cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
KADAR KLORIDA SERUM PADA LATIHAN FISIK INTENSITAS RINGAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Ishak, Gina Irene
eBiomedik Vol 2, No 1 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.2.1.2014.3709

Abstract

Abstract: Physical exercise stimulates sweat from inside the body to transfer the heat out of it. Sweat consists of both water and electrolytes, including chloride ion, so if the excretion of water and electrolytes is not corrected can disturb the body’s homeostasis and health. This study aimed to determine the differencesof serum chloride levels before and after light intensity physical exercise. This study was a pre - experimental with one group pretest – posttest design. There were 30 respondents obtained by using purposive sampling method. The respondents did a brisk walk on a treadmill at 50-63 % heart rate maximum intensity for 30 minutes. Blood was taken before and after the exercise in order to examine the levels of serum chloride. The results of this study were processed by using Wilcoxon test. Averagely, the level of serum chloride before exercise was 106,23 ± 2,208 mmol/L, and 106,90 ± 1,9 mmol/L after exercise. Statistical test result showed p = 0,007. It is concluded that there is a significant difference on the levels of serum chloride before and after light intensity exercise in the students of Medical Faculty Sam Ratulangi University. Keywords: Serum Chloride, Exercise , Light Intensity.     Abstrak: Latihan fisik memicu pengeluaran keringat untuk memindahkan panas dari dalam tubuh ke lingkungan. Keringat terdiri dari air dan elektrolit, termasuk ion klorida, sehingga jika elektrolit dan air yang keluar dari tubuh tidak dikoreksi dapat menganggu homeostasis tubuh dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar klorida serum sebelum dan sesudah latihan fisik intensitas ringan. Penelitian ini merupakan penelitian pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Sebanyak 30 responden yang diambil menggunakan metode purposive sampling, melakukan jalan cepat diatas treadmill dengan intensitas 50-63% denyut jantung maksimum selama 30 menit. Pengambilan darah dilakukan sebelum dan sesudah latihan guna pemeriksaan kadar klorida serum. Hasil penelitian diolah menggunakan uji Wilcoxon.  Hasil menunjukkan rerata kadar klorida sebelum latihan 106,23±2,208  mmol/L dan 106,90 ± 1,9 mmol/L setelah latihan. Hasil uji statistik menunjukkan  p=0,007. Disimpulkan  bahwa  terdapat perbedaan yang signifikan kadar klorida serum sebelum dan sesudah latihan fisik intensitas ringan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Kata kunci: Klorida Serum, Latihan Fisik, Intensitas Ringan.
Krim ekstrak etanol biji mengkudu (Morinda citrifolia) sama efektifnya dengan krim hidrokuinon dalam mencegah peningkatan jumlah melanin kulit marmut (Cavia porcellus) yang dipapar sinar ultraviolet B Sofiana, Rahmi; Wiraguna, Anak A.G.P.; Pangkahila, Wimpie
e-Biomedik Vol 5, No 1 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i1.15017

