cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Majalah Kesehatan FKUB
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
This journal uses Open Journal Systems 2.4.7.1, which is open source journal management and publishing software developed, supported, and freely distributed by the Public Knowledge Project under the GNU General Public License.
Arjuna Subject : -
Articles 334 Documents
MEDIASTINAL GRAY ZONE LYMPHOMA DENGAN GAMBARAN HISTOPATOLOGI MIRIP HODGKIN LYMPHOMA Retnani, Diah Prabawati; Norahmawati, Eviana
Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 4 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.194 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.005.04.7

Abstract

 Mediastinalgray zone lymphoma (MGZL) adalah limfoma sel B yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai Hodgkin lymphoma (HL) maupun Non Hodgkin lymphoma (NHL).  MGZL dapat terdiagnosis sebagai Nodular sclerosis classical Hodgkin lymphoma (NSCHL) karena kemiripan gambaran histopatologiknya. Untuk menegakkan diagnosis yang akurat diperlukan pemeriksaan imunohistokimia (IHK). Seorang wanita muda dengan keluhan massa di supraklavikula disertai nyeri dada, batuk dan demam menjalani serangkaian pemeriksaan di Laboratorium Patologi Anatomi RS Saiful Anwar Malang. Hasil CT-scan toraks mendeteksi adanya massa mediastinum anterosuperior dengan efusi pleura bilateral. Pasien menjalani reseksi kedua massa tersebut dan hasil pemeriksaan histopatologik menunjukkan gambaran fibrous band tebal, sel Lakunar-like berlatar belakang sel radang mendukung diagnosis NSCHL. Hasil pemeriksaan IHK menunjukkan CD20 dan CD30 positif kuat sehingga pasien didiagnosis sebagai MGZL. Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa pada pasien dewasa muda dengan tumor mediastinum dan supraklavikula yang menunjukkan gambaran klinis dan histopatologi NSCHL-like perlu dipertimbangkan adanya diagnosis MGZL . 
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA DENGAN TINGKAT KECACATAN PADA PENDERITA KUSTA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. SAIFUL ANWAR MALANG Widasmara, DheIya; Maharani, Iriana; ApriIia, Nanin
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.988 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.01.6

Abstract

Perawatan dan dukungan untuk menurunkan tingkat kecacatan pada penderita kusta memerlukan partisipasi anggota keIuarga. KeIuarga yang memiIiki pengetahuan baik dan sikap yang tepat mengenai penyakit kusta dapat menurunkan tingkat kecacatan pada penderita kusta.  Kota MaIang masih menjadi penyumbang jumIah penderita kusta di Jawa Timur dengan jumlah penderita kusta tertinggi di Indonesia. Tujuan peneIitian ini adaIah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap keIuarga dengan tingkat kecacatan penderita kusta di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. SaifuI Anwar MaIang pada buIan Mei sampai JuIi tahun 2017. Tingkat kecacatan diukur menggunakan kriteria WHO yaitu grade 0, grade 1,dan grade 2. Pengetahuan dan sikap keIuarga diukur menggunakan kuesioner yang diberikan bersamaan dengan observasi tingkat kecacatan. PeneIitian diIaksanakan di wiIayah kerja RS. Dr. Saiful Anwar dengan metode cross sectionaI. JumIah subjek peneIitian adaIah 19 orang dengan teknik totaI sampIing. AnaIisis data pada peneIitian ini menggunakan uji chi-square. HasiI peneIitian menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap  keIuarga memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kecacatan penderita kusta di RS. Dr. Saiful Anwar MaIang (masing-masing p = 0,010, OR = 8,1 dan p = 0,017, OR = 7,3). Dapat disimpuIkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap keIuarga dengan tingkat kecacatan pada penderita kusta di RS. Dr. Saiful Anwar MaIang.  
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN D3 TERHADAP KADAR OSTEOKALSIN, 25(OH)D DAN DURASI SAKIT PADA DIABETES MELLITUS TIPE 1 PADA ANAK Setia, Daendy Nova; Tjahjono, Harjoedi Adji
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.505 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.02.3

