cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Majalah Kesehatan FKUB
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
This journal uses Open Journal Systems 2.4.7.1, which is open source journal management and publishing software developed, supported, and freely distributed by the Public Knowledge Project under the GNU General Public License.
Arjuna Subject : -
Articles 334 Documents
CORRIGENDUM Kesehatan, Majalah
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.851 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.007.01.8

Abstract

Corrigendum to: “EFEK PAPARAN PROGESTERONE TERHADAP EKSPRESI TIROSIN HIDROKSILASE DAN AKTIFITAS LOKOMOTOR, SERTA PENGARUHNYA TERHADAP KADAR AROMATASE-B PADA EMBRIO ZEBRAFISH (Danio rerio)” (Majalah Kesehatan, 6(4), 227-235)
PENURUNAN KOGNITIF PADA PEKERJA DENGAN TULI SENSORINEURAL AKIBAT BISING Sincihu, Yudhiakuari; Taurusia, Melany
Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 4 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.944 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.005.04.5

Abstract

 Kemampuan kognitif sangat diperlukan pekerja dalam menjalankan aktivitas pekerjaannya sehingga produktifitas dapat maksimal. Perusahaan galangan kapal selalu menghasilkan bising sebagai risiko bahaya kesehatan bagi pekerjanya. Pemeriksaan audiometri tahun 2018 menemukan 81,2% dengan kelainan tuli sensorineural akibat bising pada pekerja galangan kapal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan ketulian sensorineural akibat bising dengan kemampuan kognitif (seperti fungsi visiokontruksi, penamaan, memori, atensi, berbahasa, berpikir abstrak, memori tertunda, dan orientasi). Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional. Lokasi penelitian di perusahaan galangan kapal di Surabaya. Populasi adalah pekerja bagian produksi galangan kapal, sebanyak 314 orang, dan ditemukan 49 subjek sebagai sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data fungsi kognitif diambil menggunakan kuesioner Moca-Ina. Hasil penelitian menunjukan 79,6% subjek mengalami gangguan fungsi kognitif, 57,1% tuli derajat ringan, 16,3% tuli derajat sedang, 2,1% tuli derajat sedang-berat, dan 2,1% tuli derajat berat. Analisis statistik non-parametrik dengan uji Spearman antara derajat ketulian dengan skor kognitif subjek penelitian menunjukan hubungan yang rendah namun bermakna (r = 0,306, p = 0,032). Kesimpulan penelitian ini adalah semakin berat derajat ketulian yang diderita pekerja berhubungan dengan semakin rendahnya kemampuan kognitif mereka. 
TREN PREVALENSI BERAT BADAN RENDAH, BERAT BADAN BERLEBIH, DAN OBESITAS PADA KELOMPOK DEWASA MUDA DI INDONESIA: 1993 – 2014 Setia Ningrum, Defi Amalia; Bantas, Krisnawati
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.531 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.01.4

Abstract

Perburukan status gizi masih menjadi determinan masalah kesehatan utama dunia, terutama pada negara berkembang. Perburukan status gizi pada usia muda merupakan prediktor yang kuat terhadap perburukan kesehatan pada usia tua. Studi ini bertujuan untuk melihat kecenderungan tren prevalensi dari berat badan rendah, berat badan lebih, dan obesitas pada masyarakat dewasa muda Indonesia pada tahun 1993–2014. Desain penelitian adalah cross-sectional series menggunakan data Indonesia Life Family Survey (ILFS) I (1993)–V (2014). Tren prevalensi dianalisis menggunakan uji chi squre untuk mengetahui besar masing-masing prevalens rasio setiap tahunnya dibandingkan dengan studi pertama pengukuran, 1993. Hasil studi menunjukan bahwa prevalensi berat badan berlebih dan obesitas tertinggi berada pada tahun 2014, 27,6% dan 11,4%. Tren prevalensi berat badan kurang cenderung stabil pada laki-laki dan menurun pada perempuan. Prevalensi berat badan berlebih dan obesitas kelompok usia dewasa muda di Indonesia baik pada laki-laki dan perempuan menunjukan tren yang meningkat. Hasil perhitungan prevalens rasio menunjukan signifikasi peningkatan baik pada berat badan berlebih dan obesitas terjadi pada tahun 2007 (PR BB berlebih = 1,76 (95% CI: 1,64–1,89); PR obesitas = 3,00 (95% CI: 2,46–3,69)) dan 2014 (PR BB berlebih = 2,26 (95% CI: 1.97–2.60); PR obesitas = 4,73 (95% CI: 3,87–5,78)). Pada kelompok usia dewasa muda di Indonesia, prevalensi berat badan rendah mengalami penurunan sedangkan prevalensi berat badan berlebih dan obesitas menunjukan tren peningkatan yang siginifikan dalam satu dekade terakhir. Diperlukan manajemen dan strategi nasional gaya hidup sehat yang komprehensif untuk mengendalikan dan mencegah perburukan kesehatan di masa tua pada kelompok usia dewasa muda. 
AKTIVITAS ANTIBIOFILM FRAKSI ETIL ASETAT EKSTRAK DAUN PUTRI MALU (Mimosa pudica) PADA BAKTERI METHICILIN-RESISTANT Staphylococcous aureus (MRSA) SECARA IN VITRO Winarsih, Sri; Khasanah, Uswatun; Alfatah, Abu Hasan
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.636 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.02.1

