Nur Azizatul Haqiah
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Tantangan dan Rekomendasi Pengembangan Kecerdasan Spiritual: Perspektif Al-Quran melalui Lensa Teori Al-Attas dan Al-Ghazali Winda Islamitha Nurhamidah; Maesaroh Maesaroh; Amri Saputra; Nur Azizatul Haqiah; Lutfiah Holifa Balkis; Dwi Ratnasari
Action Research Journal Indonesia (ARJI) Vol. 7 No. 4 (2025): Action Research Journal Indonesia (ARJI)
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/arji.v7i4.612

Abstract

Penelitian ini menganalisis pengembangan kecerdasan spiritual dalam perspektif Islam dengan mengintegrasikan nilai-nilai Al-Qur’an melalui pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Abu Hamid al-Ghazali. Konteks permasalahan penelitian berangkat dari krisis spiritual modern yang ditandai oleh dominasi materialisme, sekularisasi pengetahuan, serta melemahnya orientasi tauhid dalam kehidupan kontemporer. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi literatur, data penelitian dikumpulkan melalui penelusuran buku-buku primer karya al-Attas dan al-Ghazali, artikel jurnal bereputasi, serta kajian tafsir tematik terkait kecerdasan spiritual. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan analisis isi (content analysis). Selanjutnya, data dianalisis dengan teknik analisis tematik (thematic analysis) untuk mengidentifikasi kategori, pola gagasan, dan integrasi konsep antara kedua tokoh tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa krisis spiritual terjadi karena pemisahan ilmu dari nilai-nilai tauhid, yang menyebabkan disorientasi moral dan hilangnya kedalaman makna hidup. Al-Attas menekankan pentingnya Islamisasi ilmu dan peneguhan adab sebagai fondasi pemurnian akal, sedangkan al-Ghazali menekankan tazkiyah al-nafs dan ihsan sebagai proses penyucian hati menuju kesadaran Ilahi. Integrasi keduanya menghasilkan model pengembangan kecerdasan spiritual yang menyeimbangkan dimensi intelektual, moral, dan spiritual. Penelitian ini merekomendasikan penerapan pendidikan berbasis Qur’ani yang menumbuhkan nilai-nilai adab, refleksi kritis, dan kesadaran ketuhanan untuk menjawab tantangan spiritual global masa kini
Pendekatan Spiritual Mahasiswa : Studi Fenomenologi Pada UKM JQH Al-Mizan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Lutfiah Holifa Balkis; Maesaroh Maesaroh; Winda Islamitha Nurhamidah; Nur Azizatul Haqiah; Amri Saputra; Sibawaihi Sibawaihi
Action Research Journal Indonesia (ARJI) Vol. 7 No. 4 (2025): Action Research Journal Indonesia (ARJI)
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/arji.v7i4.613

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menurunnya kesadaran spiritual mahasiswa di tengah arus modernisasi pendidikan tinggi Islam yang lebih berorientasi pada aspek kognitif dibandingkan pembinaan moral dan ruhani. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pendekatan spiritual mahasiswa yang tergabung dalam organisasi JQH Al-Mizan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta serta menganalisis pengalaman keagamaan mereka melalui perspektif Tazkiyat Al-Nafs (penyucian jiwa) menurut Al-Ghazali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Subjek penelitian adalah anggota aktif JQH Al-Mizan yang telah bergabung minimal satu tahun, dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan tahapan fenomenologi meliputi epoche, horizontalization, dan sintesis makna esensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman spiritual mahasiswa muncul melalui aktivitas keagamaan rutin seperti tilawah, hadrah, dan dzikir bersama yang menumbuhkan ketenangan batin, keikhlasan, dan perubahan moral. Proses ini mencerminkan konsep mujahadah (perjuangan spiritual) dan riyadhah ruhaniyah (latihan kejiwaan) menurut Al-Ghazali, di mana keterlibatan religius secara terus-menerus membentuk refleksi diri dan kedekatan kepada Allah. Selain itu, kegiatan organisasi juga memperkuat kesadaran sosial, ukhuwah, dan tanggung jawab antaranggota. Kesimpulannya, pendekatan spiritual yang dikembangkan di JQH Al-Mizan menjadi model efektif dalam membentuk karakter religius, intelektual, dan spiritual mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Islam.
Konsep Pengelolaan Waktu Menurut Al-Qur’an dan Relevansinya dalam Kehidupan Modern Nur Azizatul Haqiah; Aufa Fatchia Rahma; Rofiatus Sa’adah; Winda Islamitha Nurhamidah; Lutfiah Holifa Balkis; Dwi Ratnasari
Action Research Journal Indonesia (ARJI) Vol. 7 No. 4 (2025): Action Research Journal Indonesia (ARJI)
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/arji.v7i4.642

