cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
IDENTIFIKASI BAKTERI ESCHERICHIA COLI DAN SALMONELLA SP. PADA MAKANAN JAJANAN BAKSO TUSUK DI KOTA MANADO Arlita, Yolanda
eBiomedik Vol 2, No 1 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.2.1.2014.4387

Abstract

Abstract: Public awareness of food hygiene is very important because consumption of  contaminated food can cause foodborne diseases. The most common causative bacteria are Escherichia coli and Salmonella sp. The occurence of bacteria on the food is due to the less attention of the food sellers. In Manado, ‘bakso tusuk’ is consumed by public, especially students. This study aimed to identify the bacteria E. coli and Salmonella sp. in ‘bakso tusuk’ sold in Manado. This was a descriptive prospective study. Samples were taken randomly from 20 ‘bakso tusuk’ sellers in Manado. Samples were examined bacteriologically to determine their sanitary quality. The results showed  that E. coli and Salmonella sp. were found in 17 of 20 samples ‘bakso tusuk’. E. coli and Salmonella sp. were isolated from 17(85%) and 9 (45%) of 20 samples ‘bakso tusuk’. Conclusion: Most of ‘bakso tusuk’ sold in Manado contained bacteria Escherichia coli (the most) and Salmonella sp.. Keywords: bakso tusuk, Escherichia coli, Salmonella sp.     Abstrak: Kesadaran masyarakat mengenai kebersihan makanan perlu mendapat perhatian karena makanan tercemar dapat menyebabkan penyakit bawaan makanan. Bakteri penyebab yang paling umum ialah Escherichia coli dan Salmonella sp. Bakteri dalam makanan dapat merupakan dampak dari penjualan makanan yang tidak memperhatikan kebersihan. Di Manado, makanan jajanan bakso tusuk diminati oleh masyarakat terutama para siswa dan mahasiswa dan dijual secara bebas.. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri E.coli dan Salmonella sp. dalam makanan jajanan bakso tusuk di Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif prospektif. Sampel diambil dari 20 pedagang bakso tusuk di Kota Manado kemudian dilakukan uji pemeriksaan bakteriologik untuk menentukan kualitas sanitasi. Hasil penelitian mendapatkan E. coli dan Salmonella sp. pada 17 dari 20 sampel bakso tusuk. E. coli diisolasi dari 17 (85%) sampel bakso tusuk sedangkan Salmonella sp. dari 9 (45%) sampel. Simpulan: Sebagian besar jajanan bakso tusuk di Manado mengandung bakteri, yaitu Escherichia coli (terbanyak) dan Salmonella sp. Kata kunci: bakso tusuk, Escherichia coli, Salmonella sp.
Gambaran Kadar Ureum Serum pada Wanita Hamil Normal Hajia, Muh. A.; Mongan, Arthur E.; Wowor, Mayer F.
eBiomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.5.2.2017.18606

Abstract

Abstract: During pregnancy, there are a variety of anatomical, physiological, biochemical, and hormonal changes that greatly affect several organ systems. Functional changes resulted from hormonal changes, increased load due to fetal growth, and ureter obstruction due to uterus enlargement cause increased glomerular filtration rate (GFR) that indicates an increase in renal function. These changes are accompanied by altered plasma concentration of certain substances such as ureum. Increased GFR results in declining plasma urea level. This study was aimed to obtain the serum urea levels in women with normal pregnancy. This was a descriptive observational study. There were 30 blood samples obtained from normal pregnant women in public health centers at Minanga, Bahu, and Sario from October 2017 to November 2017. The results showed that 30 normal pregnant women (100%) had decreased serum urea, as follows: 12.33 mg/dl in the 1st trimester; 9.09 mg/dl in the 2nd trimester; and 11,8 mg/dl in the 3rd trimester. Conclusion: Serum urea of normal pregnant women in the 1st trimester was higher than in the 2nd and 3rd trimester.Keywords: normal pregnancy, urea Abstrak: Selama kehamilan, wanita mengalami perubahan anatomis, fisiologis, biokimia dan endokrin yang sangat memengaruhi beberapa sistem organ. Perubahan fungsi selama kehamilan karena efek hormonal, peningkatan beban dari janin, dan obstruksi ureter oleh rahim yang semakin membesar mengakibatkan peningkatan Glomerular Filtration Rate (GFR) yang merupakan indikasi peningkatan fungsi filtrasi ginjal disertai perubahan konsentrasi plasma. Sebagai hasil dari peningkatan GFR, ureum plasma menurun pada kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar ureum serum pada wanita hamil normal. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional. Terdapat 30 sampel darah dari wanita hamil normal di Puskesmas Minanga, Bahu, dan Sario sejak Oktober-November 2017. Hasil penelitian mendapatkan 30 wanita hamil normal (100%) mengalami penurunan kadar serum ureum yaitu 12,33 mg/dl pada trimester I; 9,09 mg/dl pada trimester II; dan 11,8 mg/dl pada trimester III. Simpulan: Ureum serum pada wanita hamil normal trimester 1 lebih tinggi dibandingkan kadar serum ureum trimester 2 dan kadar serum ureum trimester 3.Kata kunci: hamil normal, ureum serum
GAMBARAN HISTOPATOLOGI AORTA TIKUS WISTAR YANG TERPAPAR ASAP ROKOK Nazlyza, Lapatta
eBiomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.2.2013.3654

