cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
HUBUNGAN KEBIASAAN MAKAN PAGI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA MURID SD NEGERI 3 MANADO Tandirerung, Erina Utami; Mayulu, Nelly; Kawengian, Shirley E.S.
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.1162

Abstract

Abstract: Anemia is a global public health problem in developing and developed countries with its major consequences for human health and the economic and national development. Anemia can occur at all stages of the life cycle, but it is more prevalent in pregnant women and children.  Anemia in children due to lack of nutritional diet has bad impacts on their health, growth, and immune systems. The main causes of nutritional anemia are the insufficient iron ingestion, low iron absorption, and diet which mainly consists of rice and less diverse menu. Breakfast habits fall into one of the thirteen basic messages of balanced nutrition.  The benefit of having breakfast for school children is that it can improve their concentration to study and to understand their lessons, resulting in improvement of their  learning achievement. Besides that, breakfast plays some important roles in fulfilling the balanced nutrition in children. The purpose of this study was to find out the relationship between breakfast habits and anemia incidence among students of SD Negeri 3 Manado. This was an analytical cross-sectional study. The results showed that of 83 students, 58 students (69.9%) had habits of having breakfast and 74 students (89.2%) were not anemic. Analytical results obtained P-value = 0.019 (? 0.050). Conclusion: there was a significant relation between breakfast habits and anemia incidence among the students of SD Negeri 3 Manado. Key words: breakfast habits, children, anemia     Abstrak: Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat global di negara berkembang maupun negara maju dengan konsekuensi yang besar bagi kesehatan manusia serta pembangunan nasional dan ekonomi. Anemia dapat ditemukan pada setiap tahap siklus hidup, namun lebih menonjol pada wanita hamil dan anak-anak. Anemia pada anak-anak akibat  kurang gizi dapat berdampak buruk pada kesehatan, pertumbuhan, dan sistem imun. Penyebab utama anemia gizi ialah konsumsi zat besi yang tidak cukup, absorbsi zat besi yang rendah, dan pola makan yang sebagian besar terdiri dari nasi dan menu yang kurang beraneka ragam. Kebiasaan makan pagi termasuk dalam salah satu dari 13 pesan dasar gizi seimbang. Bagi anak sekolah, makan pagi dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan memudahkan menyerap pelajaran yang akan meningkatkan prestasi belajar. Makan pagi juga sangat berperan terhadap pemenuhan gizi seimbang pada anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan makan pagi dengan kejadian anemia pada murid SD Negeri 3 Manado. Penelitian ini merupakan suatu penelitian cross-sectional yang bersifat analitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 83 murid, 58 murid (69,9%) memiliki kebiasaan makan pagi dan 74 murid (89,2%) yang tidak anemia. Hasil analisis diperoleh nilai P = 0,019 (? 0,050). Simpulan: terdapat hubungan bermakna antara kebiasaan makan pagi dengan kejadian anemia pada murid SD Negeri 3 Manado. Kata kunci: kebiasaan makan pagi, anemia, anak-anak
PENGARUH PEMBERIAN CAP TIKUS TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA WISTAR JANTAN (RATTUS NORVEGICUS) Melmambessy, Ellen E.; Tendean, Lydia; Rumbajan, Janette M.
eBiomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.1.2015.7405

