cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Majalah Kesehatan FKUB
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
This journal uses Open Journal Systems 2.4.7.1, which is open source journal management and publishing software developed, supported, and freely distributed by the Public Knowledge Project under the GNU General Public License.
Arjuna Subject : -
Articles 334 Documents
UJI SITOTOKSIK KOMBINASI CISPLATIN DENGAN EKSTRAK ETANOL BENALU ALPUKAT (Dendrophthoe pentandra (L) Miq.) PADA SEL HELA Mutiah, Roihatul; Suryadinata, Arief; Nurani, Prasasti Swara
Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.285 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.005.03.2

Abstract

Benalu alpukat (Dendrophthoe pentandra (L) Miq.) secara empiris telah digunakan sebagai obat antikanker oleh masyarakat Indonesia. Pada penelitian sebelumnya dilaporkan bahwa tanaman tersebut mengandung senyawa kuersetin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar kuersetin dalam ekstrak etanol 96% benalu alpukat dengan menggunakan HPLC (high performance liquid chomatography) dan untuk rnengetahui aktivitas sitotoksik kombinasi cisplatin dengan ekstrak etanol 96% benalu alpukat terhadap sel HeLa. Pengukuran kadar kuersetin dengan HPLC menggunakan kolom C-18 dan fase gerak metanol: air (59:41). Metode yang digunakan untuk uji sitotoksik adalah metode MTT assay. Hasil menunjukkan bahwa kadar kuersetin dalam ektsrak etanol 96% benalu alpukat adalah 0,116% b/v atau 0,029 mg/g bahan dengan waktu retensi 6,98 menit. Ekstrak benalu alpukat menunjukkan aktivitas yang lemah terhadap sel HeLa dengan nilai IC50 1.000±124,68 ppm, namun tidak menutup kemungkinan digunakan sebagai agen ko-kemoterapi dengan cisplatin. Hasil dari kombinasi yang menghasilkan efek sinergis dalam menghambat pertumbuhan sel kanker serviks HeLa adalah kombinasi 125 ppm EBA + 2,974 nM Cis, 125 ppm EBA + 5,95 nM Cis, 125 ppm EBA + 8,925 Cis nM, 250 ppm EBA + 2,97 Cis nM, 250 ppm EBA + 5,95 nM Cis, dan 375 ppm EBA + 11,90 Cis nM.  
TERAPI EKSISI PADA NEUROFIBROMA Yulian, Inneke; Widiatmoko, Arif; Retnani, Diah Prabawati
Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.635 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.005.03.7

Abstract

Neurofibroma dapat tampak sebagai nodul soliter atau dapat merupakan bagian dari neurofibromatosis atau penyakit Von Recklinghausen. Neurofibroma sering dikeluhkan karena alasan kosmetik atau adanya rasa nyeri terbakar dan gatal. Seorang laki-laki 56 tahun mengeluh benjolan di dada sebelah kiri sejak 43 tahun yang lalu. Benjolan awalnya muncul seperti jerawat yang bertambah besar secara lambat dan kadang terasa nyeri jika tersenggol baju sejak beberapa bulan terakhir. Riwayat keluarga ibu dan anak pasien terdapat benjolan yang sama. Pasien memiiki riwayat penyakit epilepsi. Pada pemeriksaan dermatologis didapatkan nodul sewarna kulit, bentuk bulat, batas tegas, diameter 3 mm-7,5 mm pada perabaan didapatkan konsistensi kenyal, mudah bergerak dan tidak terfiksasi dengan jaringan dibawahnya. Tidak didapatkan nodul lisch, freckles pada ketiak maupun tanda cafe-au lait. Pada pasien dilakukan tindakan bedah eksisi atas indikasi rasa tidak nyaman pada pasien. Pemeriksaan histopatologi jaringan hasil eksisi dengan pewarnaan HE  dan imunohistokimia S100 menunjukkan gambaran sesuai dengan suatu neurofibroma. Neurofibroma dapat tumbuh secara invasif. Pada lesi yang mengganggu secara kosmetik sering dilakukan terapi pembedahan. Modalitas terapi pembedahan untuk menghilangkan neurofibroma bergantung pada tipe, lokasi, ukuran tumor. Modalitas terapi dapat dipilih  bedah eksisi, bedah listrik maupun reseksi.  Pada kasus ini dipilih modalitas terapi bedah eksisi pada neurofibroma. Hasil terapi  setelah satu bulan menunjukkan hasil yang baik. Tidak tampak adanya gambaran skar hipertrofik 
PENINGKATAN EKSPRESI LAMININ NAMUN TIDAK VE-CADHERIN PADA SAWAR DARAH OTAK SETELAH INFEKSI Mycobacterium tuberculosis INTRAPULMONALIS Widayati, Aris; Wulandari, Laksmi; Riawan, Wibi
Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.512 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.005.03.3

