of labor. Bananas are known as a source of carbohydrates and potassium that are easily available and can be given to laboring mothers as an energy reserve as well as to maintain electrolyte balance. Purpose: To determine the difference in the duration of the second stage of labor between laboring mothers who were given bananas during the first stage of labor and those who were not. Method: This study used a quasi-experimental design. The study population consisted of all laboring mothers at PMB Nurhidayah, located in Ketibung District, South Lampung Regency, in 2024. Samples were selected based on inclusion and exclusion criteria. A total of 40 respondents were included, consisting of 20 in the intervention group and 20 in the control group. The intervention group was given two bananas weighing a total of 400 grams during the first stage of labor. The duration of the second stage of labor was then measured in minutes. Data analysis was conducted using the Independent T-test. Results: There was no difference in the duration of the second stage of labor between mothers who were given bananas and those who were not, with a p-value> 0.05. Conclusion: The administration of bananas during the first stage of labor did not affect the duration of the second stage of labor. Suggestion: Further research is needed to explore other benefits of bananas beyond their effect on the duration of the second stage of labor, such as fatigue levels and muscle strength.
Promosi kesehatan melalui Center of Excellence sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan reproduksi Berliana, Eva; Indrasari, Nelly; Widhi, I Gusti Ayu Mirah; Risneni, Risneni; Asih, Yusari
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i1.2532

Abstract

Background: Reproductive health issues remain a challenge in public health development, particularly related to the low level of public knowledge and awareness regarding optimal reproductive health maintenance. Promotive and preventive efforts through education and mentoring are needed to increase understanding and foster better health behaviors. Purpose: To increase public knowledge and awareness regarding reproductive health through the implementation of a Center of Excellence (CoE)-based program. Method: The community service activity was conducted on Wednesday, July 30, 2025, in the target area of ​​the Center of Excellence partner, namely the Integrated Health Service Post (Posyandu) in Marga Agung Village, Jati Agung District, South Lampung Regency. The target population of this community service activity was the general public of productive age. Thirty primiparous and multiparous mothers participated as respondents. This community service activity was implemented using an integrated educational and participatory approach within the Center of Excellence (CoE) framework. Evaluation of the activity was conducted by assessing changes in community knowledge and awareness before and after the educational activity, as well as by observing participation and active participation in discussions. Results: Data showed that the average age of respondents was 28.43 years with a standard deviation of ±6.17 years. The majority of respondents (66.7%) were in the 30-35 age range. The majority of respondents (40.0%) had a high school education, the majority (40.0%) were pregnant, and the majority (19%) were multiparous. Meanwhile, the level of knowledge of respondents increased proportionally to 76.7% in the good category after the educational activity, from 13.3% before the educational activity. Conclusion: The Center of Excellence-based community service program, implemented through an educational and mentoring approach, has been proven to have a positive impact on increasing public knowledge and awareness regarding reproductive health. The Center of Excellence's role as a facilitator and primary driver of community service activities has strengthened the synergy between the service team, partners, and the target community, encouraging active community involvement in the program's sustainability at the community level. Suggestion: It is recommended that the Center of Excellence-based community service program be further developed and expanded to include other community groups and regions experiencing similar health issues, thereby increasing the sustainability and impact of the community service program. Keywords: Center of Excellence; Community service; Health education; Public awareness; Reproductive health Pendahuluan: Masalah kesehatan reproduksi masih menjadi tantangan dalam pembangunan kesehatan masyarakat, terutama terkait rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan reproduksi secara optimal. Upaya promotif dan preventif melalui edukasi dan pendampingan diperlukan untuk meningkatkan pemahaman serta membentuk perilaku kesehatan yang lebih baik. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan reproduksi melalui implementasi program berbasis Center of Excellence (CoE). Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada Rabu, 30 Juli tahun 2025 di wilayah sasaran yang menjadi mitra kegiatan Center of Excellence yaitu Posyandu Desa Marga Agung, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Sasaran kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah masyarakat umum pada kelompok usia produktif. Jumlah peserta sebanyak 30 ibu primipara dan multipara menjadi responden. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif yang terintegrasi dalam kerangka Center of Excellence (CoE). Evaluasi kegiatan dilakukan dengan menilai perubahan pengetahuan dan kesadaran masyarakat sebelum kegiatan edukasi dan setelah kegiatan edukasi serta berdasarkan pengamatan terhadap partisipasi dan keaktifan dalam diskusi. Hasil: Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 28.43 tahun dengan standar deviasi ±6.17 tahun dan sebagian besar responden berada di rentang usia 30-35 tahun yaitu sebanyak 66.7%. Mayoritas responden memiliki status pendidikan SMA sebanyak 40.0%, sebagian besar responden adalah ibu hamil sebanyak 40.0%, dan sebagian besar status paritas responden adalah multipara yaitu sebanyak 19 (63.3%). Sedangkan tingkat pengetahuan responden terdapat peningkatan secara proposional untuk kategori baik setelah kegiatan edukasi menjadi sebesar 76.7% dari sebesar 13.3% sebelum kegiatan edukasi Simpulan: Program pengabdian masyarakat berbasis Center of Excellence yang dilaksanakan melalui pendekatan edukasi dan pendampingan terbukti memberikan dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan reproduksi. Peran Center of Excellence sebagai fasilitator dan penggerak utama kegiatan pengabdian masyarakat mampu memperkuat sinergi antara tim pengabdian, mitra, dan masyarakat sasaran dalam mendorong keterlibatan aktif masyarakat terhadap keberlanjutan program di tingkat komunitas. Saran: Program pengabdian masyarakat berbasis Center of Excellence direkomendasikan untuk terus dikembangkan dan diperluas cakupannya pada kelompok masyarakat serta wilayah lain yang memiliki permasalahan kesehatan serupa, sehingga diharapkan dapat meningkatkan keberlanjutan dan dampak program pengabdian masyarakat.