cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
PENGARUH LYSERGIC ACID DIETHYLAMIDE YANG TERDAPAT PADA LEM EHA-BOND TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA WISTAR JANTAN (Rattus norvegicus) Budiono, Alfred; Wantouw, Benny; Satiawati, Lusiana
e-Biomedik Vol 3, No 3 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i3.9361

Abstract

Abstract: Lysergic Acid Diethylamide (LSD) is a psychotropic drug that can be found in glue. This substance acts as serotonine and dopamine agonists and results in hallucinogenic effect. LSD is a main raw material in glue and commonly available in an affordable price. Moreover, LSD also has a direct impact on spermatozoa motility and morphology. This study aimed to obtain the change in the spermatozoa quality of wistar rats exposed to Eha-Bond glue. This was an experimental study with a completely randomized design. Saples were 10 male wistar rats (Rattus norvegicus) divided into 2 groups: control group given just food and drink; and the experimental group exposed to Eha-Bond glue 1 hour per day for 52 days. The experimental group showed a decrease in motility by 61% of B category whilst no A category found compared to the control group that had both. Morphologically, the researcher discover 68% of the abnormal morphology and 32% of the normal morphology in the experimental group. Conclusion: LSD in Eha-Bond glue influenced the decrease in spermatozoa quality -the motility and morphology- but not the concentration of spermatozoa.Keywords: LSD, psychotropic, spermatozoa qualityAbstrak: Lysergic Acid Diethylamide (LSD) merupakan salah satu narkoba jenis psikotropika yang bekerja sebagai agonis serotonin dan dopamin serta menimbulkan efek halusinasi. LSD mudah didapat karena merupakan bahan baku pembuatan lem kayu, dijual bebas dalam bentuk lem, dan memiliki harga yang relatif terjangkau. LSD juga berdampak langsung terhadap motilitas dan morfologi spermatozoa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perubahan kualitas spermatozoa setelah diberi paparan lem Eha-Bond. Penelitian yang menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap. Sepuluh ekor wistar jantan (Rattus norvegicus) dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok kontrol yang hanya diberi makan dan minum dan kelompok perlakuan yang diberi paparan lem Eha-Bond 1jam per hari selama 52 hari. Kelompok perlakuan menunjukkan adanya penurunan motilitas ditandai dengan tidak ditemukannya motilitas kategori A sedangkan motilitas kategori B mencapai 61% dibandingkan dengan kelompok kontrol yang memiliki keduanya. Secara morfologi, hanya ditemukan sedikit morfologi spermatozoa normal pada kelompok perlakuan yaitu 32% sedangkan morfologi abnormal mencapai 68%. Simpulan: LSD dalam lem Eha-Bond berpengaruh menurunkan motilitas dan morfologi tetapi tidak berpengaruh pada konsentrasi spermatozoa.Kata kunci: LSD, psikotropika, kualitas spermatozoa
Isolasi dan identifikasi bakteri aerob yang berpotensi menyebabkan infeksi nosokomial di Irina D RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Rengkuan, Windy L.; Waworuntu, Olivia A.; Soeliongan, Standy
eBiomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.2.2016.14658