Abstract

Abstract: Ultraviolet B (UVB) ray may cause skin hyperpigmentation due to increased melanin level. Noni seeds (Morinda citrifolia) extract was a strong candidate as an antioxidant and whitening agent. This study was aimed to prove the effect of noni seeds extract cream in prevention the increase of melanin in UVB-exposed guinea pig (Cavia porcellus). This was a true experimental study using posttest only control group design. Subjects were 30 guinea pigs divided into 3 groups, each of 10 guinea pigs. Group 1, the control group, was treated with UVB exposure and basic cream; group 2 was treated with UVB and 4% noni seed cream; and group 3 was treated with UVB and 4% hydroquinone cream. A total of 390 mJ/cm2 ultraviolet B dosage was given for 2 weeks. Histopathological examination with Masson-Fontana staining was performed to evaluate the melanin areas with black color. The amount of melanin was calculated by the percentage of pixel areas of melanin and was compared with the pixels of all epidermal tissues. The results showed that the highest number of melanin was in group 1 (10.61±5.33%), while in group 2 was 1.4±0.65%, and in group 3 was 0.45±0.23%. There was a significant difference between the control group and group 2 as well as group 3 (P <0.05) whereas no significant difference was found between group 2 and group 3 (P >0.05). Conclusion: The 4% noni seeds extract (Morinda citrifolia) cream could prevent the increase of skin melanin in UVB-exposed guinea pig as effective as 4% hydroquinone cream.Keywords: noni seeds extract cream, melanin, ultraviolet B, guinea pigs Abstrak: Paparan sinar ultraviolet B (UVB) mengakibatkan terjadinya kelainan hiperpigmentasi yang ditandai dengan peningkatan jumlah melanin. Ekstrak biji mengkudu memiliki kombinasi zat aktif yang dapat bekerja sinergis dalam mencegah peningkatan jumlah melanin. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek pemberian krim ekstrak biji mengkudu (Morinda citrifolia) dalam mencegah peningkatan jumlah melanin kulit marmut (Cavia porcellus) yang dipapar sinar UVB. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan randomized posttest only control group design menggunakan 30 ekor marmut jantan yang dibagi atas 3 kelompok, masing-masing 10 ekor. Kelompok 1 yaitu kelompok kontrol, diberi paparan sinar UVB dan diolesi krim dasar. Kelompok 2 diberi paparan sinar UVB dan krim ekstrak biji mengkudu 4%. Kelompok 3 diberi paparan sinar UVB dan krim hidrokuinon 4%. Dosis total UVB yaitu 390 mJ/cm2 diberikan selama 2 minggu. Pemeriksaan histopatologik jaringan kulit dengan pewarnaan Masson- Fontana. Jumlah melanin dihitung dengan persentase pixel luas area melanin dibandingkan dengan pixel seluruh jaringan epidermis. Hasil penelitian menunjukkan jumlah melanin pada Kelompok 1 sebesar 10,61±5,33%; pada kelompok 2 sebesar 1.4±0.65%, dan pada kelompok 3 sebesar 0,45±0,23%. Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok 1 dengan kelompok 2 dan 3 (P <0,05). Perbandingan antara kelompok 2 dan 3 tidak berbeda bermakna dalam mencegah peningkatan jumlah melanin (P >0,05). Simpulan: Krim ekstrak biji mengkudu 4% dapat mencegah peningkatan jumlah melanin kulit marmut yang dipapar sinar UVB, dan memiliki efektifitas yang sama dengan krim hidrokuinon 4%. Kata kunci: krim ekstrak biji mengkudu, melanin, ultraviolet B, marmut
GAMBARAN HISTOPATOLOGI HATI MENCIT SWISS YANG DIBERI AIR REBUSAN SARANG SEMUT (Mymercodia pendans) PASKA INDUKSI DENGAN CARBON TETRACHLORIDA (CCl4) Tatukude, Patricia; Loho, Lily; Lintong, Poppy
eBiomedik Vol 2, No 2 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.2.2.2014.4999