Abstract

Abstract: Alcohol is an organic compound that is composed of the elements carbon, hydrogen and oxygen. Usually, the term of alcohol is known as liquor. One of the local products of liquor in Manado is Cap Tikus. This study aims to determine the effect of alcohol 20% on the spermatozoa quality of male Wistar (Rattus norvegicus). The research design was a completely randomized experimental design. The samples were 10 male wistar rats which consisted of 5 rats as a control group and 5 rats as the experiment group. The rats in the experiment group were given Cap Tikus for 52 days, while rats in the control group were given tap water. The results showed that spermatozoa quality from experiment group which includes the concentration of spermatozoa is 24x106 spermatozoa/ml, normal motility of spermatozoa is 23,5% and normal morphology of spermatozoa is 11%. Whereas spermatozoa quality from control group which includes the concentration of spermatozoa is59x106 spermatozoa/ml, normal motility of spermatozoa is 89% and normal morphology of spermatozoa is 97%. Conclusion: Cap Tikus decreased the spermatozoa quality which includes concentration, motility and morphology of spermatozoa. This was due to alcohol interfered the hypothalamus, the anterior pituitary gland and the testes that played an important role in the process of spermatogenesis.Keywords: cap tikus, alcohol, spermatozoa qualityAbstrak: Alkohol merupakan suatu senyawa organik yang tersusun dari unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah alkohol sering dikaitkan dengan minuman keras. Salah satu jenis minuman keras produk lokal di Manado adalah Cap Tikus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Cap Tikus terhadap kualitas spermatozoa wistar jantan (Rattus norvegicus). Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan rancangan acak lengkap. Sampel adalah tikus wistar jantan berjumlah 10 ekor, 5 ekor tikus digunakan sebagaikontrol dan 5 ekor tikus digunakan sebagai perlakuan. Kelompok perlakuan adalah kelompok yang diberi minuman Cap Tikus selama 52 hari sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang diberi minuman air ledeng. Hasil penelitian menunjukan kualitas spermatozoa kelompok perlakuan yang meliputi konsentrasi spermatozoa adalah 24x106 spermatozoa/ml, motilitas spermatozoa normal adalah 23,5% dan morfologi spermatozoa normal adalah 11%. Kualitas spermatozoa kelompok kontrol yang meliputi konsentrasi spermatozoa adalah 59x106 spermatozoa/ml, motilitas spermatozoa normal 89% dan morfologi spermatozoa normal 97%. Simpulan: Pemberian Cap Tikus menyebabkan penurunan kualitas spermatozoa yang meliputi konsentrasi, motilitas dan morfologi spermatozoa. Hal ini dapat disebabkan karena alkohol mengganggu hipotalamus, kelenjar hipofisis anterior dan testis yang berperan dalam proses spermatogenesis.Kata kunci: cap tikus, alkohol, kualitas spermatozoa
Gambaran histopatologik ginjal wistar yang diberi ekstrak binahong pasca pemberian gentamisin Rajak, Zularsil F.W.; Loho, Lily; Lintong, Poppy
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.13911