Abstract

Diabetes mellitus tipe 1 (DM tipe 1) adalah salah satu penyakit kronik yang sampai saat ini belum dapat disembuhkan. Anak dan remaja dengan T1D (type 1 diabetes) mempunyai risiko osteoporosis dan komplikasi jangka panjang lainnya lebih tinggi daripada anak dan remaja nondiabetik. Kadar 25(OH)D ditemukan lebih rendah pada anak dengan DM tipe 1. Penelitian ini ingin membuktikan bahwa suplementasi vitamin D3 pada anak dengan DM tipe 1 dapat meningkatkan kadar 25(OH)D dan osteokalsin, serta ingin mengetahui hubungan antara durasi sakit terhadap kadar osteokalsin dan 25(OH)D serum. Desain penelitian ini adalah double-blinded randomized controlled trial suplementasi vitamin D3 pada anak dengan DM tipe 1. Sebanyak 26 pasien rawat jalan dengan DM tipe 1 berusia 1-18 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini. Pasien kemudian dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, sedangkan durasi sakit dibagi menjadi 2, yaitu kurang dan lebih dari lima tahun. Pasien diberikan vitamin D3 2000 IU tiap hari selama 6 bulan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa kadar osteokalsin pada kelompok perlakuan lebih tiggi namun tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol (p=0,663). Namun, kadar 25(OH)D pada kelompok perlakukan lebih tinggi secara signifikan dibanding dengan kelompok kontrol (p=0,000). Tidak ada korelasi antara durasi penyakit, baik dengan kadar osteokalsin maupun kadar 25(OH)D (p=0,955 dan p=0,203 secara berurutan). Pemberian vitamin D3 selama 6 bulan pada anak dengan DM tipe 1 dapat meningkatkan kadar osteokalsin dan 25(OH)D serum. Durasi penyakit tidak berhubungan dengan kadar osteokalsin dan 25(OH)D setelah suplementasi vitamin D3 selama 6 bulan. 
Laporan Kasus : EKSISI ELLIPS NEVUS MELANOSITIK INTRADERMAL PADA AREA WAJAH: SERIAL KASUS Boco Pranowo, Tri Pradesa; Widiatmoko, Arif; Retnani, Diah Prabawati
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.668 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.02.8

Abstract

Nevus melanositik intradermal merupakan varian nevus melanositik yang paling umum. Metode terbaik untuk terapinya adalah tindakan eksisi ellips. Bekas luka pasca operasi eksisi nevus memerlukan perhatian ekstra terutama pada area wajah karena pasien mengharapkan bekas luka yang minimal. Eksisi elips diorientasikan searah dengan relaxed skin tension line (RSTL) untuk mencapai hasil kosmetik yang optimal. Kasus pertama melaporkan seorang perempuan 23 tahun dengan tahi lalat di area dagu yang membesar mulai 15 tahun yang lalu. Keluhan gatal, nyeri, mudah berdarah pada tahi lalat disangkal. Pemeriksaan dermatologis pada regio mentalis didapatkan nodul hiperpigmentasi, soliter, oval, diameter ±6 mm, batas tegas, homogen, permukaan mengkilat dengan terdapat rambut, pada palpasi teraba keras dan solid. Kasus kedua melaporkan seorang perempuan 33 tahun dengan beberapa tahi lalat berwarna kehitaman di area hidung yang membesar sejak 27 tahun yang lalu. Keluhan gatal, nyeri, dan mudah berdarah pada tahi lalat disangkal. Pemeriksaan dermatologis pada regio nasal didapatkan papul hiperpigmentasi, multipel, solid, bulat, diameter ±2-4 mm, batas tegas, homogen, pada palpasi teraba kenyal. Histopatologis kedua kasus menunjukkan nevus intradermal. Pengangkatan nevus pada kedua kasus dengan bedah eksisi ellips pada  pasien diikuti sampai 1 tahun pertama pasca operasi, dan didapatkan bekas luka yang minimal. Dapat disimpulkan bahwa pengangkatan nevus melanositik intradermal dengan bedah eksisi ellips merupakan salah satu modalitas terapi terbaik dalam pemeriksaan histopatologis untuk penegakan diagnosis. Pencegahan pembentukan bekas luka pasca operasi dapat diminimalisir dengan memperhatikan teknik  eksisi, relaxed tension skin line, tehnik undermining, penjahitan, dan perawatan luka. 
Laporan Kasus : PSEUDOHYPERKALEMIA DAN PSEUDOHYPOKALEMIA AKIBAT HIPERLEUKOSITOSIS YANG EKSTRIM PADA KEGANASAN HEMATOLOGI Hanggara, Dian Sukma; Indrawati, Yeti
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1198.653 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2019.006.03.6