Abstract

Abstrak: Dewasa ini tanaman sarang semut1 (Myrmecodia pendans) yang dianggap mampu mengatasi berbagai penyakit seperti kanker, asam urat, liver, stroke, jantung, wasir, nyeri punggung, alergi, sebagai tonikum hingga meningkatkan gairah seksual, sudah banyak dipublikasikan. Berdasarkan hasil uji penapisan kimia, tanaman sarang semut mengandung senyawa kimia golongan flavonoid dan tanin. Flavonoid merupakan antioksidan alam yang mampu bertindak sebagai pereduksi radikal hidroksil, superoksida dan radikal peroksil. Selain itu juga mengandung 313 ppm tokoferol yang meredam 96% radikal bebas pada konsentrasi 12 ppm. Persentase inhibisi ini tetap konstan sampai pada konsentrasi yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologi hati mencit swiss yang diberikan rebusan Myrmecodia pendans, setelah mencit tersebut diinduksi dengan CCl4. Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan acak lengkap (RAL). Dipakai 20 ekor mencit jantan (Swiss webster) dibagi dalam 4 kelompok percobaan yaitu A, B, C, dan D. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 mencit. Mencit diberi pellet dan diinduksi karbon tetraklorida selama 5 hari. Pada hari ke-6, di beri rebusan sarang semut dosis 0,24cc/hari dan 0,48 cc/hari. Terminasi dilakukan 2 kali (masing-masing di bagi 2 mencit dalam 1 kali terminasi). Hasil dari penelitian ini tikus-tikus yang sudah diinduksi dengan CCl4 menunjukkan sel-sel hati steatosis dan nekrosis, namun setelah di berikan sarang semut mengalami regenerasi sel dengan tingkat maturasi lebih banyak dibandingkan hanya diberikan pellet saja. Kesimpulan: Pemberian sarang semut dengan dosis 0.24 cc/hari selama 10 dan 14 hari menunjukkan regenerasi sel-sel hati pada kerusakan sel hati yang diinduksi dengan CCl4. Sedangkan pemberian rebusan sarang semut dengan dosis 0.48 cc/hari selama 14 hari ditemukan adanya sel radang dan perlemakan hati. Kata kunci: tanaman sarang semut, carbon tetrachlorida, peradangan hati, perlemakan hati, nekrosis hati.   Abstract: Currently, many popular publication of sarang semut plants (Myrmecodia pendans) assumed can treat diseases includes : cancer, uric acid, liver, stroke, heart diseases, low back pain, allergic, as a tonic to increased libido. Based on chemical filtering test, known that sarang semut plants contains flavonoid and tannin. Flavonoid as a natural antioxidant that can act as hydroxyl radical pre reduction, super oxide, and peroxyl radical. In addition to contains 313 ppm tocopherol that transverse 95% free radical in 12 ppm concentration. Percentage of its inhibition constantly to highest consentration. This study aims to describe the liver histopathology swiss Webster given by Myrmecodia pendans stew, after the mice were induced with CCl4. This research is an experimental research laboratory with a completely randomized design (CRD). A total of 20 male mice (Swiss Webster) were divided into 4 experimental groups (A, B, C, D). Each group consisted of 5 mice. Mice were given pellets and induction by carbon tetrachloride for 5 days. On the 6th day, given Myrmecodia pendans stew with dose of 0.24 cc / day and 0,48cc / day . Termination is done 2 times (each for 2 mice in one time termination). From the results, sarang semut stew (Mymercodia pendans) is able to repair damaged liver cells, although the mechanism of this still unknown. Generally, Mymercodia pendans believed to stimulate the proliferation of the liver cells and simultaneously neutralize free radicals produced by CCl4 that cause of liver cells demaged. Conclusion: Administration of sarang semut with dose of 0.24 cc / day for 10 and 14 days give effect to protect the liver and improve the process of liver cell damage. While giving sarang semut stew with dose of 0.48 cc / day for 14 days was found the presence of inflammatory cells and fatty liver. Keywords: sarang semut plants, carbon tetrachlorida, liver cell inflammation, fatty liver, necrosis liver.
Perbandingan saturasi oksigen pada orang yang tinggal di pesisir pantai dan yang tinggal di daerah pegunungan Kaprawi, Taufik; Moningka, Maya; Rumampuk, Jimmy
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.10816

Abstract

Abstract: Oxygen is a basic requirement for survival. Normal blood oxygen level is a measurement of oxygen saturation in the blood. This study aimed to determine the oxygen saturation value of people who lived in highlands and of people who lived in lowlands. This study eas conducted in two places: Girian village Bitung and Wulurmaatus village South Minahasa in October-December 2014. Sampels were 60 people: 30 people living in the highland and 30 people living in the lowland. Data were analyzed by using SPSS 20 and Mann-Whitney test. The Mann-Whitney test showed that there was a difference in oxygen saturation between the highland people and the lowland people with a p value of 0.0001 <α = 0.05. The lowland people had higher value of oxygen saturation than the highland people. Conclusion: There was a difference in oxygen saturation value between the highland people and the lowland people.Keywords: oxygen saturation, highlands, lowlandsAbstrak: Oksigen merupakan kebutuhan pokok untuk kelangsungan hidup. Tingkat oksigen darah normal adalah pengukuran saturasi oksigen dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai saturasi oksigen pada orang yang tinggal di dataran tinggi dan yang tinggal di dataran rendah. Penelitian dilaksanakan di dua tempat yaitu Kelurahan Girian Bawah Kota Bitung dan Desa Wulurmaatus Kabupaten Minahasa Selatan pada bulan Oktober-Desember 2014. Sampel penelitian berjumlah 60 orang yaitu 30 orang yang tinggal di dataran tinggi dan 30 orang yang tinggal di dataran rendah. Data dianalisis menggunakan SPSS 20 dan uji Mann-Whitney. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan saturasi oksigen antara orang yang bertempat tinggal di dataran tinggi dan orang yang bertempat tinggal di dataran rendah dengan nilai p = 0.0001 < α = 0,05. Yang tinggal di dataran rendah lebih tinggi nilai saturasi oksigennya daripada dataran tinggi. Simpulan: Terdapat perbedaan nilai saturasi oksigen pada orang yang tinggal di dataran tinggi dan yang tinggal di dataran rendah.Kata kunci: saturasi oksigen, dataran tinggi, dataran rendah
PROFIL PERSALINAN KEHAMILAN KEMBAR DI BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 01 JANUARI 2010 – 31 DESEMBER 2011 Tuange, Angelina; Tendean, Hermie M. M.; Wagey, Freddy W.
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.1169