Abstract

Abstract: Infection is still one of the major causes of mortality and morbidity in the hospital. In Indonesia, infection is a major cause of maternal death and newborn, and also led to an extension of hospitalization for patients. Nosocomial infections are infections suffered by patients that were admitted to the hospital after ± 72 hours of admission originated from microbiological and environmental factors. Germs that cause most frequent nosocomial infections are Proteus sp, Escherichia coli, Staphylococcus aureus and pseudomonas. This study was aimed to isolate and identify the most common aerobic bacteria that could potentially be the causes of nosocomial infections at IRINA D Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. There were 27 samples consisting of 8 air samples and 19 samples of swab the surface of walls, floors and furniture. Identification of bacteria was performed by using cultures, Gram staining, and biochemical tests. Of the 27 samples 7 types of bacteria are found. Serratia liquefaciens is the largest with 12 samples (44.4%) Basillus subtilis with 7 samples (25.9%), Enterobacter aerogenes in 3 samples (11.1%), Serratia marcescens in 2 samples (7.4%), while Enterobacter agglomerans, staphylococcus sp, coccus Gram negative each in one sample (each of 3.7%). Gram-negative bacteria were the most common bacteria found at IRINA D RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Serratia liquefaciens was the main bacteria considered to be potentially the cause nosocomial infection.Keywords: identification of bacteria, nosocomial infections, inpatient installation Abstrak: Infeksi masih merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan di rumah sakit. Di Indonesia sendiri infeksi merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu dan bayi baru lahir dan juga menyebabkan perpanjangan masa rawat inap bagi penderita. Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang tidak diderita pasien saat masuk ke rumah sakit melainkan setelah ±72 jam berada di tempat tersebut yang berasal dari faktor mikrobiologis dan faktor lingkungan. Kuman penyebab infeksi nosokomial yang paling sering ialah Proteus sp, Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Pseudomonas. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri aerob terbanyak yang berpotensi menjadi penyebab infeksi nosokomial di irina D RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Sampel diambil sebanyak 27 sampel yang terdiri dari 8 sampel udara dan 19 sampel dari swab permukaan dinding, lantai dan perabotan. Untuk identifikasi bakteri dilakukan kultur pada media agar selanjutnya dilakukan pewarnaan Gram dan uji biokimia. Dari 27 sampel ditemukan 7 jenis bakteri. Serratia liquefaciens merupakan bakteri terbanyak dengan 12 sampel (44,4%) Basillus subtilis dengan 7 sampel (25,9%), Enterobacter aerogenes dengan 3 sampel (11,1%), Serratia marcescens dengan 2 sampel (7,4%), sedangkan Enterobacter agglomerans, Staphylococcus sp, coccus Gram (-) masing-masing didapatkan 1 sampel dengan presentase masing-masing 3,7%. Bakteri Gram negatif merupakan bakteri yang paling banyak ditemukan pada instalasi rawat inap D RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Serratia liquefaciens merupakan bakteri yang berpotensi menjadi penyebab infeksi nosokomial terbanyak yang ditemukan.Kata kunci: identifikasi bakteri, infeksi nosokomial, instalasi rawat inap
UJI EFEK DAUN ILER (Coleus atropurpureus [L.] Benth.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA INSISI PADA KULIT KELINCI (Oryctolagus cuniculus) Tari, Rudianto; Posangi, Jimmy; Wowor, P. M.
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4602

Abstract

Abstract: Indonesia has a lot of herbs. One of the well-known and frequently used by people is miana. Empirical experience showed that miana is used to healing wounds. The chemical substances of miana leaves such as essential oil, flavonoid, tanin, and other active substances are expected to involved in the process of wound healing. The purpose of this reseach is to find out the healing effect of miana leaves to the insicion wound on rabbits’ skin. This research used an experimental method by using 5 rabbits as the experimental animals. Skin insicions were generated over  rabbits’  left and right back by 5 cm each. The wound on the left back is given miana leaves, and the wound on the right back without miana leaves. The wound healing was observed on third, seventh and fourteenth day, with the length, the superficial and the edges of the wounds as the evaluation criteria. The incision wounds on the rabbits’ back that given miana leaves are dry and heal faster than the rabbits without miana leaves. Using miana leaves for the rabbits’ insicion wounds can speed up the wound healing process. Keywords: miana leaves, wound healing, insicion wound.     Abstrak: Indonesia memiliki banyak tanaman yang berkhasiat obat. Salah satu tanaman yang berkhasiat, dikenal, dan digunakan masyarakat yaitu tumbuhan iler. Pengalaman empiris menunjukkan tumbuhan iler digunakan sebagai obat luka. Kandungan kimia daun iler seperti minyak atsiri, flavonoid, tanin, dan zat-zat aktif lainnya diduga terlibat dalam penyembuhan luka. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penyembuhan daun iler terhadap penyembuhan luka insisi pada kulit kelinci. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, dengan menggunakan lima ekor kelinci sebagai hewan uji. Kelinci diinsisi pada punggung kiri dan kanan sepanjang 5 cm. Luka pada punggung kiri diberi daun iler, sedangkan luka pada punggung kanan tidak diberi daun iler. Penyembuhan luka diamati pada hari ke-3, 7, dan 14, dengan kriteria penilaian panjang, permukaan dan tepi luka. Luka insisi pada kulit kelinci yang diberi daun iler terlihat lebih cepat kering dan menutup dibandingkan dengan luka yang tidak diberi daun iler. Pemberian daun iler pada luka insisi kulit kelinci dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Kata Kunci: daun iler, penyembuhan luka, luka insisi.
Hubungan Shift Kerja dan Stres Kerja Dengan Kinerja Perawat di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Manado Seguh, Finsensius; Kolibu, Febi K.; Kawatu, Paul A. T.
eBiomedik Vol 7, No 2 (2019): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.7.2.2019.24753

