Claim Missing Document
Check
Articles

Pendekatan Pastoral terhadap Pelestarian Hutan David Eko Setiawan; Silas Dismas Mandowen
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i2.51

Abstract

Forests are habitats for various species of living things. Their survival depends heavily on the preservation of their habitat. However, many forests have been damaged by human actions. It also poses a variety of ecological problems. This condition should encourage the church to find the right solution to the problem. Through the cultural mandate attached to it, the church is expected to play an active role in preserving forests. This can be realized through a pastoral approach oriented towards the involvement of the congregation in preserving forests from irresponsible actions. This research aims to show how important the role of the church in preserving forests. Through a concrete pastoral approach, the church can answer the cultural mandate.  The method used in this study is the literature method. The results of this study show that based on the principles of cultural mandate in the Bible, the church is required to be actively involved in addressing ecological problems. The involvement is manifested in the pastoral approach to the congregation by educating them about the nature of forests and through practical actions involving them to preserve forests as habitats for various species of living beings.  Hutan merupakan habitat bagi berbagai spesies mahkluk hidup. Kelangsungan hidup mereka sangat bergantung pada pelestarian habitatnya. Namun demikian banyak hutan yang telah rusak akibat ulah manusia. Hal itu rupanya juga menimbulkan berbagai problem ekologi. Kondisi ini seharusnya mendorong gereja untuk mencari solusi yang tepat atas masalah tersebut. Melalui mandat budaya yang melekat padanya, gereja diharapkan berperan aktif dalam melestarikan hutan. Ini dapat diwujudkan melalui pendekatan pastoral yang berorientasi kepada keterlibatan jemaat dalam melestarikan hutan dari tindakan yang tidak bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukan betapa pentingnya peran gereja dalam melestarikan hutan. Melalui sebuah pendekatan pastoral yang konkrit, gereja dapat mengejawantahkan mandat budaya tersebut.  Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan prinsip-prinsip mandat budaya yang ada di dalam alkitab, gereja dituntut untuk terlibat aktif dalam mengatasi problem ekologi. Keterlibatan itu diwujudkan dalam pendekatan pastoral kepada jemaat dengan mengedukasi mereka tentang hakikat hutan serta melalui tindakan-tindakan praktis yang melibatkan mereka untuk melestarikan hutan sebagai habitat bagi berbagai spesias mahkluk hidup.
MEMAHAMI POTENSI POSITIVE SELF-TALK SEBAGAI ALAT DALAM KONSELING PASTORAL: ANALISIS STUDI KUALITATIF David Eko Setiawan
POIMEN Jurnal Pastoral Konseling Vol. 4 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Pastoral Konseling, Fakultas Teologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The technique of positive positive self-talk is often used as one of the methods in counseling to help clients overcome their emotional and spiritual problems. This research aims to evaluate the effectiveness of positive self-talk technique as a tool in pastoral counseling using the library research method and data analysis through content analysis. This study involves an analysis of the literature related to positive self-talk technique and pastoral counseling and conducting content analysis of the collected data to evaluate the effectiveness of positive positive self-talk technique as a tool in pastoral counseling. The results of the research show that positive positive self-talk technique is effective in helping clients overcome their emotional and spiritual problems and has great potential as a tool in pastoral counseling. The implication of these findings is that positive positive self-talk technique can be effectively used by pastoral counselors to help their clients overcome their problems and achieve a better self-understanding.
Dialektika Injil dan Budaya: Membaca Ulang Kiprah Kiai Sadrach Melalui Lensa Hermeneutik Gadamer David Eko Setiawan; Jaka Maryanto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 6, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v6i1.414