Abstract

Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan salah satu bakteri yang dapat membentuk biofilm. Biofilm dapat menghambat kerja antibiotik sehingga dapat menyebabkan resistensi antibiotik. Daun putri malu (Mimosa pudica) memiliki senyawa metabolit sekunder di antaranya yaitu senyawa flavonoid. Senyawa flavonoid yang didapatkan dari fraksi etil asetat daun Mimosa kemungkinan dapat memberikan efek merusak biofilm sekaligus antibakteri bagi bakteri MRSA. Senyawa flavonoid dapat diperoleh melalui proses fraksinasi menggunakan pelarut etil asetat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian fraksi etil asetat terhadap kerusakan biofilm dan terhadap jumlah koloni bakteri, berdasarkan lama inkubasi. Dosis fraksi etil asetat yang digunakan yaitu 3 mg, 6 mg, 9 mg, 12 mg, 15 mg. Lama inkubasi yang digunakan yaitu satu jam dan dua jam. Jumlah koloni bakteri dihitung menggunakan skor. Skor tertinggi +6 untuk pertumbuhan koloni bakteri yang sangat padat dan skor terendah +1 untuk pertumbuhan koloni bakteri yang renggang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besar kerusakan biofilm seiring dengan dosis fraksi etil asetat (Spearman, r = 0,426, p = 0,01), dan besar kerusakan perlakuan waktu 2 jam lebih tinggi dari pada perlakuan 1 jam (Paired t test, semua dosis menunjukkan p < 0,00). Jumlah koloni menunjukkan penurunan, namun tidak ada perbedaan bermakna antara waktu 1 jam dengan 2 jam (Paired t test, semua dosis p > 0,00). Kesimpulan pada penelitian ini adalah fraksi etil asetat dari ekstrak daun putri malu (Mimosa pudica) dapat merusak biofilm dari bakteri MRSA, dan perlakuan waktu 2 jam menunjukkan kerusakan yang lebih tinggi dari pada 1 jam, namun tidak ada perbedaaan dalam menurunkan jumlah koloni MRSA yang berada dalam lapisan biofilm antara waktu 1 jam dan 2 jam.  
PENGARUH FAKTOR RISIKO GANGGUAN GINJAL AKUT (GnGA) NEONATAL TERHADAP STADIUM PENYAKIT DAN MORTALITAS Masroer, Muchamad; Sulistijono, Eko
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.647 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.02.6