Abstract

Tuberkulosis merupakan  masalah kesehatan utama di dunia. Pada tahun 2016, WHO menemukan angka kejadian TB kurang lebih 10,4 juta, dan untuk Indonesia dilaporkan sebesar 156.723 kasus. Meskipun penyebaran Mycobacterium tuberculosis di susunan saraf pusat tercatat hanya 1%, namun memiliki tingkat kecacatan dan kematian yang tinggi, sehingga menuntut adanya tatalaksana yang efektif untuk mengatasinya. VE-chaderin dan laminin merupakan protein adhesin yang berfungsi mengendalikan permeabilitas pembuluh darah dan mempertahankan integritas blood brain barrier, sehingga kedua protein adhesin tersebut dapat menjadi salah satu target terapi tuberkulosis otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek paparan M. tuberculosis secara inhalasi terhadap ekspresi laminin dan VE-chaderin pada sel endotel blood brain barrier. Penelitian ini menggunakan mencit Balb/c  (Mus musculus) yang diinfeksi oleh M.tuberculosis strain H37Rv secara inhalasi. Jaringan otak diperiksa menggunakan metode imunohistokimia dengan  antibodi mt-38, antibodi VE-chaderin dan laminin. Hasil penelitian menunjukkan adanya invasi M. tuberculosis pada  mikroglia jaringan otak mencit, diiketahui juga adanya peningkatan ekspresi laminin, sedangkan VE-chaderin tidak menunjukkan adanya perubahan. Proses masuknya M. tuberculosis ke otak diduga terjadi melalui proses diapedesis atau melalui peningkatan ekspresi laminin tanpa perubahan pada VE-chaderin dan reseptor laminin diduga sebagai tempat berikatan yang memungkinkan bakteri tersebut masuk ke jaringan otak. 
EKSPRESI β4 INTEGRIN DAN COX-2 PADA OSTEOSARKOMA STADIUM ENNEKING IIB DAN IIIB Widyanti, Sri Rejeki; Mustokoweni, Sjahjenny; Heriyawati, Heriyawati
Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 4 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.869 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.005.04.3

Abstract

Osteosarkoma adalah keganasan primer pada tulang yang paling sering ditemukan, memiliki distribusi usia bersifat bimodal dengan kecenderungan metastasis yang tinggi dan di RSUD Dr.Soetomo paling banyak ditemukan pada stadium Enneking IIB dan IIIB. Hal ini menunjukkan pentingnya faktor prognosis dalam meningkatkan angka ketahanan hidup penderita. β4 integrin dan COX-2 terkait dalam menilai prognosis suatu osteosarkoma. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan ekspresi β4 integrin dan COX-2 sebagai marker prognostik pada  osteosarkoma stadium Enneking IIB dan IIIB. Desain penelitian adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian dengan total sampling didapatkan 39 blok parafin penderita osteosarkoma stadium Enneking IIB dan IIIB di RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 1 Januari 2013 hingga 31 Desember 2017. Ekspresi β4 integrin dan COX-2 dideteksi dengan pewarnaan  imununohistokimia menggunakan antibodi monoklonal β4 integrin dan COX-2, evaluasi ekspresi  berdasarkan nilai scoring semikuantitatif. Perbedaan ekspresi β4 integrin dan COX-2 dianalisis secara  statistik dengan Mann Whitney dan hubungannya dianalisis menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan tidak didapatkan perbedaan ekspresi β4 integrin dan COX-2 terhadap osteosarkoma stadium Enneking IIB dan IIIB (p > 0,05). Tidak didapatkan hubungan ekspresi β4 integrin dan COX-2 terhadap osteosarkoma stadium Enneking IIB dan IIIB (p > 0,05). Didapatkan hubungan bermakna antara ekspresi β4 integrin dan COX-2 (p = 0,008 dan r = 0,41). Kesimpulan penelitian ini adalah tidak didapatkan perbedaan dan hubungan antara ekspresi β4 integrin serta COX-2 terhadap stadium Enneking IIB dan IIIB, sehingga  kedua protein tersebut tidak  dapat digunakan sebagai marker prognostik. 
KADAR INTERLEUKIN-4 DAN INTERLEUKIN-8 FESES NEONATUS PREMATUR YANG MENDAPAT ASI, PREDOMINAN ASI, PREDOMINAN SUSU FORMULA, DAN SUSU FORMULA Anam, Choirul; Sulistijono, Eko; Kusuma, HMS Chandra
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.546 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.01.1