Abstract

Abstract: Great achievement and employee performance can be influenced by age, gender, level of education, and years of service. Employees who pay attention to work shifts can do their work more optimally in order to avoid the negative effects of stress which can further decrease the employees’ performance. This study was aimed to determine the relationship between work shift and work stress and the performance of nurses at RS Bhayangkara Tingkat III Manado. This was an analytical survey study. Population study consisted of nurses who had worked at the inpatient unit for more than one year. This study used questionnaire with a total respondents of 46 nurses. The chi-square test of the relationship between work shift and nurse performance resulted in a p-value of 0.163. Furthermore, the chi-square test of the relationship between work stress and nurse performance resulted in a p-value of 0.625. In conclusion, there were no significant relationships between work shift and work stress and the performance of nurses at RS Bhayangkara Tingkat III Manado.Keywords: work shift, work stress, nurse performance Abstrak: Keberhasilan dan peningkatan kinerja pegawai dapat dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan masa kerja. Pegawai yang memperhatikan shift kerja dapat bekerja lebih optimal agar terhindar dari efek stres kerja yang dapat menurunkan kinerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan shift kerja dan stres kerja dengan kinerja perawat di RS Bhayangkara Tingkat III Manado. Jenis penelitian ialah survei analitik dengan desain potong lintang. Populasi penelitian yaitu perawat yang bekerja di ruang rawat inap dengan masa kerja lebih dari 1 tahun, dengan jumlah 46 perawat. Instrumen penelitian yaitu kuisioner. Analisis statistik menggunakan uji chi-square. Hasil uji chi-square terhadap hubungan antara shift kerja dengan kinerja perawat mendapatkan nilai p=0,163 sedangkan hasil uji chi-square terhadap hubungan antara stres kerja dengan kinerja perawat mendapatkan nilai p=0,625. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan antara shift dan stres kerja dengan kinerja perawat di RS Bhayangkara Tingkat III Manado.Kata kunci: shift kerja, stres kerja, kinerja perawat
KORELASI ANTARA TEKANAN DARAH DAN INDEKS MASSA VENTRIKEL KIRI (LEFT VENTRICULAR MASS INDEX) PADA PENDERITA HIPERTENSI DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Nur, Asdiana; Lintong, Fransiska; Moningka, Maya
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.6631