Abstract

Abstract: Background: Twin pregnancies is the pregnancies with two fetues or more. Nation, heredity, age and parity of mother are all factors affecting twin pregnancies. The main factors that increase the the possibilities of multiple pregnancy is the treatment of infertility. This study uses a retrospective descriptive through medical records at BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou in period January 01, 2010 – December 31, 2011. Conclusion: It is already found 97 cases of twin pregnancy deliveries from 7265 total deliveries. There are 85 cases with a history af multiple pregnancies in the family. Best mode of delivery by Sectio Caesarea as many as 47 cases. Perinatal mortality still occur due to complications and complications that occur during labor. Complications can occur at any time, so it is important with the availability of doctor who are experienced in handling complications of twin pregnancies, to produce the maximum infant output and minimize morbidity and mortality. Keyword: Maternity of twin pregnancies, number of incidence Abstrak: Latar belakang: Kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih. Bangsa, hereditas, umur, dan paritas ibu merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan kembar. Faktor utama yang meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan kembar adalah terapi infertilitas. Penelitian ini menggunakan metode retrospektif deskriptif melalui rekam medik di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode 01 Januari 2010 – 31 Desember 2011. Simpulan: Ditemukan 97 kasus persalinan kehamilan kembar dari 7265 total persalinan. Paling banyak ditemukan pada umur 21 – 25 tahun. Terdapat 85 kasus yang memiliki riwayat kehamilan kembar dalam keluarga. Cara persalinan yang paling banyak dengan cara Seksio Sesarea sebanyak 47 kasus. Angka kematian perinatal masih saja terjadi disebabkan oleh komplikasi dan penyulit yang terjadi saat persalinan. Komplikasi dapat terjadi kapan saja, sehingga sangat penting akan tersedianya dokter yang berpengalaman dalam penanganan komplikasi dari kehamilan kembar untuk menghasilkan luaran bayi yang maksimal dan meminimalkan morbiditas dan mortalitas. Kata kunci: Persalinan kehamilan kembar, angka kejadian
LIMFOSIT PLASMA BIRU DAN JUMLAH LEUKOSIT PADA PASIEN ANAK INFEKSI VIRUS DENGUE DI MANADO Arruan, Rosnatalia D.; Rambert, Glady; Manoppo, Firginia
eBiomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.1.2015.7412

