cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Majalah Kesehatan FKUB
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
This journal uses Open Journal Systems 2.4.7.1, which is open source journal management and publishing software developed, supported, and freely distributed by the Public Knowledge Project under the GNU General Public License.
Arjuna Subject : -
Articles 334 Documents
KADAR INSULIN-LIKE GROWTH FACTOR-1 (IGF-1) AIR SUSU IBU DAN HUMAN BETA DEFENSIN-2 (HBD-2) FESES TERHADAP LUARAN KLINIS NEONATUS Kurniawan, Bayu; Puryatni, Anik; Sujuti, Hidayat
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.199 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.007.01.2

Abstract

Prevalensi sepsis neonatal meningkat 40% pada prematuritas, bukti klinis menunjukkan etiologi translokasi bakteri pencernaan. American Academy of Pediatrics merekomendasikan pemberian ASI pada neonatus prematur. ASI berkontribusi pada fungsi pertahanan pencernaan melalui growthfactors, antimicrobial protein and peptides,dan sitokin.Growth factors ASI yang signifikan pada maturitas usus neonatus adalahIGF-1; IGF-1menunjukkan efek protektif selama peradangan pencernaan. Diagnosis definitif infeksi pencernaan pada neonatus prematur sulit ditegakkan. Pemeriksaan dini biomarker feses yang non-invasifmenjadi prioritas, peptida yang teridentifikasi pada feses neonatus dan berhubungan dengan inflamasi adalah HBD-2. Penelitian tentang pola kadar IGF-1ASI dan HBD-2 feses neonatus sebagai biomarker inflamasi terbatas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola kadar IGF-1ASItransisi dan HBD-2feses neonatus terhadap luaran klinis neonatus. Sampel penelitian adalah 24 pasangan ibu dan neonatus yang dikumpulkan pada Bulan Juni-Agustus 2019di ruang neonatologi RSSA Malang. Sampel dikelompokkan menjadi 4 kelompok berdasarkan usia kehamilannya. Karakteristik pasangan ibu-neonatus dan luaran klinis neonatus dikumpulkan. Kadar IGF-1ASItransisi dan HBD-2 feses diukur dengan metode ELISA dan kemudian dilakukan analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan bermakna meankadar IGF-1ASI transisi dan HBD-2 feses dari tiap kelompok (p<0,05); kadar IGF-1 ASI transisi berbanding lurus dengan usia kehamilan (r=0,611) dan sebaliknya kadar HBD-2 feses (r=-0,725) (p<0,05).Terdapat perbedaan kadar HBD-2 feses yang bermakna pada luaran klinis patologis neonatus (feeding intolerance, enterokolitis nekrotikan, dan penggunaan ventilasi mekanik) (p<0,05).Disimpulkan bahwa prematuritas menunjukkan kadar IGF-1 ASI transisi yang rendah dan peningkatan kadar HBD-2 feses, sehingga meningkatkan risiko infeksi saluran pencernaan.  
Tinjauan Literatur : PERAN ASPEK KLINIKOPATOLOGI, IMUNOFENOTIP, DAN ANALISIS KLONALITAS UNTUK MENEGAKKAN DIAGNOSIS MYCOSIS FUNGOIDES Retnani, Diah Prabawati
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.007.01.7

Abstract

Mycosis fungoides (MF) adalah prototipe dari cutaneous T-cell lymphoma (CTCL) yang bersifat   indolen, dengan evolusi klinis yang lambat berupa bercak, plak dan tumor. Diagnosis  MF pada stadium dini merupakan tantangan yang cukup berat bagi ahli patologi karena spesimen kulit yang diperiksa sering tidak adekuat, tidak khas dan dapat menyerupai dermatitis kronis yang resisten terhadap terapi. Diagnosis MF yang akurat memerlukan korelasi klinikopatologi yang seksama karena setiap stadium MF memiliki diagnosis banding yang berbeda baik secara klinis maupun histopatologi. Pengambilan spesimen jaringan pada lesi awal melalui  biopsi terbuka (biopsi plong maupun insisional) harus mempertimbangkan waktu dan lokasi yang tepat. Aspek karakteristik klinikopatologi, imunofenotip dan pemeriksaan analisis klonalitas diharapkan dapat membantu diagnosis dengan mengurangi kemungkinan terjadinya overdiagnosis maupun underdiagnosis. 
MUTATION RATE PADA Isolat Escherichia coli PENGHASIL EXTENDED SPECTRUM BETA LACTAMASE dari PASIEN RAWAT INAP RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA bramanthi, Rendra
Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 4 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.31 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.005.04.4