Abstract

Abstract: Left ventricular hypertrophy (LVH) is target organ damage of cardiac with high prevalence in patients with hypertension. Increase of left ventricular mass was caused by increase in wall thickness as compensatory mechanism to minimize wall stress in response to elevated blood pressure. Left Ventricular Mass Index (LVMI) is one of echocardiography parameters used to diagnose LVH. The purpose of this study is to know the correlation between blood pressure and LVMI in patients with hypertension. A cross sectional study was performed at Cardiac Vascular and Brain Centre/ Central General Hospital of Prof. Dr. R. D Kandou. Sample was determined with consecutive sampling. Blood pressure of subjects were measurement and LVMI were taken from medical record. Data were analyzed used SPSS 21. Fifty one subjects, including 34 subjects with adequate blood pressure control and 17 subjects with inadequate blood pressure control are enrolled with ≥60 years old and men (64.7%) mostly found in this study. Pearson Correlation Test found a positive and significant correlation between systolic blood pressure and LVMI (r=0.488;p<0.05) while Spearman Correlation Test found a positive but not significant correlation between diastolic blood pressure and LVMI (r=0.226;p>0.05). In conclusion, there is a positive correlation between blood pressure and LVMI in patients with hypertension but a significant correlation was just found between systolic blood pressure and LVMI.Keywords: hypertension, Left ventricular hypertrophy (LVH), blood pressure, echocardiography, left ventricular mass index (LVMI)Abstrak: Hipertrofi ventrikel kiri (Left Ventricular Hypertrophy= LVH) merupakan kerusakan target organ jantung dengan prevalensi yang tinggi pada penderita hipertensi. Peningkatan massa ventrikel kiri disebabkan oleh penebalan dinding ventrikel kiri sebagai mekanisme kompensasi untuk meminimalkan tegangan dinding akibat respon terhadap peningkatan tekanan darah. Indeks massa ventrikel kiri (Left Ventricular Mass Index= LVMI) merupakan salah satu parameter ekokardiografi yang digunakan dalam mendiagnosa LVH. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui korelasi antara tekanan darah dan LVMI pada penderita hipertensi. Penelitian dengan desain potong lintang dilakukan di instalasi pusat jantung dan pembuluh darah RSUP Prof Dr. R. D. Kandou. Sampel ditentukan secara consecutive sampling. Pengukuran tekanan darah dilakukan pada subyek penelitian dan LVMI diperoleh dari rekam medik. Data dianalisa menggunakan SPSS 21. Sebanyak 51 subyek penelitian, termasuk 34 subyek dengan hipertensi terkontrol dan 17 subyek dengan hipertensi tidak terkontrol, terdaftar pada penelitian ini dengan usia ≥60 tahun (39,2%) dan pria (64,7%)paling banyak ditemukan.Uji Korelasi Pearson menemukan tekanan darah sistolik mempunyai korelasi positif dan signifikan dengan LVMI (r=0,488;p<0,05) sedangkan uji Korelasi Spearman menemukan korelasi yang positif namun tidak signifikan antara tekanan darah diastolik dan LVMI (r=0,226;p>0,05). kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat korelasi positif antara tekanan darah dan LVMI pada penderita hipertensi, namun hubungan yang signifikan hanya ditemukan antara tekanan darah sistolik dan LVMI.Kata Kunci : hipertensi, hipertrofi ventrikel kiri, tekanan darah, ekokardiografi, indeks massa ventrikel kiri
Uji efek antibakteri ekstrak kulit kayu manis (Cinnamomum burmannii) terhadap Escherichia coli dan Streptococcus pyogenes Reppi, Noviano B.; Mambo, Christi; Wuisan, Jane
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.12204

Abstract

Abstract: Cinnamon (Cinnamomum burmannii) is a natural substance that has been known as one of the spices, but later known as traditional medicine. Cinnamon bark contains several antibacterial compounds, such as eugenol and cinnamaldehyde. There were two species of bacteria used in this study, Escherichia coli and Streptococcus pyogenes. These bacteria represent negative Gram bacteria and positive gram bacteria. The study aimed to determine antibacterial effect of cinamon bark againts E.coli and S.pyogenes by measuring the diameters of the inhibition zones. Cinamon bark samples were taken from Kaneyan, South Minahasa, and then be extracted by maceration using 80% etanol. The results showed that the total diameter of the inhibitory zone of Cinamon bark extract against E.coli was 43 mm with an average of 14,3 mm, and the total diameter of the inhibitory zone against S.pyogenes was 75 mm with an average of 25 mm. Conclusion: Cinamon bark extract had antibacterial effect against E Escherichia coli and Streptococcus pyogenes. Keywords: cinamon bark, escherichia coli, streptococcus pyogenes,antibacterial effect. Abstrak: Kayu manis (Cinnamomum burmannii) merupakan bahan alami yang selama ini hanya dikenal sebagai bumbu dalam masakan, tetapi ternyata memiliki khasiat obat. Kulit kayu manis mengandung beberapa senyawa yang bersifat antibakteri, seperti eugenol dan cinnamaldehyde. Bakteri Escherichia coli dan Streptococcus pyogenes merupakan bakteri yang digunakan didalam peneilitian ini. Kedua bakteri ini mewakili bakteri Gram negatif dan positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri kulit kayu manis terhadap E. coli dan S. pyogenes, yang dinilai dari besarnya zona hambat yang terbentuk. Jenis penelitian ini eksperimental dengan metode sumuran Kirby-Bauer. Sampel kulit kayu manis diambil dari daerah Kaneyan Kabupaten Minahasa Selatan, kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 80%. Hasil penelitian memperlihatkan diameter zona hambat total dari ekstrak kulit kayu manis terhadap E. coli sebesar 43mm dengan rerata 14,3mm, dan terhadap S. pyogenes diameter zona hambat total 75mm dengan rerata 25mm. Simpulan: Ekstrak kulit kayu manis memiliki efek antibakteri dalam menghambat pertumbuhan Escherichia coli dan Streptococcus pyogenesKata kunci: kulit kayu manis, Escherichia coli, Streptococcus pyogenes, antibakteri
UJI EFEK DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum L.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA INSISI PADA KELINCI (Oryctolagus cuniculus) Ramdani, Nurul Fitri; Mambo, Christi
e-Biomedik Vol 2, No 1 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i1.3708

