Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PERBEDAAN POLA ASUH DEMOKRATIS DAN OTORITER TERHADAP KEMANDIRIAN ANAK TUNAGRAHITA DI SLB YAYASAN “B” KOTA TASIKMALAYA Asep Mulyana; Iis Sopiah Suryani; Heni Nurakillah; Septiandi Eka Darusman; Faisal Kurnia
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 13, No 2 (2022): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v13i2.1532

Abstract

Anak tunagrahita merupakan anak yang mengalami kelemahan psikis dan fisik, kelemahan tersebut dapat menyebabkan gangguan dan hambatan dalam perawatan diri sehingga mengakibatkan anak menjadi kurang mandiri. Salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan kemandirian anak adalah dengan memberikan pola asuh yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pola asuh demokratis dan otoriter terhadap kemandirian anak tunagrahita di SLB Yayasan Bahagia Kota Tasikmalaya. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitaif dengan metode komparatif dan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak tunagrahita ringan sebanyak 63 orang. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil penelitian didapatkan pola asuh demokratis pada anak tunagrahita sebagian besar demokratis (60.3%), dan sebagian besar bukan otoriter (60.3%). Kemandirian anak tunagrahita di SLB Yayasan Bahagia Kota Tasikmalaya sebagian besar kurang mandiri (54.0%). Terdapat perbedaan pola asuh demokratis dan otoriter terhadap kemandirian anak tunagrahita di SLB Yayasan Bahagia Kota Tasikmalaya dengan p value 0,002. Simpulan dari penelitian ini terdapat perbedaan pola asuh demokratis dan otoriter terhadap kemandirian anak tunagrahita sehingga disarankan orang tua dapat mengoptimalkan kemandirian anak tunagrahita melalui penerapan pola asuh demokratis, orang tua hendaknya tidak memaksakan kendak kepada anak tunagrahita, sehingga proses kemandirian berkembang secara optimal. 
ANALISIS POLA ASUH ORANG TUA YANG MEMILIKI REMAJA PEROKOK AKTIF Iis Sopiah Suryani; Rikky Gita Hilmawan
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 14, No 2 (2023): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v14i2.1858

Abstract

Background: Pola asuh merupakan salah satu faktor yang signifikan turut membentuk perilaku dan karakter seorang anak, hal ini di dasari bahwa pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang utama dan pertama bagi anak, yang tidak bisa digantikan oleh lembaga pendidikan manapun . Baumrind mengidentifikasi 3 pola asuh utama orangtua yaituotoriter, demokratif dan primisif. WHO memperkirakan separuh kematian di asia dikarenakan tingginya  peningkatan  penggunaan  tembakau. Angka kematian merokok di negara berkembang meningkat hampir 4 kali lipat. Data kemenkes menunjukkan bahwa prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang di lakukan peneliti di kelurahan “k” kepada 10 orangtua yang memiliki remaja perokok aktif dengan melakukan wawancara didapat bahwa 5 orang tua menerapkan tehnik pola asuh otoriter 4 orang menerapkan tehnik pola asuh demokratif dan 1 orang menerapkan tehnik pola asuh primisif.Objective: untuk mengetahui gambaran pola asuh orangtua yang memiliki remaja perokok aktifMethods: Metode penelitian non eksperimen deskriptif dengan pendekatan cross sectional . Populasi dalam penelitian ini adalah orangtua yang memiliki remaja laki-laki dengan perokok aktif usia 16-19 tahun sejumlah 45 orang. Tehnik pengambilan sampel dengan menggunakan total sampling. Analisa data yang digunakan analisa univariatResults:  Hasil penelitian menunjukkan bahwapola asuh orangtua yang paling banyak digunakan adalah otoriter sebanyak 25 orang (55.6%). Saran untuk orangtua agar tidak hanya menggunakan salah satu pola asuh tetapi  juga mengkombinasikan ketiga pola asuh tersebut.compared with the standard intervention using brochure. Keywords: Pola Asuh, Remaja Perokok Aktif
HUBUNGAN JUMLAH ANAK (PARITAS) DAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL DENGAN USIA MENOPAUSE DI KELURAHAN “K” iis sopiah suryani; Meti Sulastri; Maria Ulfah jamil; Selvy Wahyu Nur Utami
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 11, No 2 (2020): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v11i2.833