Abstract

Abstract: Kidney damage can be caused by many things, such as hypovolemia, sepsis, acute glomeluronefritis, rhabdomyolysis and drugs (gentamicin and NSAID). Gentamicin is an broad spectrum antimicrobial with high toxicity. Gentamicin is an aminoglycoside antibiotic known to be toxic to the kidneys and the side effects that gentamicin cause are renal tubular damage. There are many kinds of herbal plant in Indonesia with benefit, one of them is the binahong plants. Binahong (Anredera cordifoli (Ten) Steenis), has a high antioxidant that is equal to 9.614% of the compound flavonoid.5 Antioxidant contained in binahong leaves can be said as nefroprotective on kidney function. This study aims to reveal the renal histopathologic of wistar rat that have administered binahong extract after gentamicin administration. This study was an experimental study using 25 wistar rats that were divided into 5 groups. Group A is the negative control group (terminated the 7th day), while group B, C, D and E (the treatment group) were administered gentamicin 0.3 ml/day for 6 days. After administration of gentamicin, group B immediately terminated (day 7), group C were administered 50 mg/day of binahong extratct for 3 days (terminated on day 10), group D were administered 100 mg/day of binahong extract for 3 days (terminated on day 10), group E were administered gentamicin for 6 days (terminated on day 10). The results showed that the renal histopathological of wistar rats group that were administered gentamicin for 6 days, showed swelling and necrotic tubular epithelial cells. Wistar rats group that were administered of binahong showed regeneration of renal tubular epithelial cells. Conclusion: The administration of Gentamicin with toxical dose or 0.3 ml/day for 6 days showed acute tubular necrosis. Regeneration of renal tubular epithelial cells is better in the group that were administered binahong extract than the group that were administered pellets. Renal histopathologic of wistar rats at administration of binahong extract with dose of 100 mg are better compared to 50 mg. Keywords: gentamicin, binahong extract, histopathologogical image of wistar rat’s kidney Abstrak: Kerusakan ginjal dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti hipovolemia, sepsis, glomeluronefritis akut, rabdomiolisis dan obat-obatan (Gentamisin dan NSAID). Gentamisin tergolong antibiotika (aminoglikosida) yang berspektrum luas dan memiliki toksisitas tinggi. Salah satu efek toksik dari gentamisin adalah menyebabkan kerusakan pada tubulus ginjal. Ada berbagai jenis tanaman herbal di Indonesia yang mempunyai khasiat, salah satunya adalah tanaman binahong, Tanaman binahong (Anredera cordifoli (Ten) Steenis), memiliki antioksidan yang cukup tinggi yaitu sebesar 9,614% senyawa flavonoid. Antioksidan yang terkandung dalam daun binahong dapat dikatakan sebagai nefroprotektif terhadap fungsi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologik ginjal tikus wistar yang diberi ekstrak binahong pasca pemberian gentamisin. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan 25 ekor tikus wistar yang dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok A merupakan kelompok kontrol negatif (diterminasi pada hari ke-7), sedangkan kelompok B, C, D dan E (kelompok perlakuan) diberi gentamisin 0,3 ml/hari selama 6 hari. Setelah pemberian gentamisin, kelompok B langsung diterminasi (hari ke-7), kelompok C diberi ekstrak binahong 50 mg/hari selama 3 hari (diterminasi pada hari ke-10), kelompok D ekstrak binahong 100 mg/hari selama 3 hari (diterminasi pada hari ke-10). kelompok E diberi gentamisin selama 6 hari (diterminasi pada hari ke-10). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diinduksi gentamisin selama 6 hari secara histopatologik memperlihatkan adanya pembengkakan dan nekrosis sel epitel tubulus. Kelompok tikus yang diberi ekstrak binahong menunjukkan regenerasi sel epitel tubulus ginjal Simpulan: Pemberian gentamisin injeksi dosis toksik yaitu 0,3 ml setiap hari selama 6 hari menunjukkan nekrosis tubular akut (NTA). Regenerasi sel epitel tubulus ginjal lebih baik pada kelompok yang diberi ekstrak binahong dibandingkan kelompok yang hanya diberi pelet. Gambaran histopatologik ginjal lebih baik pada pemberian binahong dengan dosis 100 mg dibandingkan dosis 50 mg.Kata kunci: gentamisin, ekstrak binahong, gambaran histopatologik ginjal.
HUBUNGAN NILAI HEMATOKRIT DAN NILAI JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE Hukom, Andrew O. E.; Warouw, Sarah M.; Memah, Maya; Mongan, Arthur E.
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.4154

