Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

REINTERPRTETASI DAN REAKTUALISASI KESADARAN PENDIDIKAN EKOLOGI DI TENGAH DARURAT AGRARIA DI KABUPATEN SUMENEP Matroni Matroni
JURNAL SETIA PANCASILA Vol 1 No 1 (2020): Jurnal Setia Pancasila, September 2020
Publisher : PRODI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN STKIP PGRI SUMENEP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36379/jsp.v1i1.63

Abstract

Pendidikan ekologi adalah salah satu hal paling aktual di Indonesia yang selalu menjadi momok yang hangat untuk kepentingan korporasi. Masalah utamanya adalah, apa dan bagaimana reinterpretasi dan reaktualisasi; dan Bagaimana implikasinya terhadap perkembangan pendidikan ekologi? Penelitian ini berbasis pustaka dan lapangan dengan mengumpulkan data, sekaligus meneliti referensi-referensi yang terkait dengan subjek yang dikaji, baik makalah, buku, Koran, jurnal, peper sekaligus wawancara dengan menggunakan pendekatan filosofis. Dari paparan di atas di simpulkan bahwa pertama sangat penting adanya pemikiran yang lebih serius tentang agraria di Sumenep, kedua pentingnya melahirkan kesadaran ekologis bagi masyarakat Sumenep yang saat ini ada dalam keadaan darurat, ketiga membutuhkan argumentasi tentang pendidikan ekologi dalam menjaga masa depan ekologi manusia. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu bentuk knowledge ecology danlocal though terhadap berbagai jenis tanah tersebut agar dapat digunakan sebagai acuan dalam proses pembangunan manusia seutuhnya yang berjiwa ekologis. Modal dasar bagi segenap elit dan segenap agen pembaharu bangsa adalah ketulusan membuang ego pribadi ataupun kelompok, bersedia menggali nilai-nilai budaya masyarakat Sumenep. Masyarakat bersama-sama menggali sumber kehidupan secara arif dan bijaksana, sehingga ada jalan menuju kehidupan yang harmoni, dengan meniadakan konsep hukum rimba, menolong yang lemah, menciptakan kedamaian, keadilan dan kesejahteraan. Keterbukaan merupakan modal dasar dalam setiap reaktualisasi ekologi, beserta nilai-nilai budaya lokal yang ada di Sumenep. Pendidikan ekologi perlu ditanamkan kepada setiap elemen masyarakat baik dalam keluarga, masyarakat dan pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Ini menjadi penting supaya ada kesadaran bersama sebagai suatu bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya dan tanah yang berbeda-beda. Hal itulah yang menjadi fondasi kekuatan bangsa kita. Jangan sampai budaya luar yang lebih konsumeristik-kapitalistik akan menghancurkan tanah yang kita memiliki.
MENINGKATKAN KARAKTER JUJUR ANAK USIA DINI KELOMPOK B MELALUI METODE CERITA PARA RASUL DI RA RUHUL ISLAM AL-MUNTAHA GAPURA TIMUR GAPURA SUMENEP TAHUN PELAJARAN 2018/2019 Khalilatul Ummi; Matroni Matroni
JURNAL SETIA PANCASILA Vol 1 No 1 (2020): Jurnal Setia Pancasila, September 2020
Publisher : PRODI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN STKIP PGRI SUMENEP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36379/jsp.v1i1.78