Abstract

Abstract: Background and objectives : Medicinal plants have long been known and used in Indonesia, one of them being basil leaves (Ocimum basilicum L). Basil leaves contain flavonoid with anti-inflammatory properties that helps to reduce pain and swelling around wound. This study aimed to determine the effect of basil leaves on healing incision wound in rabbits. Methods: This current study is an experimental study using four rabbits as test animals. Three centimeters long and 0.3 cm deep incision wound were made on both the right side and the left side of the back. Incision wound on the right side of the back are treated with crushed basil leaves while the wounds on the left side of the back are left untreated, covered only with sterile gauze. Observations were carried out for two weeks with observe changes of the injuries in macroscopic length. Results: In the examination performed on the 14th day after incision were made, a reduction in wound size were observed. In the intervention wound, complete closure has not yet occurred, but the length of the wound is shorter and wound surface has started to blend with the surrounding tissues. Crusts are observed on the wound surface. In control wounds, a reduction in size is observed, with slight red coloration in the center of the wound. Conclusion: From the result of the study of effects of crussed basil leaves on the healing incision wound on rabbits, the length of the incision wound which were given crushed basil leaves reduced faster than the wounds which were left untreated.Keywords: Wound healing, incision wounds, basil leaves.   Abstrak: Latar belakang dan tujuan : Bangsa Indonesia telah lama mengenal dan menggunakan tanaman berkhasiat obat, salah satu tumbuhan alam di Indonesia adalah daun kemangi (Ocimum basilicum L).  Daun kemangi memiliki kandungan flavonoid bersifat anti inflamasi yang dapat mengurangi rasa sakit apabila terjadi pendarahan atau pembengkakan pada luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian daun kemangi terhadap  penyembuhan luka insisi pada kelinci. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan empat ekor kelinci sebagai hewan uji. Punggung kanan dan kiri kelinci diinsisi sepanjang 3 cm dan kedalaman 0,3 cm. Luka pada punggung kanan diberi daun kemangi sedangkan luka pada punggung kiri tidak diberi perlakuan hanya ditutup dengan kasa steril. Pengamatan dilakukan selama dua minggu dengan melihat perubahan panjang luka secara makroskopik. Hasil : Pada hari ke-14, luka yang diberi daun kemangi menunjukkan luka mulai menutup belum sempurna, kerak masih menempel, panjang luka semakin pendek dan tampak permukaan luka sudah mulai menyatu dengan kulit sekitar. Pada luka yang tidak diberi daun kemangi terlihat sedikit mengecil namun luka masih berwarna merah di bagian tengah. Kesimpulan : Dari hasil penelitian uji efek daun kemangi terhadap penyembuhan  luka insisi pada kelinci didapatkan bahwa panjang luka yang diberi daun kemangi lebih cepat mengecil dibandingkan dengan panjang luka yang tidak diberi daun kemangiKata Kunci : penyembuhan luka, luka insisi, daun kemangi.
Gambaran histopatologik lambung tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang diberi sari buah nenas (Ananas comosus (L.) Merr) setelah induksi asam mefenamat Sembiring, Raend; Kairupan, Carla; Loho, Lily L.
eBiomedik Vol 5, No 1 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.5.1.2017.14943