Abstract

 Pada awal 1980 enzim extended spectrum betalactamase (ESBL) mulai ditemukan pada beberapa galur E. coli, salah satu karena penggunaan antibiotik spektrum luas yang kurang tepat. Mutation rate adalah nilai rata-rata peluang mutasi pada tiap pembelahan sel yang berhubungan dengan peluang mutasi  selama bakteri tersebut hidup. Adanya mutation rate pada E. coli menunjukan bahwa bakteri tersebut dapat beradaptasi dengan baik terhadap tekanan, dan hal ini menjadi masalah dalam terapi pada pasien dengan ISK. Pada penelitian ini dilakukan analisis nilai mutation rate dari E. coli penghasil ESBL sebagai penyebab infeksi saluran kemih (ISK) yang berasal dari sampel urin pasien rawat inap di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, serta untuk mengetahui pola mutasinya. Bakteri E. coli penghasil ESBL dikultur pada dua puluh medium Muller Hinton agar (MHA) yang mengandung 100 mg rifampisin. Nilai mutation rate didapat dari perbandingan koloni resisten terhadap rifampisin dibagi jumlah koloni yang tumbuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50% sampel adalah strong hypermutable dan sisanya sebanyak 50% adalah weakly hypermutable . Jadi, dapat disimpulkan bahwa bakteri E. coli penghasil ESBL telah bermutasi agar dapat beradaptasi pada tekanan seleksi selama proses evolusinya. 
HUBUNGAN ANTARA STATUS INVASI MIOMETRIUM DENGAN EKSPRESI CLAUDIN-4 DAN MATRIX METALLOPROTEINASE-2 PADA KARSINOMA ENDOMETRIOID ENDOMETRIUM Lestari, Neviana Fitri; Joewarini, Endang; Rahniayu, Alphania
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.838 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.01.2

Abstract

  Karsinoma endometrium merupakan keganasan terbanyak kelima pada organ reproduksi wanita dengan jenis subtipe terbanyak adalah tipe endometrioid. Salah satu parameter penentuan stadium adalah kedalaman invasi miometrium yang menentukan peningkatan agresifitas dan progresifitas tumor yang berhubungan dengan luas tindakan operasi. Protein claudin-4 dan matrix metalloproteinase-2 (MMP-2) adalah protein penentu dalam invasi karsinoma. Penelitian ini bertujuan mengungkap peran claudin-4 dan MMP-2 dalam invasi myometrium karsinoma endometrioid endometrium. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional menggunakan sampel 44 blok parafin sampel karsinoma endometrioid endometrium di RSUD Dr. Soetomo periode 1 Januari-31 Desember 2017. Sampel dibagi menjadi kelompok status invasi kurang dan lebih dari separuh tebal miometrium. Pulasan imununohistokimia menggunakan antibodi monoklonal claudin-4 dan MMP-2, ekspresi dinilai berdasarkan nilai scoring semikuantitatif. Hubungan berbagai variabel dianalisis menggunakan tes korelasi Spearman rho. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang bermakna antara status invasi miometrium dengan ekspresi claudin-4 (p = 0,005). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara status invasi miometrium dengan ekspresi MMP-2 (p = 0,549). Didapatkan hubungan yang bermakna antara ekspresi claudin-4 dengan ekspresi MMP-2 (p = 0,001). Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekspresi claudin-4 berhubungan dengan status invasi miometrium karsinoma endometrioid endometrium, ekspresi MMP-2 tidak berhubungan dengan status invasi miometrium karsinoma endometrioid endometrium serta terdapat hubungan bermakna antara ekspresi claudin-4 dan MMP-2 pada karsinoma endometrioid endometrium.
PERAN EKSPRESI p53 DAN SURVIVIN TERHADAP HEMOGLOBIN, LEUKOSIT, DAN TROMBOSIT PADA LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT ANAK YANG MENDAPATKAN KEMOTERAPI Wairo, Candy Maharani; Nugroho, Susanto; Suyuti, Hidayat
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.737 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.01.3