Abstract

Abstract: Dengue hemorrhagic fever (DHF) has been a global problem especially for children. There are two main pathophysiological changes occur in DHF. The first one is an increased vascular permeability and the second one is the disorder of haemostasis. Haematocrit and thrombocyte count are laboratory parameters that are needed for monitoring the development of DHF. This was a retrospective analytical study with a cross sectional design. Samples were patients who were diagnosed as dengue hemorrhagic fever in RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado in 2012. Inclusion criteria were patients aged <15 years, were diagnosed based on WHO 1997, and were already tested for haematocrit test and platelet count. Data obtained from the medical records were analyzed by using t test and Spearman?s correlation test. There were 137 children with DHF in 2012, and as samples we used 62 children. The t-test of haematocrit values showed a P-value 0.0001 which meant that there was a significant increase of haematocrit among DHF patients. The t-test of thrombocyte counts showed a P-value 0.0001, which meant that there was a significant decrease of thrombocyte count among the DHF patients. The Spearman test showed a correlation of haematocrit level and thrombocyte counts among DHF patients with a P-value 0.133. Conclusion: There was no significant correlation between haematocrit and thrombocyte count among dengue hemorrhagic fever patients.Keywords: dengue hemorrhagic fever, children, haematocrit, thrombocyte coountAbstrak: Demam berdarah dengue (DBD) telah menjadi masalah masyarakat internasional terutama pada anak-anak. Dua perubahan patologik utama pada penyakit DBD yaitu peningkatan permeabilitas kapiler dan gangguan hemostasis. Hematokrit dan hitung trombosit merupakan parameter laboratorik yang diperlukan untuk memantau perkembangan DBD. Penelitian ini bersifat analitik retrospektif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien anak yang terdiagnosis DBD di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama periode tahun 2012. Kriteria inklusi ialah pasien berusia <15 tahun dan telah terdiagnosis menurut kriteria WHO 1997, serta melakukan pemeriksaan laboratorium hematokrit dan trombosit. Penelitian ini menggunakan catatan rekam medik, dan untuk analisis statistik digunakan uji t dan Spearman?s correlation test. Dari 137 anak dengan DBD pada periode 2012, diambil 62 anak sebagai sampel. Melalui uji t untuk hematokrit didapatkan nilai P = 0,0001 yang menunjukkan terdapat peningkatan bermakna nilai hematokrit pada pasien DBD. Melalui uji untuk jumlah trombosit didapatkan nilai P = 0,0001, yang menunjukkan terdapat penurunan bermakna nilai jumlah trombosit pada pasien DBD. Hasil uji Spearman terhadap korelasi nilai hematokrit dan nilai jumlah trombosit memperlihatkan nilai P = 0,133 (? ? = 0,05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara nilai hematokrit dan nilai jumlah trombosit pada pasien demam berdarah.Kata kunci: demam berdarah dengue,anak, hematokrit, trombosit
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK SPONS LAUT CALLYSPONGIA AERIZUSA TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI SHIGELLA DAN STAPHYLOCOCCUS EPIDERMIDIS Korompis, Tifany T.; Mambo, Christi D.; Nangoy, Edward
eBiomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.5.2.2017.18478

Abstract

Abstract: Callyspongia sp. is a kind of marine sponges that produces secondary metabolites, such as steroids, alkaloids, flavonoids, and terpenoids which can be used as antibacterial agents. This study was aimed to determine the inhibition activity of Callyspongia aerizusa marine sponge extract against the growth of Shigella and Staphylococcus epidermidis bacteria. This was an experimental laboratory study. Inhibition activity was tested by using the modified Kirby-Bauer method. The inhibition zones formed by the marine sponge extract were measured. The results showed that the inhibition zones of marine sponge extract against Shigella bacteria was 6.1 mm and against Staphylococcus epidermidis bacteria was 6.6 mm. Conclusion: Callyspongia aerizusa extract had moderate inhibition activity against the growth of Shigella and Staphylococcus epidermidis bacteria.Keywords: inhibition test, Callyspongia aerizusa, Shigella, Staphylococcus epidermidis Abstrak: Callyspongia sp. merupakan salah satu jenis spons laut yang menghasilkan metabolit sekunder berupa steroid, alkaloid, flavonoid, dan terpenoid yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya daya hambat dari ekstrak spons laut Callyspongia aerizusa terhadap pertumbuhan bakteri Shigella dan Staphylococcus epidermidis. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik. Uji daya hambat dengan metode Kirby-Bauer yang dimodifikasi menggunakan sumuran untuk mengukur zona hambat yang terbentuk oleh ekstrak spons laut Callyspongia aerizusa. Hasil penelitian mendapatkan zona hambat yang terbentuk pada bakteri Shigella sebesar 6,1 mm dan pada bakteri Staphylococcus epidermidis sebesar 6,6 mm. Simpulan: Ekstrak spons laut Callyspongia aerizusa memiliki daya hambat sedang terhadap pertumbuhan bakteri Shigella dan Staphylococcus epidermidis.Kata kunci: uji daya hambat, Callyspongia aerizusa, Shigella, Staphylococcus epidermidis
KHASIAT DAUN BINAHONG (ANREDERA CORDIFOLIA (TEN.) STEENIS) TERHADAP PEMBENTUKAN JARINGAN GRANULASI DAN REEPITELISASI PENYEMBUHAN LUKA TERBUKA KULIT KELINCI Ariani, Suci
eBiomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.2.2013.3250