Abstract

This study aims to gain a new understanding of Kiai Sadrach's work in addressing the dialectic of the Gospel and culture through Gadamer's hermeneutic lens. The method used in this study is library research and approaches using Gadamer's hermeneutic theory. The research problem in this paper is how is the re-reading of Kiai Sadrach's work in responding to the dialectic of the Gospel and culture. The results of the research are as follows; First, the dialectic of the Gospel and culture in Kiai Sadrach's work has formed a personality that is sensitive and selective towards culture. Second, Sadrach's skill in contextualizing the Gospel is a long process from the Fusion of Horizons from his predecessors who have been active in the dialectic of the Gospel and culture. Third, Sadrach's high appreciation for his culture does not necessarily make him stutter in building relationships with the foreigners around him. Fourth, the living of the faith of the Golongane Wong Kristen community, Kang Mardiko, is a concrete example that the "gap" between the Gospel and culture can be bridged wisely and can even bring about a more contextual living of faith.Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman baru tentang kiprah Kiai Sadrach dalam menyikapi dialektika Injil dan budaya melalui lensa hermeneutik Gadamer. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah library research dan pendekatan dengan menggunakan teori hermeneutika Gadamer. Masalah penelitian dalam tulisan ini adalah bagaimanakah pembacaan ulang kiprah Kiai Sadrah dalam menyikapi dialektika Injil dan budaya?  Hasil dari penelitian adalah sebagai berikut; Pertama, dialektika Injil dan budaya dalam kiprah Kiai Sadrach telah membentuk kepribadian yang peka dan selektif terhadap budaya. Kedua, ketrampilan Sadrach dalam mengontekstualisasikan Injil merupakan suatu proses panjang dari Fusion of Horizons dari para pendahulunya yang telah berkiprah dalam dialektika Injil dan budaya. Ketiga, penghargaan Sadrach yang tinggi atas budayanya tidak serta merta membuat ia gagap dalam  membangun relasi dengan orang-orang asing di sekitarnya. Keempat, penghayatan iman komunitas Golongane Wong Kristen kang Mardiko menjadi contoh konkret bahwa  “gap” antara Injil dan budaya dapat dijembatani secara arif dan bijaksana bahkan dapat menghadirkan penghayatan iman yang lebih kontekstual.
DINAMIKA MENGELOLA JEMAAT POTENSIAL: STUDI KASUS PEMBERDAYAAN WARGA GEREJA OLEH PARA GEMBALA SIDANG DI GBIS David Eko Setiawan; Hani Rohayani
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol. 4 No. 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v4i1.129

Abstract

The dynamics of potential church member empowerment by Pastors in the Bethel Injil Sepenuh Church (GBIS) community are described in this article. Through a descriptive quantitative study using surveys and descriptive percentage analysis, this research explores how GBIS Pastors manage potential church members in their services. The findings indicate that the management of potential church members in GBIS has a unique dynamic, shaped by the perceptions of 81 GBIS Pastor respondents. The results of this research provide valuable insights for GBIS Pastors and church synods to enhance their management of potential church members and ensure equitable and effective access to church services.
Dialektika Injil dan Budaya: Membaca Ulang Kiprah Kiai Sadrach Melalui Lensa Hermeneutik Gadamer Setiawan, David Eko; Maryanto, Jaka
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 6, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v6i1.414

Abstract

This study aims to gain a new understanding of Kiai Sadrach's work in addressing the dialectic of the Gospel and culture through Gadamer's hermeneutic lens. The method used in this study is library research and approaches using Gadamer's hermeneutic theory. The research problem in this paper is how is the re-reading of Kiai Sadrach's work in responding to the dialectic of the Gospel and culture. The results of the research are as follows; First, the dialectic of the Gospel and culture in Kiai Sadrach's work has formed a personality that is sensitive and selective towards culture. Second, Sadrach's skill in contextualizing the Gospel is a long process from the Fusion of Horizons from his predecessors who have been active in the dialectic of the Gospel and culture. Third, Sadrach's high appreciation for his culture does not necessarily make him stutter in building relationships with the foreigners around him. Fourth, the living of the faith of the Golongane Wong Kristen community, Kang Mardiko, is a concrete example that the "gap" between the Gospel and culture can be bridged wisely and can even bring about a more contextual living of faith.Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman baru tentang kiprah Kiai Sadrach dalam menyikapi dialektika Injil dan budaya melalui lensa hermeneutik Gadamer. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah library research dan pendekatan dengan menggunakan teori hermeneutika Gadamer. Masalah penelitian dalam tulisan ini adalah bagaimanakah pembacaan ulang kiprah Kiai Sadrah dalam menyikapi dialektika Injil dan budaya?  Hasil dari penelitian adalah sebagai berikut; Pertama, dialektika Injil dan budaya dalam kiprah Kiai Sadrach telah membentuk kepribadian yang peka dan selektif terhadap budaya. Kedua, ketrampilan Sadrach dalam mengontekstualisasikan Injil merupakan suatu proses panjang dari Fusion of Horizons dari para pendahulunya yang telah berkiprah dalam dialektika Injil dan budaya. Ketiga, penghargaan Sadrach yang tinggi atas budayanya tidak serta merta membuat ia gagap dalam  membangun relasi dengan orang-orang asing di sekitarnya. Keempat, penghayatan iman komunitas Golongane Wong Kristen kang Mardiko menjadi contoh konkret bahwa  “gap” antara Injil dan budaya dapat dijembatani secara arif dan bijaksana bahkan dapat menghadirkan penghayatan iman yang lebih kontekstual.
Menguraikan Seksualitas Alkitabiah Pada Remaja Kristen: Sebuah Upaya Pembinaan Warga Gereja Harita, Novi Saria; Setiawan, David Eko; Sinabariba, Daniel Irwanto; Buulolo, Karima
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 2, No 1 (2021): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v2i1.64