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui karakter jujur anak sebelum diterapkan metode Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan menggunakan metode cerita para Rasul di TK Ruhul Islam Al-Muntaha Gapura Sumenep. (2) Untuk mengetahui pelaksanaan metode Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan menggunakan metode cerita Para Rasul dalam meningkatkan karakter jujur anak usia dini di kelompok A di TK TK Ruhul Islam Al-Muntaha Gapura Sumenep. (3) Untuk mengetahui apakah dengan melalui metode Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan menggunakan metode cerita para Rasul dapat meningkatkan karakter jujur anak usia dini di kelompok A Di TK Ruhul Islam Al-Muntaha Gapura Sumenep. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil analisis data pada Pra Tindakan nilai rata-rata (37%) diperoleh data bahwa karakter jujur anak yaitu tidak ada anak yang tergolong berkembang sangat baik dan 2 orang anak atau (14%) tergolong berkembang sesuai harapan, mulai berkembang (29%) dan belum berkembang (57%). Hasil analisis data pada siklus I diperoleh data bahwa peningkatan karakter jujur anak yaitu sebanyak 2 orang anak atau (14%) tergolong berkembang sangat baik, 4 orang anak atau (29%) tergolong berkembang sesuai harapan, 1 orang anak atau (7%) tergolong mulai berkembang dan 7 orang anak atau (50%). Dari data hasil observasi tersebut hingga perlu dilakukan pembelajaran melalui metode bercerita dengan menggunakan media pada sikus II. Dari hasil analisis siklus II diperoleh hasil bahwa peningkatan karakter jujur anak meningkat yaitu terdapat 9 orang anak atau (75%) yang tergolong Berkembang Sangat Baik, 5 orang anak atau (16,66%) yang tergolong Berkembang Sesuai Harapan dan tidak ada anak yang tergolong Mulai Berkembang dan Belum Berkembang. Dari hasil temuan peneliti tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa melalui metode bercerita kisah para rasul dapat meningkatkan karakter anak usia 5-6 kelompok B RA. Ruhul Islam Al-Muntaha Gapura Timur Gapura Sumenep.
DOMINASI DAN LEGITIMASI KEKERASAN SEKSUAL PEREMPUAN DALAM TRADISI RONJHENGAN DI MADURA khairiyanto Matroni
JURNAL SETIA PANCASILA Vol 1 No 2 (2021): Jurnal Setia Pancasila, Februari 2021
Publisher : PRODI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN STKIP PGRI SUMENEP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36379/jsp.v1i2.133

Abstract

In Context of Gender, Patriarchal Cultural often was indicated to husband. Discourse of Gender more excessive discussed about it which have occurred publicly including: subordination, violence, sexual harassment for women. On the other hand, one side, the cultural too have followed to role in forming discourse of gender where role of women always is valued negative. In the case here, Ronjhengan is specially women less obtainable interest of well. Ronjhengan as cultural often put women side eliminated that women is always cornered in practice it specially about women body and other side, cultural as aspect of importing in life community Madura. in the research, cultural of Ronjhengan which is being Madura, will be studied through in perspective sort story from Ahmad Muhklish Amril further continue called Mushlish. the research analyses used theory of structuration-agent Pierre Boerdieu, continue namely Boerdieu. the context explain that (Habitus: Agen x Modal)+Ranah: Practect, Subtansi doxa as value which necessary construction or being practice of social gap for women to restore position harkat-martabat women in socity
PENGEMBARAAN KEJUJURAN DALAM PUISI (PEMBACAAN ATAS PENGEMBARAAN, PERJUMPAAN DAN PUISI DALAM BUKU ANTOLOGI PUISI MAHWI AIR TAWAR) Matroni Matroni
Jurnal Komposisi Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Komposisi
Publisher : Universitas Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.714 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman pelajaran sastra dalam menggunakan kritik puisi pada antologi puisi “Pengembaraan, Perjumpaan dan Puisi dalam buku Antologi puisi Mahwi Air Tawar)”. Penelitian dilaksanakan dengan membaca semua buku puisi ini. Teknik pengumpulan data adalah dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Validitas data menggunakan metode penelitian kualitatif difokuskan pada kritik sastra khhususnya puisi dalam buku ini. Penulis menganalisis puisi yang tertulis di antologi puisi ini. Hasilnya menunjukkan bahwa dengan kritik sastra dapat meningkatkan kemampuan berpikir mandiri dan belajar mandiri dalam membaca puisi kemudian mengkritiknya dengan mencari referensi yang sesuai dengan pembacaan puisi ini.
PEMIKIRAN MISTIKO-FILOSOFIS MULYADHI KARTANEGARA Matroni Matroni
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.943 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v3i2.720

