Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Dilema Korban Dating Violence: Studi Kasus Persepsi Pribadi Perempuan Andari, Putri; Savitri, Nita; Rifai, Muhammad
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.21525

Abstract

This study aims to explore the dilemma experienced by female victims of dating violence by examining the internal, external, and socio-cultural factors that prevent them from leaving abusive relationships. Employing a qualitative approach with ethnographic nuances, the research was conducted in Medan among late adolescent girls through observation and cultural theme analysis. The findings reveal that internal factors”such as the need for love, safety, esteem, and self-actualization (as proposed by Maslow), emotional dependency, fear of loss, and a lack of awareness of manipulative behaviors”significantly influence victims decisions to remain in harmful relationships. External factors, including the absence of a father figur, identity crises during adolescence, and the influence of social environments, further increase their vulnerability to emotional exploitation. In addition, socio-cultural factors also play a critical role in sustaining dating violence. Patriarchal norms, masculine dominance, and folklore surrounding female purity act as social controls that restrict women's autonomy and reinforce unequal gender relations. The intersection of these three dimensions”personal, social, and cultural”creates complex barriers that entrap victims in ongoing cycles of abuse, often without their full awareness. This study highlights the urgent need for comprehensive interventions, including relationship education, empowerment of adolescent girls, and the deconstruction of patriarchal values embedded in everyday life.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memahami dilema yang dialami perempuan korban dating violence (kekerasan dalam hubungan pacaran), dengan menelusuri faktor-faktor internal, eksternal, serta sosial budaya yang memengaruhi keputusan mereka untuk tetap bertahan dalam hubungan yang bersifat abusif. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan nuansa etnografi, penelitian dilakukan di Kota Medan terhadap remaja perempuan akhir melalui observasi dan analisis tema kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal seperti kebutuhan dasar manusia (cinta, rasa aman, penghargaan), ketergantungan emosional, rasa takut kehilangan pasangan, serta ketidaksadaran akan kondisi manipulatif menjadi penghambat utama korban untuk keluar dari relasi yang merugikan. Sementara itu, faktor eksternal seperti kurangnya peran ayah, krisis identitas remaja, dan pengaruh lingkungan sosial memperkuat kerentanan korban terhadap eksploitasi emosional. Lebih lanjut, faktor sosial budaya juga berkontribusi signifikan terhadap normalisasi kekerasan dalam hubungan pacaran. Nilai-nilai patriarki, dominasi maskulinitas, serta keberadaan folklore tentang kesucian perempuan menjadi kontrol sosial yang mengekang dan menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Ketiga kategori faktor ini saling berkaitan dan membentuk kondisi yang membuat korban terus terjebak dalam siklus kekerasan tanpa menyadari bahwa hubungan tersebut telah merusak integritas diri mereka. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pendidikan relasi sehat, penguatan identitas diri, serta pembongkaran nilai-nilai patriarki dalam membangun sistem dukungan yang lebih adil dan transformatif bagi remaja perempuan.
KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH DAN PILIHAN PENGEMBANGAN KARIER PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM KONTEKS HAK ASASI MANUSIA Muhamamd Rifai; Ahmad Nafhani; Ibnu Avena; Ilal Ilham; Aldri Oktanedi; Maulida Masyitoh
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 4: September 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebijakan otonomi daerah telah memberikan keleluasaan bagi pemerintah daerah dalam mengelola administrasi, termasuk dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur Sipil Negara (ASN). Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kebijakan otonomi daerah berpengaruh terhadap pilihan karier PNS serta bagaimana kebijakan ini dapat dikaji dalam perspektif hak asasi manusia (HAM). Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah studi literatur. Data dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk peraturan perundang-undangan (UU ASN, UU Pemerintahan Daerah, PP Manajemen PNS, Peraturan Menteri Dalam Negeri terkait, dan peraturan daerah yang relevan), jurnal ilmiah, buku, laporan pemerintah (pusat dan daerah), laporan Komnas HAM, putusan pengadilan, dan dokumen-dokumen kebijakan publik lainnya, serta berita dan artikel terkini dari berbagai sumber online terpercaya. Dengan menggunakan pendekatan normatif dan analisis kebijakan, penelitian ini menemukan bahwa otonomi daerah dapat berkontribusi pada penguatan hak-hak PNS, tetapi juga dapat menciptakan kendala dalam mobilitas dan pengembangan profesional mereka. Kebijakan otonomi daerah memberikan peluang yang signifikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui pengelolaan sumber daya manusia lokal yang lebih responsif dan adaptif. Meskipun memberikan fleksibilitas bagi daerah dalam mengelola ASN, kebijakan ini juga berpotensi membatasi pilihan karier dan hak mobilitas PNS.
Dinamika Budaya dan Ekonomi dalam Perawatan Lansia Ketergantungan pada Masyarakat Minangkabau Tresno, Tresno; Rifai, Muhammad; Hapsari , Yuanita Dwi; Kurniawan, Deni Aries; Oktanedi, Aldri
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol. 10 No. 2 (2025): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i2.68916