Abstract

Gangguan ginjal akut (GnGA)/acute kidney injury (AKI) merupakan patologi kompleks yang ditandai oleh berbagai kondisi abnormal yang melibatkan ginjal baik primer atau sekunder. Insiden GnGA pada neonatus berkisar 2,6% sampai 25% dengan angka mortalitas 14% sampai 73%. Penelitian ini berjenis analitik observasional retrospektif dengan desain cross sectional, menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien GnGA neonatal yang dirawat di ruang perinatologi RSUD. Dr. saiful Anwar Malang periode Januari 2014 sampai dengan Desember 2016. Pada 25 pasien yang terdiagnosis GnGA neonatal dilakukan penelusuran data berbagai karakteristik, faktor risiko GnGA, stadium GnGA, dan hasil akhir perawatan. Hubungan antara berbagai karakteristik maupun faktor risiko GnGA terhadap stadium GnGA sesuai kriteria nRIFLE dan mortalitas dianalisis secara statistik dengan uji korelasi dilanjutkan dengan uji regresi logistik berganda. Uji korelasi menunjukkan beberapa karakteristik dan faktor risiko yang berhubungan bermakna dengan stadium GnGA sesuai nRIFLE yaitu: 1). Tempat kelahiran, 2). Syok septik, 3). Lama perawatan,  4). Kadar kreatinin serum, 5). Kadar ureum serum, 6). Laju filtrasi glomerulus (LFG), dan 7). Produksi urin terendah. Sementara  karakteristik dan faktor risiko yang berhubungan bermakna dengan mortalitas yaitu: 1). Stadium GnGA nRIFLE, 2). Syok septik, 3). Gagal nafas, 4). Kadar kreatinin serum, 5). Kadar ureum serum, dan 6). LFG. Hasil uji regresi logistik berganda menunjukkan bahwa syok septik berpengaruh terhadap stadium GnGA sesuai kriteria nRIFLE (estimate = 2,364; Wald = 5,854; p = 0,016) dan LFG berpengaruh terhadap mortalitas (koefisien B = -0,473; p = 0,04; OR 0,623 (IK95% 0,397–0,978)).  Disimpulkan bahwa faktor risiko GnGA neonatal yang berpengaruh terhadap stadium GnGA sesuai dengan kriteria nRIFLE adalah syok septik dan faktor yang berpengaruh terhadap mortalitas pasien GnGA neonatal adalah laju filtrasi glomerulus.  
PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN DAN PARAMETER ERITROSIT PADA PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK POPULASI D YANG TIDAK DAN YANG MENDAPAT TERAPI INHALASI KOMBINASI LONG ACTING B2 AGONIST–KORTIKOSTEROID Astuti, Triwahju; Karima, Karima; Iskandar, Agustin
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.684 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2019.006.03.3

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru yang didasari salah satunya oleh reaksi inflamasi yang meningkat sehingga menimbulkan hambatan aliran udara dan perusakan pada eritrosit, sehingga terjadi resistensi hormon eritropoietin. Populasi D merupakan pasien PPOK yang memiliki risiko eksaserbasi tertinggi dan gejala yang paling berat di antara populasi lainnya. Terapi lini pertama untuk pasien PPOK populasi D yang direkomendasikan GOLD adalah terapi LABACS (long acting beta2 agonist and corticosteroid). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan kadar hemoglobin dan parameter eritrosit berupa jumlah eritrosit, nilai red blod cell distribution width dan indeks eritrosit penderita PPOK populasi D yang mendapat dan tidak mendapat LABACS. Penelitian ini menggunakan metode observational cross sectional dengan melihat rekam medis pasien PPOK pada bulan Juni sampai November 2015. Hasilnya pada terapi LABACS didapatkan kadar hemoglobin yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa terapi, jumlah eritrosit, nilai MCV, MCH, MCHC lebih rendah dibandingkan dengan tanpa terapi, dan nilai RDW lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa terapi LABACS. Selain itu, persentase pasien PPOK yang terkena anemia pada kelompok yang mendapat terapi LABACS lebih rendah dibanding dengan yang tidak mendapat terapi. Kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, indeks eritrosit, dan RDW dievaluasi dengan program SPSS 16.0. Tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada semua parameter. Kesimpulannya, tidak terdapat perbedaan kadar hemogolobin dan parameter eritrosit antara pasien PPOK populasi D yang mendapat dan tidak mendapatkan terapi LABACS. 
EFEK PAPARAN PROGESTERONE TERHADAP EKSPRESI TIROSIN HIDROKSILASE DAN AKTIFITAS LOKOMOTOR, SERTA PENGARUHNYA TERHADAP KADAR AROMATASE-B PADA EMBRIO ZEBRAFISH (Danio rerio) Hanif, Hanif; Soeharto, Setyawati; Sujuti, Hidayat
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.306 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2019.006.04.1