Abstract

Abstract. Mulyadhi Kartanegara is an Indonesian thinker has offered Islamic epistemology called as mystico-philosophic. What is Mulyadhi's concept of Mystico-philosophic? What is it's implication on development of contemporary metaphysics? It is library-based philosophical research that is studying data and references which are relevant with subject, including papers, books, newspapers, journals, and interviews. The results were firstly that mystico-philosophic offers new paradigm in Islamic philosophy. The second one, that it offers synthesis between religion and philosophy or sufism and philosophy. The third one, that it enables the synergy among rationality, senses and intuition. Those three components must be fulfilled in that epistemology. The fourth one, that is that senses, rationality and intuition are islamic epistemological foundations must be defended. The fifth one, that islamic epistemology tends to transcend daily life in order those three components keep synergy. The sixth, mystico-philosophic truly is needed in our contemporary century.Keywords: Islamic Philosophy, Islamic Mysticism, SufismAbstrak. Mulyadhi Kartanegara adalah salah satu pemikir Indonesia yang mencoba berjuang menawarkan epistemologi Islam yang dikenal dengan mistiko-filosofis. Masalah utamanya adalah, apa dan bagaimana pemikiran Mulyadi Kartanegara tentang Mistiko-Filosofis; dan Bagaimana implikasinya terhadap perkembangan metafisika kontemporer? Penelitian ini berbasis pustaka dengan mengumpulkan data, sekaligus meneliti referensi-referensi yang terkait dengan subjek yang dikaji, baik makalah, buku, Koran, jurnal, peper sekaligus wawancara dengan menggunakan pendekatan filosofis. Hasilnya adalah, bahwa mistiko-filosofis mampu memberikan paradigma baru dalam filsafat Islam. Kedua mampu memberikan penyadaran dalam mendamaikan agama dan filsafat, tasawuf dan filsafat. Ketiga dalam mistiko-filosofis peran akal, indera dan hati sama-sama harus berjalan bermesraan, artinya belum dikatakan mistiko-filosofis kalau dalam filsafat Islam tidak menyertakan akal, indera dan hati. Keempat indera, akal, dan hati merupakan fondasi epistemologi Islam yang harus tetap dijaga dan dilestarikan. Kelima ada semangat untuk mendransendenkan atau memistikkan keseharian agar tiga fondasi ini tidak bersebrangan dan tidak berdiri sendiri. Keenam ternyata mistiko-filosofis benar-benar dibutuhkan oleh abad komtemporer. Kata Kunci: Filsafat Islam, Mistisisme Islam, Tasawuf
Epistemologi Ukhuwah sebagai Falsafah Pemikiran Islam Matroni
Fahima Vol 1 No 2 (2022): Fahima
Publisher : Program Pascasarjana UNU Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.929 KB) | DOI: 10.54622/fahima.v1i2.73

Abstract

In the scientific system, a comprehensive critical epistemology paradigm for Muslims is needed to explore the spirit of critical epistemology. This is important because Indonesia is a dynamic country, thus requiring a dynamic epistemological foundation. Based on this description, this study aims to examine the epistemological paradigm of ukhuwah as well as the philosophy of critical epistemology it builds. The theoretical framework of this research is the epistemology of Muhammad Abit Aljabiri, while the research method used is descriptive-analytical. The results of this study indicate that the ukhuwah epistemology paradigm is part of critical epistemology, so that the scientific products give birth to the critical epistemology needed by society and the nation. The critical epistemology paradigm is known as the contemporary paradigm because of the effort to combine ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah and ukhuwah wathaniyah. The ukhuwah product emphasizes that the three ukhuwahs are a critical epistemology capable of maintaining and maintaining Pancasila and NKRI, which are a manifestation of Islamic values - an individual responsibility as well as a collective obligation because they fall under the category of academically recognized Islamic scholarship. known as critical epistemology.
PENERAPAN PENDIDIKAN BAYANI DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYAMPAIKAN PELAJARAN SISWA SEKOLAH DASAR Matroni Matroni
Autentik : Jurnal Pengembangan Pendidikan Dasar Vol 1 No 2 (2017)
Publisher : Elementary School Teacher Education (PGSD), STKIP PGRI Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.259 KB)