Abstract

The purpose of this research is to describe Biblical Sexuality in Christian Adolescents as an Effort to Form Church Citizens. This is because adolescence is a transitional period, namely the transition from childhood to adulthood. At this age they also have wants and needs that must be met, such as being greeted, valued as a complete person and invited to exchange ideas like adults and their physical changes also change. The closure of parents to children about sex can also make children take the initiative themselves to find out the answers to their peers and supported by a lack of understanding of sexuality in a biblical manner can encourage them to have premarital sex. The author will answer research problems using the literature method. And based on research results, biblical sexuality can only be done when blessed in a holy marriage. Therefore, the role of the church in coaching is very necessary and can be done through KTBK, Christian faith seminars and personal services.Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan Seksualitas Alkitabiah Pada Remaja Kristen Sebagai Upaya Pembinaan Warga Geraja. Hal ini dikarenakan masa remaja merupakan masa transisi, yaitu masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada usia ini juga mereka memiliki keinginan dan kebutuhan yang harus dipenuhi, seperti disapa, dihargai sebagai pribadi yang utuh dan diajak bertukar pikir layaknya orang dewasa serta fisiknya juga mengalami perubahan. Ketertutupan orang tua terhadap anak mengenai seks juga dapat menjadikan anak berinisiatif sendiri untuk mencari tahu jawabannya kepada teman-teman sebayanya dan didukung dengan kurangnya pemahaman seksualitas secara Alkitabiah dapat mendorong mereka untuk melakukan hubungan seks pranikah. Penulis akan menjawab masalah penelitian dengan menggunakan metode kepustakaan. Dan berdasarkan hasil penelitian, seksualitas secara Alkitabiah hanya bisa dilakukan ketika diberkati dalam pernikahan suci. Oleh karena itu, peran gereja dalam pembinaan sangat diperlukan dan dapat dilakukan melalui KTBK, seminar iman Kristiani dan pelayanan personal.
Suatu Refleksi Teologis: Memaknai Karya Seni Catacomb Dan Implikasi Bagi Pembinaan Warga Gereja Halawa, Angilata Kebenaran; Setiawan, David Eko; Tahya, Alton Perejon; Sitanala, Andhy Readhy
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 2, No 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v2i2.65

Abstract

The congregation in a church needs formation. Community Development of the Church is an effort or act of organizing church members, to equip and train members of the congregation so that their faith in Jesus Christ grows. the church needs to nurture the congregation to grow in Christ through various forms. Like the early Christians, they inspired themselves through a painting in a Catacomb or a hallway that was used as a place for the dead. They inspire themselves through the paintings in one of the early Christian collections, namely the sacrament cubicle. Paintings of Jonah, Jesus and Samaria, Jesus the Good Shepherd and so on. Thus, this model can be used as a suggestion for the formation of church members through paintings that inspire and strengthen faith. Jemaat dalam sebuh gereja membutuhkan pembinaan. Pembinaan Warga Gereja ialah suatu usaha atau tindakan pengorganisasian warga gereja, untuk melengkapi dan melatih warga jemaat agar iman kepada Yesus Kristus bertumbuh. gereja perlu membina jemaat agar semakin bertumbuh di dalam Kristus melalui berbagai bentuk. Seperti halnya, orang Kristen mula-mula, mereka menginspirasi diri mereka melalui lukisan didalam Catacomb atau sebuah Lorong yang dijadikan sebagai tempat orang yang sudah meninggal. Mereka menginspirasi diri mereka melalui lukisan-lukisan yang ada di dalam salah satu koleksi Kristen mula-mula, yaitu kubikula sakramen. Lukisan mengenai Yunus, Yesus dan Samaria, Yesus Gembala yang baik dan sebagainya. Dengan demikian, model ini dapat dijadikan saran untuk pembinaan warga gereja melalui luksian-lukisan yang menginspirasi dan menguatkan iman.
Merekonstruksi Ibadah Kreatif: Sebuah Upaya Membangun Minat Remaja Kristen Untuk Bergereja Novita, Diana; Setiawan, David Eko; Dean, Melania; -, Fariasa; Marcos, Carles Roberto
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 2, No 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v2i2.69