Abstract

Masalah kesehatan wanita salah satunya sistem reproduksi kini menjadi perhatian dunia tidak hanya menyangkut kehamilan dan persalinan namun lebih luas yaitu dari menarche sampai menopause. Menopause menandai akhir masa reproduksi seorang wanita dan biasanya terjadi pada wanita berusia antara 45-54 tahun hal ini disebabkan faktor reproduksi salah satunya jumlah paritas dan riwayat pemakaian KB hormonal. Hasil studi pendahuluan di Kelurahan “K” dari 6 responden 2 diantaranya mengalami menopause pada usia 45 tahun dimana Ibu tidak ber KB hormonal dan memiliki 1 anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jumlah anak (Paritas) dan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan usia menopause. Rancangan penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita usia 45-54 tahun sebanyak 710 orang, pengambilan sampel dengan menggunakan teknik quota sampling sebanyak 71 orang. Data dalam penelitian ini data primer penelitian langsung terhadap ibu menopause. Analisa data yang digunakan adalah univariat dan bivariat. Dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa terdapat hubungan jumlah anak (paritas) dengan usia menopause  dengan nilai p-value 0,0030,05. Terdapat hubungan pemakaian KB hormonal dengan usia menopause dengan nilai p-value  0,0040,05. Oleh karena itu bagi masyarakat (ibu menopause) dalam menghadapi menopause pemahaman ibu tentang menopause mengingat kontrasepsi KB hormonal dan jumlah paritas mempengaruhi usia menopause.Kata Kunci          :               Paritas, KB Hormonal, Usia Menopause.
EFEKTIVITAS MENGGENDONG DENGAN METODE M SAVE DAN J SAVE TERHADAP KUALITAS TIDUR BAYI USIA 2-6 BULAN Iis Sopiah Suryani; Rikky Gita Hilmawan; Heni Nurakillah
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 14, No 1 (2023): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v14i1.1518

Abstract

Kegiatan menggendong bayi dapat mempengaruhi pertumbuhan bayi terutama tulang panggul dan tulang belakang. Kegiatan menggendong bayi terlihat sepele, namun alangkah baiknya orang tua mengetahui posisi menggendong bayi yang mana yang benar dan aman, Dengan mengetahui posisi menggendong yangbaik sangat bermanfaat bagi ibu dan pertumbuhan perkembangan bayi. Teknim M save masih jarang digunakan oleh para ibu di Indonesia padahalmetode ini merupakan metode yang aman dan nyaman untuk menggendong bayi serta dapat memperbaiki kualitas tidur bayi. Sedangkan teknik menggendong dengan metode J save sudah sering digunakan oleh para ibu. Tujuanpenelitian ini mengetahui efektifitas menggendong dengan metode M save dan J save pada bayi usia 2-6 bulan terada kualitas tidur nya. Metode penelitian quasi esperimen. Penelitian ini sesuai dengan road map prodi dan dosen serta sesuai dengankeunggulan prodi D3 kebidanan Tasikmalaya. Sampel pada penelitian ini diambil dengan menggunakan metode purpossive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 36 bayi. Instrument dengan menggunakan wawancara dan kuesioner kualitas tidur. Analisis menggunakan uji paired t test. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai kualitas tidur bayi usia 2-6 bulan sebelum dan setelah perlakuan dengan digendong menggunakan metode M shape dan J shape diperoleh bahwa kedua kelompok memiliki perbedaan, hal ini dibuktikan dengan hasil uji statistik t dimana pada M shape memiliki tingkat signifikansi ρvalue sebesar 0,000, dan pada kelompok J shape memiliki tingkat signifikansi ρvalue sebesar 0,043. Dengan demikian kedua variabel tersebut sebelum dan setelah perlakuan memiliki perbedaan yang berarti karena masing-masing memiliki ρvalue lebih kecil dari α (0,05). 
Efektifitas Pemberian Permen Jahe dan Kurma Ajwa Terhadap Hypermemesis Gravidarum Lina Marlina; Ai Rahmawati; Iis Sopiah Suryani; Meti Sulastri; Sri Gustini
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i8.21065