Abstract

This study to improve the ability to deliver using Bayani Education in the grade students of SDI Gapura Timur. The subjects of the research are students of Class VI of SDI Gapura Timur with 10 students. The study was conducted in three meetings, with each meeting consisting of planning, action implementation, observation, and descriptions. Technique of data collection is by test, observation, interview, and documentation. The validity of the data using qualitative method of research method focused on existing teaching practices of the archipelago. The author analyzed the learning process that occurred in the SDI Gapura Gapura Timur. The result shows that Bayani education can improve self-learning ability and self- learning of grade 6 students of Gapura Timur.
Pemikiran Politik Islam Ibnu Taimiyah dan Gus Dur: Konsep Negara dan Kepemimpinan Matroni; Masykur Arif; Sidqi Junaidi; Hasan Basri
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 6 No. 2 (2022): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Khilafah theory is no longer able to fulfill the goals of government in Islam. Ibn Taimiyah finally promised an Islamic political theory which was expected to be able to cover the shortcomings and limitations of the Khilafah theory by referring to the classical Caliphate theory. Ibn Taimiyah's political theory is contained in one of his works entitled al-Siyasah al-Syar'iyah fi islah al-Ra'i wa al-Ra'iah (Shari'ah-based Politics for the Improvement of Returners and Shepherds). Departing from the classical basis of the theory of caliphate, he not only criticized the theory of caliphate, but at the same time saw that there was no need for a caliphate. Even Ibn Taimiyah argues that in the Qur'an and as-Sunnah do not formulate a caliphate. The existence of the historical background of the Khilafah Khilafah al-Rasyidin is nothing more than an accident, not an example of political life. Even the life of the Prophet is not seen as the basis of government that needs to be adopted in a particular political system of government, he is nothing but a sui generis institution, not the basis of Islamic politics. Ibn Taimiyah's rejection of the practice of history as the basis of political philosophy, then Ibn Taimiyah avoided the error of assessing the existing political power as power legalized by the shadow of the caliph, as contained in the characteristics of the political theory of previous thought. Teori khilafah sudah tidak mampu memenuhi tujuan pemerintahan dalam Islam. Ibn Taimiyah akhirnya menjanjikan teori politik Islam yang diharapkan mampu menutup kekurangan dan keterbatasan pada teori khilafah dengan merujuk pada teori kekhalifahan klasik. Teori politik Ibnu Taimiyah tertuang dalam salah satu karyanya yang berjudul al-Siyasah al-Syar’iyah fi islah al-Ra’i wa al-Ra’iah (Politik yang Berdasarkan Syari’ah bagi Perbaikan Pengembali dan Gembala). Berangkat dari dasar teori kekhalifahan klasik, ia tidak saja mengkritisi teori kekhalifahan, namun dalam waktu yang sama memandang bahwa kekhalifahan tidak perlu ada. Bahkan Ibn Taimiyah berpendapat bahwa dalam al-Quran dan as-Sunnah tidak merumuskan kekhalifahan. Adanya latar belakang sejarah khilafah khulafa al-Rasyidin tidak lebih dari sekedar aksiden, bukan merupakan contoh kehidupan politik. Bahkan kehidupan Nabi sekalipun tidak dipandang sebagai dasar pemerintahan yang perlu diadopsi dalam sistem politik pemerintahan tertentu, ia tidak lain hanyalah sebagai sebuah lembaga sui generis, bukan sebagai dasar politik Islam. penolakan Ibn Taimiyah terhadap praktek sejarah sebagai dasar filsafat politik, maka Ibn Taimiyah terhindar dari kesalahan menilai kekuatan politik yang ada sebagai kekuasaan yang dilegalisasikan oleh bayangan khalifah, sebagaimana terdapat pada ciri-ciri teori politik pemikiran sebelumnya.
THE CONCEPT OF COUNTRY AND LEADERSHIP IN ISLAMIC POLITICAL PHILOSOPHY OF IBN TAIMIYAH Hasan Basri; Matroni Matroni
JURNAL SETIA PANCASILA Vol 3 No 1 (2022): Jurnal Setia Pancasila, September 2022
Publisher : PRODI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN STKIP PGRI SUMENEP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36379/jsp.v3i1.427