Abstract

This article aims to explore the church's efforts to rebuild creative worship so that it can attract Christian youth to come to worship. This is because Worship is no longer attractive, especially among Christian youth. Surver Bilangan Research Center (BRC) proved that as many as 28.2% said that there were many interesting activities outside the church, which made Christian youth less active in attending church due to boring worship, monotonous worship, lack of creativity, and the church did not have a good impact on Christian youth growth. The method used is literature study (document), which is data collection juxtaposed to build the church's understanding of reconstructing creative worship. Thus, the church needs to reconstruct creative worship in order to attract the attention and interest of Christian youth to come to worship. As a result, Christian youth can be active in church by planning a worship program that is not boring, making simple decorations, holding worship activities interspersed with outdoor activities, fellowships together after worship. Artikel ini bertujuan untuk menggali upaya gereja untuk membangun kembali ibadah kreatif sehingga dapat menarik minat remaja Kristen untuk datang beribadah. Hal ini di karenakan Ibadah saat ini sudah tidak menarik khususnya dikalangan remaja Kristen. Surver Bilangan Research Center (BRC) membuktikan bahwa sebanyak 28,2% mengatakan bahwa ada banyak kegiatan yang menarik diluar gereja sehingga membuat remaja Kristen kurang aktif bergereja dikarenakan Ibadah yang membosankan, ibadah yang monoton, kurang kreatif, dan gereja tidak memberi dampak yang baik bagi pertumbuhan remaja Kristen. Metode yang digunakan adalah studi literatur (dokumen), yaitu pengambilan data yang disandingkan untuk membangun pemahaman gereja mengenai merekonstruksi ibadah kreatif dengan demikian gereja perlu melakukan rekonstruksi ibadah kreatif guna menarik perhatian dan minat remaja Kristen untuk datang beribadah. Hasilnya remaja Kristen dapat aktif bergereja dengan merencanakan program ibadah yang tidak membosankan, membuat dekorasi sederhana, mengadakan kegiatan ibadah diselingi dengan kegiatan outdoor, fellowship bersama-sama setelah ibadah.
Media Sosial Sebagai Jembatan Pembinaan Warga Gereja Pada Masa Pandemi Covid-19 Geptha, Hendra; Setiawan, David Eko; Revanda, Ayu Cisilia; Risno, Florensius
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 2, No 1 (2021): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v2i1.63

Abstract

Seeing the condition of the church during the pandemic era created an ironic situation for the formation of church members that was difficult to carry out. Meanwhile, the formation of church members is a very vital activity for a church. The method that the author uses is descriptive, using books, journals and research reports that can be accounted for. So that through writing this journal the writer wants to try to share an effective method of coaching church members through virtual media, so that the activities of coaching church members can continue even in a pandemic. This long distance training has become an effective solution to the restrictions imposed by the government on every place of worship in Indonesia.Melihat kondisi gereja pada masa pandemi menimbulkan suatu keadaan ironi bagi pembinaan warga gereja yang sulit dilaksanakan. Sedangkan pembinaan warga gereja sendiri adalah sesuatu kegiatan yang sangat vital bagi sebuah gereja. Metode yang penulis gunakan adalah deskriptif, menggunakan buku, jurnal dan laporan penelitan yang dapat dipertaanggungjawabkan. Sehingga melalui penulisan jurnal ini penulis ingin mencoba membagikan suatu metode pembinaan warga gereja yang efektif melalui media virtual, supaya kegiatan pembinaan warga gereja terus dapat berlangsung meskipun dalam keadaan pandemi. Pembinaan jarak jauh ini telah menjadi solusi efektif dari pembatasan-pembatasan yang diberikan pemerintah bagi setiap tempat peribadatan di Indonesia.
Peranan Pemimpin Gereja Bagi Jemaat Dalam Menjaga Keutuhan NKRI Dari Ancaman Radikalisme Harita, Novi Saria; Setiawan, David Eko
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 3 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v3i1.32

Abstract

Abstract:   Radicalism is an understanding or practice of a doctrine that is considered true and is also an extreme idea. This kind of understanding can be a threat to the sustainability of the nation, religion, ethnicity and race in Indonesia. This understanding arises because the values ​​of Pancasila are no longer implemented in the life of the nation and state. So what is the role of church leaders in maintaining the integrity of the Republic of Indonesia from the threat of radicalism in the lives of their congregations? To answer these questions, in this study the author uses a descriptive qualitative approach with the library method. The purpose of this study is to explain the role of a church leader in maintaining the integrity of the Unitary State of the Republic of Indonesia from the threat of radicalism to the congregation he leads. The results of this study are church leaders must provide guidance to local church members, encourage congregations to care for each other through deacon services and encourage congregations to be involved in the nationalism movement. Abstrak:  Radikalisme adalah paham atau pengamalan suatu doktrin yang dianggap benar dan juga merupakan gagasan yang ekstrim. Pemahaman seperti ini dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan bangsa, agama, suku dan ras di Indonesia. Pemahaman ini muncul karena nilai-nilai Pancasila tidak lagi diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lantas bagaimana peran pimpinan gereja dalam menjaga keutuhan NKRI dari ancaman radikalisme dalam kehidupan jemaatnya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kepustakaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan peran seorang pemimpin gereja dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman radikalisme kepada jemaat yang dipimpinnya. Hasil dari penelitian ini adalah pemimpin gereja harus melakukan pembinaan terhadap warga gereja lokal, mendorong jemaat untuk saling peduli melalui pelayanan diakonia dan mendorong jemaat untuk terlibat dalam pergerakan nasionalisme.