Abstract

 Leukemia limfoblastik akut (LLA) merupakan jenis leukemia paling sering ditemukan (97%) dan menjadi penyebab kematian anak. Terapi sitostatika dapat mengakibatkan kerusakan DNA yang memicu apoptosis dengan cara menstimulasi p53 sebagai proapoptosis, menghambat survivin sebagai antiapoptosis yang berperan dalam perbaikan kadar hemoglobin, jumlah leukosit dan trombosit. Penelitian ini ingin mengungkap peran  ekspresi p53 dan survivin terhadap kadar hemoglobin, leukosit, trombosit pada LLA anak yang mendapat kemoterapi. Studi kohort prospektif dilakukan di ruang rawat inap anak RS. Dr. Saiful Anwar Malang, pada bulan April-Juni 2018. Populasi penderita LLA berdasarkan analisis morfologi darah perifer dan aspirasi bone marrow.  Deteksi  ekspresi p53 dan survivinn menggunakan metode flow cytometry. Analisis statistik menunjukkan  ekspresi p53 meningkat (p = 0,003), ekspresi survivin menurun (p = 0,000), hemoglobin (p = 0,039), leukosit (p = 0,000), trombosit (p = 0,023) meningkat. Setelah dilakukan kemoterapi, didapatkan hubungan ekspresi p53 dengan hemoglobin (p = 0,873), leukosit (p = 0,212), dan trombosit (p = 0,670) tidak signifikan. Hubungan ekspresi survivin dengan hemoglobin (p = 0,682), leukosit (p = 0,907), trombosit (p = 0,936) setelah dilakukan kemoterapi tidak signifikan. Hubungan p53 dan survivin pada pasien LLA anak sebelum kemoterapi (p = 0,005)   signifikan, namun sesudah kemoterapi (p = 0,467) tidak signifikan. Dapat disimpulkan bahwa kemoterapi meningkatkan ekspresi p53, menurunkan ekspresi survivin, dan meningkatkan kadar hemoglobin, leukosit, trombosit. Ada hubungan yang tidak signifikan antara p53 dan survivin terhadap kadar hemoglobin, leukosit, trombosit, sebelum dan sesudah kemoterapi. Didapatkan hubungan signifikan antara p53 dan survivin sebelum kemoterapi, namun tidak signifikan sesudah kemoterapi. 
HUBUNGAN ANTARA PARAMETER KLINIS DAN LABORATORIS DENGAN STATUS REMISI PENYAKIT PADA PASIEN ARTRITIS REUMATOID YANG MENDAPAT TERAPI METOTREKSAT Putra Suryana, Bagus Putu; Sari, Retty Kharisma; Tamayanti, Wahyu Dewi; Hasanah, Dian
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.49 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.02.5

Abstract

Artritis reumatoid (AR) adalah penyakit autoimun yang etiologinya belum diketahui. Metotreksat adalah DMARD (disease-modifying antirheumatic drug) yang paling sering digunakan pada AR, namun respons  terhadap metotreksat bervariasi di antara populasi. Data mengenai faktor klinis dan laboratoris yang berhubungan dengan remisi pada AR yang diterapi dengan metotreksat masih tidak konsisten. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui faktor-faktor klinis dan laboratoris yang berhubungan dengan remisi pada pasien AR yang mendapat terapi metotreksat. Data diperoleh dari pasien AR yang memenuhi kriteria ACR-EULAR 2010 dengan desain penelitian observasional dan pendekatan potong lintang. Data meliputi jenis kelamin, usia onset penyakit, durasi penyakit, indeks masa tubuh (IMT), tender joint count (TJC), swollen joint count (SJC), visual analog scale (VAS) nyeri, disease activity score (DAS)-28 awal, laju endap darah (LED), anti-cyclic citrullinated protein (CCP), dan rheumatoid factor (RF). Variabel dianalisis secara statistik dengan uji chi square dilanjutkan regresi logistik multipel. Penelitian ini melibatkan 88 pasien AR, terdiri dari 85,2% wanita (n = 75) dan 14,8% pria (n = 13), rerata usia 54,78±11,34. Proporsi remisi pasien adalah 26,1%. Dari analisis bivariat dengan uji chi square didapatkan variabel yang berhubungan bermakna terhadap remisi, yaitu usia onset (p = 0,037), VAS nyeri (p = 0,030) dan LED (p = 0,038). Dapat disimpulkan bahwa usia onset, VAS nyeri, dan LED  berhubungan bermakna dengan remisi penyakit pasien AR yang diterapi dengan metotreksat.   
PENGARUH Nigella sativa TERHADAP JUMLAH NEUTROFIL DAN PERBAIKAN SCORING ASTHMA CONTROL TEST PADA ANAK ASMA Detriana, Vivin; Barlianto, Wisnu; Kusuma, HMS Chandra
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.687 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.03.2