Abstract

The caliphate discourse promoted by several groups of Islamic fundamentalist movements is no longer able to fulfill the goals of government in Islam. Ibn Taimiyah finally promised an Islamic political theory which was expected to be able to cover the shortcomings and limitations of the caliphate theory by referring to the classical caliphate theory. Ibn Taimiyah's political theory is contained in one of his works entitled al-Siyasah al-Syar'iyah fi islah al-Ra'i wa al-Ra'iah (Politics Based on Sharia for the Improvement of Returners and Shepherds). The existence of the historical background of the Khulafa al-Rasyidin's caliphate is nothing more than an accident, not an example of political life. Even the life of the Prophet is not seen as a basis for government that needs to be adopted in a particular political system of government, it is nothing more than a sui generis institution, not as a basis for Islamic politics. Ibn Taimiyah's rejection of historical practice as the basis of political philosophy, then Ibn Taimiyah avoided the mistake of assessing existing political power as power that was legalized by the shadow of the caliph, as was found in the characteristics of previous political theories of thought..
PERAN GP ANSOR DUNGKEK, SUMENEP, DALAM MEMBANGUN NASIONALISME UNTUK MENANGGULANGI RADIKALISASI DI KALANGAN GENERASI Z Suhaidi, Moh.; Matroni, Matroni; Salamet, Salamet
Jurnal Global Citizen : Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan Kewarganegaraan Vol 14 No 1 (2025): Jurnal Global Citizen : Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan Kewarganegaraan
Publisher : Prodi PPKn Universitas Slamet Riyadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33061/jgz.v14i1.12149

Abstract

Pemudaran rasa nasionalisme sering kali beririsan dengan tumbuhnya paham radikalisme yang dapat mengancam stabilitas sosial di masyarakat. Fenomena ini semakin terasa di daerah-daerah multikultur seperti Kecamatan Dungkek, Sumenep, yang memiliki keragaman budaya, etnis, dan agama. Dalam konteks ini, radikalisasi dapat berkembang subur jika rasa nasionalisme tidak ditanamkan dengan baik sejak dini. Untuk itu, PAC GP Ansor Dungkek, sebagai organisasi pemuda tingkat lokal, berperan aktif dalam upaya menanamkan semangat nasionalisme guna mencegah penyebaran paham radikal di kalangan masyarakat, khususnya Generasi Z. Melalui pendekatan studi kasus, penelitian ini menggali lebih dalam mengenai strategi yang diterapkan oleh PAC GP Ansor Dungkek dalam membentuk dan memperkuat rasa nasionalisme di tengah masyarakat yang multikultur. Temuan-temuan tersebut pertama Pembentukan Sikap Nasionalisme di antaranya adanya (1) Kegiatan Sosial dan Keagamaan dan (2) Peneladanan terhadap Tokoh Masyarakat; kedua Dampak dari Pembentukan Sikap Nasionalisme yaitu Meningkatnya Kesadaran Cinta Tanah Air.