Abstract

The Indonesian government has developed an elderly care program through Posyandu Lansia, a community-based health service at the lowest administrative level. However, this program tends to overlook the cultural and economic dynamics that influence medical treatment for dependent elderly individuals. This article examines the relationship between culture and economy in the medical treatment choices of dependent elderly individuals. The research employs an ethnographic method, collecting data through observations, in-depth interviews, kinship diagrams, and life history analysis. Informants were selected using purposive sampling, consisting of dependent elderly individuals and informal caregivers. The data were analyzed descriptively through case studies of dependent elderly individuals. The findings reveal that elderly medical treatment is carried out simultaneously through both traditional and modern medicine. Dependent elderly individuals are often labeled as suffering from sakit tuo (old-age illness). This term has dual meanings: it refers both to the socioeconomic condition of the elderly, who are no longer able to engage in social and economic activities and therefore require family care, and to the physical and psychological health deterioration that occurs with aging, which is treated using both traditional and modern medicine. Economically disadvantaged dependent elderly individuals can only access medical treatment from midwives and community health centers puskesmas, as these services are relatively low-cost. In contrast, wealthier elderly individuals can afford private medical practitioners and hospital treatment. This disparity makes impoverished elderly individuals more vulnerable in receiving adequate care in the future.
Sociological Approach to the Role of the Family in Religious Values Internalisation Gunawan; Rifai, Muhammad; Maulida Masyitoh; Asni Sari, Kurnia; Maulidya, Ade
BELIEF: Sociology of Religion Journal Vol. 3 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religion is one of the important aspects of human life that can affect a person, be it the way they think, act, and interact with the surrounding world. Religious education begins with the education obtained in a family. Therefore, this research aims to see how a family, which is the smallest unit in society, provides religious education for children. One of the novelties of this research is that the author explores the research findings more broadly and deeply, and gives emphasis to the socialisation process in the family. This research employed the literature study research method. This method was chosen. It can answer the questions posed more comprehensively because it refers to several scientific quantities that have been published previously. The theory used to analyse the findings is Functional Structural Theory. This theory was chosen because it is relevant to explain how a structure carries out its functions and roles, to be able to achieve a goal. The results showed that a family has a big responsibility in instilling religious values in a child. This responsibility is carried out in the form of socialisation and interaction between family members. How the family transforms religious values for each child is one of the fundamental things that will affect a child's religious understanding. The family, as the smallest structure in society, has a great function and role in shaping a child's character, including the cultivation of religious values.
Sosialisasi revitalisasi bahasa daerah melalui cerita rakyat pada guru SMP di Lawang Kidul, Muara Enim Kurniawan, Rudy; Tresno, Tresno; Rifai, Muhammad; Wulindari, Adetia
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38017

Abstract

AbstrakFenomena menurunnya penggunaan bahasa daerah di Sumatera Selatan, khususnya di Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, menjadi tantangan serius dalam upaya pelestarian identitas budaya lokal. Bahasa daerah seperti Melayu Palembang dan Lematang mengalami penurunan penutur akibat dominasi bahasa Indonesia dan berkurangnya transmisi antar generasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran guru mengenai pentingnya revitalisasi bahasa daerah melalui pendekatan berbasis cerita rakyat sebagai media edukatif dan kultural di sekolah. Mitra kegiatan adalah para guru SMP se-Kecamatan Lawang Kidul sebanyak 30 orang yang berperan sebagai agen pelestarian bahasa daerah di lingkungan pendidikan. Metode pelaksanaan dilakukan melalui sosialisasi dan ceramah interaktif, disertai pemutaran video cerita rakyat lokal seperti Antu Ayek dan Si Pahit Lidah. Kegiatan ini juga menampilkan diskusi reflektif mengenai strategi revitalisasi bahasa daerah melalui empat aspek utama: keluarga, integrasi muatan lokal, media cerita rakyat, dan perlombaan budaya. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa tingkat pemahaman guru tertinggi terdapat pada aspek media cerita rakyat dan integrasi muatan lokal masing-masing 30%. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan komitmen guru dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis budaya lokal, serta menjadi langkah awal bagi penguatan kebijakan pendidikan yang berpihak pada pelestarian bahasa daerah di Muara Enim. Kata kunci: revitalisasi; bahasa daerah; cerita rakyat; guru. AbstractThe decline in the use of local languages in South Sumatra, particularly in Lawang Kidul Subdistrict, Muara Enim Regency, has become a serious challenge to preserving regional cultural identity. Local languages such as Malay Palembang and Lematang are facing a reduction in native speakers due to the dominance of Indonesian and the weakening of intergenerational transmission. This community service activity aimed to increase teachers understanding and awareness of the importance of local language revitalization through the use of folklore as an educational and cultural medium in schools. The program involved 30 junior high school teachers from Lawang Kidul Subdistrict as partners who play a key role in sustaining local language learning in the education environment. The implementation was carried out through socialization and interactive lectures, accompanied by the screening of local folklore videos such as Antu Ayek and Si Pahit Lidah. The activity also included reflective discussions on four main aspects of revitalization: family involvement, integration into local curricula, the use of folklore media, and language festivals or competitions. The evaluation results showed that teachers highest level of understanding was on the aspects of folklore media and curriculum integration (each 30%). Overall, this activity successfully enhanced teachers knowledge and commitment to implementing culturally based learning and became an initial step toward strengthening educational policies that support the preservation of local languages in Muara Enim. Keywords: revitalization; local language; folklore; teachers
Strategi Pengorganisasian Masyarakat Berbasis Sinergi Kolektif dalam Pengembangan UMKM untuk Penguatan Ekonomi Lokal Maryam, Rika; Azzahro, Azizah; Ronaldi, Steven; Ginting, Oktaviana Br; Lapina, Tiara Resta; Khasanah, Umi; Nasution, Sisy Viola Gendis; safriyanto, Ricky; Kurniawan, Rudy; Rifai, Muhammad; Tresno
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 1: April (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i1.2477