Abstract

Penelitian ini menyelidiki gagasan manajemen waktu dari sudut pandang Al-Qur’an, dengan penekanan pada interpretasi Surat Al-‘Asr serta ayat-ayat yang terkait, dan kaitannya dengan kehidupan masa kini. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui kajian literatur, penelitian ini memeriksa sumber utama seperti ayat-ayat Al-Qur’an dan data tambahan dari karya akademik. Teknik analisis diterapkan melalui penyederhanaan data, pengelompokan, penjelasan, serta verifikasi untuk menjamin ketepatan. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa waktu dianggap sebagai titipan ilahi yang harus dimanfaatkan secara maksimal untuk beribadah, berbuat kebaikan, dan meningkatkan produktivitas, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-‘Asr ayat 1-3 dan QS. Al-Furqan ayat 62. Prinsip waktu Islam meliputi amanah dan tanggung jawab (penggunaan waktu untuk kegiatan bermanfaat dan pertanggungjawaban di akhirat), keseimbangan dunia-manajemen akhirat (tawazun untuk menghindari materialisme), serta efisiensi dan produktivitas (melalui nilai itqan dan iḥsan). Dalam konteks modern, khususnya pendidikan Islam, konsep ini diterapkan melalui perencanaan, pengorganisasian, dan evaluasi kegiatan belajar untuk membentuk karakter siswa yang disiplin dan berintegritas moral. Kesimpulannya, pengelolaan waktu berdasarkan Al-Qur’an mendorong generasi Muslim mencapai kesuksesan dunia-akhirat, menjadikan setiap momen sebagai sarana ibadah dan kemaslahatan umat. Penelitian ini memberikan kontribusi konseptual untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam dinamika kehidupan kontemporer yang serba cepat.
Aktualisasi Nilai Syukur dan Sabar dalam Kehidupan Sehari-hari: Analisis Perspektif Al-Qur’an dan Hadis Nur Azizatul Haqiah
TSAQAFATUNA : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Strategi dan Transformasi Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/tsaqafatuna.v8i1.841

Abstract

The practice of gratitude and patience is crucial in modern life, which is marked by social pressures, life’s competition, and mental health issues. These two values are not merely theological in nature but also play a role in shaping an individual’s spiritual, emotional, and social balance. However, previous research has tended to address gratitude and patience in isolation rather than examining them holistically within the context of daily life. This study aims to analyze the actualization of gratitude and patience from the perspective of the Qur’an and hadith, as well as the integrative relationship between the two as a system of moral values. The study employs a qualitative approach using literature review and thematic exegesis (maudhu’i). Data were collected from the Qur’an, hadith, exegetical works, books, and scientific journals, and analyzed using content analysis techniques. The study focuses on Surah Ibrahim verse 7 regarding gratitude and Surah Al-Baqarah verse 153 regarding patience, referencing Ibn Kathir’s Tafsir as well as the thoughts of Al-Ghazali and Ibn Qayyim al-Jawziyya. The research findings indicate that gratitude is manifested through the attitude of contentment (qana’ah), social concern, and the wise utilization of blessings, while patience is reflected in emotional control, self-resilience, and the ability to cope with life’s pressures. This study found that the integration of gratitude and patience forms a framework of spiritual ethics that contributes to psychological balance, mental resilience, and social harmony in modern life. The novelty of this study lies in its integrative analysis of gratitude and patience as a single system of ethical values that is contextual to the challenges of modern life.
Implementation of the Living Hadith ‘Cleanliness Is Part of Faith’ in the School Culture at MI Al-Huda Karangnongko Rofiatus Sa'adah; Nur Azizatul Haqiah; Marhumah
Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Yayasan Tahfidzul Qur'an Al-Fawwaz