Abstract

Latar Belakang: Luka merupakan keadaan dimana kontinuitas jaringan rusak oleh karena trauma dari benda tajam atau tumpu, perubahan suhu, kimiawi, listrik, radiasi, atau gigitan hewan. Proses penyembuhan luka bisa dipercepat dengan menggunakan pengobatan tradisional, salah satunya adalah tanaman binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis). Tujuan: Untuk melihat khasiat daun binahong terhadap pembentukan jaringan granulasi dan reepitelisasi penyembuhan luka terbuka kulit kelinci secara makroskopik dan mikroskopik. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan subjek 5 ekor kelinci. Satu ekor kelinci untuk meilhat struktur jaringan kulit normal kelinci. Empat ekor kelinci dibuat luka, pada punggung kanan diberikan daun binahong dan luka pada punggung kiri tidak diberikan daun binahong. Kelompok A terdiri dari dua ekor kelinci yang diambil dan dilihat jaringan luka pada hari kelima, kelompok B terdiri dari dua ekor kelinci yang diambil dan dilihat jaringan lukanya pada hari ke-14. Hasil: Secara makroskopik luka yang diberi daun binahong terlihat lebih kecil dan kering, sedangkan yang tidak diberi daun binahong terlihat luka masih dalam, dan kemerahan. Secara mikroskopik luka yang diberi daun binahong terbentuk jaringan granulasi yang lebih banyak dan reepitelisasi lebih cepat dibandingkan dengan yang tidak diberi daun binahong. Simpulan: Pemberian daun binahong pada luka membantu penyembuhan luka dengan pembentukan jaringan granulasi yang lebih banyak dan reepitelisasi terjadi lebih cepat dibandingkan dengan luka yang tidak diberi daun binahong.Kata Kunci: Luka terbuka, daun binahong, jaringan granulasi, reepitelisasi.Background: Wound is a condition when the continuity of tissue are damaged by the trauma of sharp or blunt objects, temperature changes, chemicals, electricity, radiation, or animal bites. The process of wound healing can be accelerated by using traditional medicines, one of them is a plant called Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis). Objective: To observe the influences of binahong leaf in granulation tissue formation and epithelial regeneration of an open wound healing of skin rabbit, both macroscopic and microscopic features. Method: Experimental research employed five adult rabbits as the subject: one rabbit as a control ? to observe the structure of rabbit skin tissue. The four rabbits are made wounds, to the back right were given binahong leafs and wounds to the back left were not. Group A and B - two rabbits in each group. Rabbits in group A are used to observe the wounded tissue in the fifth day. Rabbits in group B are used to observe the wounded tissue in the fourteenth day. Results: The macroscopic result of wounds with binahong had smaller shape and dry, while the wound without binahong leafs are still look deeper, wet, and redness. By microscopic examination, wounds with binahong leafs formed granulation tissue and epithelial regeneration more and faster than those which not given binahong leafs. Conclusions: Binahong leafs help in healing the wounds with forming more granulation tissue and faster in epithelial regeneration than the wounds without binahong leafs.Keywords: Open wounds, binahong leaf, granulation tissue, epithelial regeneration.
GAMBARAN KADAR ALBUMIN SERUM PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK STADIUM 5 NON DIALISIS Putri, Tiffany D.; Mongan, Arthur E.; Memah, Maya F.
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.10861