Abstract

Pseudohyperkalemia dan pseudohypokalemia mengacu pada peningkatan ataupun penurunan kadar kalium serum yang tidak sesuai dengan kondisi sistemik pasien yang sebenarnya. Ketika klinisi dihadapkan pada kasus-kasus hiperkalemia atau hipokalemia, pertanyaan pertama yang seharusnya muncul adalah apakah hasil tersebut sesuai dengan kondisi klinis pasien. Beberapa faktor dapat menyebabkan timbulnya pseudohyperkalemia ataupun pseudohypokalemia, di antaranya adalah hiperleukositosis yang sering muncul pada kasus-kasus keganasan hematologi. Hiperleukositosis sangat berpengaruh pada hasil pemeriksaan laboratorium seperti kalium, fosfat, dan tekanan oksigen arterial. Kami menyajikan dua kasus dengan hasil kalium serum yang palsu pada pasien leukemia myeloid dengan jumlah leukosit yang sangat tinggi. Satu sampel pemeriksaan darah awal dari satu pasien menunjukkan hipokalemia dan pasien lainnya menunjukkan hiperkalemia tanpa keluhan yang sesuai. Sampel darah berikutnya yang diambil dari pasien pertama segera diperiksa setelah dilakukan sentrifugasi, yang memperlihatkan hasil elektrolit yang normal. Ketidaksesuaian dari hasil laboratorium ini kemungkinan disebabkan oleh aktivitas metabolisme leukosit secara in vitro pada kasus-kasus hiperleukositosis. Hasil laboratorium yang tidak sesuai ini dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang salah baik dalam hal penegakan diagnosis dan pemberian terapi. Penemuan mengenai ketidaksesuaian hasil elektrolit dengan kondisi klinis pasien pada keganasan hematologi yang disertai dengan hiperleukositosis dapat mencegah intervensi terapeutik yang tidak tepat. Ke-simpulannya, hiperleukositosis dapat menyebabkan pseudohyperkalemia dan pseudohypokalemia yang dapat dicegah dengan pengambilan sampel yang benar dan analisis serum atau plasma dengan segera setelah proses sentrifugasi. 
PENGARUH BIMBINGAN TEKNIK MENYUSUI TERHADAP SIKAP IBU HAMIL TRIMESTER III DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF Alifariki, La Ode; Hajri, Wa Ode Syahrani
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.653 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2019.006.04.5

Abstract

Posisi dan cara menyusui yang benar sangat penting dalam pemberian ASI, seorang ibu dan bayi pertamanya mungkin mengalami berbagai masalah hanya karena tidak mengetahui posisi dan cara menyusui yang benar misalnya cara menaruh bayi pada payudara ketika menyusui, isapan bayi yang mengakibatkan putting susu terasa nyeri, dan masih banyak masalah lainnya. Oleh karena itu, seorang ibu memerlukan seseorang yang dapat membimbingnya dalam merawat bayi termasuk dalam menyusui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bimbingan teknik menyusui yang benar terhadap sikap ibu hamil trimester III dalam pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini menggunakan metode quasy-experiment  dengan one-group pre-test post-test desain dan dilaksanakan pada bulan Agustus 2019 di Puskesmas Poasia Kota Kendari. Populasi penelitian adalah semua ibu hamil trimester III sebanyak 320 orang. Adapun jumlah sampel sebanyak 32 responden dengan kriteria umur kehamilan 28 minggu atau lebih dan ibu hamil yang hadir pada saat pelaksanaan Posyandu. Analisis data menggunakan uji t dependen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum bimbingan teknik menyusui dalam pemberian ASI eksklusif didapatkan nilai rerata sikap ibu sebesar 56,92. Sesudah bimbingan teknik menyusui dalam pemberian ASI ekslusif didapatkan rerata nilai sikap ibu sebesar 65,19. Hasil analisis t-test berpasangan menunjukkan adanya pengaruh bimbingan teknik menyusui yang benar terhadap sikap ibu hamil trimester III dalam pemberian ASI eksklusif dengan p = 0,024 (p < 0,05). Jadi, dapat disimpulkan bahwa bimbingan teknik menyusui berpengaruh terhadap sikap ibu hamil dalam pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Poasia.   
EKSPRESI BCL-2 PADA NEOPLASMA EPITELIAL OVARIUM JINAK, BORDERLINE, DAN GANAS SERTA KORELASINYA DENGAN DERAJAT HISTOPATOLOGIK Dewi, Rose Khasana; Hardika, Arif Satria; Retnani, Diah Prabawati; Rasyid, Harun Al
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.012 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.007.01.1