Abstract

Abstract: Dengue is an arboviral disease that is widely spread across the world by Aedes mosquitoes. The early onset of dengue virus infection is difficult to identify due to indistinctive clinical symptoms. Therefore, simple laboratory test is required in the early diagnosis of dengue virus infection. Laboratory test that include routine blood test and blue plasma lymphocyte are important as rapid and relatively cheap diagnostic tool. Blue plasma lymphocytes derived from lymphoid which acts as an immune response that can be found in 4% of peripheral blood on 98% dengue hemorrhagic fever cases. Besides the increases in blue plasma lymphocytes, dengue virus infection can also causes leucopenia. Leucopenia in Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is characterized by the decrease of neutrophile count that happened during the early critical phase (third day of fever). This is a cross-sectional study using samples of 37 children who are infected with dengue virus in RS Advent Manado, RS TNI AD Wolter Monginsidi, RS Pancaran Kasih Manado during December 2014 to January 2015. Inclusion criteria are children below age 15, who have NS1 or IgG/IgM positive, who are on the third until seventh day of fever, whose parents or guardian have signed the informed consent. Conclusion: Leucopenia (leukocyte count below 4000/mm3) was found in children with dengue virus infection who had their routine blood test. Blue plasma lymphocytes are not always found in patients with NS1-AG, IgG/IgM positive.Keywords: dengue virus infection, leucocyte, blue plasma lymphocyteAbstrak: Dengue adalah penyakit arboviral yang paling banyak tersebar di dunia yang ditularkan nyamuk Aedes. Awal infeksi virus dengue sulit untuk dikenali sebab tidak menunjukkan gejala klinis khas. Karena itu, pemeriksaan laboratorium sederhana dapat berperan dalam pengenalan infeksi virus, adalah pemeriksaan darah rutin dan limfosit plasma biru yang cepat dan murah. Limfosit plasma biru sebagai respon imun dengan persentase 4% di darah tepi pada 98% kasus demam beradarah dengue. Selain peningkatan limfosit plasma biru, infeksi virus dengue juga dapat menyebabkan leukopenia. Leukopenia pada demam berdarah dengue didominasi penurunan jumlah neutrofil yang terjadi pada awal fase kritis (hari ketiga demam). Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel penelitian 37 pasien anak yang terinfeksi virus dengue di RS Advent Manado, RS TNI AD Wolter Mongisidi, RS Pancaran Kasih Manado pada bulan Desember 2014 sampai Januari 2015. Kriteria masukan adalah Anak usia kurang dari 15 tahun, hari ketiga sampai ketujuh demam, NS1 atau IgG/IgM positif, Orangtua atau wali bersedia menandatangani informed consent. Simpulan: Pada pasien anak dengan infeksi virus dengue yang dilakukan pemeriksaan darah rutin ditemukan adanya leukopenia dengan jumlah leukosit dibawah 4000/mm3.Kata kunci: infeksi virus dengue, leukosit, limfosit plasma biru
Hasil diagnostik Mycobacterium tuberculosis pada penderita batuk ≥2 minggu dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen di Puskesmas Bailang dan Puskesmas Bengkol Manado Wilar, Stephanie O.; Porotu'o, John; Waworuntu, Olivia
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14263

Abstract

Abstract: Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis. Transmission occurs by air droplet infection. Source of infection is sputum of pulmonary tuberculosis patients. To date, tuberculosis is still a global health problem. In Indonesia the number of tuberculosis cases increases annualy. Most tuberculosis patients complain of cough ≥2 weeks. This study was aimed to determine the diagnostic results of M. tuberculosis in the sputum of patients cough ≥2 weeks with Ziehl-Neelsen staining at Puskesmas Bailang and Bengkol. This was a descriptive study. Subjects were patients with complaints of cough ≥2 weeks at Puskesmas Bailang and Bengkol. The results showed that there were 25 patients with cough ≥2 weeks that came for treatment consisted of 12 patients at Puskesmas Bailang and 13 patients at Puskesmas Bengkol. Most of them were males and aged 36-55 years. There was 1 patient (8.33%) that had positive result of acid-fast bacillus at Puskesmas Bailang however, at Puskesmas Bengkol none had positive result. Keywords: tuberculosis, cough more than two weeks, BTA examination. Abstrak: Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penularan terjadi melalui udara dari droplet infeksi. Sumber infeksi ialah penderita tuberkulosis paru yang membatukkan dahaknya. Hingga saat ini tuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan dunia. Di Indonesia kasus tuberkulosis menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Diantara sekian banyak kasus tuberkulosis, pasien datang berobat dengan keluhan batuk ≥2 minggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil diagnostik M. tuberculosis dari sputum penderita batuk ≥2 minggu dengan pewarnaan Ziehl- Neelsen di Puskesmas Bailang dan Bengkol. Jenis penelitian ialah deskriptif. Subjek penelitian ialah pasien dengan keluhan batuk ≥2 minggu di Puskesmas Bailang dan Bengkol. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 25 pasien dengan batuk ≥2 minggu yang datang berobat di Puskesmas Bailang dan Bengkol, terdiri dari 12 pasien dari Bailang dan 13 pasien dari Bengkol. Keluhan batuk ≥2 minggu lebih banyak ditemukan pada laki-laki, dan usia 36-55 tahun. Hasil pemeriksaan BTA di Puskesmas Bailang ditemukan 1 pasien (8,33%) positif sedangkan di Puskesmas Bengkol tidak ditemukan BTA positif.Kata kunci: tuberkulosis, batuk lebih dari dua minggu, pemeriksaan BTA.
DAMPAK MEROKOK TERHADAP POLA TIDUR Rompas, Galant; Engka, Nancy; Pangemanan, Damayanti
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.4359