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease is a pathophysiology process with diverse etiology, causing a progressive decline on kidney function, and in most cases ends with kidney failure (stage 5). The low level of albumin serum is an important predictor of the morbidity and mortality, as a low albumin level is indicating the weak immunity and vitality in kidney failure patients. This is caused by an increase on inflammation and deficiency of protein intake. The low level of albumin serum is also a major indicator which can be used to show a person?s kidney function. Hypoalbuminemia occurred if blood albumin level is less than 3,5 g/dL. Research objective: To find out the description of albumin serum level on non-dialysis chronic kidney disease patients. Research method: Cross sectional descriptive, to obtain the data of albumin serum on non-dialysis chronic kidney disease patients carried out on December 2015 ? January 2016 at two hospitals, which are RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado and Rumah Sakit Advent Manado. The research sample were the blood sample from 35 people suffering a stage five non dialysis chronic kidney disease, which determined by consecutive sampling from non-probability sampling model. Result: According to the laboratory result, from the 35 patients diagnosed with a stage five non dialysis chronic kidney disease, 16 patients are having a decrease on albumin serum (45.7%), and 19 patients are having a normal albumin level (54.4%). None of the samples are having an increase on albumin level. Conclusion: From the research it can be concluded that there are more patients with normal albumin level which is 29 people (54.5%) compared to the patients with hypoalbuminemia which is 16 people (45.7%), with male having a higher tendency of prevalence compared to female on each category of albumin serum checkup.Keywords: albumin serum, stage five chronic kidney disease, non-dialysis.Abstrak: Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologi dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal (stadium 5). Kadar serum albumin rendah merupakan prediktor penting dari mordibitas dan mortalitas karena rendahnya serum albumin pada pasien gagal ginjal menggambarkan rendahnya ketahanan dan daya hidup pasien gagal ginjal terminal. Hal ini disebabkan adanya peningkatan inflamasi dan kekurangan asupan protein pada penderita. Rendahnya serum albumin juga salah satu penanda penting yang dapat digunakan untuk menunjukan fungsi ginjal dari seseorang. Dikatakan hipoalbuminemia jika kadar albumin darah kurang dari 3,5 g/dL. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui gambaran kadar albumin serum pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 non dialisis. Metode Penelitan: deskriptif cross sectional, untuk mendapatkan data tentang kadar albumin serum pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 non dialisis yang dilakukan sejak Desember 2015-Januari 2016 di dua rumah sakit yaitu RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dan Rumah Sakit Advent Manado. Sampel penelitian adalah sampel darah dari 35 orang yang menderita penyakit ginjal kronik stadium 5 non dialisis ditentukan dengan cara non-probability sampling jenis consecutive. Hasil: Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan, terdapat 35 pasien yang terdiagnosis penyakit ginjal kronik stadium 5 non dialisis didapatkan bahwa 16 pasien mengalami penurunan kadar albumin serum (45.7%), 19 orang memiliki kadar albumin dalam batas normal (54.3%) dan tidak terdapat peningkatan kadar albumin sama sekali pada pasien yang dilakukan penelitian. Simpulan: Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kadar albumin serum pada pasien dengan kadar albumin yang masih dalam batas normal yaitu sebanyak 19 orang (54.3%) lebih banyak dibandingkan dengan hipoalbuminemia yaitu sebanyak 16 orang (45.7%) dimana jenis kelamin laki-laki cenderung lebih tinggi prevalensinya dibandingkan dengan perempuan pada tiap kategori hasil pemeriksaan kadar albumin serum.Kata kunci: albumin serum, penyakit ginjal kronik stadium 5, non dialisis.
HUBUNGAN ANTARA WHR DENGAN KADAR HS-CRP SERUM PADA MAHASISWA OBES DAN TIDAK OBES DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Toreh, Ezra; Kawengian, Shirley E. S.; Bolang, Alexander S. L.
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.1626