Abstract

Neoplasma epitelial ovarium diklasifikasikan menjadi 3 kategori yaitu jinak, borderline, dan ganas. Neoplasma ganas ovarium termasuk dalam sepuluh besar penyebab kematian tersering akibat kanker pada perempuan di dunia. Penentuan kategori neoplasma ovarium kadang masih menjadi masalah karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk proliferasi dan apoptosis sel serta invasi stroma. Bcl-2 (B-cell lymphoma 2) merupakan salah satu protein prosurvival yang berfungsi sebagai antiapoptosis dan cukup berperan dalam perkembangan neoplasma. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan eks-presi Bcl-2 pada neoplasma epitelial ovarium jinak, borderline, ganas serta untuk mengungkap hubungan ekspresi Bcl-2 dengan derajat histopatologik pada neoplasma ganas. Penelitian ini merupakan penelitian analitik cross-sectional. Sampel penelitian berupa 35 blok parafin kasus neoplasma ovarium serosum dan musinosum (13 jinak, 8 borderline, 14 ganas) di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang periode 2016-2017. Kelompok neoplasma ganas terdiri dari masing-masing 5 kasus derajat 1 dan 3 (35,7%) serta 4 kasus derajat 2 (28,6%). Perbedaan ekspresi pulasan imunohistokimia Bcl-2 antara neoplasma jinak, borderline, dan ganas dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis, sedangkan korelasinya dengan derajat histopatologik dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan ekspresi Bcl-2 tidak berbeda signifikan antara neoplasma jinak, borderline, dan ganas (p = 0,159). Bcl-2 pada neoplasma ganas menunjukkan eks-presi yang semakin rendah dengan meningkatnya derajat histopatologik (p = 0,021 dan r = -0,608). Ke-simpulannya, tidak terdapat perbedaan ekspresi Bcl-2 yang signifikan antara neoplasma epitelial ovarium jinak, borderline, dan ganas. Ekspresi Bcl-2 berkorelasi negatif yang kuat dengan derajat histopatologik pada neoplasma ganas. 
Laporan Kasus : PERAWATAN GAGAL NAPAS AKUT AKIBAT PNEUMONITIS LUPUS DI UNIT PERAWATAN INTENSIF DENGAN FASILITAS TERBATAS Hanif, Hanif; Semedi, Bambang Pujo; Utariani, Arie
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.088 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.007.01.6

Abstract

Pneumonitis lupus, salah satu manifestasi klinis SLE, dapat mengalami perburukan hingga menjadi gagal napas. Penanganan yang tepat diperlukan, meskipun dengan fasilitas terbatas. Mendiskusikan pengalaman klinis dalam menangani pasien dengan gagal napas akut di unit perawatan intensif (ICU) dengan keterbatasan fasilitas. Wanita 23 tahun dirawat di ICU dengan gagal napas akut yang dicurigai akibat pneumonitis lupus. Pemeriksaan laboratorium untuk mengkonfirmasi diagnosis tidak tersedia. Keputusan untuk mempertahankan pasien dengan bantuan ventilator atau ekstubasi dibuat berdasarkan parameter klinis saja. Pada awalnya, kemajuan terapi cukup menjanjikan. Pasien dapat bernapas spontan untuk beberapa hari, sebelum kemudian perlu di intubasi ulang akibat flare lupus kedua. Kondisi klinis pasien memburuk dengan cepat dan akhirnya pasien meninggal.  Meskiput banyak keterbatasan di ICU, penilaian klinis dan evaluasi ketat sangat diperlukan sebagai dasar pengambilan keputusan penting seperti kapan harus memulai dan menghentikan bantuan ventilator.
Tinjauan Literatur : EFEK ASTAXANTHIN PADA ANGIOGENESIS DAN JARINGAN GRANULASI LUKA BAKAR Ekasari, Dhany Prafita; Nugraha, Rizki Hapsari
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.361 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.07.02.8