Abstract

 Bayi prematur apabila usia gestasi kurang dari 37 minggu saat lahir. Strategi yang telah terbukti untuk mengurangi kejadian risiko infeksi,dan gangguan saluran pencernaan pada bayi prematur adalah konsumsi air susu ibu (ASI). Saluran cerna dipengaruhi proses regulasi sitokin proinflamasi dan antiflamasi. Hasil penelitian menunjukkan interleukin-4 dan interleukin-8 berperan pada kondisi inflamasi saluran cerna. Penelitian ini untuk membuktikan adanya perbedaan kadar interleukin 4 (IL-4) dan interleukin 8 (IL-8) pada feses neonatus prematur yang mendapatkan ASI, predominan ASI, predominan susu formula, dan susu formula (SF), serta membandingkan kadar IL-4 dan IL-8 feses yang menggunakan ASI dibandingkan predominan ASI, predominan SF, dan SF. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah bayi prematur yang dirawat di ruang Neonatologi RS. Dr. Saiful Anwar Malang selama periode Maret–April 2018,  dengan jumlah sampel 24 pasien. Hasil analisis statistik mendapatkan perbedaan yang signifikan kadar IL-4 feses (p = 0,007) dan IL-8 feses (p = 0,014) pada keempat kelompok nutrisi dengan nilai p < 0,05. Kadar IL-4 dan IL-8 feses kelompok ASI dibandingkan predominan SF dan SF didapatkan nilai p < 0,05. Dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kadar IL-4 dan kadar IL-8 feses antara kelompok bayi prematur yang mendapatkan ASI, predominan ASI, predominan SF, dan SF. Kadar IL-4 feses kelompok ASI lebih tinggi dibandingkan kelompok predominan SF dan kelompok SF, dan kadar interleukin-8 feses kelompok ASI lebih rendah dibandingkan kelompok predominan SF dan SF. 
MELASMA TIPE EPIDERMAL DITERAPI DENGAN INJEKSI ASAM TRANEKSAMAT INTRADERMAL SERIAL DAN TABIR SURYA Murlistyarini, Sinta; Hidayah, Nurul
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.751 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.01.7

Abstract

 Melasma adalah kelainan pigmentasi kronis dengan rekurensi tinggi yang sering ditemukan pada area yang terpapar matahari sehingga menimbulkan efek psikososial negatif. Asam traneksamat yang diberikan secara injeksi intradermal sebagai salah satu modalitas terapi menghasilkan depigmentasi yang signifikan. Seorang wanita usia 38 tahun dengan keluhan bercak coklat pada kedua pipi sejak 8 tahun sebelumnya. Pasien mengalami kehamilan 2 kali dan bercak muncul setelah kelahiran anak kedua. Terdapat riwayat penggunaan KB suntik bulanan selama 10 tahun. Sehari-hari pasien bekerja di dalam ruangan, tanpa mengoleskan tabir surya dan menggunakan produk yang dijual bebas. Pemeriksaan dermatologis menunjukkan tipe kulit Fitzpatrick IV. Regio zygoma dan temporal tampak makula dan patch hiperpigmentasi (coklat tua dan coklat muda), multipel, simetris, bentuk bulat sebagian irregular, batas tegas, ukuran bervariasi dengan diameter 0,5–2 cm. Lampu wood menunjukkan melasma tipe epidermal. Skor MASI 9,9. Pemeriksaan fungsi tiroid, liver  dan faal hemostasis normal. Pasien diterapi  injeksi asam traneksamat intradermal 5 mg/ml setiap 2 minggu selama 1 bulan dan tabir surya SPF33 setiap hari. Efek panas, perih, kemerahan dan bengkak setelah injeksi hilang dengan spontan. Setelah 2 kali injeksi didapatkan penurunan skor MASI sebesar 42,4%. Perkembangan melasma dapat dicetuskan oleh peningkatan vaskularisasi dan peningkatan ekspresi faktor angiogenik. Asam traneksamat menghambat aktivator plasminogen mengkonversi plasminogen menjadi plasmin, menekan produksi prostaglandin, tirosinase melanosit, VEGF, b-FGF, angiogenesis dan neovaskularisasi. Injeksi asam traneksamat intradermal memungkinkan pemberian dosis yang adekuat dan lebih rendah. 
PENGARUH PEMBERIAN PISANG AMBON (Musa accuminata Colla) TERHADAP TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI DI ATAS 45 TAHUN DI PUSKESMAS WAWOTOBI TAHUN 2017 Tina, Lymbran; Ulfianti, Risma; Yunawati, Irma
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.063 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.02.4