Abstract

UMKM di Indonesia sering terkendala tata kelola individualistis. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pengorganisasian masyarakat kolektif untuk memperkuat kapasitas UMKM. Menggunakan metode Systematic Literature Review terhadap 10 artikel (2019-2024), ditemukan bahwa model Asset Based Community Development (ABCD), merek kolektif, dan integrasi BUMDes efektif meningkatkan daya saing. Strategi ini mentransformasi pola usaha atomistik menjadi sinergis, meningkatkan efisiensi rantai pasok hingga 30%, dan mempercepat adaptasi digital. Kesimpulannya, pengorganisasian masyarakat membangun modal sosial yang menciptakan resiliensi ekonomi lokal. Diperlukan regulasi yang mendukung asosiasi UMKM perdesaan untuk keberlanjutan ekonomi.
Peran Satu Amal Indonesia dalam Pemberdayaan Masyarakat melalui Program Pendidikan Non Formal Cerita Kolong Langit di Kota Palembang Nazhifah, Nada Nisrina; Diva, Anggra Para; Putra, M.Bagas Pratama; Aliza , Rigina; Astridianisa, Tasya; Putri, Izzaty Nagita; Haryanti , Dwi; Pengesti, Retno; Kurniawan, Rudy; Rifai, Muhammad; Tresno
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 1: April (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i1.2548

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran organisasi Satu Amal Indonesia dalam penguatan masyarakat melalui program pendidikan nonformal Cerita Kolong Langit yang berlangsung di Kota Palembang. Program Cerita Kolong Langit muncul sebagai sebuah wadah pembelajaran alternatif yang tidak hanya menyajikan pendidikan akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter serta sosial kepada anak-anak. Studi ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data yang meliputi observasi dan wawancara mendalam bersama pihak dari organisasi Satu Amal Indonesia, yaitu Kepala Bidang Riset dan Data sebagai sumber informasi utama. Hasil studi menunjukkan bahwa program Kolong Langit berperan dalam pemberdayaan masyarakat dengan menyediakan kesempatan belajar untuk anak- anak yang menghadapi kendala dalam mengakses pendidikan. Program ini tidak hanya mendukung anak-anak dalam meningkatkan kemampuan akademis, tetapi juga menanamkan prinsip-prinsip moral serta karakter yang baik.Keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi sukarelawan, kontribusi dari para donatur, dan penerimaan baik dari masyarakat serta semangat tinggi anak-anak. Meski demikian, program ini juga menemui berbagai tantangan, seperti jumlah sukarelawan yang terbatas, waktu yang dimiliki peserta yang tidak mencukupi, serta kurangnya dukungan dari pihak pemerintah.
Pengorganisasian Anggota Aiesec: Proses Pembentukan Agen Perubahan Melalui Program Sosial Adiguna sugiharto; Novita Hasanah, Aulia Salma; Safitri, Maharani; Ananda Putri, Reza; Kalima, Nurul; Delima, Aisyah; Okta Fitri, Anisa; Robi, Mustar; Kurniawan, Rudy; Rifai, Muhammad; Tresno
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 1 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i1.3120