Abstract

Abstract: Central obesity is recognized as a major factor that associated with increased risk for some chronic diseases. Waist to hip ratio described the increase in visceral adipose tissue and subcutaneous fat on waist circumference and hip circumference.C-reactive protein is the detection of cardiovascular disease risk in conventional but not sensitive enough to detect cardiovascular risk so  beused the new method is of high sensitivity C-reactive protein.The research have purpose to know the difference and relationship of waist to hip ratio and high sensitivity c-reactive protein level between obese and non-obese students at Medical Faculty of Sam Ratulangi University Manado. This research was an observational analytic cross-sectional approach. The results of statistical analysis using the Mann-Whitney U test revealed that there were significant differences (p = 0.000 <0.05) both WHR and hs-CRP level in both groups of students are. Conclusion: The results of statistical analysis using the Spearman test showed that there is a positive very weak relationship (r = 0309) and significant (p = 0017 <0.05) between the values ??of WHR with hs-CRP level in obese and non-obese students at Medical Faculty of Sam Ratulangi University Manado. Key Words: WHR, hs-CRP     Abstrak: Obesitas sentral diakui sebagai factor utama yang dikaitkan dengan peningkatan resiko untuk beberapa penyakit kronis. Waist to hip ratio (WHR) menggambarkan peningkatan jaringan adiposa visceral dan lemak subkutan pada lingkar pinggang dan lingkar pinggul. C-reactive protein (CRP) merupakan deteksi risiko penyakit kardiovaskular tapi secara konvensional tidak cukup sensitif untuk mendeteksi risiko kardiovaskular sehingga digunakan metode baru yaitu high sensitivity C-reactive protein (hsCRP). Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan hubungan waist to hip ratio (WHR) dengan kadar high sensitivity c-reactive protein (hs-CRP) serum pada mahasiswa obes dan tidak-obes di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Hasil analisis statistic dengan menggunakan uji Mann-Whitney U menunjukan terdapat perbedaan yang bermakna (p=0.000<0.05) baik WHR maupun kadar hs-CRP serum pada kedua kelompok mahasiswa tersebut. Simpulan: Hasil analisis statistic dengan mengguna-kan uji Spearman menunjukan bahwa terdapat hubungan yang positif sangat lemah (r=0.309) dan bermakna (p=0.017<0.05) antara nilai WHR dengan kadar hs-CRP serum mahasiswa obes dan tidak-obes pada Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata Kunci: WHR, hs-CRP
PROFIL TNF-α SESUDAH SENAM LANSIA PADA LANSIA DI PANTI WREDHA BETHANIA LEMBEAN KOTA MANADO Tulong, Michael; Supit, Siantan; Engka, Joice N. A.
eBiomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.1.2015.7660

Abstract

Abstract: Tumor Necrosis Factor- ? (TNF-?) is a systemic pro-inflammatory cytokine which is responsible to a trauma, injury, or inflammation in human body. Physical activity can physiologically affect the human body, inter alia the immune system. This was an experimental study with a post test design. This study aimed to determine the profile of TNF-? after doing gymnastics among the elderly at nursing home Bethania Lembean. Samples included 30 peoples who met the inclusion criteria, i.e. over 64 years old, followed the gymnastics for 5 weeks regularly, approbated as respondents, healthy, and signed the informed consent. The TNF-? concentration measurements were done by using enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) Quantikine ®Human TNF-?. The results showed that the average conventration of TNF-? after elderly gymnastics was 70.54 pg/ml, with the highest value of 88.90 pg/mL and the lowest value of 12.54 pg/mL. For all respondents, TNF-? was within normal limit and ranged between 10-100 pg / mL. Conclusion: In this study, TNF-? concentrations after elderly gymnastics for 5 weeks were within normal limitsKeywords: TNF-?, elderly gymnasticsAbstrak: Tumor Necrosis Factor-? (TNF-?) merupakan suatu sitokin sistemik pro-inflamasi, yang berespons terhadap suatu cedera trauma atau peradangan yang terjadi dalam tubuh manusia. Kegiatan fisik dapat berdampak cukup besar pada tubuh manusia, dimana dapat merubah sistem imun tubuh secara fisiologis. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan post test design dan bertujuan untuk mengetahui profil TNF-? sesudah senam lansia di Panti Wredha Bethania Lembean. Sampel penelitian berjumlah 30 orang yang memenuhi kriteria inklusi yaitu berumur di atas 64 tahun, teratur mengikuti senam lansia selama 5 minggu, bersedia menjadi responden, sehat saat di periksa, dan menandatangani informed consent. Pengukuran konsentrasi TNF-? di lakukan dengan menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) Quantikine ®Human TNF-?. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rerata kadar TNF-? sesudah senam lansia 70,54 pg/ml, dengan nilai tertinggi 88,90 pg/mL dan nilai terendah 12,54 pg/mL. Berdasarkan hasil yang di dapat, semua kadar TNF-? masih dalam batas normal dengan nilai 10-100 pg/mL. Simpulan: TNF-? sesudah senam lansia selama 5 minggu masih dalam batas normal.Kata kunci:TNF-?, senam lansia
GAMBARAN KADAR GLUKOSA DARAH PUASA PADA PEKERJA KANTOR Ugahari, Louis E.; Mewo, Yanti M.; Kaligis, Stefana H.M.
eBiomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.2.2016.14616