Abstract

Hipertensi adalah salah satu penyakit pembuluh darah yang banyak menyerang lansia yang dikenal sebagai silent killer karena sering tidak menimbulkan gejala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pemberian buah pisang ambon (Musa accuminata Colla) terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Wawotobi tahun 2017. Jenis penelitian ini adalah quasi eksperiment dengan desain pretest-posttest with control group. Jumlah subjek penelitian 30 penderita hipertensi yang memiliki tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan diastolik  ≥90 mmHg. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan dosis ±280 g buah pisang ambon selama 7 hari. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan nilai tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah perlakuan pemberian buah pisang ambon selama 7 hari pada kelompok perlakuan (p = 0,000; α = 0,05) dengan selisih penurunan tekanan darah sistolik sebesar 8,53 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 7,06 mmHg. Pada kelompok kontrol menunjukkan ada perbedaan nilai tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah perlakuan (p = 0,000; α = 0,05) dengan selisih penurunan tekanan darah sistolik sebesar 5,46 mmHg dan tekanan darah diastolik 2,13 mmHg. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian buah pisang ambon terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik penderita hipertensi. Konsumsi buah pisang khususnya pada lansia menjadi alternatif untuk pencegahan penyakit hipertensi.  
PERAN VITAMIN D3 TERHADAP EKSPRESI IL-10 DAN IL-12 PADA SEL EPITEL KOLON MENCIT MODEL INFLAMMATORY BOWEL DISEASE Naila, Centaura; Wibowo, Satrio; Barlianto, Wisnu
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1453.943 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2019.006.03.1

Abstract

Inflammatory Bowel Disease (IBD) pada anak-anak menyebabkan komplikasi meliputi gagal tumbuh dan pubertas yang terlambat, serta 60% mengalami hipovitaminosis D. Patogenesis IBD melibatkan peran interleukin 10 (IL-10) dan IL-12 dalam meregulasi proses homeostasis sistem imun dan epitel usus. Vitamin D dengan bentuk aktif vitamin D3, memiliki sifat antiinflamasi, namun peran suplementasi vitamin D3 belum diketahui. Penelitian ini untuk mengetahui peran vitamin D3 terhadap ekspresi IL-10 dan IL-12 pada sel epitel kolon mencit model IBD. Penelitian berdesain eksperimental randomized control trial, 21 sampel ekor mencit, terbagi ke dalam 3 kelompok perlakuan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakologi, Laboratorium Biokimia-Biomolekuler, dan Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, pada bulan Januari - Maret 2018. Suplementasi vitamin D3 pada sampel dilakukan setelah diinduksi dekstran 3%. Pengukuran ekspresi IL-10 dan IL-12 menggunakan teknik imunohistokimia, skor DAI (Daily Activity Index) untuk tingkat inflamasi makroskopi, dan skor MCHI (The Mouse Collitis Histology Index) untuk inflamasi berdasarkan histopatologi. Data dianalisis dengan uji ANOVA, Mann Whittney, uji beda Kruskal-Wallis dan uji T, diolah menggunakan SPSS-23. Hasil skor DAI tampak pada penurunan berat badan. Skor MCHI tertinggi tampak pada kontrol positif. Terdapat perbedaan signifikan ekspresi IL-10 antar kelompok kontrol negatif dengan kontrol positif (p = 0,038), kontrol negatif dengan perlakuan (p = 0,001), dan kontrol positif dengan perlakuan (p = 0,017). Uji Kruskal-Wallis antar kelompok berbeda signifikan, pemberian vitamin D3 meningkatkan ekspresi IL-10 (p = 0,001). Terdapat perbedaan signifikan ekspresi IL-12 antar kelompok (p = 0,000; p = 0,000; p = 0,000). Uji ANOVA antar kelompok berbeda signifikan, pemberian vitamin D3 menurunkan ekspresi IL-12 (p = 0,000). Kesimpulannya, pemberian vitamin D3 dapat meningkatkan ekspresi IL-10 dan menurunkan ekspresi IL-12 pada sel epitel kolon model mencit IBD. 
Tinjauan Literatur : DIFERENSIASI TUMOR PRIMER TULANG BELAKANG SECARA RADIOLOGIS Aurora, Habiba; Darinafitri, Irma
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (876.936 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2019.006.03.7