Abstract

Abstract: Sleep/rest is one of  human needs, sleep disorder such as insomnia can interfere our daily activities. In Indonesia, the prevalence reached 10% of people with insomnia, one primary causes of insomnia is smoking. In Indonesia, smoking population aged ≥ 15 years old reached up to 34,7%. This research is based on analytic survey with cross sectional analytic study. This research aimed to determine the association between insomnia with active smokers. The Population of this study is all of public transport drivers who live in Manado, North Sulawesi. Sample of this study is part of the public transport drivers with total samples 52 participants.The results showed that 23% of active smokers with insomnia. The result of chi-square test showed that there is a significant correlation (p < 0.05) between insomnia and duration of smoking (p = 0.004),  insomnia and active smokers (p = 0.023). There is an association between insomnia and active smokers. Keywords: Insomnia, Active Smokers, Duration of smoking.     Abstrak: Tidur merupakan salah satu kebutuhan manusia, gangguan tidur seperti insomnia dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Di Indonesia prevalensi penderita insomnia mencapai 10%, salah satu faktor penyebab insomnia adalah merokok. Populasi perokok di Indonesia untuk usia ≥ 15 tahun mencapai 34,7%. Penelitian ini berdasarkan survey analitik dengan rancangan cross sectional study, bertujuan untuk mengetahui hubungan antara insomnia dengan perokok aktif. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh sopir angkutan umum yang berada di Kota Manado Sulawesi Utara. Sampel dari penelitian ini adalah sebagian dari sopir angkutan umum yang berada di Kota Manado Sulawesi Utara. Jumlah keseluruhan sampel yang diambil adalah 52 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 23% perokok aktif terdiagnosa insomnia. Dari hasil uji chi-square penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna (p < 0.05) antara : 1) insomnia dengan lama merokok ≥ 10 tahun (p = 0.004), 2) insomnia dengan perokok aktif (p = 0.023). Ada hubungan antara insomnia dengan perokok aktif. Kata kunci: Insomnia, Perokok aktif, Lama merokok.
Pengaruh Asupan Susu terhadap Tinggi Badan dan Berat Badan Anak Sekolah Dasar Matali, Valentino J.; Wungouw, Herlina I.S.; Sapulete, Ivonny
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.18512