Abstract

Abstract: Cigarette smoking is one of the high risk factor of atherosclerosis. Atherosclerosis signed by plaque in artery and can caused constriction in the blood vessels. Atherosclerosis often occured in the blood vessels of the aortic. The purpose of these study is to see the histopatologic image of wistar rats aortic after being exposed by cigarrete smoke.          This experimental study conducted throughout 5months using 10 rats wistar devided into 3 groups. Group A as a negative control (2 rats). Group B are exposed by cigarette smoke as much 24 cigarettes for 20 days (4 rats). Group C exposed by cigarette smoke as much 20 cigarette per day for 30 days (4 rats). The rats has been autopsied at the last 20 and 30 days and then continue made histology preparation with HE staining. The examination result shows by the microscopic image of the group A wistar rats aortic are normal. Group B showed a layer of foam cells in the tunica intima media. Group C showed foam cells in the intima and the media have started to protrude into the lumen. As a conclusion the wistar rats that are exposed by cigarrete smoke during 20 to 30 days showed a fatty streak (foam cell) on tunica intima and media aortic as early lesions in the process of atherosclerosis. Keywords: atherosclerosis, cigarette.     Abstrak: Rokok merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya aterosklerosis. Aterosklerosis ditandai oleh adanya plak di arteri yang dapat menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah. Aterosklerosis sering terjadi pada pembuluh darah aorta. Tujuan penelitian ini untuk dapat melihat gambaran histopatologi aorta tikus wistar setelah dipapar dengan asap rokok. Penelitian eksperimental ini dilakukan selama 5 bulan dengan menggunakan 10 ekor tikus wistar yang dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok A kontrol negatif (2 ekor). Kelompok B dipapari asap rokok sebanyak 24 batang perhari selama 20 hari (4 ekor). Kelompok C dipapari asap rokok sebanyak 24 batang perhari selama 30 hari (4ekor). Tikus diotopsi pada hari ke 20 dan 30 dan dibuat preparat histologi dengan pengecatan HE. Hasil pemeriksaan menunjukkan gambaran mikroskopik aorta tikus wistar kelompok A normal. Kelompok B menunjukkan adanya sel busa pada lapisan tunika intima, sampai tunika media. Kelompok C menunjukkan sel busa pada tunika intima sampai media dan sudah mulai menonjol ke lumen. Simpulan: tikus wistar yang dipapari asap rokok selama 20 sampai 30 hari menunjukkan adanya fatty streak (selbusa) pada tunika intima dan media aorta sebagai lesi awal dalam proses aterosklerosis. Kata Kunci: aterosklerosis, rokok.
GAMBARAN KADAR SERUM GLUTAMIC PYRUVIC TRANSAMINASE (SGPT) PADA PEROKOK AKTIF USIA > 40 TAHUN Tanoeisan, Angelina P.; Mewo, Yanti M.; Kaligis, Stefana H.M.
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.11048