Abstract

Abstract: Inflammation of the stomach can be caused by various factors, including the use of non-steroidal anti-inflammatory (NSAID) drugs such as mefenamic acid. Pineapple (Ananas comosus (L.) merr) is a herbal remedy used to treat gastritis. Pineapple contains several nutrients such as vitamin C and bromelain enzyme that are efficacious as anti-inflammatory and antioxidant. This study aimed to determine histopathological features of the gastric of wistar rats (Rattus norvegicus) given pineapple juice after induction of mefenamic acid. This was an experimental study using 20 wistar rats divided into four groups; each group consisted of five rats. Group I (negative control) was given no treatment. Group II was induced with mefenamic acid 23.25 mg/day single dose for seven days. Group III was induced with mefenamic acid 23.25 mg/day single dose for seven days then was given no treatment during the next seven days. Group IV was induced with mefenamic acid 23.25 mg/day single dose for seven days then was administered with pineapple juice over the next seven days. Rats in group I and II were terminated on day-8 while those in groups III and IV were terminated on day-15. The results showed that the gastric tissue of rats in group IV had less inflammatory cells but more regenerating cells than those in group II and III. Conclusion: Histopathological features of the gaster of wistar rats treated with pineapple juice after the induction of mefenamic acid showed milder signs of acute gastritis and more prominent of cell regeneration/tissue recovery than those given no pineapple juice.Keywords: gastritis, mefenamic acid, pineapple Abstrak: Peradangan lambung dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya penggunaan obat golongan anti-inflamasi non steroidal (AINS) seperti asam mefenamat. Buah nanas (Ananas comosus (L.) merr) merupakan salah satu obat herbal yang digunakan untuk mengatasi gastritis. Buah nanas mengandung beberapa bahan nutrisi seperti enzim bromelain dan vitamin C yang berkhasiat sebagai anti inflamasi dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologik lambung tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang diberikan sari buah nanas setelah induksi asam mefenamat. Jenis penelitian ialah eksperimental menggunakan subyek 20 ekor tikus wistar yang dibagi dalam empat kelompok; setiap kelompok terdiri atas lima ekor tikus. Kelompok I (kontrol negatif) tidak diberi perlakuan. Kelompok II diberikan asam mefenamat 23.25 mg/hari dosis tunggal selama tujuh hari. Kelompok III diberikan asam mefenamat 23.25 mg/hari dosis tunggal selama tujuh hari dan tidak diberikan perlakuan selama tujuh hari berikutnya. Kelompok IV diberikan asam mefenamat 23.25 mg/hari dosis tunggal selama tujuh hari dan diberikan sari buah nanas selama tujuh hari berikutnya. Tikus pada kelompok I dan II diterminasi pada hari ke-8 dan kelompok III dan IV pada hari ke-15. Hasil penelitian menunjukkan gambaran histopatologik lambung tikus wistar berupa infiltrasi sel-sel radang yang lebih sedikit serta sel-sel regenerasi yang lebih aktif dan banyak pada kelompok IV jika dibandingkan kelompok II dan III. Simpulan: Gambaran histopatologik lambung tikus wistar yang diinduksi sari buah nanas setelah diberi asam mefenamat menunjukkan tanda-tanda gastritis akut yang lebih ringan dan regenerasi sel/pemulihan jaringan yang lebih menonjol dibandingkan dengan yang tidak diberi sari buah nanas. Kata kunci: gastritis, asam mefenamat, nanas
PENGARUH ZUMBA TERHADAP KADAR GULA DARAH Benaino, Novia P. I.; Ticoalu, S. H. R.; Wongkar, Djon
e-Biomedik Vol 2, No 2 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i2.4998