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70938/judikis.v3i1.119

Abstract

This study explores the implementation of the living hadith “Cleanliness is part of faith” within the school culture at MI Al-Huda Karangnongko. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through observations, interviews, and documentation involving students and teachers as key informants. The data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model and validated through triangulation. The findings indicate that the hadith is not only understood as a religious teaching but is also practiced consistently through daily routines such as cleaning classrooms, maintaining personal hygiene, and participating in school-wide cleanliness activities. This implementation contributes to shaping students' character, responsibility, and awareness of cleanliness both at school and at home. The study is expected to provide insight into how living hadith practices can support religious education and character development in Islamic educational institutions.
Meningkatkan Antusiasme Belajar Siswa pada Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Melalui Metode Role Playing Nur Azizatul Haqiah; Rofiatus Sa’adah; Aufa Fatchia Rahma; Fadhilla Putri; Sibawaihi Sibawaihi
Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2025): Takuana (October-December)
Publisher : MAN 4 Kota Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56113/takuana.v4i3.201

Abstract

The present research investigates whether the implementation of role-playing can enhance learners’ enthusiasm for Islamic Cultural History (SKI) at MI Al-Huda. The study was motivated by observed declines in student interest and engagement attributed to traditionally teacher-centered instructional practices. Adopting a qualitative descriptive framework, the researcher obtained information through classroom observations, semi-structured interviews, and documentary evidence. To ensure the credibility of findings, the study employed triangulation across data sources, collection techniques, and temporal periods. The findings indicate that applying the role-playing method effectively increased students’ enthusiasm for learning. Learners became more active, confident, and motivated to participate in SKI activities. The method also fostered positive social interaction, cooperation, and a sense of responsibility among students. Its main advantage is the creation of an engaging, contextual, and enjoyable learning atmosphere, while its limitation lies in the extended time required and limited school facilities. Overall, the role-playing method proved effective as an alternative strategy for promoting interactive and meaningful SKI learning.
Internalisasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pembelajaran PAI di Sekolah: Respons terhadap Etika Pergaulan Siswa Aufa Fatchia Rahma; Maesaroh Maesaroh; Nur Azizatul Haqiah; Winda Islamitha Nurhamidah; Sibawaihi Sibawaihi
Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2025): Takuana (October-December)
Publisher : MAN 4 Kota Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56113/takuana.v4i3.203

Abstract

This study aims to describe how religious moderation values are internalized in Islamic Education (PAI) learning at SMAN 2 Sleman. Strengthening religious moderation is considered crucial to respond to the moral and social challenges experienced by Generation Alpha in today’s digital era. Core values such as tolerance, fairness, and balance need to be cultivated early to build students’ openness and appreciation for diversity. This research applied a qualitative approach with a case study design. Data were obtained through observation, interviews, and documentation, then analyzed using Miles and Huberman’s interactive model. The results show that the internalization process occurs through teachers’ exemplary behavior, routine practices, and reflective-dialogue-based learning. The process is supported by an inclusive and cooperative school climate, while challenges arise from digital media influences and peer rivalry. Overall, religious moderation in PAI learning contributes significantly to shaping students’ moderate and respectful character in the school environment.
Integrasi Epistemologi Bayani, Burhani dan Irfani dalam Pembentukan Ilmu Pendidikan Islam Kontemporer Winda Islamitha Nurhamidah; Maesaroh Maesaroh; Lutfiah Holifa Balkis; Aufa Fatchia Rahma; Nur Azizatul Haqiah; Usman Usman
Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2025): Takuana (October-December)
Publisher : MAN 4 Kota Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56113/takuana.v4i3.208

Abstract

The rapid advancement of science and technology in the twenty-first century has reshaped human conceptions of knowledge and reality, contributing to a global crisis of meaning rooted in secular and positivistic epistemologies that separate truth from moral and spiritual values. Within Islamic education, this tension appears in the dichotomy between religious and worldly sciences, creating fragmentation and imbalance. This study examines the integration of three classical Islamic epistemologies: bayani which is textual and normative, burhani which is rational and empirical, and irfani which is intuitive and spiritual as a conceptual basis for reconstructing the philosophy of Islamic education. Using a qualitative approach through literature analysis of primary and secondary sources from scholars such as al Ghazali and Syed Muhammad Naquib al Attas, the findings show that integrating these epistemologies produces a holistic framework that harmonizes revelation, reason, and spiritual intuition. This model offers an alternative to secular education by promoting intellectual, moral, and spiritual balance and fostering ethically responsible individuals.