Abstract

Abstract: According to the World Health Organization In 2009, Indonesia was the third rank with the world's highest rate of smokers. Cigarette smoke triggers the onset of free radicals in very high amounts. By the time when the people pass through the age of 40 years, the amount of antioxidants in the body was decreased so that the free radicals are increased and causing the oxygenation and nutrition to the liver was disturbed. SGPT was an enzyme which will come out of the liver cells when the liver cells were damaged and then automatically increasing its amount in the blood serum. This study aimed to determine how many SGPT serum on the active smokers at age > 40 years old. This was a cross - sectional descriptive study. The total sample in this study were 28 samples. The results showed that the samples were 25 males and 3 females. There are 21 samples had normal SGPT with mild - moderate smoker category, and 7 samples had high levels of SGPT with heavy smoker category. Conclusion: Based on the result of the study can be concluded that the description of the SGPT level in active smoker at age > 40 years old in Kolombo village zone IV RT 04 which include mild - moderate smoker category in normal range, while the heavy smoker had high levels of SGPT.Keywords: SGPT level, active smoker, ages > 40 years old.Abstrak: Latar Belakang: Berdasarkan World Health Organization (WHO) tahun 2009, Indonesia menempati peringkat ke-3 dengan tingkat perokok tertinggi di dunia. Asap rokok memicu timbulnya radikal bebas dalam jumlah yang sangat tinggi. Pada saat melewati usia 40 tahun, jumlah antioksidan dalam tubuh menurun sehingga radikal bebas meningkat dan mengakibatkan oksigenasi dan nutrisi ke organ hepar terganggu. SGPT merupakan enzim yang akan keluar dari sel hepar apabila sel hepar mengalami kerusakan sehingga dengan sendirinya akan menyebabkan peningkatan kadarnya dalam serum darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran kadar SGPT pada perokok aktif usia > 40 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional. Total sampel dalam penelitian ini adalah 28 sampel. Hasil penelitian memperlihatkan sampel penelitian terdiri dari 25 laki - laki dan 3 perempuan. Terdapat 21 sampel yang mempunyai kadar SGPT yang normal dengan kategori perokok ringansedang, dan 7 sampel yang mempunyai kadar SGPT yang tinggi dengan kategori perokok berat. Simpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa gambaran kadar SGPT pada perokok aktif usia > 40 tahun di Desa Kolombo lingkungan IV RT 04 yang termasuk perokok kategori ringan - sedang berada dalam batas normal, sedangkan yang termasuk perokok berat mengalami peningkatan.Kata Kunci: Kadar SGPT, perokok aktif, usia > 40 tahun
GAMBARAN HISTOPATOLOGI LAMBUNG TIKUS WISTAR YANG DIBERI CABE RAWIT (Capsicum frutescens) Teng, Philip; Kairupan, Carla; Loho, Lily
eBiomedik Vol 1, No 3 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.3.2013.3268

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Capsaisin adalah zat aktif yang terkandung dalam cabe rawit dan juga merupakan salah satu bahan iritan bagi mamalia yang dapat menimbulkan sensasi seperti terbakar. Rasa tidak enak di daerah lambung yang diakibatkan oleh capsaicin terjadi oleh adanya stimulasi pada reseptor Transient receptor potential vanilloid-1 yang terdapat pada lambung.Tujuan: Untuk mengetahui bagaimana gambaran histopatologi lambung tikus wistar setelah diberikan cabe rawit.Metode: Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset Terpadu Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado sejak Oktober 2012 hingga Januari 2013. Penelitian menggunakan 17 ekor tikus wistar yang terdiri dari 5 kelompok perlakuan dan berlangsung selama 7 hari. Penelitian ini menggunakan cabe rawit dalam dosis 45mg, 90mg, 135mg, dan 180mg untuk melihat perubahan gambaran histopatologi lambung tikus wistar.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan cabe rawit pada dosis 180mg tidak memperlihatkan kerusakan yang berarti. Penggunaan cabe rawit pada dosis 90mg memperlihatkan kerusakan yang hebat dengan banyak terlihatnya tanda-tanda gastritis akut.Kesimpulan: Penggunaan cabe rawit dalam jumlah yang sedikit hingga sedang dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih dibandingkan dengan penggunaan dalam jumlah yang banyak.Kata Kunci: Cabe rawit, gastritis akutAbstractBackground: Capsaicin is one of the active substantial that can be found in chili pepper and one of the irritant for mammal that causing the burning sensation. The discomfort sensation in the gastric by capsaicin can be caused because the Transient receptor potential vanilloid-1 that can be found in gastric is stimulated.Objective: To demonstrate the gastric that was administered with chili pepper.Method: The study conducted on Integrated Research Laboratory Faculty of Medicine Sam Ratulangi University Manado from October 2012 to January 2013. The study used 17 wistars, which divided to 5 groups and last to 7 days. This study was using chili pepper in 45mg, 90mg, 135mg, and 180mg to study the histological changes of wistar rat’s gastric.Results: The result showed that the administration of 180mg dose of chili pepper did not cause a meaningful damage. The administration in 90mg of chili pepper did cause a great damage with many inflammation signs occurring.Conclusions: The administration of chili pepper in little to moderate dose causing a greater damage than the administration of chili pepper in high dose.Keywords: Chili pepper, acute gastritis.
HITUNG JENIS LEUKOSIT PADA PASIEN ANAK DENGAN INFEKSI VIRUS DENGUE DI MANADO Harahap, Ellisabeth M.; Mongan, Arthur E.; Memah, Maya F.
eBiomedik Vol 3, No 2 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.2.2015.8513