Abstract

Abstract: Glucose is the result of carbohydrate metabolism that is converted and absorbed by bloodstream and placed to several organs and body tissues that functions as the main source of energy for muscles, physical activities of the body, central nervous system and brain work. A normal glucose level value is maintained by the body in a narrow range which is about 70-120 mg/dl. Glucose that has formed in its use as an energy source requires physical activities and insulin to stimulate permeability of the fiber muscle. This research aims at finding the effect of zumba to the blood glucose levels. Method: This research is an experiment with a one group pre and post test design that fulfill the criteria such as normal body mass index (18,5-22,9), people with no exercise routine, no diabetes mellitus, no asthma, no heart disease, no broken bones on hands and feet, and not being injured in muscle joints. The research samples are twenty students of nursing program study batch 2013, Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University. the blood glucose level is measured before and after zumba exercise. The data are analyzed by Paired Sample-T test using SPSS. Conclusion: Based on the research done on the twenty research subjects, the result shows that there is no significant change of blood glucose levels after the two-week zumba exercise. Keywords: zumba, blood glucose.     Abstrak: Gula darah adalah hasil metabolisme karbohidrat yang terkonversi kemudian terabsorbsi oleh aliran darah dan ditempatkan ke berbagai organ dan jaringan tubuh dengan fungsi sebagai sumber energi utama bagi otot, aktivitas fisik tubuh, sistem saraf pusat dan kerja otak. Nilai kadar glukosa normal dipertahankan oleh tubuh dalam suatu rentangan nilai yang sempit yaitu sekitar 70-120 mg/dl. Glukosa yang telah terbentuk dalam penggunaannya sebagai sumber energi memerlukan aktivitas fisik dan kerja insulin untuk merangsang permebealitas dari serabut otot.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh zumba terhadap kadar gula darah. Metode: Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan one group pre and post test yang memenuhi kriteria-kriteria yaitu tidak rutin berolahraga, IMT normal (18,5-22,9), bukan penderita penyakit diabetes melitus, bukan penderita penyakit asma, bukan penderita penyakit jantung, bukan penderita patah tulang pada kaki dan tangan, tidak sedang mengalami cedera otot dan sendi. Sampel penelitian yaitu mahasiswi Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran angkatan 2013 Universitas Sam Ratulangi Manado yang berjumlah 20 orang. Kadar gula darah diperiksa sebelum dan sesudah zumba. Data dianalisis dengan Paired Sample T-test menggunakan SPSS. Simpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada subjek penelitian diperoleh hasil yaitu tidak terjadi perubahan kadar gula darah yang bermakna setelah melakukan zumba selama dua minggu. Kata kunci: zumba, gula darah.
Uji resistensi bacillus yang diisolasi dari plak gigi terhadap merkuri dan gentamisin Rakasiwi, Valentino; Bodhi, Widdhi; Kepel, Billy J.
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.10815

Abstract

Abstract: Mercury is an element with atomic number (N) of 80 and has 200,59 relative molecule mass (MR = 200,59). People that are regularly exposed by high mercury, such as due to consuming fish that contains mercury, show cognitive disorders. One of the methods of mercury detoxification is by using mercury-resistant microorganism, such as mercury-resistant bacteria. This should occur if low-level mercury in human body mercury in a relatively long period can make the bacteria adapt and reduce the mercury level, therefore, the bacteria are not dangerous anymore. This study aimed to find out whether the bacillus bacteria were resistant to mercury and gentamycin. Bacillus bacteria were incubated in liquid LB media for 24 hours, The results showed that bacteria’s colonies were found at 10 ppm, 20 ppm, and 40 ppm, but not in 80 ppm. For the resistant test against gentamycin, the resistent zone was 15 mm. Conclusion: Bacillus bacteria were resistent to mercury of 10 ppm, 20 ppm, and 40 ppm, but were sensitive to mercury of 80 ppm and gentamycin.Keywords: bacillus, mercury, gentamicin, resistantAbstrak: Merkuri adalah unsur dengan nomor atom (N) 80 serta massa molekul relatif (MR) 200,59. Individu yang secara kontinu terkena paparan merkuri yang tinggi a. l. oleh konsumsi ikan yang mengandung merkuri menunjukkan kerusakan kognitif. Salah satu usaha untuk detoksifikasi merkuri dapat dilakukan dengan menggunakan mikroorganisme resisten merkuri seperti bakteri resisten merkuri. Bila merkuri terpapar dalam tubuh manusia dengan kadar kecil dalam waktu yang sangat lama dapat membuat bakteri tersebut beradaptasi bahkan mampu mereduksi merkuri tersebut sehingga menjadi tidak berbahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah bakteri Bacillus resisten terhadap merkuri dan gentamisin. Penelitian uji resistensi merkuri pada Bacillus dilakukan menggunakan media LB cair yang telah diinkubasi selama 24 jam dan didapatkan pada pengenceran 10 ppm, 20 ppm, dan 40 ppm ada koloni bakter atau resisten tetapi pada pengenceran 80 ppm tidak ada pertumbuhan koloni bakteri. Pada uji resistensi terhadap gentamisin menggunakan media LB padat yang telah diinkubasi selama 24 jam didapatkan hasil zona hambat gentamisin 15 mm. Simpulan: Bacillus resisten terhadap merkuri sampai dengan pengeceran 40 ppm tetapi tidak resisten pada merkuri pengenceran 80 ppm dan gentamisin.Kata kunci: bacillus, merkuri, gentamisin, resisten