Abstract

Abstract: Blood glucose must be maintained in a constant concentration. Hyperglycemia, an increase of blood glucose level, can be a symptom of diabetes mellitus. One of the factors that affect the blood glucose level is physical activity. Low physical activity can be influenced by work. Sedentary lifestyle is identic with office workes. Office workers do not enough time to do physical activity. This study was aimed to describe the fasting blood glucose level among office workers. This was a descriptive study with a cross sectional design. Respondents were obtained by using total sampling method. There were 52 respondents in this study consisted of 25 males and 27 females. The results showed that 45 respondents (86.54%) had normal fasting blood glucose levels, 5 respondents (9.62%) had high fasting blood glucose levels (hyperglycemia), and 2 respondents (3.84%) had low fasting blood glucose levels (hypoglycemia). The maximum value was 243 mg/dL, the minimum value was 63 mg/dL, the median value was 83 mg/dL, the average value was 94.42 mg/dL, and standard of deviation was 37.85 mg/dL. Conclusion: Most office workers had normal blood glucose levels.Keywords: fasting blood glucose, office workers Abstrak: Glukosa darah dalam tubuh manusia harus dijaga dalam konsentrasi yang konstan. Kadar glukosa darah dalam tubuh yang meningkat (hiperglikemia) dapat menjadi gejala penyakit diabetes mellitus. Salah satu faktor yang memengaruhi kadar glukosa darah ialah aktivitas fisik. Aktivitas fisik yang kurang dapat dipengaruhi oleh pekerjaan. Pola hidup sedentary lifestyle identik dengan pekerja kantor dewasa ini. Pekerja kantor tidak memiliki waktu untuk terlibat dalam aktivitas fisik yang cukup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar glukosa darah puasa pada pekerja kantor. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Pemilihan responden dilakukan dengan metode total sampling. Responden terdiri dari 25 orang laki-laki s dan 27 orang perempuan. Hasil penelitian mendapatkan 45 responden (86,54%) memiliki kadar glukosa darah puasa normal, 5 responden (9,62%) memilki kadar glukosa darah puasa tinggi (hiperglikemia), dan 2 responden (3,84%) memilki kadar glukosa puasa rendah (hipoglikemia). Hasil pengukuran kadar glukosa darah puasa mendapatkan nilai maksimum 243 mg/dL, nilai minimum 63 mg/dL, nilai median 83 mg/dL, nilai rata-rata 94,42 mg/dL dan standar devisiasi 37,85 mg/dL. Simpulan: Sebagian besar pekerja kantor masih memiliki kadar glukosa darah puasa yang normal. Kata kunci: glukosa darah puasa, pekerja kantor