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses pengorganisasian anggota AIESEC dalam program sosial serta memahami bagaimana proses tersebut membentuk transformasi peran anggota dari relawan menjadi individu yang memiliki kesadaran sebagai agen perubahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui wawancara mendalam, dokumentasi, serta kajian literatur. Informan penelitian merupakan Ketua Umum AIESEC Universitas Sriwijaya yang dipilih secara purposive karena memiliki pengalaman dan pemahaman terhadap dinamika organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan anggota pada tahap awal umumnya didorong oleh motivasi personal seperti pengembangan diri dan ketertarikan terhadap identitas internasional organisasi. Namun, melalui proses pengorganisasian yang terstruktur seperti onboarding, capacity building, pembagian departemen, serta koordinasi rutin organisasi, terjadi pergeseran orientasi anggota menuju kesadaran sosial yang lebih reflektif. Pengalaman langsung dalam pelaksanaan program sosial, interaksi lintas budaya, serta evaluasi dampak program turut memperkuat internalisasi nilai organisasi dan pembentukan identitas kolektif anggota. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengorganisasian yang sistematis tidak hanya memastikan keberlangsungan program sosial, tetapi juga berperan penting dalam membentuk relawan yang memiliki kepedulian sosial dan kapasitas untuk berkontribusi sebagai agen perubahan di masyarakat.
Ruang Yakin Cerdas Satu Amal Indonesia sebagai Strategi Pengorganisasian Masyarakat melalui Pendidikan Non-Formal bagi Anak-anak Yatim dan Dhuafa di Kota Palembang Sabrina; Abil Al Husain; Leo Jonada; M. Rifqi Fahjri; Anisa Zalika; Ernia Syah Putri; Devia Tri Wahyuni; Ahmad Zaki Al-Fadhil; Rudy Kurniawan; Muhammad Rifai; Tresno
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5122

Abstract

Pendidikan non-formal memainkan peran penting dalam mengatasi keterbatasan akses dan kualitas pendidikan di kalangan masyarakat perkotaan. Program Ruang Yakin Cerdas (RYC) muncul sebagai intervensi sosial berbasis komunitas yang menggabungkan pendidikan dengan pengorganisasian masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran RYC sebagai strategi pengorganisasian masyarakat melalui pendidikan non-formal di Kota Palembang. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RYC mengalami perkembangan dari gerakan sosial yang spontan menjadi lembaga komunitas yang terstruktur. Pola interaksi dialogis dan partisipatif antara relawan dan anak didik berhasil membangun ikatan emosional serta meningkatkan semangat belajar. Selain itu, RYC memperkuat modal sosial melalui pembentukan kepercayaan, solidaritas, dan keterlibatan bersama masyarakat. Program ini juga memberdayakan anak-anak dengan mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan sosial. Oleh karena itu, RYC tidak hanya berfungsi sebagai wadah pendidikan, tetapi juga sebagai strategi efektif untuk memperkokoh struktur sosial dan mendorong perubahan sosial berbasis komunitas.
Penguatan Peran Masyarakat Peduli Api dalam Pencegahan Karhutla Berkelanjutan Dari, Tarisa Wulan; Salsabilla Azzahra; Friska Novelia; Nyayu Tania Wulandari; Intan Emi Putri; Rudy Kurniawan; Muhammad Rifai; Tresno
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5777

Abstract

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan permasalahan strategis yang berdampak ekologis, sosial, dan ekonomi secara luas. Masyarakat Peduli Api (MPA) berperan sebagai garda terdepan dalam sistem pencegahan berbasis komunitas, namun efektivitasnya masih menghadapi kesenjangan antara capaian prosedural dan outcome penurunan kebakaran yang terukur. Penelitian ini bertujuan merumuskan model penguatan peran MPA yang integratif dan berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah Systematic Narrative Literature Review terhadap 20 artikel periode 2021–2024 yang relevan dengan pencegahan karhutla dan community-based fire management. Analisis dilakukan melalui thematic coding, content analysis, cross-study comparison, dan integrative synthesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas pencegahan karhutla ditentukan oleh lima dimensi utama, yaitu penguatan kelembagaan internal, diversifikasi ekonomi berkelanjutan, tata kelola kolaboratif, integrasi teknologi digital, serta pendekatan sosio-ekologis adaptif. Kelembagaan yang kuat meningkatkan kohesi dan legitimasi, model ekonomi berbasis konservasi menciptakan insentif tanpa bakar, kolaborasi lintas sektor memperkuat koordinasi, teknologi meningkatkan efisiensi deteksi dini, dan pendekatan sosio-ekologis memastikan adaptivitas kebijakan. Penelitian ini menghasilkan Model Integratif Lima Pilar sebagai kerangka konseptual penguatan MPA yang komprehensif, sistemik, dan berorientasi pada pencapaian penurunan risiko kebakaran secara terukur dan berkelanjutan