Abstract

ABSTRACT Pregnancy is often accompanied by changes that cause discomfort, one of which is nausea and vomiting. Excessive nausea and vomiting are known as hyperemesis gravidarum. If not treated properly, it can cause disorders in the mother and fetus. Conventional therapy causes side effects, so a safe natural alternative is needed. The combination of ginger and dates is one form of complementary midwifery care for natural therapy. A more practical and easily accepted alternative is in the form of candy. To determine effectiveness of giving ginger candy and ajwa dates on hyperemesis gravidarum. The type of research used quantitative with a quasi-experimental pretest-posttest one group design. Population in this research was all pregnant women in the first trimester who experienced nausea and vomiting at TPMB  E Midwife, with samples by accidental sampling and 15 respondents were obtained. The instrument used was the PUQE-24 (Pregnancy-Unique Quantification of Emesis) questionnaire. Respondents were given ginger candy and ajwa dates with a dose of 2x a day for 7 days. Before and after the intervention, respondents were measured for PUQE. After the data was collected, an analysis was carried out using an independent t-test. Respondent characteristics: the majority of respondents were 20-35 years old  as many as 10 people (66.67%), with pariety were primigravida as many as 9 people (60%), with jobs of respondents as housewives as many as 9 people (60%). The PUQE score before the intervention was 9.67, after the intervention the average PUQE score was 6.53. after being analyzed using the dependent t-test, the p value was obtained = 0.000 (0.05). Conclusion: Ginger candy and ajwa dates are effective in reducing nausea and vomiting or hyperemesis gravidarum Keywords: Hyperemesis Gravidarum, Ginger, Ajwa Dates, Nausea and Vomiting  ABSTRAK Kehamilan sering disertai banyak perubahan pada tubuh ibu hamil sehingga dapat menimbulkan ketidaknyamanan, salah satunya adalah  mual dan muntah. Mual dan muntah yang berlebihan dikenal dengan istilah hyperemesis gravidarum. Butuh penanganan untuk mengurangi gejala yang ada. Jika keadaan ini tidak ditangani dengan baik, maka dapat menyebabkan gangguan yang terjadi baik pada ibu maupun janinnya. Terapi konvensional dengan pengobatan secara farmakologi menimbulkan efek samping, sehingga dibutuhkan alternatif alami yang aman. Kombinasi jahe dan kurma merupakan salah satu bentuk asuhan kebidanan komplementer untuk terapi alami. Alternatif yang lebih praktis dan mudah diterima adalah dalam bentuk permen. Untuk mengetahui Efektifitas pemberian permen jahe dan kurma ajwa terhadap hypermemesis gravidarum. Jenis penelitian menggunakan kuantitatif dengan desain quasi eksperimenpretest-posttest one group. Populasinya adalah seluruh ibu hamil trimester pertama yang mengalami mual muntah di TPMB Bidan E, dengan sampel secara accidental sampling dan diperoleh 15 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner PUQE-24 (Pregnancy-Unique Quantification of Emesis). Responden diberi permen jahe dan kurma ajwa dengan dosis 2x sehari selama 7 hari. Sebelum dan sesudah intervensi, responden diukur PUQE. Setelah data terkumpul, dilakukan analisis menggunakan uji t-test independen. Karakteristik responden mayoritas usia 20 – 35 tahun sebanyak 10 orang (66,67%),  primigravida sebanyak 9 orang ( 60%), dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga sebanyak 9 orang ( 60%). Skor PUQE sebelum intervensi sebesar 9.67, setelah intervensi rata-rata skor PUQE adalah 6.53. setelah dianalisis menggunakan uji t-test dependen, didapat nilai p=0.000(0.05). Permen jahe dan kurma ajwa efektif dalam menurunkan mual muntah atau hyperemesis gravidarum Kata Kunci: Hyperemesis Gravidarum, Jahe, Kurma Ajwa, Mual, Muntah
Factors Affecting the Adherence of People Living with HIV/AIDS on Antiretroviral Treatment in Tasikmalaya City Iis Sopiah Suryani; Lina Marlina; Ana Ikhsan Hidayatulloh; Ai Rahmawati
Poltekita: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v19i2.3714

Abstract

The incidence of HIV/AIDS in Indonesia, including in West Java and Tasikmalaya City, continues to rise. In Tasikmalaya City alone, 345 cases have been recorded. Antiretroviral (ARV) therapy has revolutionized HIV treatment, but optimal adherence—ideally 100%—is essential to prevent drug resistance. However, adherence among people living with HIV/AIDS (PLWHA) in Tasikmalaya remains suboptimal, increasing the risk of treatment failure and resistance. This study employed a cross-sectional correlational design involving 62 PLWHA who actively participated in monthly meetings organized by the AIDS Countermeasures Commission (KPA) in Tasikmalaya. Participants were selected using purposive sampling. Data were collected using a validated questionnaire for treatment adherence and a researcher-developed instrument to assess additional variables. Factors found to influence ARV treatment adherence included age, gender, educational background, perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, and self-confidence. Among these, perceived barriers were identified as the most dominant factor affecting adherence (OR = 16.9). Although limited by a small sample size, this study highlights several psychosocial and demographic factors that influence ARV adherence among PLWHA. Addressing perceived barriers should be a priority in interventions aimed at improving adherence and preventing drug resistance.