Abstract

Selain berperan dalam sistem reproduksi, progesterone juga mempunyai peran dalam sistem saraf. Progesterone diketahui berperan dalam proses perkembangan sel Purkinje pada tikus. Sel dopaminergik mempunyai peran penting dalam tubuh khususnya fisiologi pergerakan. Perubahan konsentrasi dopamin dapat berakibat pada timbulnya kelainan seperti Parkinson dan amyotropik lateral sklerosis. Pada zebrafish, sel dopaminergik dapat diidentifikasi dengan pengamatan pada tirosin hidroksilase dan pengamatan aktifitas pergerakan dapat dilakukan penilaian aktifitas lokomotor. Pemahaman terhadap hal ini akan membantu upaya terapi penyakit-penyakit neurodegeneratif terkait dopamin.Tujuan penelitian ini adalah membuktikan pengaruh progesterone pada sel saraf dopaminergik embrio zebrafish melalui pengamatan ekspresi tirosin hidroksilase, aktifitas lokomotor dan peran progesterone dalam regulasi estrogen melalui aromatase B. Sebanyak 30 embrio zebrafish dipelihara dan dikultur dalam cawan dengan terpapar progesterone pada medium dengan konsentrasi 0,1, 1, dan 10 µM. Penelitian diulang tiga kali menggunakan masa peneluran yang berbeda. Teknik imunositokimia dengan marker fluoresens digunakan untuk mengamati perubahan ekspresi tirosin hidroksilase pada diensefalon saat 48 hpf. Pengukuran aktifitas lokomotor dilakukan dengan kuantifikasi gerakan larva selama 1 menit pada usia 144 hpf. Ekspresi mRNA aromatase B dinilai dengan metode RT-PCR menggunakan primer Arom-B pada usia 48, 72, dan 96 hpf. Analisis statistik menggunakan ANOVA dengan nilai p < 0,05. Progesterone menurunkan ekspresi tirosin hidroksilase pada daerah diensefalon embrio zebrafish. Progesterone terbukti menurunkan aktifitas lokomotor larva. Paparan progesterone menyebabkan peningkatan ekspresi mRNA aromatase B terutama pada usia 72 hpf dan 96 hpf. Kesimpulannya, progesterone dapat mempengaruhi sel dopaminergik embrio zebrafish melalui penekanan ekspresi tirosin hidroksilase, aktifitas lokomotor, dan meningkatkan ekspresi mRNA aromatase B.
HUBUNGAN ANTARA EKSPRESI BAX, BCL-2, DAN RASIO BAX/BCL-2 DENGAN RESPONS KEMOTERAPI FASE INDUKSI PADA LEUKEMIA MIELOID AKUT ANAK Supraptiningsih, Eka Sari; Nugroho, Susanto; Wahyuni, Endang Sri
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.983 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2019.006.04.2

Abstract

Leukemia mieloid akut merupakan keganasan terbanyak pada anak. Pengobatan utama leukemia anak adalah kemoterapi. Target obat kemoterapi adalah kematian sel terprogram atau apoptosis. Apoptosis pada kemoterapi merupakan apoptosis jalur intrinsik yang dikendalikan oleh famili b cell lymphoma-2 pada membran mitokondria yang terdiri dari agen proapoptosis dan antiapoptosis. Sebagai agen proapotosis adalah protein Bax dan agen antiapoptosis adalah protein Bcl-2. Adanya ketidakseimbangan pro dan antiapoptosis mempengaruhi prognosis terapi. Penelitian ini ingin mengetahui hubungan ekspresi Bax dan Bcl-2 maupun rasio Bax/Bcl 2 terhadap respons kemoterapi yaitu hasil bone marrow puncture (BMP) yang dijadikan marker prognosis setelah subjek mendapat kemoterapi fase induksi dalam 12 minggu pengobatan. Desain penelitian adalah experimental pre-post  test, subjek merupakan pasien leukemia mieloid akut yang mendapat pengobatan kemoterapi fase induksi di RS.Dr.Saiful Anwar Malang menggunakan protokol kemoterapi revisi 2015 dengan rentang usia 1-14 tahun selama periode bulan Mei-September 2018. Hasil  menunjukkan hubungan terbalik yang tidak signifikan antara peningkatan Bax dengan hasil BMP, semakin tinggi Bax menunnjukkan hasil BMP tidak remisi (p = 0,893). Ekspresi Bcl-2 dengan hasil BMP menunjukkan hubungan tidak signifikan dengan korelasi negatif, semakin tinggi Bcl-2 pasca kemoterapi menunjukkan hasil BMP tidak remisi (p = 0,586), sedangkan rasio Bax/Bcl-2 setelah kemoterapi berbeda tidak signifikan (p= 0,594), dan hubungan rasio Bax/Bcl-2 dengan hasil BMP adalah tidak signifikan dengan korelasi positif semakin tinggi rasio semakin tidak remisi (p = 0,104). Kesimpulannya, peningkatan Bax tidak berhubungan signifikan dengan hasil respons  kemoterapi fase induksi, penurunan Bcl-2 berhubungan tidak signifikan dengan respons kemoterapi fase induksi, hubungan tidak signifikan antara rasio Bax/Bcl2 dengan hasil BMP  
HUBUNGAN ANTARA USIA, BODY MASS INDEX DAN JENIS KELAMIN DENGAN OSTEOPOROSIS Andarini, Sri; Suryana, Bagus Putu Putra; Praja, Dewangga Wahyu
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.993 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.007.01.4