Abstract

Penyembuhan luka adalah proses yang kompleks dan dinamis. Luka bakar merupakan jenis luka yang unik karena memerlukan interaksi antara sel dan jaringan yang berbeda dengan berbagai sinyal intraseluler dan ekstraseluler. Luka bakar menghasilkan radikal bebas yang lebih tinggi dibanding luka lain. Konsentrasi radikal bebas yang rendah diperlukan untuk memulai proses perbaikan normal. Dalam proses ini, angiogenesis sangat penting untuk penyembuhan luka bakar. Sinyal radikal bebas mengatur pembentukan pembuluh darah baru yang ditandai dengan pembentukan jaringan granulasi. Antioksidan diperlukan untuk menunjang proses ini dengan menghambat reaksi oksidasi dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif, sehingga kerusakan sel akan terhambat. Astaxanthin (ATX) merupakan antioksidan poten yang bersifat larut lemak. Astaxanthin memiliki aktivitas penetralan radikal bebas oksigen tunggal dan berpotensi dalam perlindungan dari peroksidasi lipid. Dosis kecil ATX dapat menurunkan kadar radikal bebas dan dosis yang lebih tinggi semakin meningkatkan penurunan regulasi ini. Peningkatan dosis ATX lebih lanjut akan mengurangi apoptosis sel di zona stasis dengan mempengaruhi jalur apoptosis yang terkait mitokondria. Peran astaxanthin ini sangat penting dimulai dari tahap inisiasi angiogenesis yang menstimulasi faktor pertumbuhan, sehingga meningkatkan jaringan granulasi. Hal tersebut didukung dengan sifat antiinflamasi dari astaxanthin, sehingga penyembuhan luka bakar lebih baik. 
Laporan Kasus : MULTISYSTEM LANGERHANS CELL HISTIOCYTOSIS DENGAN PENINGKATAN HbF PADA ANAK PEREMPUAN BERUSIA 2 TAHUN Aprilia, Andrea; Hanggara, Dian Sukma; Retnani, Diah Prabawati
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.89 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.07.02.7

Abstract

Langerhans cell histiocytosis (LCH) merupakan suatu penyakit keganasan hematologi yang jarang ditemui. Petanda utamanya adalah proliferasi sel Langerhans. Manifestasi LCH dapat berupa unisistem atau multisistem. Kasus ini membahas seorang anak perempuan usia 2 tahun yang datang dengan keluhan utama adanya benjolan di bagian kanan leher disertai sesak napas. Pemeriksaan fisik menemukan adanya takipneu, anemis, splenomegali serta redup ketika dilakukan perkusi pada lapang paru kiri. Pemeriksaan laboratorium hematologi terdapat anemia, leukositosis, disertai trombositopenia dan pada bone marrow puncture (BMP),  disimpulkan suspek limfoma dengan diagnosis banding LCH. Pemeriksaan kimia darah menunjukkan penurunan Fe serum, TIBC, transferin, dan hipoalbuminemia serta peningkatan globulin yang menggambarkan suatu proses yang bersifat kronis. Pemeriksaan CT Scan thoraks menunjukkan adanya lesi litik tulang serta nodul dengan karakteristik ganas pada leher. Pada pemeriksaan IHK didapatkan S100 dan Vimentin positif yang cukup untuk menegakkan diagnosis LCH. Ekokardiografi menemukan adanya dilated cardiomyopathy dan regurgitasi pada semua katup jantung. Anemia dan trombositopenia merupakan manifestasi gangguan sumsum tulang akibat infiltrasi LCH ke sumsum tulang. Leukositosis merupakan akibat infeksi berulang karena sistem imun menurun pada LCH. Hasil pemeriksaan BMP menggambarkan infiltrasi sel histiosit pada sumsum tulang. Splenomegali menunjukkan keterlibatan limpa dan efusi pleura menunjukkan keterlibatan paru serta lesi litik membuktikan adanya penyebaran ke tulang oleh LCH. Berdasarkan  anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang disimpulkan bahwa pasien menderita LCH multisistem yang menyerang sumsum tulang, lien, paru, dan tulang disertai komplikasi infeksi berulang, efusi pleura, serta anemia yang menyebabkan gangguan jantung. Kasus LCH merupakan kasus yang jarang ditemukan dengan gejala klinis berbeda-beda tergantung dengan organ apa saja yang terlibat sehingga penyakit ini penting untuk dikenal lebih baik. 

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 4 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 3 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 4 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 3 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 4 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2022): Majalah Kesehatan Vol 8, No 3 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 2 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 1 (2021): Majalah Kesehatan Vol 7, No 4 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 3 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan Vol. 6 No. 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan Vol 5, No 4 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 2 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 5, No 1 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 4, No 4 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 3 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 2 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 1 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 3, No 4 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 3 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 2 (2016) Vol 3, No 1 (2016) Vol 2, No 4 (2015) Vol 2, No 3 (2015) Vol 2, No 2 (2015) Vol 2, No 1 (2015) Vol 1, No 4 (2014) Vol 1, No 3 (2014) Vol 1, No 2 (2014) Vol 1, No 1 (2014) More Issue