Abstract

Tumor pada tulang belakang yang terbanyak adalah metastasis, namun tumor primer pada tulang belakang lebih jarang didapatkan. Kesulitan dalam menegakkan diagnosis tumor primer pada tulang belakang karena pada tumor primer memiliki beberapa diagnosis banding serta struktur yang kompleks dari tulang belakang. Ketepatan diagnosis sangat penting untuk menentukan terapi dan mempengaruhi prognosis pasien. Karakteristik tumor secara radiologi sangat membantu dalam mengarahkan diagnosis. Evaluasi secara radiologis didasarkan pada lokasi, matriks tumor, dan usia pasien  Pemeriksaan radiologis meliputi radiografi , CT scan, MRI, angiografi, sidik tulang (bone scintigraphy) serta single photon emission computed tomography (SPECT) dan positron emission tomography (PET). Masing-masing modalitas memiliki kelebihan dan kekurangan dalam pemeriksaan. Karenanya penting untuk mengetahui karakteristik dari tumor pada tulang belakang dan pilihan pemeriksaan radiologis yang tepat untuk diagnosis tumor pada tulang belakang. 
Laporan Kasus : WANITA USIA 20 TAHUN DENGAN SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE) DAN HbA1c RENDAH PALSU Santoso, Jessica; Widijanti, Anik
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.112 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2019.006.04.6

Abstract

Pengukuran HbA1c memberikan informasi mengenai kadar gula pasien selama tiga bulan. Kadar HbA1c rendah palsu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti hemoglobinopati, anemia, turnover eritrosit abnormal (anemia hemolitik, perdarahan, transfusi darah, anemia defisiensi Fe). Kami melaporkan presentasi klinis pada pasien wanita yang memiliki kadar HbA1c sangat rendah (1,8%) yang diakibatkan oleh anemia hemolitik pada SLE. Seorang wanita usia 20 tahun datang dengan keluhan utama sesak napas, disertai adanya badan terasa lemas, nafsu makan menurun, dan kedua kaki bengkak. Pasien memiliki riwayat PDA (patent ductus arteriosus). Pemeriksaan fisik menunjukkan takikardia, takipnea, konjungtiva anemis, ruam malar, distensi JVP (jugular venous pressure), kardiomegali dengan murmur sistolik, ronki basal paru bilateral, dan edema tungkai bawah. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia normokrom makrositer, trombositopenia, peningkatan RDW (red cell distribution width), HbA1c 1,8%, hipoalbuminemia, alkalosis respiratorik, proteinuria dan hematuria. Tes Coombs’ positif 3, ANA dan anti-dsDNA positif. Ekokardiogram menunjukkan PDA sedang. Rendahnya kadar HbA1c diakibatkan menurunnya usia eritrosit. Namun, terlalu cepatnya turnover eritrosit seperti pada anemia hemolitik dapat menyebabkan hemoglobin tidak dapat terglikasi sehingga kadar HbA1c menjadi rendah palsu.  Disimpulkan hasil pemeriksaan HbA1c tidak akurat pada pasien dengan anemia hemolitik pada SLE. Maka, disarankan melakukan pemeriksaan gula darah puasa dan gula darah 2 jam post prandial.   

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 4 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 3 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 4 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 3 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 4 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2022): Majalah Kesehatan Vol 8, No 3 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 2 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 1 (2021): Majalah Kesehatan Vol 7, No 4 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 3 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan Vol. 6 No. 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan Vol 5, No 4 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 2 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 5, No 1 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 4, No 4 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 3 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 2 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 1 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 3, No 4 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 3 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 2 (2016) Vol 3, No 1 (2016) Vol 2, No 4 (2015) Vol 2, No 3 (2015) Vol 2, No 2 (2015) Vol 2, No 1 (2015) Vol 1, No 4 (2014) Vol 1, No 3 (2014) Vol 1, No 2 (2014) Vol 1, No 1 (2014) More Issue