Abstract

Asma merupakan gangguan inflamasi kronik saluran napas. Sebagian besar kasus asma dipengaruhi oleh peningkatan neutrofil jalan nafas. Penderita asma yang tidak terkontrol memberikan dampak negatif. Alat atau metode tervalidasi untuk menilai kontrol klinis asma yaitu Asthma Control Test/ACT. Saat ini berkembang pengobatan asma dengan menggunakan immunomodulator Nigella sativa (NS). Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh pemberian NS terhadap jumlah neutrofil dan scoring ACT pada kelompok anak asma ringan sedang. Penelitian ini berjenis eksperimental, clinical trial, pre-post control study untuk scoring asma. Populasi penelitian adalah semua anak yang didiagnosis asma ringan dan sedang yang memenuhi kriteria, di Poli Respirologi Anak dan Alergi Imunologi Anak RS. Dr. Saiful Anwar Malang selama periode Januari-September 2016, jumlah sampel 28 pasien yang dibagi menjadi kelompok A (asma ringan+NS), B (asma sedang+NS), C (kontrol asma ringan), D (kontrol asma sedang), masing-masimg kelompok di-lakukan pemeriksaan darah lengkap dan peilaian skor ACT pre-post selang 8 minggu. Berdasarkan hasil analisis statistik didapatkan penurunan yang tidak signifikan jumlah neutrofil setelah perlakuan pada kelompok A (asma ringan dengan pemberian NS) (p = 0,359), didapatkan peningkatan signifikan skor ACT setelah perlakuan pada semua kelompok, dan didapatkan korelasi negatif signifikan antara jumlah neutrofil dan skor ACT pada kelompok asma sedang sebelum perlakuan (p = 0,015). Kesimpulannya, pemberian Nigella sativa pada anak asma ringan dan sedang, tidak dapat menurunkan neutrofil. Pemberian Nigella sativa pada anak asma ringan dan sedang dapat meningkatkan skor ACT. Tidak terdapat hubungan antara penurunan neutrofil dan peningkatan skor ACT setelah pemberian Nigella sativa pada anak asma ringan dan sedang.
PERBEDAAN FUNGSI KOGNITIF DAN KORTISOL PADA RESIDEN KEDOKTERAN EMERGENSI DENGAN POLA KERJA SIF Nagara, Aurick Yudha; Triyuliarto, Dwiwardoyo; Alamsyah, Arief
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.311 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2019.006.03.4

Abstract

Kerja sif yang dilakukan pada malam hari atau dengan sistem kerja yang berubah-ubah dapat mengganggu fungsi kognitif dan irama sirkadian. Dokter yang menjalani kerja sif lebih dari 24 jam memiliki risiko lebih tinggi melakukan kesalahan medis akibat penurunan fungsi kognitif. Irama sikardian dapat diketahui dari pola sekresi kortisol. Untuk mengetahui perbedaan pola kerja sif dengan gangguan fungsi kognitif dan kadar kortisol saliva pada residen Kedokteran  Emergensi, maka dilakukan penelitian di IGD RSUD Dr. Saiful Anwar Malang pada kurun waktu Juni hingga Juli 2016. Desain penelitian adalah observasional dengan pendekatan potong lintang. Sebanyak tiga puluh residen Kedokteran Emergensi memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kerja sif 12 jam dan kerja sif lebih dari 24 jam. Skala MoCA-Ina digunakan untuk menilai gangguan fungsi kognitif. Cortisol Awakening Response (CAR), total kortisol dan laju penuruan kortisol saliva digunakan untuk mengetahui pola sekresi kortisol. Uji T tidak berpasangan dan Uji Mann Whitney digunakan untuk membedakan kedua kelompok. Didapatkan hasil berupa perbedaan bermakna nilai MoCA-INA antara kelompok kerja sif 12 jam dan kerja sif lebih dari 24 jam ((26,87±1,69 vs 24,20±1,61, p = 0,00, IK = 2,67 (1,43–3,90)). Perbedaan bermakna CAR pada kelompok kerja sif 12 jam dan kerja sif labih dari 24 jam ((14,36 (9,88–30,42) vs 5,58 (1,12–11,15), p = 0,00)). Maka, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara pola kerja sif dengan fungsi kognitif dan kadar kortisol. Kerja sif lebih dari 24 jam dapat menyebabkan gangguan fungsi kognitif dan kadar CAR yang rendah.  
Tinjauan Literatur :PERBANDINGAN qSOFA DAN SIRS DALAM MENGIDENTIFIKASI PASIEN DENGAN SEPSIS DAN MEMPREDIKSI MORTALITASNYA: REVIEW ARTIKEL Sari, Efris Kartika
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.73 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2019.006.04.7