Abstract

Abstract: Milk, a sustenance containing nutrition such as carbohydrate, protein, fat, and mineral, is beneficial in the growth and development of a child. The level of milk consumption in Indonesia is still categorized as low. According to Statistic Center Agency, consumption of milk in Indonesia only reached as much as 12.1 L/ capita each year, much lower from Finland that reached 361 L/capita. Nationwide prevalence of short stature (according to Height/Age) among children aged 5-12 year old is 30.7% (12.3% very short and 18.4% short). Prevalence of thin stature among children aged 5-12 year old is 11.2% (4.0% very thin and 7.2% thin). This study was aimed to determine the effect of milk intake towards the growth of height and weight of elementary school children. This was an experimental study performed on 40 subjects divided into 20 experimental subjects of SD GMIM 34 Manado and 20 control subjects of SD GMIM Betlehem Manado. All experimental subjects were given 250 ml UHT low fat high calcium milk intake for 60 days while control subjects were not given any milk intake. Data were analyzed with the independent T test for the effect of milk towards height and the Mann Whitney U test for the effect of milk towards weight. The independent T test showed a P value of 0.000 meanwhile the Mann Whitney U test showed a P value of 0.989. Conclusion: Milk intake influenced height growth but did not significantly influence weight gain in elementary school children.Keywords: milk, height growth, weight gain Abstrak: Susu merupakan bahan pangan yang mengandung zat gizi seperti karbohidrat, protein, lemak dan mineral yang bermanfaat dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Tingkat konsumsi susu di Indonesia masih tergolong rendah. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi susu di Indonesia hanya 12,1 L/ kapita per tahun, jauh lebih rendah dari Finlandia yang mencapai 361 L/kapita. Secara nasional prevalensi pendek (menurut TB/U) pada anak usia 5-12 tahun ialah 30,7% (12,3% sangat pendek dan 18,4% pendek). Prevalensi kurus pada anak usia 5-12 tahun ialah 11,2%, terdiri dari 4,0% sangat kurus dan 7,2% kurus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asupan susu terhadap pertumbuhan tinggi badan dan berat badan anak sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental pada 40 subyek yang terbagi menjadi 20 orang subjek perlakuan yang berasal dari SD GMIM 34 Manado dan 20 orang subjek kontrol dari SD GMIM Betlehem Manado. Subjek perlakuan diberikan asupan 250 ml susu UHT low fat high calcium setiap hari selama 60 hari sedangkan subjek kontrol tidak diberikan asupan. Penelitian ini menggunakan uji T independen untuk pengaruh susu terhadap tinggi badan dan uji Mann Whitney U untuk pengaruh susu terhadap berat badan. Pada uji T indepenen didapatkan P=0,000 sedangkan pada uji Mann Whitney U didapatkan P=0,989. Simpulan: Asupan susu berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi badan namun tidak berpengaruh secara bermakna terhadap berat badan anak sekolah dasar.Kata kunci: susu, pertumbuhan tinggi badan, pertumbuhan berat badan
GAMBARAN TEKANAN DARAH PADA REMAJA OBES DI KABUPATEN MINAHASA Tooy, Rosie
eBiomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.2.2013.5483

Abstract

Abstract: The incidence of obesity continues to rise everywhere. Obesity can increase the risk of high blood pressure. For adolescents, hypertension is also a problem because adolescents with hypertension can continue in adulthood and also with higher chance of morbidity and mortality.  According to the data from Riskesdas for the year 2007, the prevalence of hypertension in adolescents is 9%. The Riskesdas data for the year 2010 also show that prevalence of obesity in adolescents 19,1%. This study aims to describe the blood pressure in obese adolescents at Minahasa district. This study is cross-sectional descriptive approach, with the sample amounted to 54 people. The test results found that 104 students have a waist circumference greater than a normal waist should be. Beside that, the  results showed an outline of blood pressure in obese adolescents at Minahasa district is 29,62% that has hypertension. There are 16 subjects from 54 subjects studied had the blood pressure greater than normal limits while 38 subjects studied had blood pressure within normal limits. Keywords: Blood Pressure, Obesity   Abstrak: Angka kejadian obesitas terus meningkat dimana-mana. Obesitas dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit darah tinggi. Pada remaja, hipertensi juga merupakan suatu masalah, oleh karena remaja yang mengalami hipertensi dapat terus berlanjut pada usia dewasa dan memiliki resiko morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi. Menurut data Riskesdas tahun 2007, prevalensi hipertensi pada remaja sebesar 9%.  Prevalensi obesitas pada remaja menurut data Riskesdas 2010 sebesar 19,1%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tekanan darah pada remaja obes di kabupaten Minahasa. Penelitian ini bersifat cross-sectional dengan pendekatan deskriptif. Sampel penelitian ini berjumlah 54 orang. Hasil pemeriksaan didapati  104 siswa yang memiliki lingkar pinggang lebih dari normal. Hasil penelitian menunjukkan  gambaran tekanan darah pada remaja obes di kabupaten Minahasa didapatkan 29,62% yang menderita hipertensi.      Terdapat 16 subjek dari 54 subjek yang diteliti memiliki tekanan darah lebih dari batas normal sedangkan 38 subjek memiliki tekanan darah dalam batas normal. Kata kunci: Obesitas, Tekanan Darah