Abstract

Abstract: Dengue is the most rapidly spreading mosquito-borne viral disease in the world. The decreasing leukocytes can be found between the third and eighth day with normal differential telling. The number of granulocytes decreases on the third until the eighth day. This study used a cross-sectional design. esearch. Samples were children with dengue virus infection at Wolter Mongisidi Hospital, Advent Hospital, and Pancaran Kasih Hospital in Manado from December 2014 until January 2015. There were 36 children as samples. The results showed that 48.6% of samples had increases of basophils, 54% had decreases of eosinophils, 64.8% had decreases of neutrophils, 54% had increases of lymphocytes, and 59.4% had increases of monocytes. Conclusion: In this study, most of the children with dengue viral infection had decreased number of neutrophil.Keywords: dengue viral infection, children, differential count, leukocyteAbstrak: Infeksi virus dengue adalah penyakit virus ditularkan oleh nyamuk dengan penyebaran paling cepat di dunia. Penurunan leukosit dapat dijumpai antara hari ke 1-3 demam dengan hitung jenis yang masih dalam batas normal. Jumlah granulosit menurun pada hari ke 3-8. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hitung jenis leukosit pada anak terinfeksi virus dengue di Manado. bersifat potong lintang. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien anak yang terinfeksi virus dengue di RS Wolter Mongisidi Manado, RS Advent Manado, dan RS Pancaran Kasih Manado selama bulan Desember 2014 sampai Januari 2015. Jumlah sampel sebanyak 36 anak. Hasil penelitian menunjukkan 48,6% sampel mengalami peningkatan jumlah basofil, 54% penurunan eosinofil, 64,8% penurunan neutrofil, 54% peningkatan limfosit, dan 59,4% peningkatan monosit. Simpulan: Pada penelitian ini sebagian besar pasien anak terinfeksi virus dengue menunjukkan penurunan neutrofil.Kata kunci: infeksi virus dengue, anak, hitung jenis, leukosit
Uji efek ekstrak buah okra (Abelmoschus esculentus) terhadap kadar glukosa darah pada tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi aloksan Prakoso, Leonardus B.A.; Mambo, Christi; Wowor, Mona P.
eBiomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.2.2016.14636

Abstract

Abstract: Okra (Abelmoschus esculentus) is one of many herbal medicine that have been used worldwide to prevent and treat diabetes mellitus. This research aimed to evaluate the effect of garlic bulbs extract administration on elevated blood glucose levels on Wistar rats (R. norvegicus) induced by alloxan. The subject in this research were male Wistar rats with total of 15 samples divided into 5 groups, consisting of one negative control group, one positive control group who were induce by 130 mg/kgBW of alloxan that cause the Rats in conditions of hyperglycemic, and three groups of Rats were given okra extract with dose of 0.375 ml/100 gBW of rat, 0.75 ml/100 gBW of rat , and 1.5 ml/100 gBW of rat. Blood glucose levels was measured on day zero, day one and day two every thirty minutes on 0, 30, 60, 90, 120, and every six hours on 0, 6, 12, 18, and 24. Data from the measurement showed that 0.375 ml/100 gBW, 0.75 ml/100 gBW , and 1.5 ml/100 gBW of okra extract can’t reduce elevated blood glucose levels on Wistar rats.Keywords: Abelmoschus esculentus, okra, blood glucose levels, alloxan Abstrak: Buah Okra (Abelmoschus esculentus) diyakini masyarakat sebagai salah satu tanaman obat yang mampu mencegah dan mengobati penyakit diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah pemberian ekstrak buah okra dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus Wistar (R. norvegicus) yang diinduksi aloksan. Subjek penelitian berupa tikus Wistar berjumlah 15 ekor yang dibagi dalam 5 kelompok, terdiri atas satu kelompok kontrol negatif, satu kelompok kontrol positif yang diberi aloksan dengan dosis 130 mg/kgBB yang menyebabkan tikus Wistar dalam keadaan hiperglikemik yang kemudian diinsuksi insulin, dan tiga kelompok Tikus hiperglikemik diberi ekstrak buah okra dengan dosis 0,375 ml/100 gBB tikus, 0,75 ml/100 gBB tikus, dan 1,5 ml/100 gBB tikus. Data diperoleh dari pemeriksaan kadar glukosa darah pada semua kelompok tikus Wistar pada hari ke nol, pertama, dan kedua pada menit ke-0, 30, 60, 90, 120 dan jam ke-0, 6, 12, 18, dan 24. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak buah okra dengan dosis 0,375 ml/100 gBB tikus, 0,75 ml/100 gBB tikus, dan 1,5 ml/100 gBB tikus tidak mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah tikus Wistar. Kata kunci: abelmoschus esculentus, buah okra, kadar glukosa darah, aloksan
ANALISIS PERBEDAAN PADA UJI KUALITAS AIR SUMUR DI KELURAHAN MADIDIR URE KOTA BITUNG BERDASARKAN PARAMETER FISIKA Parera, Melati J.; Supit, Wenny; Rumampuk, Jimmy F.
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.4584