Abstract

Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai dengan massa tulang yang rendah dan kerusakan mikroarsitektur jaringan tulang yang mengakibatkan peningkatan kerapuhan tulang. Osteoporosis paling sering terjadi pada bagian femoral neck dan lumbar spine (L1-L4). Terdapat beberapa faktor risiko penyebab osteoporosis seperti usia, body mass index (BMI) dan jenis kelamin. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan kontribusi usia, BMI dan jenis kelamin berhubungan dengan terjadinya osteoporosis pada femoral neck dan lumbar spine (L1-L4). Penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang datang dan diperiksa di Poliklinik Osteoporosis RSUD. Dr. Saiful Anwar Malang berdasarkan rekam medis pada tahun 2012. Sampel diambil secara total sampling yaitu sebanyak 154 pasien. Peneltian ini menunjukkan bahwa faktor usia berhubungan dengan terjadinya osteoporosis pada lumbar spine (L1-L4) (p = 0,018), sedangkan BMI berhubungan dengan osteoporosis pada femoral neck (p = 0,000). Hasil analisis multiple logistic regression menunjukkan bahwa usia, BMI, dan jenis kelamin dapat memprediksi  terhadap terjadinya osteoporosis pada femoral neck (R2 = 0,155), dan osteoporosis pada lumbar spine (L1-L4) (R2 = 0,112). Dapat disimpulkan bahwa faktor usia berpengaruh terhadap osteoporosis pada lumbar spine (L1-L4) dan BMI berpengaruh terhadap osteoporosis femoral neck. Usia, BMI dan jenis kelamin secara bersama-sama berpengaruh terhadap osteoporosis femoral neck dan lumbar spine (L1-L4).
RELIABILITAS PENDAPAT AHLI PADA FOTOGRAFI FORENSIK DALAM MEMPERKIRAKAN USIA MEMAR Firdausi, Reyhan Andika; Yudhistira, Aria; Herkutanto, Herkutanto
Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 2 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.769 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.005.02.5

Abstract

 Kemampuan menilai, mendokumentasikan, dan menginterpretasikan luka dengan tepat merupakan bagian penting dari tugas dokter forensik. Salah satu bentuk dokumentasi dalam pemeriksaan kasus forensik klinik adalah foto. Foto luka yang memenuhi kaidah fotografi forensik akan mempermudah dokter untuk melakukan repetitif analisa pada luka dan memberikan keyakinan yang tinggi dalam menuangkan pendapat ahlinya, juga bagi praktisi hukum untuk kepentingan peradilan. Memar merupakan jenis luka yang mempunyai karakteristik unik. Perubahan warna terjadi pada proses penyembuhan memar, sehingga proses dokumentasi luka lebih sulit. Saat ini kebanyakan dokter belum mengetahui alat dan teknik fotografi yang baik untuk kepentingan peradilan. Maka, pada penelitian ini dicoba beberapa alat dan teknik fotografi untuk mendokumentasikan luka. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional yang betujuan untuk melihat tingkat kesesuaian (reliabilitas) antar pendapat ahli (expert opinion) dalam memperkirakan usia memar dari foto luka. Memar difoto dengan 3 alat fotografi yang berbeda (kamera DSLR, mirrorless, dan handphone). Pengambilan foto dilakukan sebanyak 7 kali untuk masing-masing alat. Delapan kali waktu pengambilan tersebut disesuaikan dengan proses penyembuhan memar.  Hasil interpretasi ahli dari foto luka yang dihasilkan kamera DSLR dengan mode manual memiliki tingkat kesesuaian yang lebih tinggi daripada kamera lainnya. Penulis menyimpulkan bahwa dalam melakukan dokumentasi luka sebaiknya menggunakan kamera DSLR dan memakai mode manual. Foto luka yang memenuhi kaidah fotografi forensik dapat membantu dokter dalam menuangkan pendapat ahlinya menjadi lebih baik untuk proses peradilan. 

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 4 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 3 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 4 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 3 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 4 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2022): Majalah Kesehatan Vol 8, No 3 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 2 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 1 (2021): Majalah Kesehatan Vol 7, No 4 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 3 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan Vol. 6 No. 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan Vol 5, No 4 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 2 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 5, No 1 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 4, No 4 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 3 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 2 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 1 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 3, No 4 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 3 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 2 (2016) Vol 3, No 1 (2016) Vol 2, No 4 (2015) Vol 2, No 3 (2015) Vol 2, No 2 (2015) Vol 2, No 1 (2015) Vol 1, No 4 (2014) Vol 1, No 3 (2014) Vol 1, No 2 (2014) Vol 1, No 1 (2014) More Issue