Abstract

Sepsis merupakan penyebab utama kondisi sakit kritis dan mortalitas di dunia. Kondisi sepsis membutuhkan identifikasi segera karena penundaan identifikasi sepsis dapat berakibat pada peningkatan angka mortalitas pasien. Review artikel ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan qSOFA dan SIRS dalam mengidentifikasi pasien dengan sepsis dan memprediksi mortalitasnya. Artikel didapatkan melalui pencarian menggunakan online database yaitu PubMed dengan menggunakan kata kunci qSOFA, SIRS, sepsis. Hasil pencarian mengidentifikasi hasil yang relevan dengan kata kunci sejumlah 35 artikel, kemudian dipilih 9 artikel untuk dikaji. Hasilnya terdapat satu studi pada 886 pasien yang menyatakan bahwa qSOFA dan SIRS belum optimal dalam mengidentifikasi sepsis. Terdapat dua studi dengan jumlah total 3.542 pasien yang menyatakan bahwa kriteria SIRS lebih baik dalam mengidentifikasi sepsis dan memprediksi mortalitas pasien. Selanjutnya, terdapat enam studi dengan jumlah total 167.172 pasien yang menyatakan keunggulan qSOFA dibandingkan dengan SIRS dalam mengidentifikasi sepsis dan memprediksi mortalitas pasien. Skor qSOFA lebih unggul dari kriteria SIRS dalam mengidentifikasi pasien sepsis dengan disfungsi organ yang berisiko tinggi mengalami kematian, sedangkan kriteria SIRS lebih unggul dari skor qSOFA dalam mengidentifikasi pasien sepsis yang belum mengalami disfungsi organ dan berisiko rendah mengalami kematian.   
KADAR SECRETORY IMMUNOGLOBULIN A DAN HUMAN ß DEFENSIN-2 TINJA PADA NEONATUS PREMATUR YANG MENDAPAT AIR SUSU IBU SAJA, SUSU FORMULA SAJA, DAN KOMBINASINYA Primawardani, Putri; Sulistijono, Eko; Sujuti, Hidayat
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.408 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.007.01.3

Abstract

Sekretori IgA dan human ß-defensin-2 berperan penting dalam pertahanan saluran cerna. Penelitian ini bertujuan menilai SIgA dan hBD-2 tinja neonatus prematur (sebagai penanda inflamasi) terkait pemberian nutrisi. Penelitian dirancang secara cross sectional dengan 39 neonatus prematur yang dibedakan menjadi kelompok ASI saja, susu formula saja, serta kombinasinya. Kadar SIgA dan hBD-2 tinja diukur dengan   ELISA, dan dianalisis secara statistik. Kadar SIgA tinja neonatus prematur yang mengonsumsi ASI saja lebih tinggi bermakna (p < 0,005). Kadar hBD-2 pada kelompok yang mengonsumsi susu formula saja lebih tinggi namun tidak berbeda bermakna (p = 0,463) dengan kelompok kombinasi. Kesimpulan penelitian ini, kadar sIgA tinja neonatus yang mengonsumsi ASI saja lebih tinggi bermakna. Kadar human ß-defensin-2 tinja neonatus prematur yang mengonsumsi susu formula saja lebih tinggi, namun tidak berbeda bermakna dengan kelompok kombinasi.

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 4 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 3 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 4 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 3 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 4 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2022): Majalah Kesehatan Vol 8, No 3 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 2 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 1 (2021): Majalah Kesehatan Vol 7, No 4 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 3 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan Vol. 6 No. 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan Vol 5, No 4 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 2 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 5, No 1 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 4, No 4 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 3 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 2 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 1 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 3, No 4 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 3 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 2 (2016) Vol 3, No 1 (2016) Vol 2, No 4 (2015) Vol 2, No 3 (2015) Vol 2, No 2 (2015) Vol 2, No 1 (2015) Vol 1, No 4 (2014) Vol 1, No 3 (2014) Vol 1, No 2 (2014) Vol 1, No 1 (2014) More Issue