Abstract

Abstract: Limited availability of raw water is one of the problems encountered in the provision of water services in Indonesia. The purpose of this study is to determine the difference in the quality of well water within 0-100 meters and within 101-200 meters from the beach by measuring physical parameters, i.e.unclearness. The number of samples in this study were 65 wells owned by residents in the Village of Madidir Ure and from those wells there are 25 with a distance of 0-100 meters and 40 with a distance of 101-200 meters from the beach.The parameters were observed referring to the Regulation of the Minister of Health of Indonesia Number 479/Menkes/Per/IV/2010 about the Terms and Water Quality Monitoring, including the physical parameters such as unclearness measured by using turbidity. Data collection methods used in this study is a cross sectional and the laboratory analysis was done in “Badan Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL)” Manado.  The results, show water quality from the well within distance of 0-100 meters exceeds a set of maximum levels of more than 5 NTU, while the result of the water quality within 101-200 meters does not exceed the maximum of 5 NTU. Conclusion: there is a difference in the quality of water in the Village of Madidir Bitung City Ure taken from the well within a distance of 0-100 meters and the well within 101-200 meters from the beach. Keywords: Water Quality, Well, Parameter physics     Abstrak: Terbatasnya ketersediaan air baku adalah salah satu masalah yang dihadapi dalam penyediaan layanan air bersih di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kualitas air sumur yang berjarak 0-100 meter dan 101-200 meter dari tepi pantai dengan parameter ukur fisika. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 65 sumur milik penduduk di Kelurahan Madidir Ure dan keseluruhan sumur tersebut ada 25 sumur dengan jarak 0-100 meter dan 40 sumur dengan jarak 101-200 meter dari tepi pantai. Adapun parameter yang diamati mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia Nomor 479/Menkes/ Per/IV/2010 tentang syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air yang meliputi parameter fisika seperti kekeruhan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cross sectional atau potong lintang dan dianalisis di laboratorium Badan Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Manado. Hasil penelitian menunjukkan kualitas air dengan jarak 0-100 meter melebihi kadar maksimum yang ditetapkan yaitu lebih dari 5 NTU (Nephlometer Turbidity Unit), sedangkan kualitas air dengan jarak 101-200 meter hasilnya tidak melebihi kadar maksimum yang telah ditetapkan yaitu kurang dari 5 NTU (Nephlometer Turbidity Unit). Simpulan: terdapat perbedaan kualitas air sumur di Kelurahan Madidir Ure Kota Bitung yang diukur dari jarak 0-100 meter dan 101-200 meter dari tepi pantai. Kata kunci: Kualitas air, Sumur, Parameter fisika
Pengaruh Pemberian Alkohol terhadap Gambaran Histopatologik Aorta Tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Margarin Kamalo, Kevin C.; Loho, Lily L.; Sambuaga, Maria K.
eBiomedik Vol 6, No 2 (2018): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.6.2.2018.22172

Abstract

Abstract: Margarine is a kitchen ingredient that contains trans fat which plays an important role in the formation of atherosclerosis. Alcohol is one of the compounds that can slow down the formation of foam cells which are the beginning of atherosclerotic lesions. This study was aimed to determine the effect of alcohol administration on the aortic histopathological features of Wistar rats induced by margarine. This was an experimental laboratory study. Samples were 20 Wistar rats divided into 4 groups, as follows: negative control (KN), given pellet only; positive control (KP), given pellet and margarine 5 g per day; treatment 1 (P1), given pellet, margarine 5 g, and wine (14% of alcohol) 0.18 ml per day; and treatment 2 (P2), given pellet, margarine 5 g, and wine 0.36 ml per day. All samples were terminated at day 29. Rat aortas were prepared for microscopic slides. The results showed that foam cells were found in the aortic layers. The highest number of foam cells was found in KP group, followed by P1 group, meanwhile P2 group had the lowest number of foam cells. Conclusion: In the aortas of Wistar rats given wine in moderate dose concomitantly with margarine (P1 and P2 groups), the numbers of foam cells were less than in Wistar rats that were given margarine only (KP group).Keywords: wine, histopathology of aorta, atherosclerosis, margarine Abstrak: Margarin merupakan bahan dapur yang mengandung lemak trans yang sangat berperan dalam pembentukan aterosklerosis. Alkohol adalah salah satu senyawa yang dapat memperlambat pembentukkan sel busa yang merupakan awal dari lesi aterosklerosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pemberian alkohol terhadap gambaran histopatologik aorta tikus Wistar yang diinduksi margarin. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik. Sampel penelitian ialah 20 ekor tikus Wistar yang dibagi atas 4 kelompok: kontol negatif (KN), hanya diberikan pelet; kontrol positif (KP) diberikan pelet dan margarin 5 gr per hari; perlakuan 1 (P1) diberikan pelet, margarin 5 gr dan minuman anggur (kandungan alkohol 14%) 0,18 ml per hari; dan perlakuan 2 (P2) diberikan pelet dan margarin 5 gr serta minuman anggur 0,36 ml per hari. Semua sampel diterminasi pada hari ke-29, dan aorta tikus diambil untuk sediaan mikroskopik. Hasil pengamatan histopatologik mendapatkan sel busa pada lapisan-lapisan aorta dengan jumlah tertinggi pada kelompok KP, kemudian P1, dan paling sedikit pada P2. Simpulan: Pada tikus Wistar yang diberikan minuman anggur dosis moderat dan margarin secara bersamaan (P1 dan P2) terlihat sel busa yang lebih sedikit dibandingkan dengan tikus Wistar yang hanya diberikan margarine (KP).Kata kunci: alkohol, histopatologik aorta, aterosklerosis, margarin
PERBANDINGAN KADAR GLUKOSA SEBELUM DAN SESUDAH AKTIVITAS FISIK INTENSITAS BERAT Lande, Ni Putu G. A.; Mewo, Yanti; Paruntu, Michaela
eBiomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.1.2015.6603

Abstract

Abstract: Physical activity is one of the factors which can affect blood glucose level in human body. Vigorous physical activity for 20 minutes can lower one’s blood glucose level. Futsal is categorized as a vigorous activity. During the activity, body will use endogenous fuel from blood to take care of glucose levels homeostasis in it. This study aimed to determine the ratio of blood glucose levels before and after vigorous physical activity at the 2011 batch students of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi using futsal. This was a pre and post experimental study. Respondents were 21 males aged 20-22 years. The results showed a decrease of all respondents’ blood glucose average from104.14 mg/dL before the physical activity to 95.40 mg/dL after it with p < 0.05 that meant there was a significant decrease in glucose level. Conclusion: In this study, there was a significant difference in blood glucose levels of the students between before and after vigorous physical activity.Keywords: blood glucose levels, vigorous physical activityAbstrak: Aktivitas fisik merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kadar glukosa darah dalam tubuh manusia. Aktivitas fisik intensitas berat yang dilakukan selama 20 menit dapat menurunkan kadar glukosa darah dalam tubuh. Futsal merupakan salah satu permainan yang tergolong dalam aktivitas intensitas berat. Selama aktivitas fisik dilakukan, tubuh akan menggunakan bahan bakar endogen dan dari darah untuk menjaga homeostasis kadar glukosa dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar glukosa darah sebelum dan sesudah aktivitas fisik intensitas berat pada mahasiswa angkatan 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi melalui permainan futsal. Penelitian ini bersifat pre dan post eksperimental. Pada penelitian ini responden terdiri dari 21 orang laki-laki dengan umur 20-22 tahun. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan glukosa dari rata-rata 104,14 mg/dL sebelum aktivitas fisik menjadi 95,40 mg/dL setelah melakukan aktivitas fisik dengan nilai p < 0,05, yang berarti terjadi penurunan yang signifikan. Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa darah mahasiswa sebelum dan sesudah melakukan aktivitas fisik intensitas berat.Kata kunci: kadar glukosa darah, aktivitas fisik intensitas berat